
"Apa mungkin Abang bakal nikahin Ajeng?" tanyaku ragu-ragu.
"Belum tau, tak ada pikiran untuk nikah. Secara biologis, jelas laki-laki masih membutuhkan. Tapi dengan banyak serangkaian kejadian begini, menata kehidupan dan hati itu susah. Meskipun nikah, pasti ada alasan terbesarnya selain hati. Yang jelas, hati dan pikiran aku tak akan sembuh dalam waktu dekat. Ditinggal mati itu lebih sulit, dari ditinggal cerai dan nikah lagi." Ia terkekeh sumbang.
Maksudnya aku begitu?
"Ajeng mantap, Bang." Gavin mengacungkan ibu jarinya, sebelum sempat menyimpan pecinya.
Tawa kedua laki-laki itu menyambung. Perihal selang*****n saja, pikirannya langsung sejalan.
"Kenapa kau ceraikan kalau gitu?" Bang Ken mengambil tas jinjingnya di nakas.
"Kan rumah tangga isinya bukan tentang selang*****n aja, Bang. Be smart." Gavin menunuk pelipisnya.
"Coba apa isinya? Pengen belajar nih sama duda muda umur dua puluh tiga tahun ini." Bang Ken duduk di tepian ranjang membelakangiku.
"Ya kan ada dada, leher, paha, perut, telinga. Tak melulu selang*****n gitu. Utuh gitu loh, Bang." Gavin menarik tangannya dari atas ke bawah seolah membuat siluet tubuh perempuan.
Tawa bang Ken menggema lepas. "Kok benar? Aku ikut bodohnya aja kalau masuk ke kamar ini." Bang Ken meraup wajahnya dan berdiri menenteng tas yang berisi alat medisnya.
"Nanti jam sepuluh, aku datang lagi. Kalau infus malam nanti udah mendingan, besok tak usah bawa rumah sakit. Kalau tes darah sih, mungkin besok pagi keluar. Jangan lelap-lelap ya tidurnya, Vin? Jam sepuluh nanti kantong infus habis tuh." Bang Ken menunjuk kantong infus, kemudian keluar dari kamar.
"Oke." Gavin melipat sarungnya.
Ia mengenakan kolor futsal di balik sarungnya ternyata. Aku jarang sekali melihatnya memakai kolor seperti ini, karena ia selalu menggunakan celana jeans atau sarung. Dua pilihan itu terus yang sering terlihat di mataku.
"Mau ke Kirei, dibawa pulang aja ya? Ibu suruh nginep ke sini." Gavin memilih pakaian di lemari.
Ia mengambil celana jeans dan kaos. Rupanya, memang ia tidak biasa menggunakan kolor.
__ADS_1
"Lucu kok pakai kolor, pantas." Aku memperhatikan kegiatannya.
"Memang, tapi nanti bulu kaki dicabuti aja." Ia merangkap kolor tersebut dengan celana jeans.
"Sama siapa dicabuti?" Aku pun memperhatikannya yang menggunakan kaos.
"Sama abang-abang aku, soalnya aku sendiri yang bulunya lebat betul sampai keriting. Kau pun sama, sering iseng begitu. Ya? Aku jemput Kirei ya? Minta Ibu tidur di sini sama kau ya?" Gavin memakai jam tangannya dengan memandangku sekilas.
"Iya, sok tak apa." Ia langsung pergi setelah aku iyakan.
Tak lama ibu datang dengan mengucapkan salam. Mamah Dinda menjawab dan mengajak ibu masuk ke kamarku.
"Gimana? Masih anget kah, Nduk?" Ibu langsung menyentuh jidatku.
"Anget aja." Mamah Dinda duduk di tepian ranjang dan memijat kakiku.
"Abis dikasih obat yang barusan itu, badan rasanya anget semua kek pakai minyak angin. Terus, keknya agak turun demamnya." Aku menyentuh leherku sendiri.
Pantaslah semua menantunya betah jadi menantunya. Ia tidak sungkan turun tangan mengurus menantunya begini.
Ibu duduk di sampingku yang bersandar pada kepala ranjang. Aku sampai menggeser alas dudukku, agar lebih ke tengah lagi.
"Ayah baru mungkin, jadi begitu dia." Ibu memijat telapak tangan kananku yang bebas dari infusan.
"Mungkin, dua gigi bawahnya mau tumbuh kata Ken. Gusinya udah bengkak Kirei tuh. Besok pas enam bulan, mau disuapin nanti, Bu." Benar kata mamah Dinda, besok Kirei sudah diperbolehkan MPASI.
Inilah yang aku tunggu-tunggu, semoga aku sembuh agar bisa menyuapi Kirei untuk pertama kalinya. Aku belum pernah merasakan menyuapi anakku sendiri, aku ingin menjadi orang pertama yang melakukannya.
"Halo, Cantik datang nih." Gavin muncul dengan Kirei yang banjir eces.
__ADS_1
Begitulah Kirei sekarang, bajunya selalu basah karena air liurnya sendiri. Mungkin karena efek gusi bengkak dan karena ia akan keluar gigi ini.
Kirei berada di pangkuan mamah Dinda, kami para perempuan masih mengobrol. Sedangkan Gavin, tanpa malu melingkarkan satu tangannya di satu pahaku. Wajahnya bersembunyi di bagian samping paha luar, hingga tiga menit kemudian dengkurannya langsung terdengar.
Ibu terkekeh kecil dan geleng-geleng kepala, melihat menantunya pulas mendengarkan orang mengobrol seperti ini. Gavin pun selalu mendengkur, padahal ia tidak gendut tidak apa.
Kebiasaannya tanpa s**s adalah seperti ini, tidur lebih dulu untuk menghindari kegiatan yang membuatnya ingin begadang katanya. Aku tengah sakit, jadi ia menahan diri untuk tidak melakukan hal itu.
Jam sepuluh bang Ken datang kembali, ibu dan mamah Dinda pun masih mengobrol di sini. Beginilah perempuan, begitu asyik ketika mengobrol. Kirei sudah berguling di samping ayah sambungnya, mereka mengadu suara dengkuran mereka.
"Ken, kau tidur di mana ada Ajeng di sana?" tanya mamah Dinda, ketika bang Ken tengah bekerja mengganti kantong infusku.
"Ajeng masih di penginapan, Mah." Bang Ken memberikan suntikan itu lagi ke selang infusku, obat yang memberikan efek hangat ke tubuhku itu.
"Sifatnya bengkok sekali, laki-laki perempuan dewasa tuh pasti ada feel di ranjang. Tapi kau harus tau sebengkok apa dia, biar kau ada perhitungan kalau memang bakal nikahin dia." Mamah Dinda pun memiliki pemikiran sama sepertiku juga rupanya.
"Belum ada pikiran nikah, Mah. Belum ada gatal ke ranjang juga, Mah. Kalau memang nanti ada feel untuk nikah, mungkin alasannya udah bukan karena cinta-cintaan lagi, Mah." Bang Ken mengatakan hal yang sama seperti padaku tadi.
"Pasti rasa itu datang lagi lah, Ken. Mungkin sekarang kau belum sembuh, jadi alasannya itu." Ibu menimpali obrolan seperti ini, tumben.
"Tak mau, Bu. Trauma sendiri aku, udah lagi bener malah ditinggal mati. Mau fokus ke anak-anak aja, biarpun kelak punya anak lagi nanti juga pengennya fokus kerja sama anak." Bang Ken menyimpan sampah medisnya sendiri.
"Jadi partner orang tua yang baik begitu? Jadi, kelak yang jadi istri kau bakal dapatkan fisik kau aja gitu?" Mamah Dinda menjabarkan yang tidak aku mengerti dari ucapan bang Ken.
Bang Ken mengangguk samar. "Ya, bisa dibilang begitu. Kemarin yang muda, diseriusin tapi bengkoknya di luar kendali. Yang dirujukin kemarin, malah tega ninggalin untuk selamanya. Jadi kesannya aku yang bangsat tuh, Mah." Bang Ken melirikku dan memandang ke arah mamah lagi.
Yang dimaksud yang muda itu aku kah?
"Sini, sini…." Mamah Dinda menepuk tempat di sebelahnya.
__ADS_1
Ranjang tidurku penuh dengan orang-orang. Kirei bahkan tidur di ujung ranjang, di depan kakiku.
...****************...