Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD151. Seorang Ken


__ADS_3

"Lagi pun, Tan. Ada Hala yang menjadi benteng antara aku dan dia, jelas semuanya semakin rumit. Karena kalau memang benar dia memperalat Hala, untuk narik perhatian aku, Hala pasti tak terima dengan tindakan bang Ken. Statusnya memang hanya mantan pekerja, tapi dia pun punya hati dan punya pikiran juga." Aku ingin tantenya bang Ken ini mengerti.


Eh, siapa namanya ibunya kak Kin ini? Aku tak tahu dan author pun lupa. Tolong komen ya, yang masih ingat namanya ibunya kak Kin ini. 


"Iya sih, Ken terlalu menyepelekan manusia. Kalau memang meski pisah kan, kalian tetap harus bisa jadi orang tua yang baik, kalian harus tetap jadi partner yang baik meski tak seatap. Tak bisa kau sembunyikan keberadaan Kirei dari Ken begini, Kirei berhak dapat kasih sayang dari Ken juga, Ria. Jangan mentang-mentang keluarga kau banyak, yang nyayangin Kirei banyak, jadi seenak kau kasih dinding antara Kirei dan Ken. Mereka ayah dan anak, Kirei butuh ayahnya untuk pernikahannya nanti, jangan kau persulit kasih sayang mereka. Ken memang belum ngomong apapun, saat ditanya di sana pun dia tak jawab apapun. Entah karena keadaannya tak memungkinkan, atau karena memang dia udah ngerasa badannya tak baik-baik aja. Tak ada pilihan lain, selain nunggu dia sehat. Selebihnya, keputusan akhir ada di tangan kalian." Ia menepuk bahuku lembut. 


"Bukan aku sengaja sembunyikan." Aku tak mungkin, jika aku mengikuti permainan mamah Dinda. 


"Hala udah tau dan dia tak mau tau-tau. Dia ada di rumah, dia lagi urus kerepotan di sana. Dia pun marah, tapi Ken tetap tak kasih penjelasan dan keterangan apapun. Ken cuma diam, dari tadi dia juga cuma diam. Dia tak mau ikut ke sini, alasannya karena masalah itu menyangkut kau dan Ken aja. Padahal, jelas mamah Dinda juga ngajak karena dia berhak tau. Sedangkan Hala, dia cuma mau hasil akhir. Kalau memang dia tak dipilih, ya dia yang akan pergi. Tapi Ken tak ada perlawanan apapun, dia cuma diam aja. Tante juga kecewa sama reaksi Ken, dia nampak bersalah dari segala sisi." Beliau memperhatikan jendela dan mengedikkan bahunya. 


"Baru talak kifayah, yang dia ucapkan. Dia pun lama tak kasih nafkah lahir batin ke aku, aku pun salah juga karena sekalipun dia kasih nafkah batin, aku bakal nolak itu. Makin seatap, kelakuan dia itu makin kelihatan. Dia itu beda betul dari sebelum yang aku kenal, masa aku kenal dan masa kami dekat. Setelah jadi suami, dirinya itu banyak mengecewakan. Entah sifat dan sikap aslinya yang baru terlihat, entah kelakuannya yang terbongkar semua. Dia itu kek pandai berkamuflase, pandai menggunakan topeng, pandai menipu daya dengan ucapannya juga." Aku memandang kosong lantai kamar ini. 


"Kau perempuan sekian yang ngadu begitu ke Tante. Jujur aja, Tante memang tak tau banyak tentang dia. Memang, dia ini seperti apa?"


Benarkah itu? 


"Siapa yang ngadu, Tan? Apa kata mereka?" Aku menoleh ke arahnya, perhatianku dan rasa penasaranku datang dengan tanggapannya. 


"Eummm, Tiwi ada pernah ngadu ke Tante lewat DM. Kalau Riska, kita ketemuan karena Tante mau tau alasannya ceraikan Ken. Terus, ada lagi satu perempuan, mantan istrinya Ghifar katanya sih. Yang sekarang pulang ke Turki itu, kita pernah ketemu di negara Tante, di Hongkong." 

__ADS_1


What? Kak Novi? 


"Mereka ngadu apa, Tan?" Aku sangat penasaran.


"Eummm… Intinya mungkin sama, tentang Ken yang selalu mempermainkan mereka. Ya salah mereka juga sih, karena mereka tergoda. Tapi kan, kalau laki-laki bisa jaga sikap, mereka tak akan tergoda. Kalau Riska sih banyak, dia kan yang paling lama bertahan sama Ken. Dia pernah disekap, pernah diikat sampai asisten rumah tangganya yang bukakan. Cemburunya ini besar dia tuh, terus pelupa juga orangnya. Diikat ini, alasannya lupa karena buru-buru ada operasi yang udah dijadwalkan pagi-pagi. Sebenarnya sih, cuma permainan hubungan ranjang mereka. Tapi Riska pasti ngerasanya lain, karena itu dia sampai kelupaan lepas ikatannya. Waktu disekap, bukan disekap juga sih, jadi kek dikunci di kamar gitu dari luar, karena Ken tak suka Riska selalu punya teman yang datang dan ajak dia main. HP segala macam alat komunikasi disita, sampai beberapa bulan itu baru dikembalikan lagi. Intinya, sampai teman-teman Riska lupa sama Riska."


Sungguh, aku tidak berkedip mendengar cerita tersebut. Dari semalam sampai pagi kelupaan begitu? Kenapa menyeramkan sekali? 


"Diikat dari malam, Tan?" Aku masih tidak habis pikir dengan cerita ini. 


"Tak, mereka rutin waktu setelah Subuh aja. Mereka itu tak pernah berhubungan sebelum tidur, karena mereka sama-sama lelah dengan aktivitas mereka. Ini sih pengakuan Riska, entah apa kata Ken karena Ken keponakan laki-laki yang jelas terbatas untuk cerita hal kek gitu ke bibinya. Diikat juga, bukan yang bagaimana. Jadi cuma tangan aja gitu ke kepala ranjang. Dari cerita Riska suh, minat s**s Ken itu masih dibilang wajar, karena ada sebagian yang upnormal. Terus, Riska juga pernah pulang ke orang tuanya karena pernah kena lemparan barang. Bisa dibilang, dia trauma dan takut meski Ken udah minta maaf." 


"Tante tau tentang dia yang selalu hancurkan barang ketika marah?" tanyaku kemudian. 


"Tau, itu kebiasaannya setelah baligh dan sulit mengatur emosinya. Waktu kecil, dia cenderung cengeng. Hatinya ini kecil, liat sinetron yang menyedihkan aja dia ini nangis."


Keluarganya tahu, tapi mereka tidak bisa menangani bang Ken. Atau, setidaknya membawa bang Ken berobat ke psikiater begitu. 


"Kenapa tak ada penanganan dari pihak keluarga?" Aku langsung menutup mulutku, karena beliau langsung menoleh ke arahku. Ia pasti tersinggung mendengar ucapanku. 

__ADS_1


"Udah, tapi itu kek kebiasaan yang diturunkan. Sulit dijelaskan, karena memang dari keluarga pun begitu."


Hah? Satu keluarga begitu? Lalu mereka beranggapan wajar?


"Yang terpenting, tak sampai jatuh tangan ke pasangannya kek ayahnya," lanjutnya lirih. 


Berarti beliau pun tahu, jika abi Haris ini KDRT? Jadi, benar juga jika memang abi Haris ini KDRT? Kok menyeramkan keluarga ini? 


"Tapi dia tetap menakutkan, Tan." Aku reflek mengguncangkan lengannya. 


"Kau cuma tak terbiasa aja. Kalau Ken lagi begitu, jangan ditemani. Jangan kau tanyakan apapun, jangan kau ajak dia berdialog apalagi nuduh dia dan semakin nyalahin dia. Nanti dia makin tak terkontrol, karena dia lagi butuh penyaluran emosinya. Setelah dia selesai pun, dia pasti datangin kau dengan nangis-nangis. Tante pernah tau sendiri dan Tante pun pernah jadi saudaranya." 


Oh, begitu caranya? Aku pernah malah menyalahkannya, saat pertengkaran sebelum aku meninggalkannya itu. 


"Kan dengan begitu, masalah tak selesai. Cuma dia yang plong, cuma emosinya yang tersalurkan." Menurutku, bang Ken terkesan hanya ingin dimengerti saja. 


"Nah, pas dia udah selesai itu barulah ditenangin dan diajak ngomong baik-baik. Dari kecil dia tak pernah bisa diomong kasar, direndahkan, disalahkan dan dinasehati dengan bentakan. Hatinya kecil, Ria. Dia tak bisa dikasarin ibaratnya."


Aku baru tahu, jika orang kasar itu tidak bisa dikasarin. Memang begitu konsepnya kah? Dengan dia kasar saja, logikanya memang dia terbiasa dengan kekasarannya. Masa, mendapat ucapan kasar dia tak terima? Tapi, dia berlaku kasar. Logikanya tak masuk. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2