Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD26. Ganti baju


__ADS_3

“Kasar gimana maksud kau?“ Ia mengaduk-aduk mie instan tersebut.


“Hmm, menurutku Abang kasar. Abang dorong aku, Abang kalau ngajak ngapain juga tuh caranya kasar.“ Aku memang begini orangnya. Aku akan berkata langsung pada orangnya, ketika ada sesuatu yang tidak sreg padaku.


“Masa? Kalau dorong sih, Abang sering dan Abang udah perhitungan kalau kau tak akan terluka karena itu. Dorong Bunga juga sering, terus dia jatuh di tempat empuk. Terbukti dari Bunga malah ketawa, bukannya nangis.“ Ia mulai mengangkat sendok yang berisi kuah mie.


Jika pada anak kecil, didorong satu jari pun anak-anak pasti terjatuh. Tapi tadi, bang Ken mendorongku dengan tenaga.


“Tak, Abang tetap kasar tadi. Beberapa kegiatan kita pun, Abang berlaku kasar.“ Aku bertopang dagu dan melirik ke arah lain.


“Maaf ya? Abang memang begini orangnya.“ Ia mengulas senyum.


“Pasti Abang KDRT juga.“ Aku beranjak turun dari kursiku, kemudian aku berjalan ke arah tempat penyimpanan kopi.


“Ria, baiknya kau ganti baju dulu.“


Aku yakin, ia pasti memperhatikanku yang berada tepat di depannya. Ya hanya terhalangi oleh meja bar saja yang melintang, membuatnya harus berjalan memutar jika ingin menghampiriku.


“Kenapa memang?“ Aku berbalik badan dengan menurunkan bagian dressku agar lebih ke bawa.


“Kau halangan dan kau nembus.“


Hah? Benarkah? Mana warna dress-nya cream lagi. Aduh…. Pasti terlihat jelas darah haidku.


Tanpa pertanyaan atau melihat ke arah belakang dressku, aku langsung kabur ke kamar. Aku tidak mengetahui, jika aku tengah haid. Sepertinya, darah haidku baru keluar deh.


Hufttt…. Ya ampun, benar yang dikatakan bang Ken. Hmmm, aku jadi malu sekali.


Aku cukup lama membersihkan, karena aku sekalian mencuci dressku lebih dulu. Aku takut noda ini tidak hilang, mana ini dress baruku lagi. Ya benar-benar baru, belum pernah aku kenakan sebelumnya.


Tok, tok….


Aku mendengar ketukan pintu di pintu kamarku, ketika aku tengah berbenah diri. Aku baru selesai dan aku tengah berpakaian.

__ADS_1


Tok, tok….


Siapa dia? Kenapa tidak ada suaranya?


“Siapa?“ seruku kemudian.


“Ayah Bunga,” jawabnya lamat-lamat.


Aku kira siapa. “Ya, bentar.“ Aku mengenakan piyama panjang.


“Kopinya udah siap, Abang tunggu di living room.“ Suara bass-nya khas sekali.


“Ya.“ Aku menyahutinya cepat.


Aku membawa kapas dan pembersih wajah. Sebelum tidur, aku harus menyempatkan untuk membersihkan wajahku dulu karena aku rawan berjerawat. Percaya atau tidak, sampai sekarang gajiku habis untuk perawatan wajahku saja. Aku memiliki bopeng yang cukup banyak, karena aku jerawatan parah di usia remaja.


Berapa puluh kali aku melakukan laser wajah, aku pun harus rela berdiam diri di ruangan selama dua mingguan sampai bekas laser hilang. Aku tetap bekerja, biasanya aku menginap di kantor selama itu. Seringnya pun, aku meminta asistenku menggantikan tugasku untuk bertemu klien karena masalah wajah.


Ia bertelan*ang dada dan sungguh menggoda dengan keringatnya. Aku menghampirinya yang tengah duduk dan fokus pada televisi besar yang menempel di tembok, ia tengah merokok dan bersandar pada sofa.


Ah, aku tetap pantas dipandang dengan pakaian yang bagaimana pun. Hanya saja, mungkin ia tergoda dan sayangnya aku tengah halangan. Maka dari itu, ia menjaga keimanannya dengan menjaga pakaianku.


Aku duduk di sampingnya, aroma khas tubuhnya langsung tercium. Aduh, kenapa aku yang malah ingin memeluknya? Tapi, apa yang akan Keith katakan jika melihat kami begitu dekat?


Ditambah lagi, ia mengumbar dada bidangnya. Ia seolah memperisaikan agar aku memeluk tubuhnya. Tangan kanannya memegang rokok, dengan siku yang bertumpu pada sandaran tangan. Sedangkan tangan kirinya seolah tengah merangkulku. Namun, tepatnya ia hanya meluruskan saja di bagian atas sandaran sofa.


“Rokok, Dek.“ Ia melemparkan bungkus rokok ke pangkuanku. Kemudian, ia dalam posisi semula lagi.


Aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Sepertinya mubazir, jika dibiarkan begitu saja.


“Ya, Bang.“ Aku menarik satu batang dari bungkusnya, kemudian mulai menikmatinya.


“Abang kok bisa sampai di sini?“ Aku menoleh dan sialnya bertepatan dengan waktunya aku menghembuskan asap rokok ini.

__ADS_1


Ia menoleh dengan alis yang terangkat sebelah. “Kok begitu?“ Ia masih memperhatikanku dengan heran.


“Oh, iya maaf.“ Aku mencoba menghalau asap yang mengepul di antara kami.


Aku tidak sengaja memberi isyarat mesum lagi, padahal aku tidak bermaksud demikian. Kan aku jadi gelagapan sendiri jika begitu. Ia pasti bingung karena aku seolah mengajaknya berbuat mesum, tapi keadaanku tengah halangan.


“Kau sering betul begitu. Kalau sama laki-laki lain jangan begitu, dia pasti langsung berharap lain, Dek,” jelasnya dengan wajah yang masih menghadap padaku.


“Aku tak pernah merokok bersama begini, kecuali sama Abang.“ Dengan Keith pun rasanya kau tidak pernah bersantai, mengobrol dan menikmati rokok bersama.


Paling merokok sekilas, ketika selesai makan saja. Itu pun, aku langsung berpindah tempat dan kami tidak dalam mengobrol santai.


“Hmm, begitu ya?“ Ia memalingkan wajahnya ke arah televisi kembali.


Suara televisi sangat pelan, entah aku yang tuli. Tapi, ia terlihat serius menonton berita dalam bahasa Inggris tersebut.


“Abang dalam rangka apa ke sini?“ tanyaku ulang.


“Beli obat, Dek. Mau jalin kerjasama sama pabrik farmasi di sini, biar langsung kirim obat ke rumah sakit Abang.“ Ia menarik bahuku, lalu telapak tangannya menjuntai dari bahu kiriku. Ia dalam posisi merangkulku sekarang.


Eh, memang begitu ya proses kerjasama rumah sakit dan tempat farmasi?


“Rumah sakit Abang tuh, rumah sakit swasta kan?“ Aku memperhatikan rahangnya yang terlihat begitu tegas.


“Ya iya dong, Dek. Tapi rumah sakit swasta pun dapat dana kok, kalau merangkul program pemerintah. Sama kek di Indonesia, di sana pun ada program meskipun pemerintahannya beda. Kalau di Indonesia, kek BPJS itu. Rumah sakit swasta yang bisa cover BPJS, kan tetap dapat uang tuh. Pemerintah yang cover, rumah sakit tetap dapat dana dari pemerintah.“ Ia menjelaskan, dengan mata yang tetap fokus pada televisi.


Ya Allah, sejak tadi aku memperhatikan rahangnya saja. Apa ia sering berolahraga yang menggigit karet itu, agar rahangnya tegas? Seperti dokter-dokter dalam novel intinya, sayang ia tidak berkacamata saja.


Setelah aku mengetahui sepak terjang profesinya. Ia hanya menggunakan profesinya sebagai titel saja, selebihnya ya ia bekerja dalam bisnis seperti itu. Meski sesekali ia sering diundang dalam operasi besar, tapi ia terlihat lebih banyak menganggur.


Ia wara-wiri seperti pengangguran, tapi rekeningnya kelebihan isi. Ya memang ia memiliki sebidang lahan juga di Banjarmasin, dalam perkebunan kopi juga. Kalau tidak salah, perkebunannya adalah kopi dengan jenis aranio. Ya itu pun, hasil dari bagi waris juga. Konon katanya, ia adalah cucu laki-laki satu-satunya yang terlahir dalam perkawinan.


“Apa sih lihatin aja? Mau nyium kah?“ Ia menoleh ke arahku dengan menyipitkan matanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2