
Kenapa ia nampak ragu-ragu sekali melangkah? Saat aku menggenggam tangannya pun, jemarinya begitu dingin. Ia seperti tengah grogi, seperti akan bertemu seseorang yang membuat hatinya kacau.
"Assalamu'alaikum…." Gavin melepaskan cekalan tanganku ketika sampai di teras rumah seseorang.
"Wa'alaikum salam."
Rumah pak RT ya? Kok perempuan muda yang menyahut?
"Bapak ada, Lin?"
Lin? Ia tahu nama perempuan muda tersebut? Lebih muda dariku, dengan wajah seperti chindo.
"Ada," jawabnya dengan melirik ke arahku.
"Kakaknya ya, Bung?" tanyanya dengan melirik pada Gavin kembali.
Bung? Panggilan kesayangan atau apa ini?
"Bukan. Dia, istri Saya." Gavin menjeda ucapannya sejenak.
Nampak perempuan tersebut itu terkejut. Ia memperhatikan Gavin dengan tatapan dalam, sampai akhirnya ia berbalik ke belakang.
Ada apa? Dia siapa?
"Ehh, ada tamu." Itu suara bapak-bapak.
"Iya." Gavin tertawa ramah, kemudian berjabat tangan dengan bapak-bapak yang baru muncul tersebut.
"Silahkan, masuk." Bapak-bapak tersebut memandangku sejenak.
"Lin, buat minum." Bapak-bapak tersebut sepertinya menyuruh anaknya. Lin itu, sepertinya anaknya dan seperti ada sesuatu dengan Gavin.
Aku duduk di sebelah suamiku. Kirei mengedarkan pandangannya, ia memperhatikan hiasan dinding seperti samurai atau entah apalah itu. Banyak berjejer sajam, yang sengaja dipajang di dinding bagian atas.
"Gimana?" tanya bapak-bapak tersebut.
"Ini." Gavin mengeluarkan buku nikah kami dari saku jaketnya. "Kata bang Ade, wajib lapor katanya." Gavin berkata sembari tertawa tipis.
"Loh? Apa ini? Buku nikah? Punya siapa?" Bapak-bapak tersebut pun terlihat kaget.
Logikanya, tidak perlu sedemikian kaget karena wajarnya duda muda menikah lagi.
"Ohh, ini istrinya? Loh? Memang udah tak sama Lina lagi kah?"
Ini ya kejutannya?
"Udah tak, Pak." Gavin terlihat gugup dari wajah dan bahasa tubuhnya.
"Sejak kapan? Kok Bapak tak tau? Ini tiba-tiba nikah, atau gimana? Dijodohkan ya? Pantas tak pulang-pulang lagi." Pertanyaannya langsung diborong semua.
Jadi, kemarin ia memiliki kekasih ya? Tapi yang mana nomor kontaknya? Gila ini laki-laki, rapi sekali permainannya.
"Seminggu yang lalu nikah, Pak. Saya boyong ke sini, karena kebetulan panenan juga." Ia tersenyum untuk memanipulasi ketegangan dalam dirinya.
__ADS_1
Hei, aku tahu jemarinya dingin.
Ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum lebar, kemudian mengusap-usap lututku yang tertutupi daster dengan modelan dress simpel.
"Memang dari kapan udah tak sama Lina?" Berbenturan dengan pertanyaan itu, Lina datang dengan menyuguhkan satu teko teh dan tiga gelas yang menghadap ke bawah.
"Dari sepuluh harian yang lalu keknya, Pak." Perempuannya yang menjawab.
Aku ingin pulang saja ke Aceh.
Dalam persiapan pernikahan kami pun, ia masih memiliki pacar. Ia ingin aku perawatan segala macam, karena agar aku menyaingi gadis satu ini. Aku tahu dia ini gadis, karena memang terlihat masih begitu muda. Entah-entah masih SMA.
"Dijodohkan, Vin?" tanya bapak-bapak itu lagi.
"Heem."
Aku langsung menoleh cepat pada suamiku yang meluruskan pandangannya pada teh tersebut.
Oh, jadi kami dijodohkan? Tapi kapan ya? Bukannya ia sendiri yang merengek ingin segera menikah?
"Oh, ya tak bisa diapa-apakan lagi ya? Apalagi, kemarin kan modal apa segala macam dari orang tua. Jadi, kau pasti tak enak untuk nolak keinginan orang tua." Bapak-bapak ini sepertinya tahu sedikit tentang asal-usul usaha Gavin.
Tapi yang jelas, ia sudah akrab dengan calon mertuanya.
Gavin mengangguk samar. Ia mengiyakan semua pernyataan dari bapak-bapak itu?
Begini ya bajingannya laki-laki?
"Oke, oke. Ada KK sama KTP belum ini?" Bapak-bapak tersebut mengambil sesuatu dari bawah meja.
"Ini bukti KTP sedang dalam perubahan data, KK belum jadi." Gavin mengeluarkan dompetnya.
"Oke, dipinjam sebentar." Bapak-bapak tersebut menyalin sesuatu ke buku yang ia dapat dari kolong meja tersebut.
Gavin tidak berani memandangku, ia memandang lurus pena yang digoreskan ke buku tersebut. Ia takut kan? Ia merasa bersalah kan?
Rasanya tidak mungkin juga, duda yang masih amat muda merantau tanpa hubungan dengan seorang wanita. Fokus bekerja, katanya. Ternyata ada yang membuat betah juga.
Ganti suami, malah membuatku semakin yakin bahwa laki-laki itu sama saja.
Tangannya kembali mengusap-usap lututku, tapi matanya tetap memperhatikan pena tersebut. Ia tidak berani memandangku.
"Ini anak siapa?" Bapak-bapak yang sepertinya pak RT itu mengembalikan selembar surat dan buku nikah kami, ia menunjuk pada Kirei.
Lucunya Kirei, ia malah mendongak menatap ayah sambungnya. Ia seolah bertanya, siapa dia berani menunjukku.
"Sama-sama bawa anak, Pak." Gavin mengusap pipi Kirei.
"Ohh, iya-iya. Kata Bapak juga apa, sana bawa Lina untuk dikenalkan ke sana. Nyata kan? Keduluan orang tua yang ngasih pilihan."
Kenapa bapak-bapak ini tidak memikirkan perasaanku? Ia asyik membahas tentang anaknya yang menjadi mantan Gavin saja. Aku ini seolah terkesan penghancur hubungan mereka.
"Kasian jauh. Masa bolos sekolah, hanya untuk perkenalan aja?"
__ADS_1
Sudah kuduga, perempuannya masih sekolah.
"Ya tapi kan, setidaknya orang tua kau harus tau. Biar di sana, tak usah carikan jodoh untuk anaknya." Bapak-bapak ini sepertinya sudah merestui hubungan mereka, terlihat dari dukungannya yang sampai mengizinkan anak gadisnya dibawa Gavin untuk dikenalkan keluarganya.
Kenapa juga Gavin tidak melakukannya?
Kesannya, seperti membuang bang Ken dan mendapatkan bang Ken lagi. Satu dua bajingannya, meski memang lebih fatal bang Ken.
Apa tidak ada laki-laki yang benar-benar baik? Apa tidak ada laki-laki yang benar-benar jujur?
"Iya, Pak. Salah Saya juga yang tak kenalkan dari awal."
Bisa-bisanya ayah sambung Kirei mengatakan hal ini di depanku.
Tiba-tiba Kirei tidak mau anteng dalam gendongan ayahnya. Ia sampai berdiri di atas paha ayahnya dan berpegangan pada leher ayahnya.
"Bosan kah, Dek? Yuk pulang yuk?" Gavin berdiri dan mengayunkan tubuh Kirei.
"Masih kecil anaknya, umur berapa?" tanya pak RT tersebut dengan memandangku.
"Belum genap lima bulan," jawabku dengan tersenyum ramah.
"Ohh, baru pisah ya?"
Kepo sekali bapak-bapak ini.
"Iya." Aku melirik suamiku yang bajingan ini.
Kebetulan, ia tengah memandangku dari samping. Wajahnya nampak sekali masih tegang.
"Kita pamit dulu, Pak. Assalamu'alaikum," ujar Gavin setelah mengantongi buku nikah dan surat keterangan perubahan data KTP tersebut.
"Wa'alaikum salam." Bapak-bapak tersebut mengantar kami sampai teras rumahnya.
Kepalaku rasanya ingin meledak. Sesak sekali di dada, aku ingin menuduh suamiku dengan segudang fakta tadi rasanya.
"Wah, ada pasar malam. Mau ke sana tak, Bu?" Gavin merangkulku.
"Silahkan, aku duluan." Aku melepaskan rangkulannya.
Pandainya ia membujuk.
"Tuh, masa duluan?" Ia menyetarakan langkah kaki kami kembali.
Kami akhrinya sampai di rumah, tanpa berkunjung ke mana-mana dulu. Aku tidak mood membeli sesuatu, dalam keadaan seperti ini.
"Ada apa sih, Bu?" Ia duduk di kasur dan merebahkan Kirei.
Kirei menggaruk kepalanya, kemudian beralih dalam posisi tengkurap.
"Bajingan!" Aku langsung memakinya.
Ia diam cukup lama, apa ia sedang meraba kesalahannya?
__ADS_1
...****************...