Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD95. Halal dan berkah


__ADS_3

“Saudara Kenandra Al-Musthofa bin Haris Hartono, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan seorang perempuan yang bernama Ceria Skalane Waktu binti Ramli dengan mas kawin emas batangan seberat seratus gram dibayar tunai.” Tangan imam masjid tersebut terayun sekali.


“Saya terima nikah dan kawinnya Ceria Skalane Waktu binti Ramli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.“ Bang Ken mampu mengucapkan dengan satu tarikan napas.


Mulai sekarang, aku sudah bukan anak gadis lajang lagi. Aku seorang istri dan kelaknya aku akan menjadi seorang ibu dari anak-anak laki-laki yang duduk di sampingku ini.


Bersambung dengan doa-doa dan wejangan kecil. Aku tak bisa menahan air mataku, bahwa hal yang begitu sakral ini terjadi tanpa sepengetahuan keluargaku.


Apa aku begitu egois?


Siapa yang bersalah di sini?


Aku hanya pihak perempuan, yang sejak awal begitu berharap ingin dipinang laki-lakiku. Pujaanku, penarik perhatianku, acuan kebahagiaanku dan panutanku. Kala ada kesempatan dan kehadirannya, aku tak bisa menolak karena hal inilah yang aku inginkan.


Aku tak bisa menolak perintah kakak iparku, bang Givan. Tapi, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menggantungkan hubunganku dengan laki-lakiku.


Bagaimana jika ia tidak sabar untuk berumah tangga dan menikahi perempuan lain nantinya, jika aku tidak cepat memberinya kepastian? Aku berpikir demikian, karena ketakutanku sendiri.


Ini seperti peluang besar untukku, yang bilamana aku tak mengambilnya, akulah yang akan merugi. Aku berpikir, jika sekarang aku menolak. Dengan harga dirinya yang tinggi itu, ia tak mungkin lagi memohon padaku.


Aku tahu, itu hanya ketakutanku saja.


Tapi, aku pun tak mau dihakimi untuk hal ini. Aku pun tidak merasa bersalah, karena aku pun berniat untuk menghindari perzinahan. Ada sedikit waktu saja, ia begitu berani untuk memperdayaku. Bagaimana, jika nanti di lain kesempatan aku memiliki lebih banyak waktu dengannya? Pasti, perzinahan akan dilakukan berulang di sisa waktu kebersamaan kami.


Pikiranku sudah ke mana-mana, karena aku tahu laki-lakiku siapa.


Acara makan-makan kecil di masjid ini kami lakukan. Pemotretan pun, tak luput dari jadwal kami. Hingga akhirnya, bang Ken mengajakku berganti pakaian dan berjalan-jalan di kota ini.

__ADS_1


Aku pun bagaikan anak yang dicari oleh orang tuanya. Pengurus rumah dan sopir pribadi sudah menghubungiku dan menanyakan kepulanganku ke rumah. Aku hanya beralasan, bahwa aku tengah berkeliling kota bersama teman, aku pun mengatakan akan pulang dengan taksi malam nanti.


Pernak-pernik ia belikan untukku. Berbagai macam makanan yang kami rasa pas di mulut kami pun, kami belu untuk pengisi perut kami dan sebagian lagi kami bungkus. Hal yang paling menariknya, karena kini aku diberi beberapa pegangan kartu elektronik miliknya. Ia pun memintaku untuk mendownload aplikasi perbankan, dengan pin yang ia beritahu, agar aku bebas mengaksesnya di mana saja.


Baju-baju, beberapa scraf berbagai motif dan corak. Tak luput juga, dengan sepatu boot kulit yang aku sukai. Dengan paduan mantel atau jas oversize dan warna bibir yang menyala, pasti aku nantinya terlihat menarik sekali. Ini luar negeri, berpakaian seperti itu malah terlihat biasa saja.


“Abang mau ke toko obat dulu, Dek.“ Ia meninggalkanku di depan toko obat, sedangkan dirinya masuk ke toko obat.


Apa ia sakit? Atau ia membutuhkan pil penambah stamina? Sepertinya ia menyadari, jika dirinya memang semalam gagal memuaskanku.


Sayangnya, itu semua tidak benar. Karena yang ia beli adalah obat tetes, yang diteteskan ke intiku beberapa menit sebelum kami berhubungan.


Ya, aku diboyong ke kamar hotelnya. Ia pun berjanji akan mengantarku dengan taksi untuk pulang ke rumah Gibran. Entah akan terjadi berapa puluh kali, aku akan pulang malam dengan menggunakan taksi.


Ia pun memberikan sebutir pil lagi, yang harus aku minum sebelum atau setelah berhubungan badan ini. Sebenarnya, itu obat apa? Aku bahkan tak melihatnya menelan obat apapun. Apakah aku yang bermasalah menurutnya? Apakah aku yang tidak beres menurutnya? Apakah aku yang perlu diobati menurutnya?


Jika aku bertanya, ia hanya mengatakan agar aku patuh saja, bukankah ia sudah menuntut kepatuhanku dari awal, seperti itu yang ia katakan. Aku jadi teringat film seorang anak perempuan, yang diberikan obat oleh ibunya agar ia lumpuh. Aku jadi berpikir buruk tentang bang Ken, karena tidak memberitahukan obat yang harus aku minum itu.


Aku buang air kecil sedikit, tali rasa gelinya berulangkali dan tidak berkesudahan. Ia pun malah sibuk mengutak-atik laptopnya, karena ia mengatakan bahwa ada laporan masuk ke email-nya dan harus ia bubuhkan tandatangan segera.


Masalahnya, aku sudah gatal. Jika ingin berbuat, ya cepatlah.


“Obat tetes tadi, apa sih?“ Aku sebenarnya tidak yakin, jika ia memberitahukan padaku.


“Ohh, itu perangsang otot.“


Hei? Kenapa aku diberi itu? Ia melakukan praktek obat-obatan pada diriku rupanya.

__ADS_1


“Waktu itu perangsang di kopi, sekarang perangsang otot. Pantas aja aku kencing terus! Mau Abang apa sih?“ Aku duduk gelisah, dengan menggoyangkan lengannya.


“Ya pengen beda aja, sesekali.“ Ia tersenyum samar.


Perasaan, semalam pun ia menginginkan sedikit kasar. Keinginannya untuk berhubungan, kenapa berubah-ubah terus. Maunya apa sebenarnya? Apa kedepannya ia akan selalu seperti ini?


“Ya udah cepetan!“ Aku sudah tidak bisa menahan kegelian ini.


Aku berpikir bahwa suamiku ini memiliki sesuatu yang abnormal. Aku teringat tentang gaun malam yang berbentuk seperti kelinci, kucing, panda atau bahkan suster. Apa ia penyuka s**s dengan kostum aneh-aneh begitu juga?


“Bentar-bentar, Abang belum rileks. Nanti cepat lagi kalau deg-degan kek kemarin.“


Memang ia bisa deg-degan juga?


“Memang kemarin deg-degan?“ Aku memicingkan mataku.


“Ya takut ketahuan. Belum lagi, campur kesal. Kalau kesal, lama dipendam tak dikeluarkan juga tuh, efeknya jadi begitu sensitif ketika disentuh, terus juga cepet K.O.“ Ia melirikku sekilas, kemudian ia keluar dari email-nya dan menonaktifkan laptopnya. Setelah benar-benar mati, ia melipat laptopnya dan dibiarkan berada di atas meja.


“Berapa lama efek dari jarang dikeluarkan itu? Apa sekarang pun masih?“ Aku khawatir malam ini tidak terpuaskan lagi.


“Ya tak tau, bujangan kan bisa serong sinis serong sana, jadi bisa tetap rutin. Pas duda ini, keknya cuma Adek yang menarik di mata.“ Ia menarik daguku dan langsung mendekatnya dengan wajahnya.


“Masa iya?“ Jarak kami tinggal sejentik lagi.


“He'em, iya. Udah tak tahan rasanya dari dulu tuh. Pas banyak kesempatan untuk nyentuh masa di Jepara dulu, Adeknya belum respon sinyal dari Abang. Adek kek nampak belum jatuh cinta ke Abang masa itu.“ Ia sudah mencuri satu kecupan. Kemudian, ia melepaskannya kembali.


“Oh ya? Abang udah suka sama aku masa itu?“ Ia bersiap menggendongku, aku pun langsung sigap bergantungan di lehernya.

__ADS_1


Ini bukan malam pertama untukku dan bang Ken. Tapi, ini adalah s**s pertama kami secara halal dan berkah.


...****************...


__ADS_2