
Aku malah tidak betah hidup dengannya, ia benar-benar penuh dengan aturan. Sebulan setelah ia datang kembali itu, rasanya sudah seperti setahun dalam aturan pesantren.
Dua bulan rumah tangga bersamanya, rasanya seperti hidup dalam asuhan orang tua tiri. Memang benar, tapi ia tegas sekali. Ia tidak mau mendengar kata 'nanti' tidak mentolerir kata 'bentar' harus sekarang, ya harus langsung dikerjakan.
Ia lebih dari aturan yang ibu berikan. Ia lebih dari pengurus rumah perintahkan.
Hufttt, ternyata begini ya rumah tangga itu?
Aku jadi membayangkan, bagaimana jika sudah ada anak dan ia tidak bisa memaklumiku yang repot mengurus anak. Bagaimana jika anakku tengah menangis, kemudian ia memaksaku untuk sholat segera setelah adzan berkumandang.
Semoga ia bisa memaklumi, atau setidaknya ia menggantikanku untuk mengurus bayi kami sementara aku sholat. Harusnya sih ia mengerti, karena ia sudah pernah memiliki anak.
“Ngelamun terus? Givan bilang apa, kalau Adek udah tinggal di mes selama sebulan ini?“ Bang Ken menepuk bahuku yang tengah menikmati kesendirianku di meja bar dapur ini.
Aku terlalu banyak memikirkan perubahan dirinya akhir-akhir ini, sehingga sedikit merenggut kebahagiaanku bersamanya. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa tidak begitu bahagia. Mungkin peletnya habis.
Masalahnya sih satu, ia tidak bisa mengerti akan diriku. Harusnya ia memberitahukan pelan-pelan, bagaimana tugas seorang istri. Aku kan baru berumah tangga, aku tidak berpengalaman, tapi ia membentak-bentak terus karena aku tidak paham-paham tugas seorang istri.
“Kenapa semingguan ini menyendiri terus? Kenapa tak minta-minta juga? Abang kangen Adek ngerengek minta jatah kelonan.“ Ia merangkulku dan mengusap-usap lenganku.
Ya memang puncak aku memendam amarahku ini ya seminggu terakhir. Aku hanya bisa menurut, karena ia akan lebih marah jika aku banyak bertanya dan banyak membahas yang sudah-sudah.
“Itu kan hak aku, harusnya tak perlu diminta juga Abang kasih.“ Aku tidak menoleh padanya sedikitpun.
“Oh begitu?“ Ia terkekeh kecil kemudian menyambar pipiku.
“Eh, ngomong-ngomong…. Adek haid belum? Tanggal lima ketemu tanggal lima Abang di sini, tapi tancap terus kita, Adek tak haid-haid.“
“Aku biasa telat.“ Mungkin pengaruh rokok juga.
Aku mengurangi rokok, tapi keadaannya aku makin merasa stress.
“Kek ada beban.“ Ia menarik rahangku, untuk aku menoleh ke arahnya.
“Beban batin, tak bahagia aku.“ Aku memasang senyum lebar untuk menyamarkan mimik sebenarnya.
__ADS_1
Aku takut ia marah, jika aku banyak berbicara akan dirinya. Ia tidak suka dikomentari, apalagi jika aku berkata bahwa dirinya berubah.
“Masa? Ayo kita belanja deh, keknya kurang bahagia karena pulang kursus langsung masuk apartemen terus. Apa Adek mau mobil, biar Adek punya kendaraan pulang pergi kampus. Rasanya lucu aja, Abang antar jemput pakai taksi.“ Ia terkekeh kecil.
“Mau deh.“ Aku tidak akan menyia-nyiakan tawarannya.
“Yuk siap-siap.“ Ia mengajakku turun dari kursi ini.
Dasar wanita! Begini saja, aku meleleh.
Membatinnya nanti lagi deh, yang terpenting sekarang membeli mobil dahulu.
Lucu sekali, begitu mudahnya membeli mobil baru dan membawanya turun ke aspal. Mungkin aku akan menghubungi Alfonso, untuk menanyakan semacam jenis SIM kendaraan jika di Indonesia.
“Beli apa nih, Dek?“ Bang Ken memarkirkan mobil kami di swalayan besar.
“Lihat-lihat dulu aja, Bang.“ Karena begini saja, aku takluk kembali.
Namun, setelah ini aku berharap bahwa aku dan dirinya memiliki waktu untuk mengobrol. Semacam, pillow talk. Tapi kebiasaan bang Ken akan terlelap pulas, jika sudah mencapai pelepasannya. Seolah-olah ia kehilangan tenaganya, ia langsung lemas dan tertidur sampai mendengkur.
Hingga tiba saatnya aktivitas ranjang dimulai, ia bergerak amat pelan dengan memasang dua jarinya di bagian bawah perutku. “Kek ada yang aneh.“ Ia melepaskan miliknya dengan menekan pelan perut bagian bawahnya.
“Ada apa, Bang?“ Aku merasa terganggu.
Ia menggeleng. “Entah apa, tapi tak ada apa-apa deh. Cuma keknya aneh aja gitu.“
Maksudnya apa sih?
“Kesehatan aku maksudnya?“ Aku terlanjur terganggu dengan pemeriksaan mendadak darinya itu.
“Hmm, kek ada yang kencang. Mungkin mau haid kali ya? Nanti minum lagi aja ya obat dari Abang.“
Oh, tentu. Tentu aku akan membuangnya kembali ke saluran air wastafel cuci piring.
Tapi aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya. “Ya, Bang. Lanjutin.“ Aku meraih kedua lengannya.
__ADS_1
“Oke, Sayang.“ Ia tersenyum lebar dan bergerak untukku kembali.
Sampai akhir di mana kami tengah menyelesaikannya. Aku mengguncangkan tubuhnya agar ia tidak terlelap.
“Abang awal tak begini? Apa karena sekarang Abang udah empat puluh dua tahun?“ Aku meragukan staminanya.
Matanya langsung terbuka dan menoleh ke arahku. Terlihat sekali kantuk yang tertahan, karena matanya sampai begitu memerah.
“Karena sekarang tenang, udah sah. Dulu kan banyak deg-degannya, takut ketahuan, takut ini, takut itu. Kenapa sih bawa-bawa umur? Pernah bilang katanya jarak usia tak masalah, tapi sekarang ngomongin umur?“ Ia memiringkan tubuhnya ke arahku.
“Karena setiap baru selesai, boro-boro cuci, Abang langsung pulas aja.“ Aku menempatkan telapak tanganku di atas pipinya.
“Iya, enak. Udah plong, udah nyaman.“ Ia melepaskan tanganku dari sana, kemudian ia memelukku.
Matanya sudah terpejam kembali, ia terlihat mencari tempat nyaman di dadaku.
Hmm, jangan bilang ia ingin tertidur kembali.
“Kita udah dua bulan, berapa lama lagi kita ini, Bang? Aku khawatir Abang bosan duluan.“ Aku menarik kepalanya yang tengah mencari tempat nyaman di leherku.
“Apanya, Sayang?“ Ia mencoba membuka matanya, saat kedua pelipisnya aku pegang dan aku tahan.
“Abang urus peresmiannya? Terhitung dari masa yang bang Givan kasih, berarti udah tiga bulan masa waktu yang bang Givan kasih kesempatan untuk Abang.“ Aku yakin bang Ken akan mengerti.
Ia menghela napasnya. “Kita udah bahagia dan nyaman begini, Dek. Mau diacak-acak kek mana lagi?“
Loh, kok seperti itu jawabannya? Berarti, sudah sampai ini saja kan perjuangannya? Aku mulai berpikir tentang bang Ken yang berkata lupa, ketika diminta mengurus surat-surat dari sana.
Awalnya ia berkata mudah saja, karena hanya formalitas. Ia bisa memalsukan segalanya, aku pikir ia pun bisa mengurus surat keterangan KUA entah dari KUA mana saja, yang penting tidak dari kediaman keluarga besar Riyana.
“Abang udah janji, kalau kita bakal resmi. Kok jadinya Abang terlalu nyaman di titik ini sih? Abang bilang cuma formalitas, Abang bisa palsukan surat keterangan RT RW atau surat izin orang tua. Bisa kali, Abang minta surat keterangan KUA dari kampung Abang di Banjarmasin. Aku pun yakin, Abang juga bisa minta orang urus. Bayar paling berapa, daripada Abang bolak-balik ongkos.“ Aku memberi saran yang benar menurutku.
“Iya nanti diurus, Abang nanti turun tangan sendiri sekalian urus usaha yang di Banjarmasin. Udah siap, tinggal pembukaan aja. Abang harus hadir di sana, nanti iya sekalian ngurus surat itu.“
Kenapa aku ragu dengan ucapannya?
__ADS_1
...****************...