Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD133. Permasalahan yang belum usai


__ADS_3

“Ambil Kirei, Canda!“ Bang Givan membuka pintu rumah lebih lebar.


Kemudian, ia mendorong kardus-kardus yang sepertinya adalah diapers bayi dan kebutuhan bayi keluar dari rusun ini. Dengan Kirei yang sudah berpindah tangan ke mbak Canda.


Bang Ken terlihat tenang, ia tetap duduk mempertahankan bang Givan yang sengaja mengusirnya secara halus. Ia malah bersandar, dengan menonton gerakan bang Givan yang tengah mengeluarkan barang bawaannya.


“Van, kau tak perlu capek-capek.“ Ia bersedekap tangan dan berdiri dari posisinya.


“Tak capek! Itu hal mudah aja! Hal mudah, buang kau dari kehidupan Ria dan bayinya!“ Bang Givan sudah melotot dengan suara yang lantang.


“Kau tak akan bisa misahin ikatan ayah dan anak, apalagi bayinya Ria anak perempuan. Dia butuh ayahnya, untuk jadi wali menikahnya nanti.“ Bang Ken tidak terlihat panik, saat bang Givan mendekatinya dan langsung menarik kerah bajunya.


“Mas Givan tuh!“ Mbak Canda panik dan memberikan Kirei padaku.


“Jangan berharap lebih jadi wali dari anak tanpa nasab kau!“ Bang Givan melepaskan kerah baju bang Ken, karena mbak Canda memeluknya. Namun, ia sempat mendorong dada bang Ken. Bang Ken terhuyung ke belakang tapi tidak terjatuh. Ia hanya mundur dua langkah dari posisinya.


“Oh, Ria berarti tak cerita kalau dia udah nikah sama aku?“


Kenapa mulutnya harus berbicara seperti ini?


Bang Givan langsung menoleh ke arahku dengan mata nyalang, ia terlihat begitu marah.


“Mas….“ Mbak Canda membingkai wajah suaminya dan membawa wajah suaminya untuk melihatnya.


“Aku takut, Mas jangan kek gitu.“ Mbak Canda sudah sendu dengan tangisnya.


Tarikan napas bang Givan begitu dalam, kemudian memeluk mbak Canda begitu erat. Mbak Canda terus mengusap-usap punggung suaminya, sampai kejadian tak terduga terjadi. Kaki bang Givan melemah dan membuat mbak Canda terhuyung hampir menimpa tubuh suaminya yang masih memeluknya.


Untungnya, bang Ken sigap menarik mbak Canda agar tidak menjatuhi suaminya saat kaki bang Givan melemah. Bang Givan terduduk lemas, dengan bang Ken langsung menariknya ke belakang agar bisa duduk bersandar di sofa dengan terduduk di lantai.


“Van….“ Bang Ken menepuk-nepuk pipi bang Givan.


Bang Givan tidak merespon, karena wajahnya malah terduduk lemas. Saat wajah bang Givan dinaikan, pucat pasi di wajahnya langsung membuat kami khawatir.


Jujur, aku takut ia terkena serangan jantung.


“Ya ampun, Van.“ Bang Ken bergerak cepat untuk di melonggarkan pakaian bang Givan.

__ADS_1


Ia hanya mengecek denyut nadi di pergelangan tangannya, dengan memperhatikan wajah bang Givan. Kemudian, ia menaruh bantal di punggung bang Givan. Membiarkannya kembali beberapa saat kemudian, sampai bibir bang Givan kembali berwarna.


“Mas kenapa?“ Mbak Canda sudah berisik sejak tadi.


Bang Givan menggeleng, ia tetap mengatur napasnya. Ia diam saja, dengan air mata yang tiba-tiba menetes.


“Kau ngerasa sesak napas? Pening? Berkeringat? Kepala ringan dan dingin?“ Bang Ken baru mengajukan pertanyaan.


Bang Givan mengangguk samar.


“Tunggu, aku ambilkan air hangat.“ Bang Ken celingukan dan berjalan ke arah dapur.


Ia kembali dengan segelas air, kemudian ia memberikannya pada bang Givan. Bang Givan menerimanya dan langsung meminumnya dengan cepat. Ia seperti kehausan begitu sangat, sampai meminum air sampai habis.


“Kau shock.“ Bang Ken mengambil alih gelas tersebut.


“Bawa rumah sakit, Bang. Ayo angkatin Mas Givan.“ Mbak Canda sudah memegangi lengan suaminya.


“Dia tak apa, tunggu sebentar aja.“ Bang Ken melepaskan tangan mbak Canda yang berada di lengan bang Givan.


“Takut jadi janda.“ Mbak Canda malah melebarkan tangisnya.


“Masnya jangan kek gitu.“ Mbak Canda tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.


“Jangan peluk, Canda. Kasih dia ruang.“ Bang Ken sepertinya memang tidak menyarankan mbak Canda untuk menyentuh atau memeluk bang Givan, saat tadi mbak Canda sudah memegangi lengan bang Givan.


Setelahnya, bang Ken duduk di sofa dan bersandar dengan nyaman. Ia menguap lebar dan meregangkan ototnya.


“Van, Van.“ Bang Ken geleng-geleng kepala, kemudian ia berjalan ke arah pintu.


Ia mengambil kembali barang-barangnya, kemudian mendorongnya masuk kembali. Ia menutup pintu rusun ini, lalu langsung membuka barang-barang yang ia bawa.


“Ayah bawa banyak keperluan untuk Kirei, untuk Bunda juga.“ Ia menoleh ke arahku dan tersenyum.


Aku tahu siapa bunda, aku tidak mau dipanggil bunda. Aku diam saja, tidak berniat meresponnya.


“Abang tuh ke mana aja kalau memang suaminya Ria? Tak seharusnya Abang biarkan dia operasi sendirian, Abang tak temani dia atau urus dia di rumah sakit.“ Mbak Canda kembali mengajak bang Ken berbicara.

__ADS_1


“Tanyakan aja ke Rianya, dia yang mau kita berjarak kek gini.“ Ia melirikku sekilas.


“Kapan Kirei boleh dibawa terbang?“ Bang Givan bersuara lirih.


“Ini penerbangan lama, sebaiknya kalau udah dapat usia. Satu bulan lebih, atau dua bulanan. Ria juga harus fit, khawatir beresiko untuk luka sesarnya.“ Bang Ken mengeluarkan semua barang-barang di dalam kardus.


“Nih, obat-obatan untuk kau, Dek. Pembalut untuk nifas juga ada ini.“ Ia membuka kardus lainnya.


“Tak usah repot-repot, Bang. Bang Givan mampu nyukupin.“ Aku tak berminat untuk menikmati pemberinya.


“Kau buat Givan repot, Dek!“ Suaranya begitu ketus.


Sialan!


“Kau nyusahin terus dari dulu, tak pantas sekali. Sampai ke anak kau pun, kau nyusahin juga,” lanjutnya kemudian.


“Kalau memang kalian menikah dan Kirei anak dalam pernikahan, harusnya tak begitu sulit di rumah sakit kemarin. Ria itu gadis yang punya anak, bukan perempuan bersuami yang melahirkan.“ Suara mbak Canda seperti menampung kemarahan.


“Ria yang minta kita kek gitu, dia yang pengen keadaan kek gitu.“ Bang Ken berbicara dengan tetap melakukan aktivitasnya.


Ia enggan berkontak mata dengan kami.


“Tak ada yang pengen rumah tangganya hancur, Bang.“ Begitu menyakitkan kala teringat dua bulan pernikahan kami itu.


“Kau pengen kita begitu, Dek. Kalau memang kau mau kita baik-baik aja, kau tak akan begitu sulit untuk kasih Abang tempat untuk kembali.“ Ia menoleh sekilas padaku.


“Kau temui kita sebulan lagi di rumah mamah aja kalau kek gitu, Bang. Kau berucap Ria sulit kasih tempat untuk kau kembali. Berarti jelas kau yang mutusin pergi.“ Bang Givan berbicara lemas.


“Apa-apa, tak perlu dibawa ke orang tua, Van. Kita udah sama-sama dewasa, kita bisa selesaikan masalah kita sendiri.“ Bang Ken mulai tegas di sini.


“Kalau kau bisa selesaikan masalah kau sendiri, kau tak perlu tunggu sampai anak Ria lahir. Udah menikah diam-diam, tanpa sepengetahuan kami. Rumah tangga bermasalah, akhirnya Ria lagi yang harus menerima kenyataan dan ngurus anak dari tingkah kau. Kau tak bisa selesaikan masalah kau itu namanya, Bang.“ Bang Givan sudah menegakkan kepalanya, tapi suaranya sampai lemas.


“Aku udah datangi dia, dia yang selalu jauhim aku. Gimana aku mau selesaikan masalah, kalau dia pergi lagi pergi.“ Bang Ken membagi-bagi beberapa barang, mungkin membedakan mana yang untukku dan Kirei.


“Pasti ada alasannya di balik itu semua, Bang. Kita perempuan pun malas untuk memperpanjang masalah, kecuali karena ada sesuatu yang malas untuk didengar dan buat trauma kalau diobrolkan. Kek dulu, aku malas bahas apapun dengan Mas Givan dan malas ngobrolin apapun. Karena apa-apa dia emosi dan apa-apa dia bentak. Aku hindari kontak apapun dengan dia, karena malas aja lihat lirikan tajamnya seolah aku buat dia salah terus. Pasti, Ria pun ngerasain hal yang serupa dulu aku rasakan.“


Mbak Canda berbicara apa? Memang, ada benarnya juga. Aku malas karena ia pasti emosi dan berbuat kasar, aku trauma juga berduaan dengannya karena aku digagahi dengan kasar. Tapi rasanya, mbak Canda tidak pernah menghindari apapun itu tentang suaminya. Memang kapan dulunya itu?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2