
“Bang, takut.“ Aku sudah diantar ke ruang operasi.
“Tak apa, ini erach. Kau bisa cepat pulih, kau bisa cepat mandiri.“ Bang Givan tersenyum menenangkan.
“Tapi pasti aku sadar masa dioperasi.“ Aku takut mendengar dentingan alat-alat operasi.
“Iya bius setengah badan. Karena kami tak tau, jadi tak dapat nasehat untuk ngepel jongkok kau. Posisi bayi masih dia atas, bayi tak berputar. Pasti makan tidur aja.“ Bang Givan menarik hidungku.
“Tak kok, aku belajar aja. Aku sibuk aktivitas di kampus.“ Aku bahkan mencari kelelahan, agar malamnya bisa tidur pulas.
“Oh iya kah?“ Hanya itu tanggapan kecilnya.
“Semangat, Ria.“ Mbak Canda tersenyum lebar dengan mengangkat satu tangannya.
Aku hanya menunjukkan ibu jari tanganku, kala aku masuk ke kamar operasi. Aku deg-degan setengah mati, rasanya campur aduk kala aku mulai mati rasa di bagian bawah secara perlahan.
Aku hanya diam, mendengarkan obrolan dokter seputar piala dunia. Mereka terlihat santai, sampai suara tangis bayi terdengar.
Aku tidak pernah tahu, apa jenis gender anakku. Karena aku selalu menanyakan, apa bayiku sehat dan tumbuh dengan baik. Aku juga ingin gendernya menjadi kejutan untukku.
“Taraaaa…. Baby girl.“ Seorang perawat menaruh bayiku di atas dadaku.
Begini ya melahirkan? Seperti tidak punya harga diri. Tadi, bagian bawahku terekspos. Kini, bagian atas juga terbuka lebar.
“Masya Allah.“ Aku terkesima melihat putriku begitu mirip dengan bang Ken.
Ahya, adik kandungnya bang Ken. Bunga, kak Kin, putriku, begitu mirip dengan bang Ken. Intinya, wajahnya memiliki nilai khas yang sama miripnya.
Kenapa tidak mirip denganku saja?
“Kau akan beri nama dia siapa?“ tanya perawat dengan ramah.
“Aku tak tau, biar nanti aku tanya keluargaku dulu.“ Aku merasakan ada sesuatu yang menarik perutku.
Rupanya belum selesai perjuangan ini.
“Boleh aku kasih saran? Namanya, Andreia Mariazinha. Seorang pejuang wanita yang kuat artinya. Kau memang bukan orang pertama, yang di ruang operasi sendiri. Tapi, aku yakin kau tak mudah untuk berada di dalam sini sendiri.“ Ia tengah memberikan suntikan entah apa pada anakku.
“Aku bersama keluargaku di luar.“ Aku melirik ke arah pintu ruang operasi.
“Itu cukup bagus.“ Hanya itu responnya.
Anakku menangis lepas, kala ia selesai diberi suntikan. Aku jadi teringat Ra, karena bayiku suaranya kencang sekali seperti Ra. Karena IMD tidak kunjung berhasil, alhasil anakku dipindahkan sementara ke ruangan bayi. Dengan aku yang tengah dibereskan, karena akan pindah ke ruang inapku.
Aku kurang mampu mendeskripsikan rasa sakit ini, tapi ini benar-benar rasa sakit yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Beberapa jam kemudian, memang keadaanku berangsur membaik. Namun, aku tetap tidak baik-baik saja. Luka ini sungguh luar biasa rasanya.
__ADS_1
“Assalamualaikum….“ Bang Givan muncul dengan menggendong seorang bayi.
Aku yakin, itu adalah bayiku.
“Wa'alaikum salam. Wow, anak Biyung.“ Mbak Canda langsung merentangkan tangannya.
“Nanti, Canda. Aku mau adzanin dulu.“ Bang Givan menyibakkan kain yang menutupi kepala anakku.
Adzan mulai dikumandangkan oleh bang Givan. Begitu hari, karena suara bang Givan sampai bergetar. Aku sering melihatnya mengadzani bayi-bayinya, tapi kenapa kali ini aku merasa terharu? Karena apa? Karena anakku tidak diazdani oleh ayahnya sendiri?
Malangnya nasib kau, nak. Ibu akan mengusahakan kasih sayang kau terpenuhi, meski tidak dipenuhi oleh ayah kau sendiri.
“Udah dikasih formula, tapi tak apa kalau kau mau belajar ASI.“ Bang Givan menempatkan anaknya di sampingku.
Ia tengah terlelap, seperti begitu pulas dan nyaman. Wajah terlelapnya saja, mirip seperti bang Ken yang tertidur pulas setelah mendapat jatah.
“Kek wajah Indonesia ya?“ Bang Givan mengusap-usap pipi anakku.
Mbak Canda mendekat, kemudian ia duduk di kursi yang berada di dekat brankarku. Mbak Canda meneliti anakku, sampai membuka kain penutupnya.
Rupanya, ia begitu penasaran.
“Rambutnya hitam, kulitnya merah kehitaman gini. Lihat bayi di sebelah, anaknya berkulit merah atau pink gitu, bayi bule. Ini kok agak lain.“ Mbak Canda sampai melihat ke bagian gendernya.
“Tak disunat ya dia, Mas?“
“Jaman sekarang tak boleh, Canda. Kalau menurut orang kita sih kebersihan, biar ceboknya bersih. Kalau menurut ilmu, katanya mengurangi keminatan s*****l. Tak tau juga sih, ngikutin perkembangan aturan aja. Cala tuh tak juga, di jaman Cala tuh udah berubah aturannya.“ Bang Givan hanya memerhatikan dari jauh.
“Memang nampak bedanya disunat sama tak?“ Maksudnya, kan bayi ini perempuan.
“Nampak kalau kata mbak sih, tak terbuka itunya.“ Ia membenahi kembali pakaian bayiku.
Entah itu apanya, aku tidak mengerti.
“Mau dikasih nama siapa, Bang?“ Anakku memiliki hak mendapatkan nama.
“Terserah.“ Bang Givan duduk di sofa dan mengusap wajahnya.
Ia mengusap lebar, kemudian bersandar menyantai. Mendengar 'terserah' kesannya ia seperti marah.
“Abang kau pusing kalau kasih nama. Banyak anaknya kan, dia cuma nambahin nama. Papah Adi sama Ghifar, yang selalu berperan kasih nama.“ Mbak Canda mengganggu bibir anakku. Ia iseng sekali, padahal bayi tersebut tengah terlelap.
“Terserah kau, Ria. Orang tua itu bebas kasih nama untuk anaknya, kau punya hak itu,” tambah bang Givan kembali.
“Terserah! Terserah! Sebenarnya sih, memang tak ketemu ide nama,” sindir mbak Canda dengan melirik suaminya.
__ADS_1
Bang Givan terkekeh kecil, melirik sekilas ke arah istrinya. Kemudian, meluruskan pandangannya lagi untuk melihat ke arah jendela.
“Siapa ya namanya, Mbak?“ Aku mengusap tubuh anakku semampu aku menggapai.
“Yang ada Zahra gitu, bagus keknya,” jawab mbak Canda kemudian.
“Pasaran Zahra tuh, semua orang udah pakai nama itu,” tambah bang Givan kembali.
Iya sih, di kelasku saja ada yang memiliki nama dengan imbuhan Zahra sebanyak tiga orang. Mereka tiga-tiganya muslim, tapi dari negara yang berbeda.
“Kireina.“ Tiba-tiba aku teringat dengan varian sabun asal Jepang, salah satunya memiliki varian Kirei.
“Ken?“
Aku lekas menoleh pada bang Givan. Apa ia melihat bang Ken dari jendela? Tapi ini kan kamar berlantai tinggi, apa bisa terlihat dari posisinya?
“Mana, Mas?“ Mbak Canda langsung berjalan ke arah jendela.
Ia malah tertawa geli. “Ya ampun, bodohnya.“ Ia memegangi perutnya sendiri.
“Mana bang Ken?“ Mbak Canda langsung menoleh ke arah suaminya.
“Tak ada.“ Bang Givan masih berusaha meredupkan tawanya.
“Sih?“ Mbak Canda terlihat bingung, dengan kembali ke kursi yang dekat dengan brankarku.
“Iya, kenapa namanya Kireina? Jadi ingat Ken sama Kin. Keturunannya aja namanya awalan huruf K, Kalista, Kafi, Khairina.“ Bang Givan menoleh ke arahku.
Siapa Khairina?
“Khairina itu siapa, Bang?“ Aku tidak tahu dengan nama itu.
“Khairina Bunga Malati. Namanya Bunga itu di akta kelahirannya yang Abang simpan.“
Kok aku baru tahu?
“Tapi aku cocok sama nama Kireina.“ Bukan karena ia anaknya bang Ken, tapi aku merasa sreg dengan nama itu.
“Kireina Deemah, air hujan yang indah dan cantik.“ Mbak Canda memegangi kedua pipinya dengan tersenyum lebar.
“Jangan, nanti nangis aja kek kau. Namanya mending Kireina Aqsa, cantik dan cerdas,” timpal bang Givan.
Itu pun bagus juga.
Menurut kalian, lebih bagus mana?
__ADS_1
...****************...