
"Jangan khawatir, Mah. Aku janji tak akan ganggu rumah tangga anak-anak Mamah, aku kalau bisa bakal bantu mereka semampu aku." Bang Ken tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum…." Seperti suara yang pernah kukenal.
"Dek, ada orang jauh nih." Papah Adi masuk lebih dulu.
"Hai, belum tidur juga?" Aku kaget melihat kepala Kirei masih tegak bergoyang-goyang.
"Ish, siapa nih? Kok bawa anak? Anak siapa?" Mamah Dinda bangun dan menyambut tamu yang datang.
"Assalamu'alaikum…. " Datang laki-laki berwajah asing dengan cangkok salam yang berbeda.
Alamak, sampai terkesima aku memandang bule tersebut.
"Wa'alaikum salam," jawab kami dengan menyambut laki-laki asing itu juga.
"Kendini tanıt." Kak Novi menyentuh lengan laki-laki berjambang itu.
"Tanıştığıma memnun oldum. Benim adım Feride Kuzey Yıldız, genellikle Kuzey denir. Novia Ulfa Riyanti'nin kocasıyım." Ia menempatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Rumit sekali, kami tidak mengerti. Kami hanya bisa saling memandang.
"Pakailah bahasa Inggris kalau tak bisa bahasa Indonesia, Nov. Kok pening Mamah?" Mamah Dinda meringis dan mendekati Novi.
Aku tidak tahu, jika Novi memandang lepas bang Ken sejak tadi.
"Katanya, senang bertemu denganmu. Nama saya Feride Kuzey Yıldız, sering dipanggil Kuzey. Saya adalah suami dari Novia Ulfa Riyanti. Gitu, Mah." Kak Novi menjelaskan dengan senyum.
Aduh, gila. Suaminya ternyata? Ganteng sekali rupanya. Orang Turki ya dia ini? Ah, aku jadi ngidam ingin mengusap jambangnya. Tak ada yang berjambang di sini, termasuk suamiku.
"Kau udah nikah? Ini anak kau?" Mamah Dinda langsung memeluk Novi.
"Iya, Mah. Maaf ya tak ngabarin, aku terlalu repot. Ini anak aku, namanya Fehran Galip Efe. Boleh kami singgah, karena berniat berlibur di daerah atas untuk beberapa hari?" Novi melepaskan pelukannya, kemudian ia memandang kami semua.
"Kau melahirkan sendiri? Atau anak duda kau?" Mamah Dinda mencoba mengajak anak laki-laki yang seperti seusia Kirei.
Gantengnya anak laki-laki itu, mamahnya cantik, bapaknya ganteng. Aku jadi ingin mencomot anak tersebut, untuk masa depan Kirei.
__ADS_1
"Melahirkan sendiri, Mah. Sesar tujuh bulan yang lalu, gagal induksi udah beberapa kali. Ini Fehran, Nek. Fehran udah tujuh bulan, udah bisa duduk dan udah makan bubur tim." Novi mengajak anaknya udah melambaikan tangannya pada mamah Dinda.
"Duduklah, ayo duduk dulu. Kalian baru datang semua ini?" Mamah Dinda mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang keluarga ini.
"Iya, Mah. Baru datang dari bandara, terus langsung ke sini." Novi melipir dan duduk di sampingku.
"Hai…." Akh mencolek pipi bujang ganteng ini. "Nanti besar sama Kirei aja ya, Bang?" Apalagi mereka hanya berjarak satu bulan.
"Heh!" Papah Adi membuatku kaget.
Lalu, semua orang ikut tertawa. Termasuk suami kak Novi yang berjambang itu, sayang namanya sulit kusebut. Aku hanya mengingat Kusen, karena namanya Kus-Kusan seperti itu.
"İngilizce anlıyorlar. Lütfen burada İngilizce kullan, tamam mı canım?" Kak Novi berbicara dengan menggerakkan tangan dan bola matanya.
Ish, keren. Aku jadi teringat dengan Indirach, Indirach mode tinggi dan besar. Ya, itulah kak Novi. Tapi lebih berasa wajah orang luarnya, aku teringat jika rambutnya pun aslinya bukan berwarna hitam. Karena ibunya konon katanya memang blasteran Turki asli.
"OK, I will use English." Senyum laki-laki berjambang itu merekah sekali untuk istrinya.
Suamiku kah? Senyumnya mesum selalu.
"Kau menikah sejak kapan, Nov?" tanya mamah Dinda kemudian.
"You say to use English, but you yourself use Indonesian. So I don't understand what it means." Kus-Kus geleng-geleng kepala.
"I said, we got married two years ago and you are the owner of the coffee shop there too." Kak Novi geleng-geleng kepala.
"Melongo aja kau, Dek." Papah Adi menunjuk wajahku.
Aku terkekeh sendiri. "Ganteng betul." Aku menutupi wajahku.
Sungguh, aku menjadi bahan tertawaan mereka semua. Kus-Kus ganteng sekali, tapi pasti dia tidak akan melirikku sedikitpun.
"Ya udah, bersih-bersih dulu gih. Sini, Fehran biar Mamah bantu urus." Mamah Dinda bangkit dan mengajak Fehran.
Anak itu mau berpindah tangan. Gemas sekali, karena tatapannya polos sekali.
"Di kamar mana, Mah?" Kak Novi mengajak suaminya.
__ADS_1
"Di kamar depan kosong semua, Dek." Papah Adi menunjuk ke arah ruang depan.
"Ambilin diapers sama minyak telon Kirei, Dek. Pinjam dulu, mau lap Fehran dulu." Mamah Dinda membawa anak laki-laki tersebut ke kamarnya.
Aku mencolek-colek anak laki-laki itu terus, saat ia tengah dibilas oleh mamah Dinda. Ia anteng memainkan diapers Kirei yang aku berikan, ia pun sesekali mengambil minyak telon yang tergolek di sampingnya.
"Mah, pengen punya anak ganteng begini." Aku excited sekali ingin menggendong anak ini.
"Tak bisa, Ria. Gavin tak ganteng."
Aku tertawa geli mendengar celetukan ibu mertuaku. Berarti Gavin itu gemar meledek, karena memang dari atasnya begini.
Aku mendengar suara Kirei yang merengek, aku keluar kamar dan melihat Kirei ada bersama ayah kandungnya. Kirei menunjuk seorang laki-laki yang pergi ke luar, rupanya itu papah Adi yang tengah sibuk membantu memasukkan koper milik Kus-Kus dan kak Novi.
"Sama Ayah, Dek. Apa mau sama Mbu?" Aku mengajak Kirei.
Anak itu menggeleng terus, hingga akhirnya bang Ken mengalah untuk mengajak Kirei ke ruangan yang Kirei ingin. Kirei jika sudah dengan papah Adi, tidak mau dengan siapapun. Beralihnya hanya mau ketika Gavin lewat di depan matanya, atau karena ia sudah terlelap.
Yey, akhirnya aku bisa mencicipi untuk menggendong bujang ganteng ini. Kulitnya putih sekali, seputih kapas. Bibirnya merah, seperti memakai lip balm. Bulu matanya lentik dan matanya besar.
Aku mengajaknya duduk di ruang tamu, dengan memainkan ponsel. Tentu aku mengambil fotonya banyak sekali, karena memang ketampanan anak kecil ini pantas diabadikan.
"Dek, Kirei anak kau sama bang Ken?" Kak Novi keluar kamarnya tanpa menggunakan hijab.
Aku iri melihat rambutnya. Ah, aku akan merubahnya seperti itu dengan izin ayang Apin.
"Iya, Kirei anak bang Ken." Aku tidak memperdulikan kenyataan itu, karena aku lebih peduli mengambil foto Fahran. Toh, memang kebenarannya seperti itu.
"Nikah sama kau?" Mata indah kak Novi sampai membulat.
"Pernah, tapi sekarang aku sama Gavin. Sekarang, aku lagi ngandung anak Gavin." Aku fokus saja mengagumi anak yang memakai diapers saja ini.
Kak Novi belum mengambilkan baju untuk Fehran.
"Hah? Serius? Kok bisa? Gimana ceritanya?" Ia sepertinya amat ingin tahu.
"Ceritanya……
__ADS_1
...****************...