
"Aku pun tak berniat untuk balik sama bang Ken, Mah. Cuma, kadang mulutnya ini pandai betul bertutur kata. Cuma aku ingat gimana dia nuduh aku selingkuh, aku pun ingat maksa dia maksain satu kali tekan aja." Banyak hal lagi yang aku ingat, tapi paling membekas adalah itu.
"Satu kali tekan?" Dahinya berkerut.
"Iya, Mah. Dia marah masa itu, terus ngajak hubungan badan tanpa pemanasan langsung masukin aja. Sakitnya itu kek masih terasa sampai sekarang." Mamah Dinda perempuan juga, aku yakin beliau paham rasanya.
"Ohh, dulu waktu di pernikahan pertama Mamah sering begitu. Dia minta diservis, tapi tak balik servis. Makanya ada malesnya jalani hubungan, tapi buktinya lain pas sama papah."
Aku berpikir, mamah Dinda banyak tes fisik ala ranjang sebelum menikah dengan papah Adi.
"Testing duluan sih." Aku terkekeh kecil.
Mamah Dinda mendelik cepat. "Tak, Dek. Tapi tuh, papah Adi kek bener-bener mabuk Mamah juga. Jadi, pada akhirnya bukan hanya Mamah yang ngejar-ngejar."
Mabuk ini jangkauannya luas.
"Mabuk gimana sih, Mah?" Aku bertopang dagu, dengan siku bertumpu di sandaran punggung.
"Ya gitu lah, kau sih nanya gimana mabuknya." Mamah Dinda terkekeh kecil dengan wajah sedikit memerah.
"Ya kan banyak macemnya." Ini sesuai yang aku tahu.
"Ya intinya tak cuma cinta bertepuk sebelah tangan." Mamah Dinda tak memperjelas.
Ya, okelah.
"Menurut Mamah, cari aja yang sama-sama berjuang untuk kau. Ken tuh, dari awal minim berjuang tapi besar ambisinya. Waktu papah sampai nekat, kan karena Mamah ini udah tak mau. Orang tua Mamah melarang, orang tua papah tak restuin, jadi Mamah pikir udah aja, jangan dilanjutkan. Dia tak mau, dia maksa. Mamah tau, papah udah merengek ke orang tuanya. Mamah pun tau, papah sampai jadinya akrab ke kakaknya Mamah, ayahnya Aca itu, karena ya lagi berjuang ambil hati keluarga. Dia udah buntu gitu kan? Makanya, udah aja langsung hamil dulu aja. Karena Mamah pun udah nolak dia, jadi kek dia ini berjuang sendiri. Sedangkan Ken, di keluarga sini itu dia tak ada berjuang. Ke ibu kau aja macam biasa aja, apalagi ke abang ipar kau. Ditambah pisah dan mau kembali lagi, menurut Mamah sekarang ini dia bukan lagi berjuang. Masa sekali datang, langsung bahas keputusan. Kalau laki-laki benar-benar mau berjuang, ya bujuk dulu, itu pun berulang," ungkapnya dengan menggerakan tangannya juga.
Jika dipikir, memang iya. Dia berjuang di awal itu, hanya untuk menemuiku dan mendapatkanku saja. Makin diingat, malah makin nyesek.
"Tapi di mana aku dapatkan laki-laki yang mau berjuang juga?"
Jawabannya adalah???
"Nanti aja kalau udah selesai dari Ken. Ken ini bakal mempersulit, kalau bukan dia sendiri yang buang." Seperti yang pernah kak Tiwi katakan, ucapan mamah Dinda mirip seperti itu bunyinya.
"Sana jemput Kirei, mau Maghrib." Mamah Dinda menepuk pangkuanku.
__ADS_1
"Iya, Mah." Aku langsung menuruti perintah beliau.
Papah Adi sudah tak ada di halaman, kakek yang satu itu sangat produktif di usianya. Ada saja kegiatan yang bermanfaat, terbukti dari tumbuhan liar yang disatukan di bak tempat sampah sudut rumah. Nanti biasanya karang taruna di sini mengambili sampah itu, dengan biaya angkut seikhlasnya.
"Kirei…." Aku memasuki rumah mbak Canda.
Mbak Canda enak tidur-tiduran di kasur lipat ruang keluarga, padahal ada adik iparnya di dekatnya. Bang Givan pun ada di situ juga, malah ia tengah mengobrol serius dengan Gavin.
"Kirei," panggilku pada anak yang anteng di pangkuan Gavin.
Ya ampun, bayi itu banyak tingkah sekali.
Ia malah tersenyum, kala aku terlihat di pandangannya. "Lagi belajar bisnis dong, biar langsung bisa buka usaha pas bisa jalan nanti," ucap Gavin dengan memeluk Kirei.
"Ibu di dalam tuh, Dek." Mbak Canda menunjuk kamar anak kembarnya.
"Disuruh jemput Kirei, Mbak." Aku melangkah dua langkah lebih dekat.
"Abang ambil sampelnya dulu." Bang Givan bangkit dan berlalu pergi.
Ya ampun.
Gavin langsung memandangku dengan alis menyatu, karena aku tidak sengaja menyentuh miliknya kala mengangkat tubuh Kirei. Benar-benar tidak sengaja, karena Kirei belum terlalu kuat lehernya, sedangkan miliknya itu menjadi tempat alas duduk Kirei dan perutnya menjadi tempat kepala Kirei bersandar.
Aduh, entahlah. Masa mau minta maaf? Yang ada nanti mbak Canda tahu lagi.
Miliknya pun tengah tidak keras, tapi kenyalnya terasa di punggung tanganku. Lagian, kenapa ia tidak memposisikan Kirei dengan benar saat aku ingin mengambilnya? Jadi serba salah begini.
"Pulang dulu, Biyung." Aku menggendong Kirei dan berdiri tegak kembali.
Gavin malah terus memperhatikan aku. Dia meluruskan kedua kakinya, dengan tangannya menopang berat tubuhnya ke belakang. Tubuhnya seolah berkata, ayo naiki aku.
Huftttt, agak gila aku ini.
"Oke, dadah Kirei…." Mbak Canda melambaikan tangannya.
Kirei semakin tersenyum lebar. Ia adalah wajah bang Ken dalam keadaan ramah dan bahagia, senyumnya selalu lebar, tidak seperti ayah kandungnya.
__ADS_1
"Dadah, Biyung. Adek pulang dulu, udah sore." Sampai suaranya sedikit terdengar, kala tangannya aku ajarkan untuk melambai pada bukdenya itu.
Aku tidak sengaja tadi, Gavin berpikir apa ya? Sungguh, aku tidak berniat menyentuh miliknya yang lemas itu.
Beberapa mata tetangga, memperhatikan aku yang membawa Kirei pulang. Pasti mereka banyak bertanya, tentang siapa Kirei. Karena aku pun menyadari, kemarin itu Kirei sengaja disembunyikan di rumah saja.
Sepertinya, ia lelah bermain dan kurang tidur. Saat aku menyusuinya dengan pabrik ASI yang masih penuh sebelah, Kirei malah terlelap pulas. Untungnya, sudah lepas Maghrib juga.
Inilah kebiasaan burukku, aku pun mengantuk ketika menyusui. Aku pun ikut terpejam, dengan kebiasaan pintu yang masih setengah terbuka.
Aku terbangun di tengah malam, sekitar pukul setengah satu. Cadangan air minum di kamar ini habis, jadi aku bergerak untuk mengambil air minum ke dapur. Kirei begitu pulas, aku menyusun bantal sebelum aku pergi ke dapur. Aku khawatir, Kirei bergeser tempat dan jatuh.
Wow.
Duda muda itu ada di sofa ruang keluarga. Ia bermain ponsel, sambil rebahan di salah satu sofa yang membelakangi pintu kamarku. Yang menjadi perhatianku adalah, muatan web dewasa di layar ponselnya. Gavin tengah menonton film dewasa, dalam kondisinya tanpa pasangan.
Aku terkekeh kecil, kemudian melanjutkan melangkah ke dapur dengan membawa botol air kedap udara yang sudah kosong.
"Shtttttt…."
Aku langsung menoleh ke belakang, di mana Gavin berada. Wajahnya terlihat dari sini. Aku lanjut melangkah, setelah tahu itu adalah dirinya.
Memang mau apa, pikirku. Jadi, aku tak perlu menghampirinya dan bertanya akan tujuannya shat-****-shut begitu.
"Shtttttt…." Suara itu berulang, ketika aku tengah mengisi air di dispenser air.
"Shtttttt…."
Ya ampun, mengganggu sekali.
"Apa?!" Aku menoleh cepat ke arah akses kelaur masuk dapur.
Gavin ada di sana, ia menyeringai seperti serigala kartun yang melihat mangsanya.
Ingin apa dia?
...****************...
__ADS_1