
Untungnya hampir sebulan ini selalu ada Keith di sampingku. Jujur saja, aku kurang menguasai bahasa asing. Aku lama di Kalimantan, aku cukup mampu menguasai bahasa Kalimantan. Apa ya nama bahasanya? Yang bunyinya 'ikam-ikam' seperti itu. Lawan bicaraku ketika berbahasa Kalimantan hanya bang Givan, ia pun bisa tapi ia tetap mengusahakan anak-anaknya untuk bisa bahasa Aceh dan Cirebon. Karena Cirebon adalah kampung halamannya, sedangkan Aceh adalah kampung ia tumbuh kembang dan sampai berada di usianya sekarang.
“Keith, bantu antar jemput ya? Aku keteteran ngurus kerjaan yang bang Givan limpahkan.“ Aku sudah memeluk beberapa dokumen yang cukup tebal ini.
“Iya, nanti aku usahakan. Kirim aja jadwal aktivitas Ceysa.“ Ia memalingkan sejenak perhatiannya dari pekerjaannya.
“Oke.“ Aku sudah merogoh ponselku di saku celana formal ini.
Aku mengirimkan jadwal aktivitas Ceysa. Ia pagi memang bersekolah, tapi siang hari ia memiliki aktivitas lain. Ia mengikuti pengembangan diri, les yang menurutku tidak penting, karena hanya mengobrol saja. Tapi ternyata, les mengobrol itu dengan psikolog khusus. Intinya, aktivitasnya selesai di jam dua siang. Setelah itu ia pulang ke rumah peninggalan bang Lendra yang kami tempati bersama Keith. Keith tinggal di sana, semata-mata untuk menjaga kami.
Tenang kok, kami tidak sekamar. Jika sudah turun dalam pekerjaan, aku benar-benar repot dan kelelahan. Setelah bekerja, hal yang aku utamakan adalah memejamkan mataku. Karena terang saja, mataku mulas selalu memandang layar monitor.
Setelah mengirimkan Keith pesan yang berisi aktivitas Ceysa, aku bersiap untuk keluar dari ruangannya. Kami masih bekerja di kantor, ini masih jam kerja dan kami tengah sibuk.
B***bahnya bang Givan, ia tidak mengatakan apapun jika ia melebarkan sayap dalam bisnis distributor ikan segar itu. Kini bukan hanya ikan khas Gayo yang diekspor, belut sawah yang dibudidayakan pun diekspor ke sana. Aku tengah sibuk mengurus pelebaran pasar tentang belut sawah tersebut. Enak nanti yang jadi Chandra, lulus kuliah ia langsung menjadi orang sukses.
Chandra pulang setelah satu Minggu berada di sini. Ia mengatakan dengan jujur, bahwa ia rindu pada Izza.
Awas saja kau, Izza!
Kalau sampai kau bermain-main dengan Chandraku, aku sebagai tantenya akan maju untuk meminta kembali semua yang sudah Chandra berikan. Termasuk, perasaannya! Aku yakin Chandra sudah memberikan rasa cintanya dengan utuh pada perempuan tersebut.
“Nanti sempatkan makan siang bareng ya?“ Keith membuat langkahku terhenti.
“Kau harus jemput Ceysa, Keith.“ Aku hafal dengan jadwal aktivitas Ceysa.
__ADS_1
“Aku bisa atur, yang penting kau kasih kita waktu. Kita lama tak makan bersama, Ria. Gimana hubungan kita kedepannya nanti?“ Derap sepatu Keith semakin dekat ke arahku.
Aku berbalik badan, menghadap padanya yang terlihat lelah di jam sembilan pagi ini.
“Kenapa bahas kita kedepannya?“ Aku tahu tentang kami yang tidak memiliki tujuan.
“Kita itu renggang sekarang, Ria. Kau tak mau aku sentuh, kau menghindar pas aku dekati.“
Oh, ya ampun.
Kalian tahu apa alasannya? Yaps, gara-gara duda kentir itu. Di awal aku datang ke Singapore, aku menghindari Keith karena leherku memiliki motif khas wanita bersuami. Masalahnya, pelakunya itu bukanlah Keith. Pelakunya adalah bang Ken, bukan Keith. Jelas Keith akan menuduhku lain, jika ia melihat tanda mesum itu.
Lalu, karena terbiasa dengan menjaga jarak dengan Keith. Sampai sekarang, kami benar-benar tidak bersentuhan kulit, karena aku pun direpotkan dengan pekerjaan baruku.
Kedudukanku sebagai CEO di perusahaan bang Ghifar, sementara waktu diambil alih oleh kak Jeni. Kak Jeni kemarin adalah asistenku, ia adalah orang kepercayaan bang Lendra. Usahaku keluarga iparnya mbak Canda, sudah tercampuri oleh tangan-tangan kepercayaan bang Lendra. Hasilnya, ya memang lebih sukses dan lebih maju.
“Aku tunggu waktu itu, Ria.“
Aku hanya mengangguk, kemudian bergegas pergi dari ruangannya. Meski aku memiliki penerjemah bahasa di sini, tapi tetap saja aku harus menggunakan Google translate juga karena mereka manusia yang bisa bergerak menjauh ketika ingin melakukan aktivitas pribadinya.
Singapore adalah bukan tempatku, aku tidak nyaman bersosialisasi karena tidak begitu paham dengan bahasanya. Dalam rapat pun, aku sering sekali sakit kepala. Karena terang saja, pemahaman bahasa itu mudah dipahami dari dialog. Sedangkan, jarang ada warga di sekitar rumah yang mengajakku berdialog.
Keith memang bisa dan mampu mengajariku, tapi aku lebih suka menggunakan bahasa Indonesia jika berdialog dengannya. Itu membuat kami tidak berjarak dan tidak canggung.
Aku tidak memperkirakan harinya, tidak tahunya esok harinya Keith memaksaku untuk ikut dengannya ke sebuah club malam. Aku sudah terlanjur menjanjikan, aku tidak bisa menolaknya karena mulutku sendiri yang membuat rencana meski tak menentukan harinya.
__ADS_1
“Jangan buka pintu kalau ada orang ketuk. Aku tau kodenya dan sidik jari aku punya akses di pintu rumah ini, jadi aku tak perlu ketuk pintu lagi nanti. Ingat ya, jangan dibuka kalau ada yang ketuk.“ Aku membeli amanat kecil untuk Shauwi. Bagaimana pun, aku tahu tentang kepolosan gadis kampung ini.
Ditambah lagi, Keith pergi bersamaku. Ia dan Ceysa tidak ada yang menjaga di rumah. Meski memiliki pagar tinggi, tetap saja aku selalu was-was pada mereka.
“Oke siap. Sekalian jangan pulang aja deh, Ria. Aku malah takut kalau kau pulang malam nanti, aku malah kepikiran yang masuk ke rumah itu kau atau bukan.“ Shauwi dan aku seumuran. Ya beda satu atau dua tahunan lah.
“Ya lihat nanti deh.“ Tergantung bagaimana kadar alkohol yang aku nikmati nanti.
Aku beranjak keluar dari rumah, setelah mengecek keadaan Ceysa yang sudah terlelap dengan mulut terbuka. Matanya tidak terpejam rapat, tapi percayalah ia tengah tertidur pulas. Mungkin seperti itu ciri anak-anak cerdas, konon kata matanya tidak terpejam rapat ketika tidur.
“Siap, Baby?“ Keith mengulurkan tangannya dengan romantis.
Ia begitu tampan, dengan celana Chinos berwarna cream dan kemeja yang berwarna merah hati. Warnanya masuk ke kulit cerahnya. Ia terlihat pantas jika mengenakan kemeja, aku pun selalu suka dengan gayanya yang selalu berkemeja tapi digulung sebatas siku.
“Siap.“ Aku tersenyum lebar padanya.
“Kau mau kita ke mana dulu?“ Keith menggandeng tangan sampai ke depan pintu mobilnya.
Kemudian, ia membukakan pintu mobil untukku dan mempersilahkan aku untuk duduk. Tak lama, ia langsung berjalan ke arah pagar setelah menutup pintu mobil di sisiku duduk.
Bahagia sekali, jika diperlakukan dengan romantis. Sayangnya, pelakunya bukan bang Ken.
Ngomong-ngomong, aku tidak berjilbab sekarang. Begitu aneh dilihat mereka yang berada di club malam style internasional ini, jika ada perempuan berhijab berada di sana.
Keith membuka pagar rumah ini terlebih dahulu. Namun, ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depan pagar rumah ini.
__ADS_1
Ada tamu? Di hari bebas pekerjaan? Siapa ya? Toh, ini pun sudah menjelang tengah malam. Ini bukan waktunya untuk bertamu kembali.
...****************...