
Bang Givan celingukan, membuat was-was karena gerakannya.
“Ria ditiduri bang Ken, Mah.“
Aku langsung menunduk, aku merasa benar-benar tidak menyangka mendengar ucapan bang Givan. Mbak Canda tahu tidak, jika suaminya begitu terbuka terhadap orang tuanya?
“Hah?“ Papah Adi yang terlihat kaget di sini.
“Bang Ken tau rumah yang di Singapore, kalau Ria aku lempar ke sana, udah pasti si duda ini bakal ngejar ke sana. Meskipun aku galak, aku tak pernah kasar ke Canda, Pah. Tapi aku tau, kalau bang Ken lemah dalam ucapan, tapi kasar ke tindakan.“ Bang Givan menurunkan nada suaranya, dengan duduk condong ke depan.
“Ya Allah….“ Mamah geleng-geleng kepala dengan menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Kenapa kau halangi?“ Papah duduk dengan punggung condong ke depan.
“Harus aku apakan memang? Dia minta restu, tapi nantangin. Kepergok aku, dia Jelekin Ria dan rendahin Ria. Dengan aku tau tabiat dia aja, aku ini udah berat untuk restuin dia. Ini apalagi? Merendahkan begitu? Laki-laki, cinta, kok begitu? Aku ingat ucapan Papah, s**s itu tak melulu tentang cinta, tapi di dalam cinta itu ada s**s. Kalau memang cinta, kenapa harus merendahkan untuk menikahinya? Kesannya, kek dia berat untuk nikahin kalau tak ada alasan merendahkan. Kek terpaksa, kek keharusan kalau dia harus nikahin Ria, karena dia buat seolah Ria yang menghidangkan dirinya. Ngerti tak maksud aku, Pah?“ Bang Givan menekankan suaranya serendah mungkin, dengan condong ke arah orang tuanya yang berada di hadapan meja ini.
Pasti tengah ada orang lain di rumah ini, karena mereka semua berbicara dalam nada yang rendah.
“Jadi, bahasanya ini 'masih untung' ya?“ Mamah Dinda membuat tanda kutip ketika mengatakan masih untung.
“Iya, betul. Harusnya, aku ini bersyukur karena dia udah mau nikahin Ria. Jadi, seolah Ria ini yang sengaja datang untuk dimakan sama bang Ken. Dia tak mau tanggung jawab, karena Ria yang datang padanya. Tapi, dia mau tanggung jawab, dengan kita yang harus bersyukur karena dia udah mau tanggung jawab sama Ria. Kita harus terima kasih sama dia, begitu bahasanya.“ Bang Givan merangkulku dan mengusap bahuku.
__ADS_1
Wajahnya berpaling ke arahku. “Keadaannya gimana, Dek? Kondisi masa tadi itu gimana?“ tanyanya lirih.
Sebaiknya, aku memang harus terbuka pada bang Givan dan keluarga mamah Dinda.
“Tadi bukan yang pertama, Bang.“ Aku menjawab dengan menundukkan kepalaku.
Aku malu, tapi aku butuh penguat yang memahami kondisiku.
Bang Givan menghela napas berat. Kemudian ia bersandar di sofa, dengan menarik kembali rangkulan tangannya.
“Itu keempat kalinya, Bang,” tambahku kemudian.
“Yang pertama, dia sengaja tanpa persetujuan aku. Yang kedua, kopi aku diberi perangsang, Pah.“ Aku yakin keluarga ini bisa menjaga aibku.
“Harusnya tak ada yang ketiga dan keempat. Kalau udah ada yg ke sekian, itu udah beda kasus. Mau Abang ipar kau pisahkan kau sejauh mungkin dengan Ken, Ken bisa aja datang kalau kalian masih komunikasi. Kau itu nerima, Dek. Bukan pemaksaan, lain cerita dari pemerk*****.“ Mamah berkata dengan menyentuh punggung tanganku.
Benar, aku mencintainya.
“Mah, coba pikirkan gimana kehidupan Ria kalau jadi sama bang Ken? Apa Bang Ken bisa lebih baik?“ Bang Givan sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Kau bisa berubah, Van. Jangan tanya apa bisa, nyatanya kau berubah. Papah, kalau istrinya bukan Mamah, ya entah juga. Kau, kalau istri kau bukan Canda, ya kek ke Nadya kemarin. Kalau Ghifar istrinya bukan Aca, mungkin tak akan sembuh dari DE-nya. Kalau laki-laki, udah nemuin perempuan yang tepat. Jangankan berubah lebih baik, berubah lebih dari baik pun bisa aja. Tapi ini kan kembali ke watak. Perubahan itu, tak pernah bisa mampu merubah watak. Nah, yang kau permasalahkan ini apa? Kau memang mau pisahkan mereka karena tak setuju kah? Atau, gimana? Karena dilihat dari frekuensinya yang udah kesekian itu, betul kata Mamah kau. Itu udah beda kasus dan cerita.“
__ADS_1
Aku selalu dilema, jika mendengar pendapat orang lain. Aku merasa, ucapan papah Adi pun benar. Sekarang, aku merasa pun bahwa bang Givan memang niat memisahkan karena memang ia tidak setuju.
“Pah, bang Ken rendahin adik ipar aku. Apa masih bisa terima? Dengan background bang Ken yang selalu terikat mantan, apa Ria bisa terima itu? Ditambah bang Ken yang kasar, apa Ria kelak nanti kuat dengan siksaan yang diberikan? Pah, aku mikir ke depannya. Aku mikirin tentang kehidupan Ria setelah ini, bukan tentang hari ini dan keadaannya yang udah begini. Janda beranak kek Mamah dulu aja, bujang kaya kek Papah itu mau kan? Apalagi, cuma hilang selaput aja kasarnya. Pasti ada kok yang mau nerima, kalaupun niat dia benar-benar tulus.“ Wajah kesal bang Givan terlihat sekali.
“Van, kau pun harus tau kalau Papah tak pernah ada hubungan dengan perempuan yang tak V. Cuma Mamah kau, perempuan yang tak V dan buat Papah mau rubah prinsip Papah. Itu pun, dengan keterangan dia resmi janda. Dia janda, wajar tak V lagi. Ini gadis, tak V, ya gimana loh? Lain kasus lagi misalnya si Icut, laki-laki dia tak mau tanggung jawab atas anak mereka. Terus gimana? Masa digugurkan? Ya tak mungkin kan? Jadi, kita ambil opsi sembunyikan Icut sementara. Ini, Ria kan tak ngandu kan?“ Aku menggeleng, kala telunjuk papah Adi terarah padaku.
“Kau persulit semuanya, Van. Coba, gini aja. Kita datangkan Kennya di sini. Kau jangan main ambil tindakan sendiri, mana tau mereka benar-benar pengen rumah tangga. Kau jangan mempersulit, nanti yang ada malah zina-zina selanjutnya.“ Papah terlihat begitu bijak di sini.
“Tak ada! Udah, pokoknya Ria harus jauh dari bang Ken. Aku tak terima dengan penghinaannya. Aku mau tau, sejauh mana dia berjuang. Kalau memang dia nol dalam berjuang, memang dasarnya dia ini pengen selaput daranya Ria aja. Dia cuma butuh, bukan benar-benar kalah dari perasaannya.“ Bang Givan memang keras kepala.
“Oh, jadi niat kau mau lihat perjuangannya? Ya udah, kalau gitu berangkatkan Ria. Pendidikan, ambil sertifikat dulu. Di sana tak bisa ambil pendidikan tinggi, kalau tak punya sertifikat khusus untuk memenuhi persyaratannya.“ Mamah Dinda mendukung anaknya.
Aku tak percaya.
“Kau tetap kontrol ya, Dek? Tahan diri, jangan hubungi Ken dulu. Kita lihat perkembangan hubungan kalian. Kalau Ken ada ke sini, dia ada minta bantuan untuk dapatkan informasi tentang kau, nanti Papah kabarin ke kau. Sebaliknya, kau di sana jaga diri. Di sini kau di selamatkan, bukan berarti kau bebas di sana karena keadaan kau yang udah begini. Ingat, hilang V bukan berarti hilang harga diri. Kau harus bisa jaga marwah, martabat kau di sana.“
Aku pasrah, mendengar papah Adi yang juga mendukung keputusan ini.
Bolehkah aku berharap, jika bang Ken akan datang menarikku? Atau, setidaknya ia mencari informasi tentangku di sini. Aku berharap, ia menunjukkan perjuangannya untuk kesungguhannya mendapatkanku.
...****************...
__ADS_1