Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD191. Ribut


__ADS_3

"Iya, Pah." Aku lekas menyusui Kirei, dengan melebarkan telingaku untuk mendengarkan petuah papah Adi. 


"Nikah!" 


Aku kira papah Adi ingin mengatakan apa. Huh, ternyata… 


"Baru juga sebulan bebas, Pah." Gavin langsung mendelik tajam saja. 


"Kenapa, Vin? Mau ngomong apa?!" Mamah menarik kaos bagian lengan Gavin. 


Gavin menoleh ke arah ibunya, tapi setelahnya ia langsung menunduk. "Sebulan terakhir lancar komunikasi, Mah," akunya lirih.


Nampak sekali, jika ia takut pada ibunya saja. 


"Ya, terus? Sok gimana? Mamah dengerin." Mamah Dinda melepaskan hijabnya, kemudian menyalakan kipas angin menggunakan remot. 


Suaranya santai lagi, padahal tadi seperti sudah naik pitam saja. Rupanya, caranya jujur. Maka, beliau akan menjadi teman yang mengertikan. 


Kirei melepaskan ASIku, ia mendongak melihat Gavin. Kemudian, ia mencoba masuk lagi ke dalam apron. 


Kenapa bocah ini? 


"Tadi jalan, jemput di minimarket." Gavin masih melihat lantai ruangan ini. 


Intinya untuk apa minta ketemuan di jalan, jika akhirnya jujur juga ke ibunya? 


"Mamah tak diajak? Kenapa? Memang arahnya ke mana?" Friendly sekali cara mamah Dinda menyusun kalimat.


"Ke taman kota, swalayan, stadion. Memang sengaja tak ajak siapapun, Kirei kan kecil aja tak buat repot." Gavin melirik ibunya lagi. 


"Kencan? Kenapa memang tak mau direpotkan. Mau ambil rehat kah? Kan enak Kirei kecil, digeletakin juga tak bakal komplain," ucapan mamah Dinda seperti mengarah bahwa kami akan melakukan hal mesum.


"Tak, ngobrol aja. Minum es kelapa, Jalan-jalan, makan siang." Benar yang dikatakan Gavin. 


"Mamah kan bolehin, kenapa malah ketemu di luar?" Mamah Dinda menatap anaknya dengan tetapan tulus mendalam. 


"Malu sama Mamah, kemarin aku ada iseng." Gavin menatap mamah Dinda, kemudian langsung tertunduk kembali. 


"Jadi mau iseng atau mau serius sebenarnya? Mamah trauma kasus abang kau, bang Ghifar. Kau kasusnya mirip." Mamah Dinda langsung berekspresi sendu. 


"Iseng-iseng berhadiah, Mah," jawab Gavin yang membuatku shock. 


Benarkah ini? Kenapa jawabannya ada saja. 


"Jadi maksudnya tuh, Dek. Awalnya iseng, tapi kalau tanggapannya diseriusin ya dia oke aja," jelas papah Adi kemudian. 

__ADS_1


Sudah seperti lotre saja, ya ampun. 


"Kau tak jelas, Vin! Kenapa anak muda jaman sekarang pada begitu?" Mamah Dinda bersandar pada suaminya. 


Romantisnya sering membuatku gigit jari. 


"Baaa…. Apa?" Gavin mengusap kepala Kirei. 


Ternyata, ia tengah mendongak menatap Gavin. Tangannya berusaha mencolek kaki Gavin. 


Kirei caper sekali. 


"Ajak coba, Vin." Papah Adi memang selalu tidak tega pada anak kecil. 


Apalagi, Kirei terlihat berharap ingin diajak. 


"Sini, sini." Gavin bangkit dan mengangkat tubuh Kirei. 


Setelah membenahi wadah ASIku, aku langsung melepaskan apron ini. Aku mengenakan kaos, jadi mudah saja untuk menyusui Kirei. Tinggal singkap, selesai. 


Kirei girang sekali, ia seperti menemukan teman baru yang sealiran. Apa ia merasakan, mana orang tulus dan mana orang yang hanya mengajaknya bercanda saja? 


Suaranya sampai keluar, rupanya ia amat gembiranya. Gavin padahal hanya mencolek-colek pipi Kirei saja, tapi Kirei sudah memamerkan gusinya. 


"Kau gimana, Ria? Tanggapan Gavin iseng-iseng berhadiah." Mamah Dinda menarik obrolan serius lagi. 


Bukan pembohongan sebenarnya, mulutnya sudah mengatakan dengan jelas di awal meski kalimatnya berbunyi beda. Aku saja yang baper dan sensitif mendengar hal itu. 


"Terserah aja, kalau tanggapannya gitu sih." Aku melipat apron yang baru aku lepaskan. 


Aku melihat Gavin memandangku, tapi aku tetap menundukkan kepala untuk mencari kesibukan lain. Tiba-tiba tangannya terulur dan mencolek hal yang tak semestinya tidak dicolek di depan umum. 


Aku memelototinya, tapi rupanya ia tidak menyadari kekeliruannya. Ia tertawa geli, setelah melakukan pencolekan di dadaku itu. 


"Udah latah rupanya, Dek. Tak ada panik-paniknya." Papah Adi geleng-geleng kepala. 


Gavin mengarahkan pandangannya cepat pada orang tuanya. Matanya melebar, kemudian ia langsung tertunduk cepat. Ia takut dan terlihat begitu lucu. 


"Udahlah! Udahlah! Minta abang-abangnya urus! Emosi betul rasanya, anak muda jaman sekarang sulit-sulit betul dimengerti." Mamah Dinda membuang napasnya kasar, dengan ia berlalu pergi ke kamar. 


"Aiya Susanti, perempuan banyak muda. Ana banyak susah, jalan tutup mata. Uang dan ringgit, ana tak da heran lah. Ente tutup mata, ana tentu jalan." Papah malah bersenandung dengan berjalan keluar rumah. 


Orang tua pada kabur. 


"Jangan iseng tuh, Vin! Jaga tangannya tuh!" Aku ingin sekali menjitak kepalanya. 

__ADS_1


"Tak sengaja." Ia memeluk Kirei yang ada di pelukannya.


"Tak sengaja itu sekali, kalau kek gitu namanya latah!" Tanganku reflek mencubit lengannya. 


"Maaf." Ia tertunduk dengan mengusap lengannya yang aku cubit tadi. 


Persis seperti anak kecil. 


"Malu aku. Aku mau pulang ke ibu aja." Aku bersedekap tangan dan merengut sebal. 


"Aku pun malu. Ya udah, sana pulang aja biar tak ketemu tiap hari."


Hah? Mulutnya?


"Nanti kalau udah nikah, mulut kau gitu kah? Sana pulang, sana pulang! Pantas betul." Tuh kan, aku jadi mengomel. 


Bisa-bisanya nanti kawin cerai terus. 


"Ya tak lah! Kalau udah nikah sih, sana masuk kamar, jangan tidur dulu, tunggu aku."


Ucapannya ini semoga didengar ibunya, agar mamah Dinda tahu kalau anaknya mesum luar biasa. Bukan aku yang memang nemplokin Gavin melulu, tapi Gavinnya yang mesum padaku. 


"Kenapa, Mah?" seru bang Givan berbarengan dengan kemunculannya. 


Ia memperhatikan kami, tapi kemudian ia langsung masuk ke dalam kamar mamah Dinda. Pintunya pun langsung tertutup rapat kembali. 


"Sementara aku belum beres-beres, sana kau tidur di rumah mbak Canda aja. Kau kan bestienya." Aku mulai berdebat kembali dengan Gavin. 


"Kau aja sana! Ini kan rumah orang tua aku, kenapa aku yang diusir?" Gavin terkesan tidak mau kalah. 


"Kan barang-barang aku di sini semua. Tadi pun, aku baru selesai belanja-belanja banyak. Lebih baik kau aja yang pindah semalam sih, kau kan cuma baju aja." Belum barang-barang milik Kirei, belum lagi perlengkapan bayi itu yang seabrek. 


"Kau pun bisa bawa baju aja, yang lain dipindahkan berkala." Ia memicingkan matanya. 


"Heh! Apa tuh?! Kau ini, kau itu, kau anu, kau apa."


Aku dan Gavin menoleh bersamaan pada seseorang yang baru masuk di ruang keluarga kami. Tumben sekali ia membentak, biasanya tuturnya selalu lembut menenangkan. 


"Itu tuh, Bang. Riut ribut aja," adu Gavin pada bang Ghifar. 


"Kau yang ribut!" Aku mencoba mencubitnya lagi, tapi ia keburu menghindar. 


"Aduh, pusing. Di rumah Aca ribut aja sama Nahda, di sini kalian ribut aja. Nyut-nyutan kepala ini." Bang Ghifar menghempaskan alas duduknya di sebelah Gavin. 


Kirei melongo saja pada bang Ghifar, ia menepuk-nepuk pangkuan bang Ghifar sampai bang Ghifar menyadarinya. Bang Ghifar tersenyum pada Kirei, sedangkan anak itu langsung memeluk Gavin kembali. 

__ADS_1


"Gimana? Gimana? Sulit sekali kah sampai butuh bantuan Abang?" Bang Givan muncul dan diikuti suara pintu kamar tertutup. 


...****************...


__ADS_2