Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD245. Saran nama


__ADS_3

"Kalau memang tak belum mau berkomitmen, jangan berani mainan perempuan lebih dulu. Kau harus ingat satu pesan Mamah ini, Ken. Entah cinta atau tak, kau harus pegang komitmen kau kalau memang udah berani berkomitmen. Kau paham kan, kalau harapan perempuan ke laki-laki itu besarnya lebih besar dari gunung. Kalau kau buat dia berharap, kau akan nerima akibatnya lebih dari hari kemarin. Kalau memang tak ada feel, terus terang. Ada feel, buat kesepakatan karena perempuan itu liar dalam artian sebenarnya. Berpendidikan tinggi, tapi keahliannya digunakan untuk memperkeruh keadaan. Kau paham sendiri lah." Mamah Dinda menepuk pundak bang Ken. 


Bang Ken membelakangiku dan ibu, ia menghadap mamah Dinda saja. Karena memang kami di atas kasur semua, jelas sulit jika aku saling menghadap karena ada Gavin dan Kirei yang tidur memakan tempat. 


"Iya, Mah. Aku bakal ingat terus tentang itu, bantu support ya?" Bang Ken memeluk mamah Dinda yang kecil, sampai tenggelam tubuh mamah Dinda. 


"Oke, Oke. Yang akur, terutama sama Givan. Respect loh dia sama saudara tuh, urus dia ini biarpun nampak marah juga. Kau cuma perlu akrabin dia, turunkan gengsi kau sedikit. Tak ada saudara lain loh di sini tuh, Ahya perempuan kemampuannya untuk ngulurin tangannya terbatas karena dia seorang istri." Tangan mamah Dinda membingkai wajah bang Ken. 


Aku hanya bisa melihat wajah mamah Dinda saja dari sini, tidak tahu bagaimana ekspresi wajah bang Ken. 


"Iya, Mah. Dia juga urus betul sama jenazah Riska, dokumen apapun dia yang mondar-mandir. Cuma dia buka suara, ya untuk nanya dokumennya di mana. Sampai ke biaya pun, aku tak tau-tau, Mah. Aku tanya kan, habis berapa kemarin biar aku ganti. Dia bilang, memangnya aku semiskin itu. Sambil nyolot gitu dia, Mah. Jadi ingat kecil dulu dia suka abang-abang ini gimana tangan robotnya putus, pengen rasanya aku buang robotnya itu, tak usah aku bantu kalau ingat responnya gitu sekarang." Nada suara bang Ken memperlihatkan kekesalannya. 


Mamah Dinda terkekeh kecil. "Kadang nyebelin dia ini. Mamah juga ada bilang ke dia, tentang Ajeng itu. Kata dia, kasih tau aja ayahnya Elangnya, biar langsung diciduk karena bawa kabur anaknya." Mamah Dinda mengapit pelipisnya. "Mamah tuh kepengen ada jalan tengah yang damai gitu, di samping buat dia sadar, dia pun harus bisa berubah lebih baik gitu. Mamah capek, Ken. Udah males bolak-balik repot, fisik udah tak kuat. Ingat kasus Ai, jadi anak Mamah sendiri yang kena. Takutnya gitu ke kasus Ajeng ini, khawatir jadinya Gavin yang kebawa kasus. Anak-anak udah mulai naik di atas semua tuh udah plong, tenang gitu kan? Ghavi ya udah di atas awan lagi, udah nemu posisi yang enak lagi. Eh, Ajeng ada aja buat ulahnya." Mamah Dinda geleng-geleng kepala. 


"Aku bisa ngunci Ajeng dengan surat perjanjian itu, Mah. Karena dendanya besar, jaminannya pun Elang juga. Cuma entah aku bisa buat dia sadar tak, aku bantu semampu aku aja karena pikiran aku terbagi sama si kecil yang di Malaysia. Kalau dia ada ke sini lagi, nanti Mamah bilang aku aja. Berarti tandanya kan, dia ingkar dari surat perjanjian itu. Mamah punya ide untuk nama anak aku? Yang artinya bunga lagi, Mah. Bunga, Kirei pun ternyata artinya Bunga juga. Apa ya kira-kira, Mah?" Bang Ken menoleh sekilas padaku. 


"Kembang, Ken," usul ibu dengan terkekeh geli. 


"Bungong," tambah mamah Dinda. 


Aku tertawa geli, mendengarnya lucu sendiri dengan usulan nama itu. 

__ADS_1


Bang Ken garuk-garuk kepala. "Memang tak salah juga sih, tapi tak gitu juga. Nanti yang kalau Kembang, masa dipanggilnya Bang? Yang Bungong, nanti dipanggilnya Ngong?"


Kenapa ia tidak melawak sejak dulu saja sih? Kan mungkin aku akan betah. 


"Ngetawain aja bisanya." Bang Ken menoleh ke arahku. 


"Pakai bahasa luar biar keren lah." Kirei menggunakan bahasa Jepang. 


"Apa sok contohnya?" Ia malah membelakangi mamah Dinda. 


"Bahasa Portugis, bahasa Brasil tuh. Kalau Bunga ya Flor." Aku memberi contoh bahasa yang aku tahu. 


"Lantai dong kalau dalam bahasa Inggris?" ujar mamah Dinda kemudian. 


"Hana kah? Bahasa Jepang juga, artinya Bunga. Kalau Kirei kan, mengacu ke nama bunganya. Kalau Hana, ya artinya memang bunga." Aku pernah mencari kata kunci ini di internet. 


Bang Ken menjentikkan jarinya. "Oke, terpakai. Aku balik dulu, jam satu malam aku ke sini lagi. Tapi kalau bisa pasang kantong infus sendiri, pasang sendiri aja. Tuh di simpan di kamar Mamah, tinggal dua kalau tak salah. Aku belinya ngepas aja, takut tak terpakai." Bang Ken keluar dari kamar. 


"Jadi Ibu tidur di mana, Nduk? Gavin udah tak sadar-sadar gitu." Ibu melirik ke arah menantunya. 


Benar-benar tidak terganggu sama sekali acara mendengkurnya itu. 

__ADS_1


"Sama Kirei aja di kamar depan, atau di kamar Gibran. Gibran lagi ke luar kota soalnya, lagi banyak job di kota dia." Mamah Dinda turun dari ranjang. 


Lututnya sepertinya alot sekali dibawa bangun, aku jadi teringat umi Sukma. Ibu tidak seperti itu, tapi pandangan mata ibu sering kabur. Kadang jelas, kadang tidak jelas. 


"Kalau Mariamnya tinggal di mana, Mah? Anaknya namanya siapa tuh?" Ibu pun turun dari ranjang. 


"Tinggal di rumah orang tuanya, namanya Farras Barra Muayyad. Paras jadinya sih dipanggilnya, Farras-Farras agak sulit orang nyebut. Paras juga akhirnya." Mamah Dinda terkekeh kecil. 


"Iya, jarang ke sini ya?" Ibu dan mamah Dinda berjalan ke luar kamar. 


Benar, waktu pernikahanku pun Mariam hanya datang sebentar dan tanpa make up lagi. Ia pucat sekali, datang tanpa bayinya juga. 


"Lagi isi lagi, jadi tak bisa ke mana-mana. Loyo Mariam kalau lagi hamil muda, ditambah plus menyusui juga. Jadi ya udah, paling kita ke sana. Gibrannya belum punya usaha pegangan sendiri sih, tapi dibilang stabil, malah lebih dari stabil, ngantri tuh, Bu."


Ibu menoleh ke arahku. "Ibu beresin kasur dulu, nanti Kirei sama Ibu."


Aku mengangguk tanda mengerti. 


Mariam sudah hamil lagi? Ia bukan lagi berkembang biak, tapi tengah program keluarga besar. Ah, aku jadi ingin meminta resep agar cepat hamil. Jika air Gavin tidak tokcer, kan rasanya tak mungkin juga. Karena keluarganya, ya keluarga gacor semua. 


Sepertinya akunya kan? Apa aku harus mengatur pola makanku, dengan menggantinya dengan menu makanan sehat? 

__ADS_1


Tapi jika aku mandul, rasanya tidak mungkin. Aku berhasil melahirkan Kirei, yang artinya bisa hamil dan memiliki anak. Apa pengaruh KB darurat? Tapi harusnya efeknya terjadi saat mengandung Kirei, bukan untuk kehamilan selanjutnya. 


...****************...


__ADS_2