
“Bukan di Brasilia, itu sih tempat usaha mamah. Di De Sao Paolo, tempat Gibran sekolah tuh. Gibran ada rumah huni di sana, udah atas nama dia. Dia sekolahnya di situ sih soalnya, jauh dari Brasilia, jauh dari rumah Huna atau Gavin.“ Givan memberitahu jelas tempat tujuan untuk Keith mengantarkan Ria.
“Aku pernah ke usaha punya mamah kan, Bang? Yang di Brasilia?“ Keith seperti tengah mengingat sesuatu.
“Iya, pernah. Dari Brasilia ke Sao Paolo sekitar dua puluh jam naik kendaraan, aku tak tau ada penerbangan tak. Tapi Gibran naik pesawat itu untuk pulang ke sini tuh ya dari Brasilia, pulang pergi kalau mau ke Gavin ya naik kendaraan umum. Nanti dikasih alamatnya, kau mampu kan antar Ria?“ Bang Givan berbicara dengan menggenggam ponselnya yang menyala.
“Mampu, Bang. Insha Allah, aku mampu antar dan jaga sampai tujuan. Kasih alamat lengkapnya, Bang.“ Keith mengangguk mantap.
Ia dibayar oleh bang Givan, pastilah ia tidak berani menyentuh keluarga bang Givan karena ia diamanatkan untuk menjaga. Tapi tetap saja, aku miris jika teringat aku yang dijamah tanpa s**s, tapi Shauwi yang dinikahi.
Hmm, nasib.
“Brasilia kan di tengah kota, kalau Sao Paolo itu daerah dekat laut. Dapat beasiswa sih Gibran, jadi sekolahnya dapat yang bagus dengan separuh biaya.“ Bang Givan mengutak-atik ponselnya.
“Percaya, Bang. Kuat makan ikannya dia, pasti cerdas.“ Keith membuatku dan bang Givan terkekeh.
“Banyak kelebihannya memang benih sisaan itu. Tak cuma menang tampang aja, cerdas pun diraup semua. Cengeng tapi dia ini, sedikit-sedikit ngadu. Waktu pertama di Sao Paolo, kena bully dia. Karena badannya masih kerempeng, mana tak berotot. Datanglah abang-abangnya ke sekolahan, Ghava sama Gavin keknya waktu itu. Yang bullynya dicari, dibawa ke pihak sekolah. Terus si Gibran diarahkan lah sama abang-abangnya itu untuk gym, terus jaga pola makan. Sekarang kan, mana tampang kek mafia jadinya. Mana ada yang berani bully udah gagah begitu.“ Bang Givan memang asyik mengobrol jika sudah akrab.
“Pesawatnya transit, Keith. Kau harus jaga Ria, jangan sampai kau mencar di bandara.“ Bang Givan menunjukkan layar ponselnya pada Keith.
Bang Givan sudah mencari penerbangan rupanya.
“Siap, Bang. Aku prepare dulu ini, Bang.“ Keith menunduk melihat ponsel di tangannya.
“Dek, Abang ada kerjaan. Mau ke Brasil, lama di jalan. Nanti dihubungi, kalau ada waktu dan sinyalnya oke ya?“ Keith berbicara dengan ponselnya, dengan membenahi headset bluetooth-nya.
Benar kan? Ia tengah melakukan panggilan video. Denganku, ia tidak pernah sama sekali melakukan panggilan video. Ia menghubungi ketika ada kepentingan saja, itu pun menelpon biasa.
“Oke, oke. Assalamualaikum.“ Keith berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Tiketnya udah di pesan, Keith. Berangkat dari Banda ya? Jadi, nanti dari sini nanti aku suruh orang antar kalian ke bandara. Kau nanti ambil mobil di rumah ya? Aku tunggu kau di ruko, aku mau ada ngobrol dulu sama Ria.“ Bang Givan memakai sandalnya kembali.
“Iya siap, Bang.“ Aku bisa melihat Keith menurunkan ransel dari atas ranjang.
“Ayo, Dek. Pamit ke ibu, mbak kau sama ke mamah papah. Nanti prepare Abang bantuin. Pesawatnya tak langsung berangkat kok, masih ada waktu sehari nunggu. Tapi lebih baik nunggu di dekat bandara sana, ambil penginapan aja. Jangan di sini, Abang tak mau kau didatangi bang Ken lagi.“ Bang Givan menjalankan motornya.
“Ya, Bang.“ Aku hanya bisa mematuhinya saja sekarang.
Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Namun, keterangan yang bang Givan berikan sungguh mengejutkanku.
“Memang tak telat untuk pendidikan lagi, Van?“ tanya ibu, setelah mendengar keterangan yang bang Givan berikan.
“Tujuh puluh tahun aja, kalau masih sanggup, ya masih boleh ambil pendidikan. Yang penting bernyawa aja, Bu.“ Bang Givan bisa menyamarkan emosinya.
Namun, menurutku tetap saja terlihat. Karena dahi bang Givan terlihat mengekerut dengan alisnya juga. Kebiasaannya itu hanya sesekali, tapi kalau dipertahankan tandanya ia tengah menahan kesal.
“Kok mendadak sih, Mas? Kan Dia lagi ada proyek sama bang Ken, Mas,” tambah mbak Canda kemudian.
Benar tidak ucapan bang Givan? Kenapa tadi ia tidak memberiku pemahaman apapun?
“Ohh, ya udah. Ibu percaya sama kau, Van.“ Ibu tersenyum lebar.
Aku pun begitu percaya dengan b******n yang telah insyaf itu. Apa bang Ken bisa insyaf juga? Sudahlah, lebih baik aku tidak menarik namanya lagi. Sudah cukup penghinaan ini. Ia merendahkanku agar martabatnya tetap terjaga.
“Aku nemenin Ria pamit ke mamah papah dulu, Bu. Terus, mau urus-urus dokumen untuk dia di sana.“ Bang Givan bangkit dan aku mengikuti gerakannya.
“Aku pamit dulu, Bu.“ Aku mendekati ibu.
Aku tak kuasa menyesali perbuatanku kerena cintaku. Untuk menghindari laki-laki yang aku cintai, aku harus dipisahkan jarak yang begitu jauh dari keluargaku.
__ADS_1
Semoga ibuku berumur panjang. Agar kelak jika aku kembali, aku masih bisa menemani beliau di sisa usianya.
Ibu menciumi seluruh wajahku, memberiku pesan dan petuah bijak seperti pada umumnya orang tua. Mbak Canda pun melakukan hal yang sama, hanya saja ia menekankan agar aku menjaga hijabku dan sholatku.
“Nanti kalau Keith ke sini, kasih kunci mobil silver ya, Canda? Bilang, aku nungguin di ruko galon. Aku bantu Ria nyiapin dokumen yang dia perlukan soalnya.“ Bang Givan sudah berganti menggunakan celana jeans hitam dan juga hoodie berwarna putih.
Empat puluh tahunan, seperti tiga puluh tahunan.
“Ya, Mas. Mas langsung cek kerjaan kah?“ Mbak Canda mengulurkan tangannya.
Aku kira ia minta apa, eh ternyata hanya memegang tangan suaminya. Setelah, bang Givan malah menunduk dan memberi kecupan ringan di dahi istrinya.
“He'em, dini hari aku pulang keknya. Kunci aja pintu rumahnya, aku bawa kunci cadangan.“ Bang Givan menegakkan punggungnya kembali.
Apa yang dirasakan ibu melihat anak menantunya bermesraan di depannya? Aku yang adiknya saja, merasa malu sendiri.
“Assalamualaikum….“ Aku mengucap salam, dengan mengikuti langkah bang Givan yang sudah keluar lebih dulu.
“Wa'alaikum salam,” sahut mbak Canda dan ibu bersamaan.
Ibu selalu menurut, jika bang Givan memintanya untuk tidur di rumahnya. Karena aku pernah mendengar bang Givan mengatakan, agar ibu kasian pada cucunya. Karena mbak Canda sulit dibangunkan, otomatis anaknya akan lebih lama menangis.
Motor matic bang Givan, membawaku ke rumah mamah lebih dulu. Untungnya, mereka belum tidur. Tapi dengan pernyataan bang Givan yang sama seperti keterangan yang sama ia berikan pada ibu, tidak membuat mamah Dinda langsung percaya padanya.
“Kau anak Mamah, Van. Kau bisa bohongin istri kau, tapi tak dengan ibu kau. Kau tak pernah ambil keputusan mendadak, kau pun selalu mau adiknya Canda ada di jangkauan kau. Di Sao Paolo, dia sama siapa? Gibran yang anak laki-laki aja, Mamah ketar-ketir mikirin. Gimana kalau Ria harus sendirian di sana? Kau tak masuk akal, Van. Beasiswa Gibran aja, dulu kau maksa untuk tak usah diambil. Sekarang, tanpa beasiswa apapun, kau minta Ria ke sana. Kalau maksud kau biar Ria jauhi seseorang, bukan jarak yang dipisahkan. Tapi biarkan Ria nikmati sakitnya sendiri, lambat laun pun dia jadikan rasa sakitnya itu untuk pengalaman dan kehati-hatian. Prinsip hidupnya pun akan berubah, setelah dia sadar kalau dia disakiti di sini. Kecuali aib, Mamah bakal ngerti kalau keadaannya ngandung tanpa suami kek anak Mamah.“ Suara mamah Dinda menurun,
Aku tahu, siapa yang mamah Dinda maksud. Pasti, beliau teringat dengan masalah salah satu anak perempuannya yang tak pernah terungkap di depan umum.
Membohongi keluarga mamah Dinda, bukanlah perkara yang mudah.
__ADS_1
...****************...