
"Baru lima hari nikah, udah payah betul. Lusa kau dibawa ke Lampung, gimana? Mampu tak urus suami, anak dan diri sendiri seorang diri?" tanya ibu mertuaku, kala aku berkunjung agar Kirei ada yang memegang.
Aku lelah dibolak-balik putra Dinda dan Adi terus, bestie.
Benar, kini sudah lima hari menikah dengan permasalahan cekcok keuangan. Karena apa? Gavin tidak mau mengurus kartu ATM untukku, dengan alasan repot pembagian. Dia bilang, jika butuh uang tinggal minta saja. Ya memang terdengar bijak, tapi aku malas jika harus selalu meminta. Ia tahu nafkah, harusnya tak perlu diminta. Pikirku begitu, tapi ia mengatakan jika yang ia pikirkan bukan tentang pembagian uang saja. Yang terpenting untuknya, ia memegang uang bukan untuk menikah lagi.
"Mampu aja, Mah. Tak mampu, ya tinggalin kerjaan rumah dulu." Aku terkekeh kecil, dengan merebahkan tubuh di sofa. Kirei tentu sudah berada di pangkuan neneknya, ia anteng dengan orang-orang yang ia kenal dekat.
"Di sini kau ada keluarga kau yang bantu pegang Kirei, sementara kau ngerjain tugas rumah dan urus Gavin. Di sana, kau sendirian loh. Tau sendiri, Gavin berat tangan untuk bantu sesuatu. Dia tak macam Givan, yang ada piring kotor ya cuci. Tak macam Ghifar, yang suka bantu nyapu rumah dan halaman rumah. Bangun pun sulit betul kan? Dari dulu gitu, meski kedisiplinan dibentuk dari kecil, tapi memang anaknya begitu."
Aku memandang plafon kamar. Benar, suamiku seperti itu. Ia si berat tangan dan si malas bangun pagi, ia sempat untuk sholat Subuh, tapi tidak sempat beraktivitas setelahnya. Ia akan tidur kembali, sampai matahari sudah di atas kepala. Sarapan jam sepuluh, jam sebelas. Makan siang jam duaan, makan malam habis Maghrib. Jika malam memang ia membantuku mengurus Kirei, kadang ia yang membukakan bajuku, saat Kirei minta ASI. Tak jarang juga, ia membuat sufor untuk Kirei.
"Tapi yang buat payah bukan pekerjaan rumah deh, Mah. Buktinya, aku masih bisa untuk leha-leha main ke sini atau main ke mbak Canda. Tapi ikutin maunya dia tuh, tiap bangun tidur rasanya kurang tidur terus." Aku tidak mendeskripsikan secara jelas, tapi mamah Dinda pasti mengerti.
Bagaimana respon beliau? Beliau hanya terkekeh geli.
"Tapi jujur aja ya, Dek? Mamah dengar aduan ini bukan dari kau aja, dari menantu yang lain pun begitu. Tapi menantu laki-laki tak pernah ngadu sih, entah suaminya Icut, atau suaminya Giska. Ya Mamah tak punya jalan keluar, orang papah aja sampai sekarang aktivitasnya masih kencang. Umumnya orang usianya kan, seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Papah masih rutin seminggu dua kali, bahkan sering tiga kali. Dulu tak pernah pakai aturan, mau ya main. Keturunan papah, termasuk papahnya tidak bisa pasti kek Givan yang tau kondisi. Winda aja pernah cerita, katanya Ghava tega banget. Lagi tidur, dibangunkan, diganggu dan diminta ngeladenin. Harus tuh harus, tak paham lagi capek atau lagi ngantuk. Aca pernah ngadu juga, sampai dirinya kelelahan beberapa kali ngeladenin, sampai setengah pingsan katanya, eh tetap digarap aja sama Ghifar. Mamah tak punya cara, selain kau harus nerima dan nikmati. Tapi kek gitu bukan ciri hypers** kok, kalau hypers** itu sehari sampai lima kali atau lebih. Gavin tak begitu kan?" Mamah menjelaskan tanpa sensor di bagian yang kurang pantas itu.
"Sehari sering dua, tapi aku yang ngerasanya capek betul. Lemes, Mah." Entah badanku yang kaget, atau memang aku yang tidak biasa.
__ADS_1
Tidak boleh keluar cepat, tapi setelah keluar diminta keluar lagi jika ia masih lama. Lebih dari puas, lebih dari cukup nafkah batin yang ia beri.
"Ya nanti minum suplemen kesehatan aja, vitamin gitu. Mamah tak punya saran lain, karena memang waktu muda pun merasa payah juga. Apalagi pas lagi hamil, tapi tetap harus melayani. Tak boleh kan di trimester awal tuh, ya tetap dipakai bilangnya pelan aja kok, tak keras-keras kok. Susah, memang udah begitu."
Aku kira beliau memiliki saran.
"Sampai capek aku keramas, Mah." Mendengarku, ia malah tertawa geli.
"Kirei ngapain nih? Jadi kameramennya ayah sama Ibu ya?" Mamah Dinda mengajak Kirei berbicara, Kirei tentu merespon dengan gusi bersihnya.
"Tapi tak kasar kan, Dek? Tak kek Ken kan?"
"Tak, Mah. Slowlynya bikin gila." Aku memijat pelipisku teringat kegilaan Gavin.
"Papah gitu, tapi bisa request mode."
Gavin boro-boro request mode. Saat siang itu saja ia melakukan sedikit kuat, tapi tetap mencampurnya dengan kegiatan slowly. Ia selalu tertawa senang, melihatku kelabakan karena ulahnya.
"Awal-awal boleh, lama-lama tetap dia yang atur." Benar aku boleh menyentuhnya. Setelah itu, pasti akhirnya dirinya lagi yang berkuasa.
__ADS_1
Aku sudah mencontohkan seperti yang diberitahu mbak Canda, lumayan berefek. Gavin memang berisik, meski yang katanya tidak ada sensasi juga. Setelah ikuti saran mbak Canda, ia hanya seperti kalap sampai mencengkam apa yang bisa dirinya pegang padaku. Lumayan mengasyikkan, tapi ia tidak mau aku terlalu lama memegang kendali. Katanya, karena ia merasa tidak gagah dan tidak jantan.
"Normal, keturunan Riyana. Beranggapan bahwa dirinya lebih tinggi dan lebih unggul dari kita. Jangan dibawa kaget, Dek. Dibawa santai aja, jangan terlalu dijadikan masalah." Mendengar nasehatnya, aku jadi teringat perihal pengatur keuangan kami.
Apa aku harus mengikuti aturan Gavin saja? Tapi aku khawatir ia tidak bisa memegang uang. Aku takut, ia habis terus masanya memegang uang banyak. Aku ikut campur, karena aku ingin hartanya menjadi barang dan tidak habis sia-sia.
"Perihal hal lain juga kah, Mah?" tanyaku hati-hati.
Aku khawatir keceplosan, bahwa aku tidak sreg dengan aturan keuangan yang putranya berlakukan. Takutnya, ia malah membela putranya.
"Tak semuanya sih. Ranjang, uang, keputusan, kendalinya kuat. Iya heem aja, pada akhirnya tetap keputusan mereka sendiri yang lebih kuat. Kadang berubah sedikit, tapi kalau papah sih kalau Mamah udah ngambek ya langsung dituruti semua. Papah dari dulu takut Mamah pulang ke Cirebon, jadi kek dibuat betah terus."
Aku pulang pun ke mana? Wajarlah Gavin tidak ada takutnya.
"Masa sih, Mah? Aku nanti gimana ke depannya, Mah?" Sekarang masih adem, tapi ke depannya bagaimana ya rumah tangga kami?
"Ya diutarakan aja dan kasih alasannya apa. Misalnya, kau mau masak sehari satu menu dan satu kali aja, alasannya karena repot sama Kirei tak ada yang pegang. Biar dia mikir tuh. Kau tak perlu ngadain acara mogok masak, yang ada malah dia tak terkontrol, tau sendiri kalau udah marah suaranya kek pada pakai toa. Kau tetap masak beberapa menu dan beberapa kali, sampai matanya lihat sendiri bagaimana keteterannya kau, repotnya kau dan lelahnya kau. Nunggu dia kasihan aja, nunggu dia sadar bahwa kita tak mampu ikuti aturannya. Dari awal nikah, Mamah pun kena mental di harus masak ini. Harus tuh harus, pakai alasan terlalu boros lah, kan dulu belum kaya. Pakai alasan, demi kesehatan dan kebersihan makanan lah. Mana kan dulu belum ada ART paruh waktu, atau yang tinggal di sini. Jadi repot terus tuh, capek ngapa-ngapain, akhirnya malas di ranjang. Kan jadi nyadar sendiri tuh, terus dikasih kebijakan yang lebih mudah."
Ternyata, mamah Dinda pun pernah ada di posisi diam dan kesal karena aturan suami juta rupanya. Hmm, sekelas mamah Dinda saja begini. Apalagi, sekelas aku?
__ADS_1
...****************...