Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD14. Direndahkan


__ADS_3

“Beli perlengkapan sekolah anak-anak, terus bang Ken belanjakan aku.“ Aku sengaja membakar cemburunya di sini.


“Oh ya? Terus ditiduri ya?“


Aku langsung menoleh ke arah anak-anak, Chandra berada di sampingku. Zio pun ada di dekat Chandra, mereka tengah bermain ponsel. Aku khawatir mereka mendengar ucapan tidak enak dari mulut Putri tersebut.


“Bang Givan tau, kau tak bakal dikasih izin lagi untuk nemuin Jasmine. Mulutnya dijaga, bang Givan tak mau pikiran anak-anaknya tercemari.“ Aku memberi peringatan tegas.


“Oh, maaf.“ Ia celingukan melihat ke arah anak-anak. “Jujur, aku tak suka kau terlalu dekat dengan Ken. Kedekatan kalian itu tak wajar, lagian kau pun orang lain untuknya. Aku yakin ya, Ria. Kau ini bukan tipe perempuan yang pandai jaga marwahnya kek Canda, meskipun kau adiknya. Aku ngerti apa tujuan Ken dekat dengan kau, sayang aja mulutnya tak pernah ngucapin apapun.“ Lanjutnya berucap dengan sedikit condong ke arah telingaku.


“Tanyakan ke dia langsung aja. Aku tak punya masalah ya sama kau, Put!“ Aku memberinya delikan tajam.

__ADS_1


“Aku yang buat masalah, kalau kau berani ngerebut milik aku. Ken tak akan berpaling dari aku, kecuali perempuannya yang narik dan kunci dia untuk tetap dekat sama dia. Aku udah tak suka sama kau, sejak tau Bunga harus sama kau aja. Kau harusnya bisa memposisikan diri kau sendiri, Ria. Kau ini orang lain untuk Ken dan Bunga, kau tak boleh sedekat itu. Apalagi, kau ini masih lajang. Apa kau berpikir untuk bisa jadi ibu sambungnya Bunga, maka dari itu kau dekati Bunga terus menerus?“ Ia berbisik tapi dengan nada yang menyebalkan. Ia seperti tengah menuduhku dan terus memojokkanku sampai aku mengaku, lalu meminta maaf padanya.


“Aku tak pernah berpikir untuk dekati Bunga, dari awal anak itu memang buat risih aku. Kau tanyakan sendiri ke bang Ken, dari awal aku jemput Bunga, dia langsung nempel dan jadikan aku temannya. Aku tak pernah ingin mendekati anak kecil, mau anaknya duda kah, atau anak kakak aku sendiri. Mereka bikin risih aku.“ Mungkin aku kurang dewasa untuk ini.


Aku pun ingin memiliki anak juga, tapi nanti. Aku belum siap untuk sekarang, karena aku belum ingin memahami karakter tentang anak-anak. Aku bukan golongan manusia childfree, di mana mereka menikah tapi tidak memiliki keinginan untuk memiliki anak. Aku ingin punya anak juga, tapi kelak, masanya aku mengerti tentang ilmu parenting dan jadi orang tua yang baik. Di pikiranku, masih ingin tahu tentang menjadi istri yang baik. Aku belum memiliki pemikiran, tentang caranya menjadi orang tua yang baik.


“Ck, mulut kau munafik. Dari sorot mata aja, kau kentara sekali naksir Ken. Dia tak selera sama anak kecil kek kau, apalagi dia pernah bilang pengen punya pasangan yang pendidikannya tinggi.“


“Kau boleh menang, karena pendidikan kau tinggi. Tapi, aku tak macam kau! Orang yang merasa paling hebat kek kau ini, satu dua dengan setan yang merasa dirinya adalah Tuhan. Aku memang tak berpendidikan, aku pun tak seberuntung kau yang lahir di keluarga kaya. Kau tak bakal tau proses kehidupan aku, sampai aku ada di posisi ini. Ilmu akademik aku memang nol, aku tak paham pelajaran apa itu matematika, tentang sains atau ilmu pengetahuan sosial. Tapi, aku mampu ngemban tanggung jawab sebagai orang tertinggi di perusahaan. Aku mampu jadi orang kepercayaannya bang Givan, aku pun mampu dipercaya oleh banyak orang tanpa jejak pendidikan yang tinggi. Aku bangga karena hasil gemblengan kursus-kursus dan ilmu yang bang Givan kasih, dia tak kurang-kurangnya kasih bocoran semua ilmu yang dia punya. Kalau kau hina aku dengan ucapan kau, itu sama dengan kau hina bang Givan. Hargai orang lain dengan ucapan kau, karena ucapan itu menggambarkan tentang diri kau sendiri. Aku tak akan melawan, kalau kau masih berada di batasan kau. Terus masalah laki-laki, bang Ken ya? Silahkan setir kehidupannya, silahkan atur pikirannya. Tapi, dengan dia tak ngabarin kau itu udah jelas bahwa kau bukan prioritasnya. Sesibuk apapun orang tersebut, kalau kau penting untuk dia, pasti dia ngabarin kau. Bukan kau malah malak kabar tentang bang Ken dari aku, terus setelah baca pesan dari dia, kau berpikir aku ada naksir karena bang Ken kirimi aku pesan, sedangkan tak sama kau. Kau tak tau kah, jika anaknya adalah prioritas utamanya. Anaknya ada sama aku, wajar dia ngasih kabar sama aku. Ini masa liburan sekolah, Bunga mengidamkan liburan ala imajinasinya di masa libur panjang ini. Sedangkan bang Ken paham, bahwa dia adalah ojek terbaik dan teraman untuk putrinya sendiri. Dia siap nganterin anaknya ke manapun, tapi tidak untuk sekarang karena saudaranya lagi di rumah sakit. Kau yang paham itu, Put! Dari pada kau pikir aku naksir kekasih kau, terus kau malah berpikir ini itu dan macam-macam.“ Aku berbicara di depan wajahnya dengan suara yang kutekan sepelan mungkin.


“Dasar perebut pacar orang!“

__ADS_1


Eh, dia memakiku?


“Tak ada istilahn perebut, karena laki-laki kau itu makhluk hidup. Kalau dia tak mau dan tak minat dengan perempuan lain, dia pasti tak akan berpaling. Harusnya kau jaga dia lebih ekstra, biar dia tak berpaling dari kau. Tapi kalau memang dasarnya dia niat selingkuh, ya dia bakal lakuin hal itu meski di tengah kekangan dari kau. Selingkuh atau berpaling itu, itu tergantung bagaimana laki-laki kau. Kau jangan salahkan pihak ketiga, karena laki-laki kau yang mempersilahkan.“ Rasanya aku ingin sekali mengacak-acak wajahnya.


Akan aku adukan dengan bang Givan. Biarin, aku memang tukang ngadu.


“Kau yang maksa dia untuk tertarik dengan kau. Harusnya kau ngaca, Ria! Kau ini jauh dari kata wanita idaman! Perempuan yang dijadikan selingkuhan itu bukan karena dia lebih baik, tapi karena dia lebih gampangan! Gampang ditelan*angi! Gampang dinikmati! Harusnya, kau punya batasan. Aku paham, Ria. Kau dan Ken ini ada hubungan khusus di belakang aku. Gerak gerik kalian mencurigakan, Ken pun harusnya ajak aku pergi dengan kalian kalau memang kau dan dia tak ada hubungan. Untuk apa coba pergi berdua, ditambah dengan anak kecil yang gampang dialihkan perhatiannya? Dasarnya memang murahan! Gampang dibodohi! Gampang dirayu, kek kakak kau! Kau tak paham kah, kalau dia jadikan kau pelampiasan semata? Di belakang laki-laki baik yang tak merusak pacarnya, ada sosok perempuan di belakang wanitanya yang selalu ia rusak dan dijadikan tempat pelepasannya.“ Ia menurunkan pandangannya memperhatikan penampilanku.


Ia sedang merendahkanku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2