
Hatiku mencelos, melihatnya terduduk di trotoar tengah jalan dengan memegangi sebotol air mineral. Di pelipisnya terdapat luka dan darah merembes dari sana, tangannya gemetaran dengan salah satu tangannya menekan ulu hatinya.
“Abang….“ Aku mendekatinya dengan air mata yang tak tertahankan.
Kenapa ia bisa berada di jalanan yang sudah cukup jauh dari jalanan besar kampung kami? Tujuan jalanan ini, adalah ke luar kota. Apa ia mau keluar kota juga?
“Panggilin ambulance, Nan.“ Bang Keith memberikan perintah pada bang Nando.
“Biar aku antar, ayo aja. Aku masih punya waktu.“ Bang Nando dengan sigap menyentuh tubuh bang Ken.
Bang Ken menggeleng. Ia menyeka darahnya, dengan tangannya yang gemetaran.
“Ayo-ayo, tak apa.“ Keith bergerak cepat memapah bang Ken.
“Apa yang sakit, Bang?“ Aku menyentuh tangannya yang memegangi dadanya.
“Cuma kepala aja, deg-degan aja.“ Bibir dan suaranya pun sampai gemetaran.
“Ayo, Bang.“ Keith membantu bang Ken untuk berjalan.
Ia bisa berjalan tegap, ia tidak terlihat kesakitan di bagian dadanya. Tandanya, ia memang tidak memiliki luka dalam ataupun luka yang berarti.
Aku dipanggil oleh seseorang, untuk mengambil barang berharga yang berada di dalam mobil bang Ken. Ponselnya masih berada di sana, dompet dan tas kecil pun tengah aku usahakan untuk mengambilnya.
“Mobil satunya orangnya kenapa-kenapa tak, Pak?“ Aku bertanya pada masyarakat sekitar yang membantu menertibkan jalan.
Ya sepertinya sih masyarakat sekitar, karena mereka memakai sarung yang dilipat, adapun yang bertelan*ang dada dan memakai kolor saja.
“Itu tuh, Dek.“ Salah satu warga menunjuk seseorang yang terduduk di trotoar tengah juga.
Ia pun sama gemetarannya. Sepertinya, kejadian ini baru saja terjadi. Artinya, bang Ken mendahuluiku pergi tadi.
Seorang bapak-bapak berperut sedikit buncit, tengah menempelkan ponselnya ke telinganya. Sepertinya, ia pembisnis jika dilihat dari pakaiannya yang rapi.
__ADS_1
Ia melirik ke arahku, sebelum akhirnya ia menurunkan ponselnya. “Kenapa, Dek?“ Rupanya ia cukup peka, jika aku mendekatinya untuk bertanya padanya.
“Saya keluarga dari mobil sebelah, Pak. Mari Saya antar ke rumah sakit,” ajakku ramah.
“Boleh, Dek. Saya ada riwayat darah tinggi, sedikit khawatir dengan kondisi sendiri.“
Waduh, urgent menurutku.
“Ayo, Pak.“ Aku membersihkannya untuk bangun. “Itu mobil Saya, Pak.“ Aku menunjuk mobilnya bang Givan yang terparkir di baju jalan.
Ia tidak terdapat luka sedikitpun, tapi airbag dalam mobilnya mengembang. Tandanya, tenggoran entah tubrukan itu cukup keras saat terjadi.
Aku dibantu warga untuk menyebrang bersama bapak ini, setelah di dalam mobil pun aku baru mengetahui ternyata nama bapaknya adalah bapak Dana. Dia berasal dari daerah Jeunieb, ia baru selesai menghadiri rapat dan ingin kembali pulang ke daerahnya.
“Iya, Bang. Tak paham aku ini. Mau ke rumah sakit apa namanya, Bang Nando?“ Keith rupanya sedang menelpon, aku baru tahu ia di bangku paling belakang tengah menghubungi orang-orang.
“Belum nemu rumah sakitnya, bilang aja di daerah Gunci,” seru bang Nando dengan mengemudi sedikit cepat.
Aku langsung mengutak-atik ponselku, guna mencari keberadaan rumah sakit terdekat. Ketemu, aku langsung menunjukkannya pada bang Nando. Bang Nando pun mengiyakan dan menginjak pedal gasnya lebih kuat.
Bang Ken sudah terlihat tenang, ia tidak gemetaran lagi. Hanya saja, ia kini melamun dengan pandangan kosong.
“Ria…. Ayo lanjutkan perjalanan.“ Keith menghampiriku yang tengah duduk menemani bang Ken yang masih menunggu kamar.
Fisiknya tidak apa-apa, memang ada luka yang harus dijahit di bagian pelipisnya. Namun, ia ingin diberi tindakan lanjutan. Karena ia merasa, bahwa benturan yang mengenai kepalanya itu cukup kencang menurutnya.
“Nanti, Keith. Kau udah hubungin siapa aja?“ Aku memandangnya yang tengah menghampiriku.
“Bang Givan aja. Dia sama bang Hafidz ke sini. Cuma bang Givan minta, kita lanjut perjalanan aja.“ Keith melirik bang Ken sekilas.
“Ayo?“ lanjut Keith sedikit menuntut.
Hmm….
__ADS_1
“Boleh aku minta waktu sampai bang Givan sampai?“ Aku sedikit khawatir jika bang Ken seorang diri di sini.
“Tolong kerjasamanya, Ria. Kau tau kepercayaan bang Givan sulit didapat. Mungkin, untuk kehidupan kau tak berpengaruh. Tapi, untuk kehidupan aku pasti berpengaruh. Nanti aku dikira tak bisa ngemban tanggung jawab, tak patuh sama dia, lebih-lebih dikira pembohong. Tadi aku bilang, iya kita berangkat sekarang. Tapi ternyata pas dia datang, kita masih di sini.“ Keith menjelaskan perlahan dengan nada rendah.
Aku tak boleh egois, ini menyangkut pekerjaan Keith. Ia mengantarku, bukan hanya sekedar perintah. Tapi, hal itu merupakan pekerjaannya yang harus ia penuhi.
“Aku bayar kau untuk ini, Keith,” timpal bang Ken tak terduga.
Raut kaget Keith pun terlihat jelas. Ia terdiam sejenak, dengan bergantian memandangku dan bang Ken.
“Maaf, tak bisa, Bang. Uang pun aku ada, tapi ini bukan tentang nilai. Tanpa kerja di bang Givan pun, aku pasti bisa makan dan ikuti zaman. Tapi, dapat pekerjaan yang senyaman ini itu pasti sulit. Selama aku kerja, aku tak pernah dapat tekanan, tak pernah dapat perintah di luar kesanggupan aku dan tak pernah dlssy perintah yang tak manusiawi.“ Keith melirik ke arahku kemudian. “Aku tunggu kau di depan, lima belas menit ya?“ Ia menganggukkan kepalanya, agar aku mengikuti aturannya.
Gerak tubuhku pun mengikutinya, aku menganggukkan kepalanya sepertinya. Setidaknya, ia masih memberiku waktu. Aku rasa pun, bang Givan tak akan sampai lima belas menit kemudian.
“Sehat-sehat ya, Pak? Nanti ada keluarga yang ke sini untuk urusan mobil di sana.“
Perhatianku teralihkan oleh perkataan bang Nando. Ia terlihat ramah pada pak Dana.
Orang-orangnya bang Givan adalah orang dalam jaringan yang benar. Maksudku, mereka bukan orang yang tidak baik. Pikiran mereka semua pasti panjang, meskipun hanya sopir dan pesuruh seperti bang Nando.
Aku kira, dulu bang Nando hanya memanfaatkan kak Novi saja. Ternyata, ya mungkin tidak untuk urusan ekonomi. Buktinya, kak Novi masih kaya raya sampai sekarang.
“Iya, iya. Makasih ya?“ Pak Dana tersenyum ramah.
“Sama-sama, Pak. Mari, Pak? Assalamualaikum.“ Bang Nando berpamitan pada pak Dana yang berada di brankar sebelah.
Kami masih berada di ruang UGD yang cenderung sepi. Hanya kami, pasien yang baru masuk.
“Wa'alaikum salam.“
Setelah sahutan dari pak Dana, Keith dan bang Nando keluar dari ruangan yang memanjang ini. Aku kembali memperhatikan wajah bang Ken yang terdapat perban di pelipisnya.
“Kau pergi ke mana, Dek? Ayo, kita pulang ke Banjarmasin aja?“ Bang Ken langsung menangkup tanganku.
__ADS_1
Jika aku memberitahu tujuanku pergi, memang dia mau apa? Lalu, tujuannya apa mengajakku kembali ke Banjarmasin?
...****************...