Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD155. Diminta pergi


__ADS_3

"Ria tau alasannya, Bi." Ia menunjukku dengan berani. 


Aku? Tahu? 


"Aku tau alasannya, setelah kami pisah. Barulah kemarin, masa dia datangi aku di Brasil setelah bersalin. Kau memang sengaja tak pengen punya anak dengan aku, maka dari itu kau selalu kasih obat yang entah apa fungsinya. Kau selalu bilang, minum aja jangan banyak tanya." Bibirku sampai bergetar karena emosiku. 


Aku masih belum bisa menguasai diri, jika teringat perselisihan kemarin. Terlebih lagi, hal itu masih terasa begitu menyakitkan. 


"Udah, udah, udah. Ayo ikut Papah." Papah Adi membawaku keluar kembali dari kamar ini. 


Kami duduk bersama di ruang keluarga. Aku mengatur nafasku, kemudian menyeka air cengeng ini. Aku selalu tidak baik-baik saja, jika menarik kembali perselisihan sialan ini. 


"Papah kasian sama Ken, tapi lebih kasian sama kau. Papah tak bisa pisahin kalian, kalian sendiri yang memutuskan. Udah begini, mau tak mau kau harus nikmati sendiri tersulit kau. Kami hanya keluarga, yang membantu sewajarnya. Tapi yang memanage pikiran kau, ya hanya bisa dilakukan sendiri. Tapi Papah punya saran, sebaiknya kau cari pelipur lara di pondok biyung aja." Papah Adi merangkulku dan mengusap-usap bahuku. 


Aku menoleh cepat. "Papah mau aku mati kaki di sana?"


Ia malah tertawa geli. "Main aja, Papah tak ngusir kau. Kirei masih kecil, lagi pun kau belum bisa bayar jasa pengasuh. Kau cuma perlu main ke sana aja, Ria. Kau paham tak? Cari hiburan di sana, main sama Ra."


Apa maksudnya ini? 


"Tak mau aku, Ra lagi. Emosi aja aku ini kalau dekat dia, pada bisa buat emosi memuncak." Aku menatap televisi yang tidak menyala. 


"Kau mau di rumah terus? Yakin? Maksudnya, sana main ajak kakak kau keluar." Papah Adi menarik tangannya dari bahuku, kemudian tiba-tiba aku disajikan setumpuk uang merah yang tebal. 


"Lima juta, sana main. Papah tak akan jual Kirei, kau jangan berpikir buruk. Perbaiki ASI kau dengan jalan-jalan, beli-belian atau jajan apa gitu. Yang sekiranya, pulang-pulang bisa pompa ASI rutin sampai dua tahun ke depan. Oh iya, jangan lupa beli kemeja putih rok hitam. Besok wawancara kerja, kalau di abang ipar kau tak diterima, coba datangi bang Ghifar." Papah Adi bersandar nyaman kemudian menoleh dengan menaik turunkan alisnya dan tersenyum menawan. 


Pak tua ini pesonanya. 


"Makasih Papah, aku liburan sekarang karena besok kerja kan gitu?" Aku tersenyum bahagia dengan menyambut uang itu. 


Sudah lama aku tidak menggenggam uang, sepeserpun. Aku sudah merengek pada mbak Canda siang tadi, ia hanya mengatakan nanti sore ia beri. 


"Heem, antara mau disuruh pegang rumah furniture atau pabrik kopi lagi. Tapi kalau pabrik kopi, keknya tak bakal dapat posisi CEO lagi, mungkin bawahannya." Papah Adi memandang sekeliling. 

__ADS_1


"Tak apa, Pah. Yang penting tak hilang lima juga sebulan, udah agak gila aku ini." Aku memperhatikan uang yang aku genggam dengan tersenyum lebar. 


Aku tidak diberi uang selama tinggal di sini, tapi jika susu Kirei habis, ya dibelikan susunya saja. Jika diapers atau perlengkapan Kirei habis, ya diberi barangnya saja, aku tidak diberi uang di sini. Tapi jika jajan sesuatu, dari dulu pun mamah Dinda selalu menghitung jumlah kepala. 


"Lima juta." Papah Adi terkekeh geli. 


"Bang Givan udah tak kasih, sejak aku diwisuda dan bersalin. Dia kasih barang aja, tak pernah kasih uang juga." Tapi mbak Canda masih memberi uang. 


"Iyalah! Malas dia, kau dikasih uang malah untuk kawin." Ia merapatkan bibirnya dan melirikku. 


Sindiran keras. 


"Tak lah, Pah." Aku langsung memeluk lengan beliau. 


"Sana ke mbak kau, udah bangun dia jam segini. Kalau ada Cani di luar, suruh dia ke sini. Dia suka unboxing nasi kotak, gaes-gaes begitu gayanya." Papah Adi seperti mengingat sesuatu dengan tersenyum geli. 


Kebahagiaan sangat kakek hanya melihat cucunya unboxing nasi kotak. Sepertinya pun, papah Adi memang menyisihkan untuk cucunya yang satu itu. Beruntungnya menjadi cucu-cucu papah Adi, karena kasih sayangnya rata. 


Percayalah, kasih sayang mereka rata ke cucu-cucunya. Hanya saja, menantu mereka yang memang tak ingin banyak merepotkan mereka. Tidak seperti mbak Canda, yang malah bahagia jika anak-anaknya merepotkan nenek dan kakeknya. Hanya menantu itu yang lain, jika anaknya main ke rumah neneknya tidak akan dijemput. Tidak seperti menantu yang lain, yang jarak setengah jam akan menjemput anaknya.


"Oke, Pah. Nitip Kirei ya, Pah?" Aku bangkit dengan mengantongi uang ini. 


"Heem, uang Papah banyak. Kau tak perlu minta uang ke Ken, tapi kalau dia kasih barang terima aja." Papah Adi mereggangkan otot lehernya. 


"Siap, Pah." Aku kembali ke kamar untuk bersiap. 


Tante Salwa tengah memotret wajah anakku rupanya. Ia terlihat begitu mengagumi rupa Kirei, apa ia tidak memiliki cucu? Eh, tapi ada Kal dan Kaf. Maksudku, apa ia tidak memiliki anak selain kak Kin? 


Ah, sudahlah. Itu urusannya, biar menjadi urusannya saja. 


"Tan, nanti Kirei sama papah Adi. Aku disuruh ke rumah mbak Canda." Style pakaianku adalah kulot resmi dan kemeja saja.


"Oh, iya." Tante Salwa mengangguk dengan masih memotret wajah Kirei. 

__ADS_1


Papah Adi sudah menumpuk dua nasi kotak di meja ruang keluarga ini, ia sepertinya tidak sabar untuk melihat cucunya unboxing nasi kotak itu. Aku harus bisa membawa Cani ke sini, Cani adalah kakaknya si bungsu Cala. Baca novel secara lengkap agar tidak bingung. 


Ramainya pondok biyung ini, ada yang tengah menjadi barongsai juga. Anak-anak yang lain mengejarnya, dengan para pengasuh yang mengamati mereka. Luar biasa sekali seperti tempat penangkaran. 


Eh, kok penangkaran?


"Dek, disuruh ke rumah kakek." Aku menangkap Cani yang berlari di hadapanku. 


Ia langsung celingukan. Kemudian, ia berlari ke arah salah satu kakak laki-lakinya. "Bang Iyo… Main ke kakek, ayo cepat." Si alim itu bersuara lepas juga, seperti sehabis digurah tenggorokannya. 


"Jangan lama-lama ya? Mandi, Dek. Udah sore." Zio mengikuti tarikan tangan adiknya itu. 


Kakak yang ngemong. 


"Assalamu'alaikum…" Aku memasuki rumah kakakku. 


Pemandangan sialan! 


Anaknya dilepaskan dari kandang, mereka yang malah bermesraan. Padahal, di meja tersebut laptop nampak menyala. Berarti tandanya, si pemilik laptop tengah bekerja. 


Tapi si betinanya, malah hinggap di pangkuan jantannya. Aku merasa kakakku seperti lain jika di depan suaminya. 


"Ngapain sih, ya ampun?" Aku menggerutu hebat. 


Mereka berdua menoleh ke arahku, mbak Canda malah memamerkan giginya begitu saja. 


"Kasian, Canda. Janda ilegal dia! Bahaya kalau kepengen naik-naik juga. Turun, turun! Panas di luar, basah di dalam nantinya."


Apa??? 


"Nampak marah, tapi aslinya kepengen." Mbak Canda turun dari pangkuan suaminya. 


Bisa kalian bayangkan ekspresi wajahku. 

__ADS_1


😲 dan 😤


...****************...


__ADS_2