Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD210. Junub kembali


__ADS_3

"Gituan yuk?" Aku mendekati suamiku yang masih berada di dalam kamar. 


"Masak apa? Makan siang ini, malah ngajak makan daging." Ia melirikku sinis, kemudian mengusap kepala Kirei yang berada di gendonanku. 


Kirei sudah pulas, ini jam tidur siangnya. 


"GO-FOOD ya Ayang ya?" Aku malah sudah membawanya dan menatanya di dapur. 


"Main itu, bukan disuruh pandai GO-FOOD. Sesekali aja gitu loh, masak tiap hari. Main itu, sana ngobrol cari tau ini itu. Bukan untuk GO-FOOD." Ia berbicara pelan, seperti tengah menasehati. 


"Oke, Bang." Aku mencolek dagunya. 


"Tak enak badan, obatin. Atau panggilin mamah aja." Ia bersandar lemah di kepala ranjang. 


Penolakan yang halus. 


"Demam kah?" Aku meletakkan Kirei di tengah ranjang, kemudian mendekat untuk mengecek dahi Gavin. 


Betul tak nih ia sakit? 


"Sumeng." Ia menggosok hidungnya.


Ia tidak panas, cuma memang wajahnya memerah. 


"Jadi harus gimana? Biasanya gimana?" Aku mengusap pipinya. 


"Berobat." Ia merobohkan tubuhnya dan meringkuk dengan hati-hati. 


Manja sekali, aku baru tau ia orangnya seperti ini. Aku memijat kakinya yang meringkuk, dengan memainkan ponselku. 


Mamah Dinda. 


Aku menghubungi Ibu mertuaku, untuk menanyakan obat sumeng yang selalu dipakai oleh putranya ini. Serba tidak tahu, karena pengenalan kami begitu singkat. 


"Apa, Dek?" Mamah tak mengucapkan halo, tapi langsung bertanya. 


"Gavin sakit obatnya apa, Mah?" tanyaku kemudian. 


"Sop pakai lada yang kuat. Berobat kalau udah parah, flu biasa tak pernah minum obat."


Aku langsung melirik tajam pada Gavin. Penjelasan ibunya berbeda dengan pengakuannya, ia malah cengengesan. 


"Sakit apa dia?" tanya mamah Dinda kemudian. 


"Pilek aja, Mah. Tak demam." Memang permukaan kulitnya tidak panas. 


"Iya, suruh istirahat aja. Kasih makan yang hangat, jangan dingin. Minum hangat, makanan hangat. Jangan suruh keluyuran dulu, begadang sama kau dikurangi dulu. Jangan malam-malam tuh, Dek. Tandanya dia abis begadang berulang kalau begitu tuh." 


Aku lagi yang kena. Padahal semalam berhubungan denganku selesai jam sembilan malam, sisanya ia begadang bersama bang Givan. 


Tangannya resek sekali, aku tengah menelpon dengan ibunya, bisa-bisanya ia meraba milikku dari luar. Meski sudah ditepis, ia tetap menggosok bagian favoritnya pada diriku itu. 


"Iya, Mah. Sop ayam gitu ya, Mah?" Aku menghadang tangan Gavin. 


"Iya gitu, sayurnya setengah matang aja," sahutnya kemudian. 


"Oke, Mah. Aku mau siap-siap masak." Pandanganku tersorot tajam pada suamiku, bisa-bisanya tangannya masuk ke dalam celanaku dan mengganggu kekeringan di sana. 


"Ya, kalau tak ada ayamnya ambil ke sini aja." Ibu mertua yang baik. 

__ADS_1


"Ada, Mah. Pagi tadi udah belanja, cuma memang belum dimasak." 


Semalam fix katanya mau dikasih pegang kartu. Pagi-paginya Subuh aku diberi uang sejumlah lima juta, plus untuk kasih orang tua katanya. Entahlah, dia cukup plin-plan. 


"Yaudah, masak dulu ini udah siang. Kalau tak ada yang pegang Kirei, bawa ke sini aja."


Kurang baik apa coba? 


"Kirei bobo siang, Mah. Aku bisa langsung masak." Aku menahan permainan tangannya. 


Katanya sakit, tadi diajak tidak mau. Ehh, malah ngobok-ngobok. 


"Oke, udah dulu ya?" 


Aku malah reflek mengangguk. Kemudian, panggilan telepon dimatikan. 


"Awas sih, Bang." Aku mencoba mengeluarkan tangannya. 


"Katanya ngajak nganu? Aku mau mainan dulu, cari yang hangat-hangat." Tangannya bertahan di dalam sana. 


"Jarinya tuh jangan masuk-masuk!" Ia tidak pernah seperti ini, tapi sekali seperti ini ia begitu brutal. 


Aku jadi ingat bang Ken bermain di sana. 


"Hangat, Yang. Jangan cium aku ya? Takut ketularan." Ia menarik pinggangku agar lebih dekat dengan jangkauannya. 


Matanya berkabut b*****.


"Jangan banyak-banyak jarinya." Aku memegangi lengannya. 


"Satu lah, banyak berapa memang? Kau kira, aku laki-laki upnormal?" Ia memanyunkan bibirnya. 


"Aduhhh…." Aku kalah jika ia begini. 


"Hmmm, banjir melanda. Dasar SANGat kangEnAN!" Ia menarik tangannya dari dalam sana. 


"Orang diaduk begitu, gimana tak banjir?!" Akun mentatap jarinya yang baru keluar dari dalam celanaku. 


"Junub lagi kau!" Ia tertawa geli, dengan merobohkan tubuhku. 


"Katanya tadi tak mau." Aku sudah pasrah ketika ia merangkak naik. 


"Ya kenapa main tak pulang-pulang? Tau suaminya di rumah, ditinggal aja. Aku tak suka begitu." 


Jadi begini dirinya? 


"Kan tak jauh." Aku meringis, ketika kebasahan di sana langsung dihantam olehnya. 


Telingaku terasa seperti dijewer bersamaan, mendapat sensasi yang ia berikan kali ini. Ia tidak bergerak, tangannya ke mana-mana dalam posisi sendok ini. 


"Gerak, Bang." Aku menepuk pahanya yang berada di atas pahaku. 


Bukannya bergerak, ia memaksa lebih masuk meski sudah sampai dasar. Aku sampai memekik, karena kaget dengan sundulan itu. Setelahnya, ia langsung mengayunkan sekali dengan kekuatan penuh. 


"Abang!!!" Aku mendadak kelojotan. 


Tanpa pemanasan, tapi dengan jarinya tadi aku sampai banjir bandang. Jika bang Ken dulu, belum dipanasi dan belum dibuat banjir, ia langsung membobol dengan amarahnya.


Ia terkekeh geli kembali. Aku seolah mainannya jika berada di ranjang. Bagaimana pun aksinya, tetap aku yang kalah. 

__ADS_1


"Lagi tak?"


Kenapa harus menawari dulu? 


"Lakuin aja, Bang. Jangan nawarin lagi, aku punya Abang." Tanganku mengusap kepalanya yang berada di belakang kepalaku. 


"Hmm, begitu ya? Keknya, bau-bau ketagihan. Pas awal tengok kek sungkan, karena katanya ada varisesnya. Sekarang, keenakan." Paling bisa ia meledek. 


"Enak betul, Bang." Aku menyentuh tangannya yang memeluk perutku dari belakang. 


"Oke, dibuat tak enak dulu." Giginya langsung menancap di tengkukku. 


Seperti kucing kawin. 


Ia bergerak, ayunan sistematis seperti robot yang sudah diatur. Karena urat-urat yang tidak rapi itu, rasanya seperti digaruk secara berkala. 


"Ini enak, bukan tak enak." Aku berpegangan pada lengannya. 


"Oh ya?" Ia bergerak lambat dengan ayunan kuat secara beberapa kali. 


"Abang….!!!" Suaraku tidak bisa diajak kompromi. 


Ia melambat kembali, ia sudah mengobrak-abrik h*****ku. Ia selalu tertawa geli, setiap tahu aku kalah dengan permainannya. 


"Gemas aku punya istri begini, merasa jadi jantan seutuhnya." Ia menciumi telingaku. 


"Malu betul aku, Bang. Sampai basah kuyup begini, padahal belum keluar." Aku takut ia ilfeel dengan suara yang terlalu seperti bermain genangan air hujan begini.


"Aku suka. Bener kata papah, banjirnya perempuan itu bikin candu." Ia mengacak pekerjaannya di bawah sana. 


Aduh, aduh….


"Ngobrol sama papah semalam?" tanyaku dengan memegangi pahanya kembali. 


"Heem, sama papah sama bang Givan. Tahan ya?" Ia mengangkat satu kakiku. 


Beginikah namanya pengantin baru? Atau, pengantin gatal? 


"Aku mau keluar." Sekali terangkat, langsung terkena sasaran. 


Gavin langsung berhenti seketika. "Jangan dong, jangan dulu ya?" Ia melepaskanku. 


Ia bangkit, kemudian melepaskan kaosnya. Aku pun masih mengenakan baju, hanya saja sudah tidak menggunakan celana. Bajuku sudah acak-acakan, dengan wadah ASI yang sudah tidak jelas lagi. 


"Dikeluarkan dulu gitu, nanti lanjut." Aku menyambutnya yang mendekatiku lagi. 


Siang-siang begituan, aku baru merasakan. Apalagi, dengan latar belakang Kirei yang mendengkur. 


"Jangan, takut surut. Jangan sampai keluar pokoknya, aku mau kau nurut." Ia mulai bekerja kembali. 


"Aduh, Abang." Aku mulai memikirkan untuk mencari cara menanggulangi ketidaktahanan ini. 


"Tahan." Ia mulai brutal tidak seperti biasanya. 


Ya ampun, beginikah l***** keluarga Riyana? Aku pernah mendengar tabiat papah Adi ketika di ranjang, harusnya aku memiliki kunci sebelum memutuskan untuk menikahi putranya ini. 


Bukan masalah juga, tapi aku merasa terlalu lemah untuk menjadi lawannya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2