
"Kau butuh apa, Ria?" Bang Ken menghampiriku yang duduk bersama Kirei di teras rumah.
"Tak, Bang." Aku menoleh padanya sekilas.
Pemandangan kami adalah Cali yang disangga oleh ayahnya, ia tengah menggoes sepeda. Ia hanya berputar-putar saja di sekitar halaman. Sedangkan bang Givan dan papah Adi, duduk di bangku panjang bawah pohon mangga. Cala anteng meminun teh manis milik kakeknya dengan sendok.
"Kenapa sih kita jadi sedingin ini? Pandangan kau lurus ke depan terus, padahal ada Abang di samping kau," ucapnya terdengar miris.
Aku menoleh cepat padanya, kemudian aku meluruskan pandanganku kembali ke depan. Bukan tidak ada ser-sernya atau bagaimana, tapi aku harus bagaimana? Jelas, aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi padanya.
Aku canggung, ada jarak di antara kami. Ia sudah memberi talak kifayah padaku, ia pun sudah mengkhitbah perempuan lain. Memang, suami yang menikah lagi tanpa izin pun, pernikahannya dengan istri tuanya tetap halal, pernikahan barunya pun tetap sah-sah saja. Tapi kan, memang sudah lain jika pernikahanku terlindungi dengan hukum negara. Aku tidak akan terima, akan hal seperti itu.
"Aku harus gimana? Bukannya kita udah orang lain?" Aku kembali menoleh dan memandangnya beberapa detik.
"Ayo kita pulang, ayo kita perbaiki. Ayo kita di Banjarmasin aja, Dek!" Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan kecil Kirei.
"Abang mau buat aku buruk di mata Hala?"
Aku cukup bingung dengan jalan pikirannya. Ia pun, membuat keadaan sesulit ini. Bukan aku yang membuatnya demikian, tapi ia menarik Hala yang malah lebih menyulitkan keadaan kita.
"Abang nanti ngomong ke Hala, kalau Adek mau kembali." Terkesan Hala seperti cadangan untuknya.
Kenapa ia jahat sekali? Aku tidak habis pikir, kenapa bang Ken memiliki pemikiran yang tidak berhati. Seolah hanya dirinya yang penting di dunia ini, tidak orang lain dan tidak dengan pasangannya.
"Kalau aku tak mau kembali, Hala dipertahanin kan? Abang tak mau benar-benar sendiri, masa kami tak bersama." Aku memperhatikan matanya dengan lekat.
Aku tidak bisa membaca ekspresinya dengan pasti, ia seperti tengah memikirkan banyak hal.
"Abang harus sama siapa, Dek? Umi tak ada, kau ninggalin Abang. Masa, Hala harus pergi juga? Abang udah tua." Ia meraup wajahnya.
__ADS_1
Loh? Egois sekali dia, ia hanya memikirkan dirinya saja.
"Kalau sadar udah tua, kenapa harus bertingkah sedemikian rupa?" Aku tidak membahas permasalahan dulu, aku membahas permasalahan saat ini.
"Mamah Dinda udah buka alasan Abang. Abang tak mengelak, karena itu benar. Abang pun tak mengakuinya, karena paham itu hal yang salah. Membenarkan kesalahan sendiri, klarifikasi istilahnya. Untuk apa? Biar orang memaklumi keadaan kita? Orang tak akan paham, orang hanya tau berkomentar. Abang cuma bisa minta maaf sekarang." Ia tertunduk dengan suara lirih.
"Abang jahat betul, Abang udah mainin hati Hala." Aku masih memperhatikannya yang tertunduk memandang lantai.
"Abang sadar, makanya Abang tak mau buang dia begitu aja. Bukan hanya dapat banyak petuah dari mamah, tapi Abang pun merasa Hala yang paling dirugikan di sini. Dia tak tau apa-apa, tapi ia jadi ikut terseret masalah rumah tangga kita." Bang Ken melirikku dan mengusap sesuatu di mulut Kirei.
Kirei suka mengeces.
"Abang tak tau, kalau akhirnya serumit ini. Karena nyatanya, Hala bersikap dewasa sekali. Kedewasaannya, buat Abang dilema sendiri."
Oke, paham. Intinya, ia sudah mulai tertarik dengan Hala.
"Dua kali aku kalah dengan pengasuh didikan bang Givan." Akh tertawa sumbang.
"Kau tak kalah, Dek. Abang bakal lepasin Hala, kalau kau kembali ke rumah."
Apa ia sekeren itu? Apa ia laki-laki yang begitu berharga?
"Artinya, tak perlu tunggu tiga bulan. Kita putuskan aja sekarang ya?" Aku menarik sudut bibirku ke atas.
"Tak, Dek. Jangan berpikir terlalu cepat, kita masih punya waktu. Abang khawatir kalau kita tak bersama, nanti kita semakin berjarak. Kasian anak kira." Ia menyentuh punggung tanganku.
Bagaimana inginnya ini? Aku jadi bingung sendiri.
"Intinya???" Aku menarik tanganku dari sandaran kursi ini.
__ADS_1
"Adek pikirkan matang-matang, selama masih ada sisa waktu. Kalau memang pada akhirnya, Adek kembali. Ya Abang bakal terima kasih sekali, Abang bakal lepas Hala. Kalau pada akhirnya, kita tak bersama. Abang minta maaf banyak-banyak, karena mau tak mau, Abang harus melanjutkan dengan Hala."
Sampai saat ini, ia masih bersama Hala juga kan?
Aku mulai paham dengan jalan pikirannya. Ia tidak mau sendiri, ia tidak mau dirinya mubazir, ia tidak mau harus kehilangan Hala. Kok aku jadi ingin tahu sekali, apa motivasi Hala sampai saat ini ia bertahan dengan status bang Ken yang belum jelas? Apa yang membuatnya berat, untuk meninggalkan bang Ken saat semuanya terkuak? Satu lagi, dewasanya Hala ini apakah karena ia bertahan di tengah fakta bahwa laki-laki yang mengkhitbahnya adalah suami orang?
Apa seperti itu dewasa? Sungguh, aku penasaran sekali tentang kedewasaan Hala yang bang Ken maksud.
"Terserah Abang aja udah! Intinya, Abang tetap egois!" Aku memalingkan pandanganku ke halaman samping.
Indahnya bunga-bunga yang bermekaran di waktu Ashar ini.
"Kenapa terserah? Kita kan lagi ngobrol?"
Tak ada faedahnya untukku. Intinya, ia memang tak mau rugi kehilangan wanita dan tak mau dibiarkan sendiri. Saat ini juga, aku masih tidak mengerti kedewasaan Hala itu.
Tetapi, aku memiliki sudut pandang buruk.
Kenapa aku berpikir, bahwa Hala bertahan seperti itu karena calonnya ini adalah dokter spesialis yang memiliki rumah sakit sendiri? Maksudku, kapan lagi coba derajatnya terangkat karena titel pasangannya. Pasti pun, ia memiliki kebanggaan tersendiri karena mampu mendapatkan dokter spesialis sekaligus pemilik rumah sakit.
Entah dewasanya apakah hal itu. Tapi secara logika, ia ingin hidup enak karena pengaruh pasangannya.
Aku tahu tentang dirinya yang anak orang kaya, lalu ladangnya akan disita pihak Bank. Namun, cepat ditolong dan dibeli almarhum bang Lendra.
Dewasa itu seperti apa, jika harus bertahan di tengah fakta bahwa pasangannya adalah suami orang? Itu bukan dewasa, itu adalah cara yang pintar untuk mengangkat derajatnya. Karena di mana-mana, faktanya perempuan baik akan meninggalkan pasangannya yang ternyata adalah suami orang. Tapi tidak dengan Hala.
Apakah karena keperawanannya yang diambil oleh bang Ken, membuatnya terkunci hanya dengan bang Ken saja? Itu juga logika kan?
Menurut kalian, yang dimaksud Hala dewasa itu seperti apa? Atau, karena Hala terlihat mengasihani dan iba pada takdir bang Ken?
__ADS_1
...****************...