
“Bang Ken.“ Aku coba mencerna rasa aneh ini. Kepalanya bersembunyi di ceruk leherku, tapi ia mengerjai telingaku.
Aku sampai bergidikan, karena sensasi rasa yang amat geli ini. Tak lama, ia menarik kepalanya kembali. Dahi kami bersentuhan, sorot matanya seperti memancarkan rasa sayangnya. Tapi, apa seperti orang sayang?
“Abang kan udah janji tak begini lagi. Aku pun tak mulai duluan.“ Aku mencoba tenang di sini.
“Tapi Abang bakal kangen, kalau lama tak ketemu kau. Kenapa harus ke Singapore? Kenapa tak beralasan sama Givan biar kau bisa ajak Bunga dan Abang? Apa Abang bakal ganggu waktu kau sama Keith di sana, Dek?“ Suaranya begitu pelan, sampai bass-nya terdengar jelas.
“Karena aku di sana bakal sibuk, Bang.“ Aku yakin tentang ini.
Ceysa bersekolah di sana, sudah pasti aku ikut andil untuk awal pendidikan dan sosialisasinya di sana. Aku bahkan memiliki feeling, bahwa aku akan tinggal lama di sana.
Aku memberanikan diri untuk menatap kembali mata dengan sorot penuh kasih tersebut. “Abang pengen ke Singapore, karena Abang pengen lari dari Putri. Aku tau itu, Bang.“ Karena jelas, tanda merah itu tidak berkurang sedikitpun.
“Orangnya adalah kau, yang buat Abang harus lari dari Putri. Keknya, kau bakal rindu sentuhan Abang. Baiknya, Abang kasih kenang-kenangan dulu sebelum kau berangkat.“
Serangan tak terelakkan terjadi. Aku harus rela leherku menjadi korban pria leher belang ini. Kini, kita menjadi spesies belang-belang yang sama.
Aku lekas meraup wajahnya, dengan memasang wajah datarku. Ia malah dengan bahagianya tertawa geli, dengan bersedekap tangan dan memandang keindahan yang ia buat itu.
Kentir!
“Kau seksi kali, Dek.“ Celotehnya seperti bayi.
__ADS_1
Ya, bayi besar. Bayi besar yang agak gila.
Aku langsung memungut hijabku, kemudian mengenakannya dengan berjalan kaki ke arah cermin itu berada. Dalam sekejap, aib belangku tertutup rapat oleh hijab ini.
Aku membayangkan keseharianku di rumah almarhum bang Lendra yang berada di Singapore. Ya, aku akan tinggal di sana. Tapi masalahnya, bagaimana caranya aku beraktivitas di sana?
Terang saja, hijabku ini masih lepas pasang meski aku dari kecil dan remaja di Saudi. Aku tak melulu berkerudung, ketika di luar provinsi ini. Tapi dengan adanya tanda ini, aku harus selalu berkerudung demi kehormatan marwahku di mata orang yang memandang.
Saiko memang Kenandra ini! Dasar, laki-laki leher belang!
“Aku balik lah!“ Aku langsung bergerak untuk keluar dari kamarnya.
“Eh, eh, eh! Cium dulu dong.“ Ia langsung menahan pintu kamarnya yang sudah setengah terbuka karenaku.
“Ya ampun!“ Aku hanya bisa diam, kala ia menciumi seluruh wajahku.
Boro-boro minta anter dengan berboncengan romantis. Kini, aku ngeyeg lagi. Aku sampai ngos-ngosan, ketika sampai di rumah. Untungnya belum ada ibu, jadi aku aman dari pertanyaan beliau.
Aku langsung membersihkan diri, kemudian berhias untuk istirahat malam ini. Dengan keadaan leher seperti motif jerapah ini, aku harus mengunci pintu kamarku karena aku tidak berkerudung. Mau berkerudung pun bagaimana, rambutku basah dan aku ingin tidur.
Tapi sebelum beristirahat, aku menyempatkan diri untuk mempersiapkan barang-barangku dulu. Percaya atau tidak, aku seperti pembuka jasa jastip yang membawa barang baru dalam koperku. Ya bagaimana lagi, hanya barang-barang baru ini yang belum aku kenakan.
Pakaianku, sabukku, hijabku, sepatu dan tas cukup menumpuk, tapi syukurnya aku selalu bertukar barang dengan mbak Canda, atau dengar iparnya juga. Ipar-ipar mbak Canda cenderung bertubuh langsing setelah melahirkan, konon pengakuannya karena tekanan batin. Ya aku tahu, itu cuma gurauan mereka. Karena aku tahu, mereka semua urus ke badan. Bahkan, suami-suami mereka mampu untuk membiayai perawatan kecantikan mereka.
__ADS_1
Hal ini dikarenakan, suami-suami mereka mata keranjang. Termasuk juga abang iparku. Abang iparku, setahuku memang tidak pernah berselingkuh setelah pernikahan rujuk dengan mbak Canda. Tapi bola matanya sampai berpindah ke ekor matanya, ketika melihat perempuan seksi, bohay, wangi dan berparas cantik. Umumnya laki-laki, katanya mubazir jika tidak dilihat.
Karena sering bertukar barang, alhasil tidak ada barang yang tak terpakai dan menumpuk di lemari. Karena memiliki uang, aku selalu membeli pakaian setiap kali gajian. Setelah dua atu tiga kali pakai, aku akan membawa pakaian-pakaianku untuk diberikan ke ipar yang mau. Aku paham tentang ilmu hisab itu, aku tak mau egoku ini malah menyulitkanku di akhirat nanti.
Setelah aku merasa koperku ini sudah siap, aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang. Untuk ibadah, aku masih perlu pembimbing. Aku akan sholat, jika diperintahkan. Entah sampai kapan aku begini, entah memang para perempuan pun seperti ini. Soalnya aku melihat mbak Canda pun demikian, ia lulusan pesantren tapi sering mengqodo ibadahnya ketika suaminya tidak memerintahkannya untuk sholat tepat waktu. Masih mending ia mengqodo, aku malah melalaikan. Jika memiliki ujian hidup saja, aku baru ingat siapa Tuhanku.
Semoga aku pun mendapatkan imam yang bisa menuntutku untuk memperbaiki agamaku. Aku tidak malu mengakuinya, aku yakin pun ini bukan hanya aibku saja, tapi yang jelas aku butuh seseorang untuk memperbaiki agamaku. Mungkin aku adalah sebagian orang yang ada di sekitar lingkungan kalian.
Dengan mata mengantuk, tengah malam ini aku harus berangkat ke bandara. Lihatlah si kecil Ceysa, ia sampai mengorok dalam gendongan baby sitternya. Orang-orang genius seperti salah satu keponakanku ini, cenderung bermain dengan matanya. Maksudku, ia tidak banyak bercakap jika bukan dengan orang terdekatnya. Wajahnya pun, cenderung terlihat lugu dan seolah judes. Padahal, ia memang judes juga sih.
“Tan, ini penerbangan pertama aku.“ Chandra selalu berpegangan tangan denganku.
Anak-anak orang kaya, tapi dibiarkan tumbuh di kampung saja. Mereka tidak pernah berlibur jauh, mereka berlibur hanya di sekitar provinsinya saja. Ditambah lagi, kendaraannya berlibur hanya menggunakan mobil saja.
Eh, tapi aku mengingat sesuatu. “Abang pernah tinggal di Brazil kok. Lupa kah? Ini bukan penerbangan pertama kau.“ Sulungnya mbak Canda ini memang suka dipanggil dengan sebutan abang.
“Kan masa usia aku satu tahunan, mana ingat. Tapi kan penerbangan pertama setelah aku besar, ya baru kali ini. Aku takut mabuk pesawat, pasti malu betul.“ Tubuh bujang tanggung yang sudah baligh ini cenderung tinggi seperti ayahnya. Ayahnya saja lebih tinggi dari saudara-saudaranya. Kalau tidak salah, tinggi badan bang Givan sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter. Sedangkan saudara yang lain paling sekitar seratus tujuh puluh saja, mungkin ada yang di bawah tinggi tersebut satu atau dua senti.
Menurutku, umumnya tinggi orang Indonesia saja. Jika Keith, ya memang blasteran jadi lumrah jika tingginya sampai seratus delapan puluh itu. Ibunya pun tak benar-benar asli Singapore, karena Singapore pun masih Asia. Orang tua ibunya asli dari USA semua, lalu bermigrasi ke Singapore dan melahirkan ibunya Keith.
“Awal sih tak apa. Tapi kalau udah sering dan mabuk pesawat terus, ya malu-maluin itu.“ Kami sudah bersiap duduk di kursi pesawat.
“Tan, aku deg-degan.“ Chandra kembali menggenggam tanganku cukup erat.
__ADS_1
“Bismillah dong.“ Aku pun bersiap, karena pesawat akan lepas landas sekarang.
...****************...