Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD56. Lamaran mendadak


__ADS_3

“Siapa, Mbak?“ Aku seperti orang bingung yang tidak tahu apa-apa di sini.


“Gavin.“ Mbak Canda menoleh ke arahku sekilas.


“Anak Ajeng ini?“ Baru aku terkejut dan paham dengan situasi di sini.


“Iya, Mbak ambil asuh dan ASI. Ditinggal di teras rumah sama Ajengnya, gila kan?“ Urat kesal mbak Canda kentara sekali.


Hah? Masa iya? Kok bisa Ajeng seperti itu?


“Canda, minta nomor keluarganya Shauwi.“ Bang Givan muncul, dengan mengusap keringat di pelipisnya.


Ia seperti tengah berpikir keras, wajahnya pun masih terlihat serius dan tegang. Pembicaraan apa yang mereka bahas? Kenapa sampai keluarga Shauwi dibawa-bawa?


“Ini nih, Mas.“ Mbak Canda mengoper ponselnya ke arah suaminya.


Aku salut pada mereka. Ponsel pribadi bukan barang rahasia untuk mereka, satu sama lain biasa memainkan ponsel pasangannya.


“Kecilin suara TV-nya, Canda.“ Bang Givan duduk di sofa yang masih kosong.


“Cala Cali, aku pindahkan ke kamar aja ya?“ Aliyah mohon izin pada mbak Canda.


“Oh, iya.“ Mbak Canda membiarkan kedua anak tersebut dibawa oleh kak Aliyah dan kak Ifa.


Enak sekali jadi bos Canda. Setiap punya anak, tidak pernah benar mengurus sendiri. Ia tidak pernah benar-benar jadi ibu rumah tangga, yang ada nyonya rumah.

__ADS_1


“Hallo, assalamualaikum.“


Kami semua mendengarkan suara bang Givan yang tengah menelpon seseorang. Sepertinya, itu adalah keluarga Shauwi yang nomornya didapat dari kontak ponsel mbak Canda.


“Ini Givan, Bu. Anaknya bu Dinda, yang bawa Shauwi kerja itu.“ Bang Givan tersenyum ramah, meski dirinya tidak berbicara langsung dengan lawan ngobrolnya.


Eh, aku pun sama seperti itu. Setiap berbicara di telepon dengan ramah, pasti saja kami memajang senyum ramah juga.


“Iya betul, Bu. Tak ada apa-apa kok, Shauwi sehat-sehat aja. Cuma ini, Bu. Ada yang mau minang Shauwi, dia orang Singapore. Shauwi cuma jawab, bilang aja ke bang Givan dan orang tua saya. Jadi, Saya agak bingung juga ini.“


Apa???


Shauwi? Dipinang orang Singapore?


“Keith, Keith Malik nama laki-lakinya. Setengah bule bisa dibilang, tapi kulit Asia macam kita ini, Bu. Dia ini kerja juga sama Saya, dia kerja di perusahaan Saya di Singapore. Kan Shauwi kebetulan Saya pindahkan ke Singapore, karena Ceysa sekolahnya pindah ke sana, otomatis Shauwi pun harus di sana. Ada bilang kan Shauwi tentang dipindahkan ke Singapore ini, Bu? Seingat Saya, Shauwi ini Saya izinkan pulang dulu sebelum dia berangkat ke Singapore.“


Benar. Benar-benar gila! Aku tidak menyangka ini semua. Apa yang sudah terjadi di sana? Aku yang menunggu lama, Shauwi yang mendapat pinangan dari Keith.


“Iya betul, Bu. Saya juga kaget, soalnya setiap Saya tawarkan Shauwi untuk nikah tuh, dia ini bilangnya nanti aja nunggu ada yang mau ngelamar. Ya pikir Saya, siapa yang mau ngelamar kalau dia tak kenal laki-laki manapun. Di sini beberapa tahun tuh, kegiatannya cuma ngintilin Ceysa aja. Saya juga ngerti gitu ke pekerja yang masih lajang, atau punya suami. Sok, silahkan Sabtu Minggu boleh pulang, boleh jalan-jalan. Tapi cuma Shauwi yang hobinya di rumah aja, katanya pulang tuh bolak-balik kendaraan umumnya dia pusing. Jalan-jalan, katanya aku tak punya teman. Ya udah, paling ikut kami jalan-jalan di sini. Jangankan Ibu, Saya yang tetap muka tiap hari aja bingung ini sama gadis satu ini.“ Bang Givan tertawa ringan di akhir kalimatnya.


Ini ceritanya bagaimana? Kenapa aku tidak mendengar kabar apapun?


“Ya dijagain sih pasti, Bu. Rumah juga ini pagar tinggi semua, rumah di Singapore ya pagar tinggi semua. Jujur aja, Bu. Ini si Keith ini satu rumah sama Shauwi di Singapore sana. Dia ini tangan kanan terbaik lah, Saya sampai percayakan anak Saya dan Shauwi untuk dijaga sama dia. Entah ada ketertarikan khusus, atau gimana. Tapi Saya udah cecar si laki-lakinya dan si Shauwinya pun, ya memang tak ada kejadian apa-apa. Syukur, alhamdulilah. Tapi khawatirnya malah kejadian ini kalau terus jadi pertimbangan.“ Bang Givan terkekeh lagi. Sepertinya, ibunya Shauwi pun memahami arah pembicaraan bang Givan yang menjurus dalam aktivitas v*lga*.


“Ya kalau menurut Saya sih, ya silahkan aja. Kebetulan juga, ekonomi laki-lakinya udah baik. Tapi, yang perlu jadi pertimbangan untuk Ibu. Ini si Keith Malik ini duda statusnya, dia duda anaknya meninggal. Duda nih udah lama, udah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, dia sekarang udah tiga puluh tahunan. Saya sedikit khawatir, karena Ceysa ini kan udah lengket sama Shauwi. Khawatirnya, setelah dia nikah, dia minta udah untuk urus Ceysa. Sedangkan, Saya anaknya tak cuma satu, Bu. Ini nambah dua lagi, udah mau dua bulan usianya. Saya tanya laki-lakinya, kalau masalah itu apa kata Shauwi katanya. Nah, Saya kepikiran nih, Bu.“ Bang Givan tertawa kecil mencairkan obrolan itu.

__ADS_1


Duh, sayang sekali aku tidak mendengar setiap jawaban dari ibunya Shauwi karena tidak dispeaker oleh bang Givan.


“Terima kasih, kalau Ibu masih izinkan Shauwi asuh Ceysa. Cuma, Saya agak khawatir Shauwi yang tak mau lagi asuh Ceysa karena dia repot dengan anaknya sendiri. Kalau ngomongin waktu, ya mungkin masih sekitar lima tahun lagi. Ceysa belum bisa mandiri sekarang, masih kelas lima SD kalau di sini. Tahun inilah dia naik kelas enam nanti.“


Aku baru tahu, ternyata bang Givan memiliki kekhawatiran soal itu.


Aku penasaran sekali, kenapa bisa Keith akan menikahi Shauwi? Sedangkan padaku, ia memintaku untuk menyerahkan k*pe*awa*ku dulu padanya. Apa Shauwi mengerjakan itu pada Keith? Tapi, rasanya tidak mungkin. Tidak mungkinnya, karena Shauwi kurang respon terhadap laki-laki. Ia tidak akan berbicara dengan orang asig, jika ia tidak ditanya.


“Oh, berarti Shauwinya diminta pulang aja dulu begitu? Kalau begitu, Saya nanti urus izin sekolahnya Ceysa dulu, baru nanti Saya urus penerbangannya.“


Aku masih bertanya-tanya, kenapa bisa? Kok bisa? Aku ingin banyak mencecar Keith dengan pertanyaanku jadinya.


“Ya tak apa, Bu. Tiket pesawat tak seberapa, ketimbang untuk masa depan Shauwi. Kalau Shauwi mau nikah sekarang, ya alhamdulilah. Ini anaknya udah pas di usia menikah juga, udah waktunya untuk rumah tangga.“ Jelas, Shauwi seumuran denganku.


Entah kapan aku menikah. Aku jadi memikirkan nasibku. Shauwi begitu mudah diizinkan bang Givan. Ya memang, bang Givan tak punya hak melarang atau mengatur Shauwi untuk menikah. Tapi kan, harusnya ia seperti itu juga pada laki-laki yang datang melamarku.


Dulu pernah ada yang melamarku. Hanya karena dia duda anak dua, ditambah aku masih berusia dua puluh satu tahun saat itu. Lamaran itu ditolak secara halus, dengan alasan bahwa aku tidak bisa mengurus anak dan aku masih seperti anak-anak.


“Oh, mau ngomong langsung sama laki-lakinya? Bisa, Bu. Dia bisa ngomong bahasa Indonesia kok.“ Bang Givan bergerak untuk pindah ke ruangan lain.


Kami menatap bang Givan yang berjalan tergesa-gesa.


“Aku juga mau ada ngelamar Ria, Dek. Gimana menurut kau?“ Suara bang Ken mengalihkan perhatianku dan mbak Canda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2