
"Tak, Mah. Kan dia di Lampung lama." Jawabanku masuk akal kan?
Mamah Dinda manggut-manggut. "Pindahin anak-anak yuk? Kasian, tuh. Mamah siapin kasur lantai dulu, biar enak pindahinnya." Cani dibawa olehnya.
"Ya, Mah. Aku naruh Kirei dulu di kamar." Agar aku mudah memindahkan anak-anak.
Aku dan mamah Dinda lanjut berghibah membahas mantan pacar mbak Canda, yaitu Ardi. Kata mamah Dinda, tenaganya tidak digunakan oleh bang Zuhdi lagi. Sekarang, bang Ardi ikut kerja di ladangnya papah Adi.
Banyak lah yang kami obrolkan, sampai makanan berdatangan dan beberapa perempuan masuk mencari kamar. Mariam pun ikut masuk, dengan perutnya yang sudah seperti balon berwarna hijau. Yap, hampir meletus. Ia baru menginjak bulan kesembilan, sudah terlihat begitu lelah, tapi masih ingin salto dan segala macam. Ia ibu hamil yang aktif.
Aku masuk ke kamar, setelah makanan habis. Mbak Canda pun ikut masuk ke kamarku, ia langsung tepar begitu nempel bantal. Budhe kau, dek. Iya, lucu sekali jika sudah lelap. Pantas saja suaminya serasa ingin memakannya.
Hari ini aku tidak jadi keluar untuk berbelanja ini dan itu. Tapi aku sudah mengatur waktu untuk bergerak sepagi yang aku bisa karena habis begadang ini, untuk tetap bisa jalan-jalan membeli kebutuhan Kirei.
Loh? Ke mana Kirei?
Aku panik dan langsung keluar kamar. Aku jadi tidak enak hati, melihat Kirei ada di tengah-tengah para lelaki yang tengah tidur. Ia di dekat papah Adi dan Gavin, ia pulas dengan satu tangannya menutupi wajah Gavin.
Kapan Kirei berjalan?
Eh, dipindahkan maksudku.
"Ria sama Cendol di satuin, ya udah tiap menit jadi malam tanpa kuping terus." Mamah Dinda menyindirku.
Apa aku terlampau lelap tertidur?
"Memang Kirei nangis, Mah?" Kirei benar-benar di tengah-tengah laki-laki yang mengorok semua. Entah bagaimana caranya mengambil Kirei, karena di jejeran sana dan sini dikepung oleh laki-laki semua.
"Iyalah! Nangis terus, tau aja ayahnya mau punya adik lagi." Tidak ramah sekali mulut mamah Dinda.
Aku melirik ke jam dinding, pukul delapan pagi ternyata. Aku langsung kabur untuk mandi, kemudian mengurus baju kotorku dan menyetrika pakaian kerjaku yang sudah kering. Aku bergerak cepat, agar ketika Kirei terbangun aku sudah selesai. Tinggal aku mengurus Kirei, memberinya susu, lalu bersiap berangkat jalan-jalan deh.
Brugh…
__ADS_1
Enak sekali, menaruh baju kotornya di keranjang baju kotorku yang akan isinya akan masuk ke mesin cuci. Ia menguap lebar ketika aku meliriknya, kemudian ia langsung mengusap wajahku dan berlalu pergi.
"Makan apa, Mah?" Ia sudah rapi dengan celana jeans dan rambutnya yang sudah klimis.
Ia hanya tinggal mengenakan baju saja, lalu siap ditarik untuk ke manapun aku ikut. Ah, sayangnya mamah Dinda sudah semakin mencurigai kedekatan kami.
"Kirei nih, Dek." Bang Givan datang dengan memberikan Kirei padaku.
Anak Ken ini sudah tersenyum-senyum saja. Masih kecil, pulasnya berada di tengah-tengah laki-laki. Ngeri-ngeri!
"Adek bau." Aku menciumi lehernya.
Disapa saja ia tersenyum bahagia dan riang, jadi jangan ditanya jika diguraui seperti ini. Ia langsung memperlihatkan gusinya itu.
Aku meninggalkan mesin cuci ini, kemudian berjalan ke kamar untuk memandikan Kirei. Ternyata, kasur lipat sedang digulung dan sudut rumah tengah dibersihkan oleh anak-anak mamah Dinda. Meskipun anaknya laki-laki semua kebanyakannya, tapi cukup urus dan memelihara milik orang tuanya. Kecuali Gavin sepertinya, ia sudah duduk di luar pintu samping rumah dengan sepiring makanan. Ia sudah nyarap saja, di tengah kerja bakti itu.
Aduh, aku jadi memikirkan bagaimana rumah tangga kami nanti. Apa ia tidak akan sedikitpun untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga?
Aku mengecek ponselku dulu, setelah menaruh Kirei di tengah-tengah tempat tidur. Ada pesan rupanya, pesan dari Gavin. Dekat saja, tapi mengirimkan aku pesan chat.
Ia ingin ikut rupanya.
[Mungkin jam sebelasan, nanti aku bilang kalau mau pergi.] balasku kemudian.
Aku tidak tahu, jika Kirei sudah memperhatikan wajahku sejak tadi. Aku langsung mengajaknya bergurau, sebelum ia dicemplungkan ke air. Karena ia selalu menangis ketika mandi.
Kirei sudah cantik, sudah menyusu. Ia pindah tangan ke Mariam, karena aku akan mengurus pakaian dari mesin cuci untuk dijemur lebih dulu. Kemudian, aku mengisi perutku sebelum berangkat.
[Siap-siap dulu, mau berangkat.] aku mengirimi Gavin pesan chat, setelah aku selesai minum air putih.
[Oke.] sepertinya ia selalu menggenggam ponselnya.
Aku benar-benar berangkat dengan Kirei saja dari rumah. Kirei duduk di kursi bayi dengan sabuk pengaman, tentu saja aku meminjamnya dari mbak Canda. Kursi khusus mobil itu, bisa diubah menjadi kereta dorong bayi katanya. Tapi berniat menggendongnya saja, karena aku akan mendorong troli.
__ADS_1
Benar, Gavin ada di parkiran minimarket dengan kemeja yang disampirkan ke bahunya. Tentu saja ia memakai kaos, kaos berwarna putih dengan gradasi hitam di bagian perut ke bawah.
Ia langsung berjalan ke arah mobilku, kala mobilku menepi dan berhenti. Entah kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini, aku coba mengikuti permainannya saja.
Ia duduk di sebelah kursi kemudi, sedangkan bangku Kirei memang ada di bangku belakang kami. Mobilku hanya mobil kecil, dengan kapasitas empat kursi saja. Mirip dengan Honda Jazz, tapi memang bukan Honda Jazz, hanya mirip saja. Karena uangku pun tidak sampai untuk membeli Honda Jazz saat itu, jadi yang penting aku memiliki kendaraan saja.
"Hallo…." Gavin menyapa Kirei.
"Kenapa sih harus backstreet seperti ini?" Aku mulai menjalankan mobilku.
Kami memang belum berpacaran. Tapi, dengan ia ngumpet-ngumpet seperti ini terkesan ia tengah menyembunyikan kedekatanku.
"Tak enak hati sama mamah, Kak. Pasti mamah pikir aku mau macam-macam, masa minta ikut kau pergi begini. Mamah kan tadi malam tak sengaja tau aku iseng, takutnya pikiran mamah macam-macam."
Bukan sengaja tahu, tapi memang isengnya tak tahu tempat.
"Ya masa kalau mau pergi selalu kek gini." Jalan sudah akan menanjak ke trotoar.
"Biar dulu lah, kau tak jelas betul pengen aku nikahin. Rupanya memang masih ada rasa ke mantannya." Ia menoleh ke belakang kembali.
Kok begitu bicaranya?
"Sok tau!" Sebelumnya, kami memang tidak pernah membahas pernikahan lagi dan tentang perasaan.
"Ngapain nangis coba? Berarti kan memang begitu. Aku sih bener-bener mau macam-macam sebelum ditinggalkan."
Kenapa bilang-bilang?
"Siapa yang ninggalin? Aku tak mungkin jadi istri kedua ayahnya Kirei kali." Aku meliriknya sekilas.
"Mana tau, tadi aja nangisnya lebay."
Apa ia tengah cemburu?
__ADS_1
"Kau kan katanya cuma n**** sama aku, makanya pengen nikahin biar tak berzina." Aku ingin tahu bagaimana perasaannya padaku. Benarkah hanya n****, atau ada perasaan yang belum terungkap lainnya.
...****************...