Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD98. Sejarah Ria


__ADS_3

“Tak bisa aku, Dik. Aku udah punya pasangan sebenarnya.“


Aduh, kenapa mulutku berbicara seperti ini sih? Kan aku yang terjebak sendiri jika seperti ini.


“Oh ya? Tapi kata abang ipar kau, kau tak punya pasangan. Aku pun, udah ngobrol sama kakak kau kok, dia bolehkan kalau kau mau.“ Matanya melebar tak percaya.


“Ya gimana ya? Aku ngeharapin orang lain gitu, Dik. Tak tau juga, gimana akhirnya perjuangan rasa aku ke dia. Tapi, aku berharap dia pun naruh harapan besar sama aku.“ Aku banyak berbelit-belit dalam berbicara kali ini.


“Ya aku ngeharapin kau, Ria. Kau cuma perlu membuka hati aja, kau cuma perlu nerima aku.“ Dika berbicara amat lembut, dengan menggenggam tanganku.


Aku mengklaim, bahwa semua laki-laki itu egois. Aku merasa, bahwa semua laki-laki itu penuh ambisi. Aku memiliki pemahaman, bahwa semua laki-laki pun memiliki siasat dengan tutur lembutnya demi seorang perempuan.


“Kenapa? Bahkan, kau tak kenal aku lebih dalam. Kau tak tau nama jelas aku, kau tak tau keluarga aku, kau pun tak kenal jelas siapa aku dan asal-usul kehidupan pribadi aku. Kenapa kau begitu percayanya ke aku? Kenapa kau begitu yakinnya milih aku? Gimana kalau aku ini ternyata tak sesuai dengan harapan kau? Gimana kalau aku ini ternyata begitu buruk untuk patokan perempuan yang baik menurut kau? Gimana kalau aku tak mampu kasih kebahagiaan untuk kau? Gimana juga kalau nanti aku ngecewain kau dan lebih-lebih bikin kau murka? Profesi kau bagus, karir kau bagus, apa tak rugi kalau harus memilih seorang Ria?“ Aku membiarkan tanganku tetap digenggam olehnya.


Aku mencoba menelisik maksud terdalamnya, dari sorot matanya yang begitu fokus padaku saat aku berbicara. Ini benar-benar pembicaraan empat mata, matanya seolah begitu dalam mengartikan maksudku.


“Intinya apa? Kau cari alasan?“ Aku tidak menyangka ternyata Dika malah bertanya balik.

__ADS_1


Aku berpikir, ia akan berusaha panjang lebar menjelaskan kehadirannya di hidupku. Aku pun berpikir, bahwa Dika berusaha mengungkap diriku sesuai informasi yang ia dapat.


“Tak, Dik. Aku merasa kau cari untung, dengan tak tau apapun tentang aku, tapi kau sembarang kasih aku status.“ Aku melepaskan tangannya, aku teringat suamiku yang pemarah.


“Aku tak sembarangan, Ria. Aku tau mie Aceh itu pedas. Masa itu, aku cuma pengen tau respon kau.“


Ehh? Bagaimana? Apa hubungannya dengan mie Aceh?


“Dika…. Kau paham itu hanya reflek manusiawi aja.“ Aku tak merasa bahwa itu adalah perbuatan baik.


“Tapi kau peduli dengan sekeliling kau, Ria. Aku orang asing dan kau peduli terhadap aku, laki-laki yang tak kau kenal sedikitpun. Kau pun tak menggebu-gebu untuk hubungi aku, masanya kau tau kalau aku kerja di penerbangan. Aku paham, tentang beberapa wanita yang gila akan karir dan profesi pasangannya. Sedangkan, kau baru hubungi aku setelah aku kasih kau kode masa ketemu kembali di bandara itu. Kau tak gila karir dan profesi aku, Ria. Kau berbeda menurut aku. Aku video call sama kau, aku tawarkan pengembalian dana makanan yang udah aku makan itu. Tapi tak sedikitpun kau terlena dan kirim nomor rekening kau untuk benar-benar aku transfer dananya. Kau tak perhitungan, kau tak pelit, Ria. Kau pun tak sok akrab dan ramah sama bunda aku, berarti kau tak cari perhatian ke bunda aku dan coba dekati bunda aku. Kau tak pencitraan menurut aku, Ria. Kau apa adanya dan menurut aku kau adalah perempuan baik-baik.“


“Dik, kau terlalu menyusun rencana.“ Aku tidak tahu ingin berkata-kata apa.


“Karena aku udah lelah, Ria. Aku pengen segera menikah, tapi aku tak mau asal pilih pasangan aja. Empat kali aku coba cara kek gitu dan cuma kau respon perempuan yang menurut aku paling yang aku harapkan. Perempuan yang pertama, bahkan langsung girang masa aku nyerahin kartu nama dan dia tau aku kerja di penerbangan. Perempuan kedua, dia langsung respon masa aku minta pengembalian dana. Perempuan ketiga, dia caper ke bunda dan sok pencitraan benar-benar ke bunda. Ketiga perempuan itu, semuanya aku blokir. Aku udah putus asa sebenarnya, tapi ternyata yang keempat ini sesuai ekspektasi. Kau juga sulit didapatkan, Ria. Kau buat aku penasaran.“ Ia mengusap pipiku dan ia tersenyum lebar.


“Aku takut kau tak beruntung karena udah milih aku, Dik. Lebih baik, kau cari yang lain aja. Bukan aku sombong, aku cuma tau diri aja.“ Aku memundurkan posisiku, aku menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


“Kenapa kau bilang begini? Kau sakit?“ Ia langsung menutup mulutnya. “Maksud aku, kau ngidap penyakit bahaya? Maaf, bukannya lancang.“


Ak menggeleng. “Bukan karena itu juga, Dik. Alhamdulillah, aku sehat wal'afiat. Cuma aku ini rumit, kau tak akan bisa terima segalanya.“


Apa sebaiknya aku membuka tentang latar belakang pendidikan aku dan sedikit tentang sejarah keluarga aku?


“Ya kau ceritakan, Ria. Gimana? Biar aku ini ngerti.“


Pembicaraan kami ada iklan, karena pengurus rumah lewat dengan menaruh robot pembersih lantai.


“Aku anak TKW.“ Aku terdiam sejenak, aku memperhatikan reaksinya. Aku menyadari perubahannya yang cukup terkejut.


“Kau di sini ambil pendidikan kan?“


Pertanyaannya seolah mengarah bahwa aku ini dari kalangan keluarga berada kan? Jadi, jelas tidak mungkin jika anak TKW menyelami pendidikan luar negeri seperti ini. Ya memang di real life mungkin ada saja, tapi aku merasa bahwa ucapan Dika mengarah ke hal itu.


“Iya.“ Aku menarik napasku lebih panjang, aku bersiap membuka fakta selanjutnya. “Ayah aku sopir di Saudi Arabia, dulunya. Ibu aku, pembantu di Saudi Arabia. Mereka satu majikan dan dulunya mereka saling mengenal. Masanya rasa cinta itu tumbuh di antara mereka, orang tua aku ini minta izin ke majikan untuk menikah. Tapi, ternyata majikan mereka tak kasih izin. Sampai akhirnya, mereka mutusin untuk kabur dari majikan itu terus mereka cari agen yang memperkerjakan mereka secara ilegal. Orang tua aku menikah siri dan mereka punya aku. Singkat cerita, ayah kandung aku meninggal. Ia dikuburkan di sana, karena tak bisa dibawa pulang karena prosesnya sulit. Sedangkan, paspor orang tua aku ini ditahan majikan mereka karena mereka ini kabur. Lambat laun aku tumbuh, aku ini tak ngenal bangku sekolah sama sekali. Aku bisa baca, tulis, hitung dari ibu aku aja. Tapi itu pun, hanya sebatas yang ia ketahui aja. Nasib baik dari cerita panjang itu, bisa bawa kami ke Aceh. Tak disangka, majikan orang Indonesia ibu aku itu, rupanya dia mertua kakak aku. Jadi, ibu ini janda anak satu saat berangkat ke Saudi Arabia jadi asisten rumah tangga itu.“

__ADS_1


Lihatlah, ia meringis tidak percaya. Aku yakin, ia akhirnya ilfeel.


...****************...


__ADS_2