
"Yang…." Gavin langsung berjalan ke arahku.
Belum juga aku menjawab sapaan Dika, urat kesal papah Adi dicopy paste oleh Gavin. Terlihat galak dan sangar, belum lagi jangkungnya melebihi Dika memperlihatkan bahwa ia lebih kuat. Badan pun, tentu besar Gavin.
Dika tersenyum pada Gavin, kemudian ia memandangku lagi. "Ini….," ucapannya menggantung.
Gavin tidak sopan, ia tidak menghormati Dika sama sekali. Ia malah merangkulku dan membawaku pergi, tanpa mendengar sepatah katapun.
"Bang, anu…." Aku takut ia salah paham.
"Tak mau tau. Kau cukup fokus ke anak dan suami, masih untung tak urus anak tiri kan?" Sorot matanya dalam nan tajam.
"Kalau Cali mau sama kita kan, aku tak keberatan. Kan kita udah omongin ini, Bang." Aku tak mau ia berpikir buruk tentangku pada anaknya.
"Aku tau alasannya! Maksud aku, kau beruntung karena cuma fokus ke aku dan Kirei aja. Aku tak mau tau siapa dia, yang penting kau fokus ke suami dan anak." Ia menarik hidungku.
Ada pula laki-laki begini.
"Iya, Ayang." Aku memeluk lengannya, dengan Kirei yang langsung menepuk-nepuk kepalaku.
"Nanti obatnya disebut, biar aku yang maju." Ia fokus memandang Kirei saja.
"Hidungnya merah betul ya, Bang?" Aku mengambil upil kecil di depan hidung Kirei.
"Tak kok, tetap cantik anak Ayah. Kalau anak Ayah asli, keknya tak secantik ini." Ia terkekeh geli. "Gemes betul Ayah sama Adek, jaganya harus bener-bener nih orang cantik." Gavin mengayunkan Kirei dalam gendongannya.
Iyalah, ayah kandungnya tampan. Alisnya tebal, rambutnya ikal dan berwarna hitam pekat. Hidungnya mancung dan kokoh, tidak mekar seperti Shahrukh Khan, seperti papah Adi begitutinggi mekar. Bang Ken tidak, hidungnya ramping dan tinggi. Bibirnya tipis, dengan bentuk wajah yang sedikit panjang. Panjang karena dagunya panjang, jadi terlihat tirus.
Umi Sukma yang cantiknya tak ada obat. Manisnya dapat, wajahnya tegas dan matanya belo. Sayangnya, bang Ken tidak belo. Matanya seperti abi Haris, tajam dan terlihat kejam. Dagunya terbelah, seperti Ghea Youbi Sister. Alis umi Sukma pun tebal, tapi bang Ken mendapatkan bibir tipisnya dari abi Haris. Karena umi Sukma hanya memiliki bibir atasnya saja yang tipis, bibir bagian bawahnya sedikit tebal. Ia pun tinggi, sepertinya lebih tinggi sedikit dari abi Haris.
"Kan Mbu cantik." Aku menyentuh kedua pipiku.
__ADS_1
"Cantikan kakak ipar Cendol."
Senyumku langsung luntur.
"Kakak ipar wajahnya teduh, kek yang polos, lugu, gemesin. Kau nampak kek sangar gitu loh, tak ada nampak kalemnya. Bergas gitu, kek full baterainya." Ia malah menjabarkan tentangku.
Iya loh, bukan suamiku saja yang mengatakan demikian. Sakit pun, aku tak pernah sakit parah. Saat demam tinggi plus muntah parah saja, aku masih mampu pergi dari bang Ken. Ada saja tenagaku ini loh, kuat gitu untuk beraktivitas dan segala macam. Buktinya, dua bulan menjadi ibu rumah tangga dengan satu anak yang seperti anak kangguru pun bisa juga.
"Kita berantemnya di rumah aja." Aku membusungkan dadaku.
Ia terkekeh kecil, kemudian menoel dadaku. Aku langsung mengkerut, pasti ada yang melihat nih. Aku langsung mengedarkan pandanganku dan bersandar pada lengan kokohnya. Tidak ada yang memperhatikanku, kecuali Dika. Mata itu terus tersorot ke arahku, meski di sampingnya ada perempuan muda yang tengah hamil besar. Aku tidak heran, ia laki-laki normal, tentu ia sudah menikah.
Mulai tegang, saat nomor antrian menebus obat mulai disebutkan dengan cepat. Gavin berbaris di pengambilan obat, kemudian Dika di belakangnya. Ada jeda waktu dari pengambilan dan pembayaran, di situlah aku melihat mereka bercakap-cakap. Aku semakin deg-degan, karena Gavin menoleh ke arahku dan menunjukku.
Ah, beredar rasanya ketika ia berjalan kembali ke arahku. Ia menenteng obat dan dompetnya yang belum masuk ke dalam sakunya kembali.
"Yuk? Mau gendong sama Ayah kah?" Gavin memasukkan dompetnya ke dalam sakunya, kemudian mengajak Kirei.
Kirei tidak akan bisa menolak. Meskipun ayah kandungnya paling tampan, ayah sambungnya yang terbaik menurutnya. Ia girang sekali, jika Gavin sudah mengajaknya.
Jujur, aku penasaran dengan percakapannya dengan Dika tadi. Apalagi, Gavin ada melirikku dan menunjukku.
"Kenapa diam aja? Masih deg-degan?" tanyanya kala kami berada di tangga berjalan.
Ini rumah sakit swasta, cukup elite menurutku.
"Deg-degan kenapa?" Aku menggandeng tangannya kembali.
"Ketemu gebetan gagal." Ia malah mentertawakanku.
Hai, di awal tadi gayanya ia sok tak ingin tahu. Tapi akhirnya, ia mencari tahu sendiri. Orangnya gengsian tinggi rupanya, sok tak peduli di depanku, tapi di belakangku ia mencari informasi.
__ADS_1
"Akrab dia sama bang Givan." Aku tak berniat membuka cerita inti tentangku dan Dika, karena ada tentang bang Ken di sana dan Gavin amat sensitif pada bang Ken.
"Percaya, orangnya begitu. Ke minimarket dulu ya? Baru balik ke rumah. Malam nanti tumis tomat sih, Bu." Ia merangkulku kala berjalan di parkiran mobil.
Terik sekali, ini menjelang tengah hari. Sebentar lagi, datang waktu jam istirahat dan sholat.
"Gimana sih tumis tomat tuh?" Makanannya aneh-aneh saja.
Ia pernah memintaku untuk memasak tumis belimbing wuluh dicampur tauco. Ia doyan dan biasa saja memakannya, aku yang menonton sampai penuh dengan air liur karena menahan asem.
"Tomatnya, pakai tomat kecil betul tuh. Kek buah cherry gitu, kek anggur merah. Potong-potong bawang merah, bawang putih, cabai, terus goreng. Setengah matang, kasih air sedikit, seasoning, terus masukin tomat kecilnya. Tak usah dipotong-potong, langsung masuk aja. Udah layu, terus angkat. Jangan masak banyak, untuk sekali makan aja."
Ya ampun, aku membayangkannya sudah merasa asem dulu.
"Dari mana sih menu makanan aneh gitu?" Aku sudah duduk di jok mobil.
"Dari Brasil. Malah di sana, tak komplit bawang merah atau bawang putih gitu. Jadi disayur, namanya sup tomat."
Aku pun pernah hidup di Brasil, tapi tak pernah makan sup tomat juga. Banyak pasar Indonesia di sana, lagi pun ayam potong siap goreng di Swalayan banyak. Jadi aku selalu membeli itu untuk lauk makanku. Sederhana saja, digoreng pun siap.
"Kirei sama Mbu, Ayah mau nyetir." Kirei dioper kembali, dengan ponselnya yang diberikan padaku.
"Ada yang nelpon keknya, tolong angkatin."
Siapa lagi ya yang menelpon? Aku berharap ini bukan Ajeng. Aku tahu pin ponselnya, aku pun membuka kunci teleponnya.
"Bang Givan, panggilan telepon terlewat dua kali." Aku membaca nama yang tertera di notifikasinya.
"Telpon lagi aja." Kendaraan sudah bergerak keluar perkiraan rumah sakit.
"Oke." Aku langsung menghubungi nomor bang Givan kembali lewat ponsel Gavin.
__ADS_1
Namun, ini bukan suaranya yang menjawab panggilan telepon ini. Melainkan…..
...****************...