
“Dibicarakan dulu tuh sama Bang Kennya, Dek.“ Bang Givan menjeda ucapannya sejenak. “Bisa kan kalau barang mentahnya dilempar ke Ria semua?“
Loh, kenapa bang Givan main izin saja? Aku kan belum mengiyakan mau ambil jalur yang mana.
“Barang mentah apa dulu nih? Aku punya daging mentah juga soalnya.“ Ia duduk di sampingku, kemudian mengambil alih kopiku.
Daging mentah maksudnya anunya?
Ia sudah harum aroma parfum saja, padahal masih bertelan*ang dada. Aku meliriknya sekilas, ternyata rambutnya sudah basah juga. Ia sudah mandi rupanya.
Tiba-tiba bola matanya melirikku, saat aku tengah menoleh padanya. Bertambah seksi saja, ketika ia menaikan alis kanannya, kemudian mengedipkan mata kirinya.
Ya ampun, pagi-pagi begini.
“Daging mentah apa, Bang?“ Bang Givan yang mengajukan pertanyaan.
“Sisa bedah.“
Hufttt, aku langsung ngerti mendengarnya.
“Sialan kau, Bang! Aku mau sarapan, kau bahas daging mentah.“ Bang Ken malah tertawa lepas, merespon kekesalan bang Givan.
“Ya itu sih bisa diobrolkan, apalagi Ria kan baru. Kasarnya, belum bisa dipercaya. Jadi mungkin aku lemparnya bertahan aja. Kecuali…..“ Ia melirik ke arahku, kemudian menurunkan pandangannya menyusuri lekuk tubuhku.
Aku langsung melayangkan tanganku untuk meraup wajahnya. Ia malah terkekeh, seolah kegiatan ini begitu romantis.
__ADS_1
“Kecuali apa, Bang?“ tanya bang Givan cepat.
Apa ia berharap, jika aku menyerahkan tubuhku agar bisnis ini berjalan lancar? Lagi pun, masa iya bisnis sekotor itu?
“Kecuali, dalam binaan mamah papah. Jadi bisa dijamin, kalau hal itu tak merugi,” jawabnya dengan fokus ke ponselku yang tergeletak di dekat gelas kopi.
“Ya itu sih pasti. Kalau mamah papah kan, yang penting kita terbuka dan ada bilang. Tak main langsung gerak langkah tegap maju jalan aja. Semua usaha-usaha aku, kan awalnya aku briefing dulu sama mamah papah. Bagus taknya, dengar pendapat mereka, pahami resiko dan kerugian, barulah minta doa untuk dilancarkan. Aku tak sekali aja dilarang, masa itu pas aku minta izin untuk buka usaha kedai kopi modern gitu. Tak ada makanan berat, adanya makanan siap saji semua. Macam-macam mie rebus dan mie goreng instan, dengan pilihan rasa yang bisa ambil sendiri plus topingnya juga bisa milih kek prasmanan gitu. Aku tak diizinkan, karena menurut mereka itu aku lebih condong untuk ke barang mentah. Lagipula, kata mereka itu aku perlu turun tangan sendiri di awal. Ya memang semuanya butuh turun tangan di awal, tapi katanya tak begitu melelahkan kek jual barang mentah. Sedangkan, anak sulung aku rewel. Aku udah capek kena istri rasa anak, ditambah capek buat ikut turun dalam kesibukan. Kalau jual barang mentah, kasarnya tinggal tunjuk ajalah. Mandorin, begitu. Makanya setau aku, keluarga kami tak ada nih yang jual barang matang begitu. Sekalipun Ghifar, dia tak benar-benar hidangkan langsung kopi ke tangan konsumen.“ Jika diajak mengobrol serius, obrolan mas Givan memang begitu berbobot.
“Iya sih, jadi ingat cerita Canda jualan seblak. Padahal, itu kan udah ditegur sana sini kan?“ Bang Ken bertopang dagu.
“Iya betul, tak nurut. Bukan karena capek buat pesanan aja, tapi dibuat capek cuci perkakas bekas jualan dan persiapan juga. Dia tak mikir ke situ, karena merasanya memang bisa memenuhi pesanan pasar aja. Orang biasanya minta uang, atur uang. Eh, harus jualan. Ya kaget juga fisiknya, dia mana pernah kerja terlalu keras. Sama Lendra dulu juga, kata Lendra yang kerjaan banyak yang ia ambil alih sendiri, karena Canda udah kelelahan betul. Padahal dulu, kerjaan Canda cuma catet aja dan bikin laporan.“ Bang Givan mengambil contoh yang nyata. Aku adalah saksi dari kelelahannya mbak Canda berjualan seblak.
“Ya namanya juga jiwa bos, Mas.“ Mbak Canda memang paling bisa membuat gemas di tengah situasi.
“Jiwa bos! Jiwa bos! Nyatanya, otak kau tak pandai juga.“ Dengarlah, ia malah tertawa lepas mendengar ucapan kasar suaminya.
“Ya udah, nanti diobrolkan lagi kalau udah kumpul di Aceh. Aku mau fokus ke Canda dulu sama bayi aku.“
“Oke, siap.“ Bang Ken mengusap-usap pahaku, dengan asyik menikmati rokok. Jelas, aku langsung menampik tangannya. Kembali, ia hanya terkekeh geli seolah kami tengah bercanda romantis.
“Tolong yang tau posisi ya, Bang. Adik ipar aku perempuan lajang, kau jangan macam-macam.“ Aku tersanjung dengan ucapan bang Givan.
Dasar, manusia Ken! Ia malah menoleh dan kembali memberi kedipan genit.
“Kau bisa tanyakan aja ke Ria gimana sikap aku ke dia, Van.“ Mudahnya mulut itu berbicara.
__ADS_1
Tapi, pandai juga dia ternyata. Dengan ia melemparkan kegiatan kami padaku, bang Givan pasti jelas langsung percaya bahwa bang Ken memang tidak melakukan hal yang macam-macam. Karena jelas, aku pun tak mungkin membuka aib kami. Kegiatanku dan Keith dulu pun, aku tidak pernah mengumbarnya. Bang Givan tahu, karena ia melihat sendiri. Aku tahu itu aib, sebaiknya pun disembunyikan, bukan diumbar.
“Aku tau Ria pasti lapor kalau kau macam-macam, Bang. Tapi di sini, aku tak mau kau ancam dia untuk tak lapor kegiatan rahasia kalian ke aku.“ Yang aku sukai tentang bang Givan, ia tidak langsung percaya. Ia adalah manusia yang waspada dan juga siaga.
“Aku bebaskan dia, Van. Jangankan macam-macam, semacam pun aku tau Ria pasti ngadu ke kau.“ Ia melirik ke arahku dengan tersenyum samar.
Bulshit! Dasar mulut pendusta! Awas saja, kalau ia lebih berani dari ini, aku akan benar-benar melaporkan pada bang Ken.
“Aku percaya sama kau, Bang. Kau yang dipercayakan, tolong jangan mengecewakan. Kau harus ingat, anak kau dalam asuhan aku. Tanpa doktrin apapun, Zio aja tak mau terlampau kenal sama ibunya. Jadi, bayangkan aja kalau Bunga tumbuh dengan doktrin buruk, sampai dia benar-benar tak ingat ayah kandungnya.“ Malah bang Givan yang mengancam di sini.
“Waduh, waduh. Tenang, Brother. Kau minta aku tak ancam Ria di sini, tapi kau berani untuk ancam aku dengan Bunga kau jadikan alat. Kalau memang antara kita ada masalah, kau tak perlu bawa-bawa keturunan kita. Mereka tak ngerti urusan orang tua, biarkan mereka tumbuh tanpa paham urusan orang dewasa. Itu belum waktunya untuk mereka pahami.“ Pandainya mulut itu seperti yang iya bijak.
Bijak mengelabui. Bijak yang sok bijak.
“Ya berarti kau harus paham tentang aturan main aku, Bang. Jangan ganggu Ria, kalau tumbuh kembang anak kau tak mau jadi taruhannya.“ Suara tegas bang Givan tak terelakkan.
“Iya, iya. Aku ngerti, Van. Kau tenang aja.“ Bang Ken manggut-manggut, seolah benar mengerti.
“Ya. Ya udah, Bang. Aku udahin dulu, aku mau sarapan dulu.“
“Oke-oke, siap.“ Bang Ken mengetuk ujung rokoknya di asbak yang tersedia.
Aku mengambil ponsel yang sudah tak terhubung panggilan videonya tersebut. Kemudian, aku mengambil batang kedua dari bungkus rokokku.
“Hmmmm…..
__ADS_1
...****************...