
"Tersampaikan tak maksud hati Ria, Ken?" tanya mamah Dinda, karena duda tua itu masih diam saja padahal sudah sepuluh menit terdiam.
"Kalau aku tinggalkan, nanti Ria sama siapa? Apa Kirei ada yang sayang nantinya? Gimana kalau Kirei aku ambil?" Ekspresi iba itu terpasang jelas di wajahnya.
Memang, aku pantas ya dikasihani? Kenapa tak saat aku baru keluar apartemen saja, ia mengasihi diri ini? Mungkin saat itu, kita masih bisa kembali.
"Ria pasti bisa cari jalan hidupnya sendiri, Ken. Memang kita tak sayang Kirei? Kirei pun punya ibu dan biyung juga, dia masih punya keluarga. Kalau kau kasihan, kau cukup kasih dia kebutuhan hidupnya. Ibu sambung itu tak sebaik ibu kandung kan? Apalagi, kau harus kerja. Memang peribahasa itu tak selalu berlaku, tapi Ria kan masih mengASIhi Kirei. Ada hukumnya juga, anak yang masih ASI itu harus ikut ibunya. Lagian, Ria tak kami izinkan untuk jauh lagi. Dia harus kumpul bareng keluarganya yang cuma tiga gelintir itu, dia harus jaga ibunya dan berbakti ke ibunya. Udah cukup dia keluyuran jauh dan merantau jauhnya, sekarang waktunya untuk keluarga. Makan tak makan, kita bareng-bareng makan di sini. Masalah kebutuhan hidup, kita bantu kasih pekerjaan di sini. Ria udah Mamah anggap seperti anak sendiri, Ken. Jadi, kau tak perlu terlalu khawatir bagaimana Kirei. Karena Kirei pun, kami anggap cucu sendiri. Kalau tak pandang dia keluarga, mungkin Ria kerja, Mamah suruh sekalian bawa anaknya. Siang-siang, pakai payung, bawa tentengan bolak-balik ke kadang tiap hari. Saking apanya Mamah begitu ke Kirei? Memang, Mamah banyak anak banyak menantunya yang bisa dititipin Kirei. Tapi mereka punya keluarga sendiri, jam makan siang, menurut mereka itu jam tidur siang. Sedangkan Mamah ingin Kirei tetap dijaga, karena anaknya mulai aktif. Lain di rumah, pakai bouncer taruh di dapur, Mamah sekalian masak itu bisa. Kadang kalau anaknya lagi mainan, belajar tengkurap segala macam. Mamah bawakan kasur lipat, goler dia di dapur dan Mamah masak makan siang. Ibu Ummu memang ada, tapi anak sulungnya lebih membutuhkannya. Anak kecilnya ada dua, setrikaan seragam numpuk, belum lagi Canda urus makanan untuk Givan dan urus Givan nya. Meski tak melulu uang, tapi Mamah itu udah berusaha untuk membantu dan untuk support. Udah ada orang yang peduli sama Kirei, tinggal kau kasih dia kebutuhannya, tak usah kasih dia tenaga lagi. Ria kan kerja, dia punya gaji." Mamah merubah suaranya di akhir kalimat. "Memang, tapi dia tak ada yang menafkahi. Dia kerja, ya untuk dirinya sendiri. Lagian, anaknya pun hidup sama dia. Pasti aja kejatuhan baju satu stel atau makanan satu suap. Jadi kau harus bisa bagi porsi kasihan kau ke Kirei, Ken. Lagipun, kau tak kasihan ke Bunga kah? Udah, gitu aja Mamah sih." Di akhir kalimat, paku payung seperti ditebar di mana-mana.
Bang Ken langsung mendelik cepat pada mamah Dinda. "Setelah aku nikah, rencananya Bunga mau aku bawa." Hidupnya penuh rencana, tapi nihil pergerakan.
"Terserah kau. Tapi kalau kau tau, bahwa Bunga akhirnya kelempar-lempar begini. Ya, lebih baik dia sama ibunya di sana. Biarpun ibunya puber lagi, tapi tentu pengasuh itu dalam pengawasan Riska. Tapi itu sih terserah kau. Kalau memang Bunga mau kau bawa, kau harus lebih peka dengan bahasa tubuh anak kau. Kasih sayang pengasuh yang dibayar dengan ibu sambung yang punya anak baru dengan ayahnya, itu jelas beda sekali. Ibu baru dengan bayi baru, jelas lebih sensitif dan keteteran. Ditambah sikap kau yang begitu. Semoga, anak sulung kau tak dimasak karena istri baru kau kena baby blues." Mamah Dinda seolah tengah membuka mata batin, mata naluri, mata najwa dan mata uang bang Ken.
"Kok Mamah ngomong gitu?" Jangankan bang Ken, aku yang mendengar saja menelan ludah.
__ADS_1
"Sestress itu loh perempuan berbayi, ditambah dengan harus ngasuh anak kecil yang keras kepala. Dia dapat tekanan dari tanggung jawabnya sendiri, ditambah kau yang terbang ke sana ke mari. Hei, Papah yang bantu Mamah urus anak tiap hari aja. Rasanya, anak-anak itu pengen Mamah bagi waris aja. Empat anak sama Papah, empat anak sama Mamah. Mamah pernah berpikir kek gitu, karena stressnya ngasuh anak-anak. Ini pengalaman Mamah, makanya Mamah bilang kek gini karena merasakan. Kalau memang Bunga harus ikut kau, Mamah kasih saran agar dia kasih pengasuh. Meskipun Hala dulunya seorang pengasuh, tapi dulu dia dibayar besar. Sedangkan, dia harus ngasuh anak suaminya dan perempuan lain. Jelas pasti beda perlakuannya, pasti beda kasih sayangnya dengan anaknya sendiri dan kau. Tapi kalau kau mau Bunga kau bawa, ya itu sarannya. Pakai pengasuh anak. Bawa aja pengasuh Bunga yang sekarang." Saran mamah Dinda sungguh brilian, hingga membuat bang Ken kena mental.
"Iya, Mah. Nanti, aku bawa pengasuh Bunga juga." Bang Ken mengangguk.
"Ya udah, berarti kau lepasin Ria kan? Kau sama Ria udah tak ada hubungan kan?" Papah Adi memastikan lagi.
"Ya tak gitu, Pah. Ria harus jalani masa iddah dulu, kan baru mau aku ceraikan."
"Papah panggilkan kyai ya? Biar kau paham, biar kau ngerti. Barangkali, kalau ucapan Papah itu tak bisa buat kau puas." Papah langsung berdiri dari duduknya.
"Tak usah lah, Bang. Nanti masalah ini kesebar di luar." Mamah Dinda menahan tangan papah Adi.
"Biar dia paham, Dek. Apa itu talak kifayah, bagaimana hukumnya dan aturannya. Buat pembelajaran dirinya sendiri juga, biar kedepannya dia tak begitu lagi." Papah Adi memandang bang Ken.
__ADS_1
Dari sorot matanya dan bahasa tubuhnya, seperti papah Adi ini lelah sekali pada bang Ken. Sepengamatanku, anak-anak beliau memang tidak ada yang keras sekali seperti bang Ken.
"Iya! Iya! Iya! Udah, terserah apa kata kalian. Kalau memang Ria mau dinikahkan lagi dengan jarak kurang dari tiga bulan, ya udah terserah. Mulai hari ini, aku tak punya hubungan lagi dengan kau, Ria. Kau bukan istriku lagi, kau bukan pendamping hidupku lagi." Begitu plong di hati, tapi ia langsung pergi tanpa pamit setelah mengatakan hal itu.
Aku memandang ke arah papah Adi dan mamah Dinda. "Gimana, Pah?" Aku seperti orang bingung, setelah kepergiannya.
"Ya udah, tata hidup kau. Jangan bertingkah lagi, apalagi berurusan dengan Ken lagi. Kapok kan dengan orang kek gitu? Makanya kenapa Riska lepasin Bunga begitu aja, karena biar Ken pergi dari hidupnya. Diturutin, biar dilepasin gitu lah. Karena pendapatnya, kalau anak pasti akan paham mana ibunya. Waktu Bunga kena pneumonia, dia ke sini untuk jenguk dan urus. Nampak kok kasih sayangnya, Bunga pun pengen sama ibunya terus. Dasar ego ayahnya tak masuk akal, jadi mau tak mau dia lepasin Bunga, biar Ken tak datang lagi, ungkit-ungkit lagi, bawa masalah lagi, tapi tetap ngelonin lagi. Melengkung sekali itu anak, tua-tua tak ada betulnya." Mamah Dinda geleng-geleng kepala.
Oh, jadi kak Riska pernah ke sini?
"Riska tinggal di sini selama Bunga sakit itu?" Aku baru tau juga, ternyata Bunga pernah terkena pneumonia.
...****************...
__ADS_1