Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD58. Jorok


__ADS_3

“Husttttt….“ Bang Givan memberiku tatapan sengit.


Aku sudah lancang rupanya.


“Tak masalah untuk cuti, selagi kau bisa handle tanggung jawab kerjaan kau. Kau tadi pun bilang, kau tak keberatan dengan Ceysa yang diurus Shauwi selama lima tahun mendatang. Tapi aku yakin, tak sampai lima tahun kok. Empat tahunan lagi, Chandra bakal tinggal di sana. Jadi, dia pasti bisa ngawasin adiknya yang udah mandiri. Lagi pun kan, ada keluarga pak Munir itu kan? Maksudnya, istri pak Munir pun ikut kerja di situ. Jadi ya aku yakin, mereka bakal bisa mempermudah keperluan Ceysa di sana.“


Oh, pak Munir membawa istrinya kah? Sejak kapan? Atau, itu diatur semua oleh Keith?


“Tenang aja, Bang. Yang terpenting, aku sama Shauwi halal aja dulu.“ Keith melirikku, kemudian ia memutuskan pandanganku ke arah lain.


Ada apa sebenarnya? Sungguh, aku bertanya-tanya terus.


“Ya udah, kau istirahatl dulu. Aku nanti urus tiket dan cuti sekolah Ceysa. Jangan sampai nunggu bulan depan lagi, kasian Ceysa kalau terlalu lama ketinggalan pelajaran. Kalau bisa, kau halal dalam dua mingguan mendatang. Ceysa sementara Shauwi sibuk dan bulan madu tiga harian sama kau gitu, dia nanti aku urus sendiri di sini,” ucapan bang Givan membuat Keith bersemu.


Dari rona wajahnya, ia seakan benar-benar tengah jatuh cinta.


“Biar aku pulang lagi untuk atur itu, Bang.“ Keith mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


“Tak perlu, Abang bisa telpon guru pengajarnya langsung. Tiket pun bisa diurus dari sini, nanti tinggal arahkan pak Munir suruh antar ke bandara.“ Bang Givan nampaknya benar-benar yakin untuk menyusun rencana per itu.


“Tapi, apa Shauwi tak takut di perjalanannya? Apalagi, dia bawa Ceysa. Aku khawatir, Bang.“ Keith memegangi dadanya sendiri.


“Jadi gimana menurut kau? Aku kasian sama kau bolak-balik. Tau mau nikah tuh, ngomong di telepon aja. Biar pas pulang tuh, ya bareng sama Shauwi dan Ceysa.“ Bang Givan menggosok telapak tangannya sendiri.


“Aku tak apa repot sedikit, Bang. Abang udah aku anggap orang yang aku tuakan, jadi tak sopan kalau minta doa restu tak langsung.“ Keith tersenyum samar.


“Kalau kau mau bolak-balik, karena tak tega sama perempuan kau, ya tak apa. Kau istirahat dulu, biar besok aja aku arahinnya.“ Bang Givan menyuruh Keith pergi secara halus.


“Ya, Bang. Malam pun aku ke sini kok, untuk obrolkan tentang furniture itu. Nanti aku ambil di tempat Abang aja.“ Keith menunjuk ke arah rumah furniture milik bang Givan. Letaknya memang jauh, tapi arah tunjukkan Keith benar.


“Oke, oke. Tinggal ke sini lagi aja.“ Bang Givan manggut-manggut.


“Permisi dulu, semuanya. Assalamualaikum.“ Keith langsung berlalu, tanpa berjabat tangan dengan kami semua.


“Ya, wa'alaikum salam,” jawab kami hampir serentak.

__ADS_1


“Minta minum dingin sih, Canda. Tolong, ambilkan.“ Bang Givan mengusap-usap tangan mbak Canda, kemudian ia memberi kecupan sekilas pada istrinya.


Romantisnya pasangan yang sudah matang inti. Dulu kah? Mereka penuh dengan drama. Maksudku, masanya mereka baru siap rujuk. Bang Givan doyan membentak, herannya mbak Canda tak baperan di situ. Kalau aku orangnya, mungkin akan menangis mendengar bentakannya terus menerus.


“Iya, suamiku.“ Manjanya suara mbak Canda.


Bertambah anak, bertambah romantis. Kok bisa ya?


“Sini, Dek.“ Bang Givan menepuk tempat di sebelahnya.


Aku diminta untuk pindah rupanya.


“Ya, Bang.“ Aku bergerak untuk mendekat dan berada di sisinya.


Bang Givan langsung merangkulku ketika aku duduk, wajahnya menoleh ke arahku dan mengamati wajahku dari samping. Ada apa ya? Aku berkerudung kok sekarang, tapi kenapa ia begitu intens memperhatikanku?


“Jangan jadi budak cinta, Dek,” bisiknya dingin.


Apakah dari wajahku saja, terlihat bahwa aku sudah tidak V lagi?


Ada sesuatu yang bisa ia simpulkan sepertinya. Aku takut ditebak, karena bang Givan adalah orang yang sudah pengalaman nakal.


“Nih, Mas.“ Mbak Canda muncul dengan mengulurkan segelas air dingin.


“Makasih, Biyung cantik,” puji bang Givan pada istrinya, tentu dengan melepas rangkulannya padaku.


“Biyung istirahat aja gih, atau beli beli perlengkapan Key online. Kan rencana Minggu depan, kita tengok Key di pesantren.“ Bang Givan tak ingin mbak Canda tahu sepertinya. Dengan halus pun, ia mencoba mengalihkan perhatian mbak Canda agar tidak nimbrung di sini.


“Oke, sama beli pelengkap aku juga ya?“ Mbak Canda tersenyum senang.


Mudah sekali dialihkan kakakku ini, bagaimana jika suaminya mengalihkan perhatiannya, sedangkan dirinya sibuk dengan wanita lain? Haduh, tak habis pikir aku dengan keluguan mbak Canda.


“Boleh-boleh. Gih, sambil istirahat.“ Bang Givan mengisyaratkan dagunya mempersilahkan mbak Canda untuk pergi beristirahat.


“Oke.“ Mbak Canda langsung menghilang dari ruang tamu ini.

__ADS_1


Hufttt, Cendolita.


Bang Givan mencicipi air dingin tersebut. Terlihat begitu dingin, karena gelasnya sampai berembun. Kemudian, ia meletakkan gelasnya yang isinya sudah setengah di atas meja.


“Gimana, Bang?“ tanya bang Givan santai.


“Aku mau bawa Ria untuk nikah.“ Susunan kalimatnya sudah berbeda, pasti bang Ken belajar dari pengalamannya bertelepon dengan bang Givan kemarin.


“Oke, terus?“ Aku tidak tahu misi bang Givan dengan memberikan pertanyaan singkat seperti ini.


“Yaaa, tak ada terusan. Aku di sini mau minta Ria baik-baik kan? Aku mau minta persetujuan kau sebagai kakaknya Ria, setelah ini pun aku mau minta restu bu Ummu.“


Duh, kenapa bang Ken segala harus ada kata 'ya' segala?


“Udah dapat Ria kan?“


Semoga bang Ken tidak terkecoh dengan pertanyaan bang Givan.


Sialnya, ia malah mengangguk.


Bodoh! Bodoh!


“Untuk apa begitu?“ Bang Givan menjaga nada suaranya. Aku tahu, karena urat lehernya sampai menonjol. Ia seperti menahan emosi di dalam dirinya.


“Kok untuk apa sih, Van? Orang aku mau nikahin.“ Sepertinya, bang Ken belum menyadari kekeliruannya.


“Ya kenapa harus dirusak dulu? Aku percayakan itu untuk dijaga, bukan jadi tumbal! Kau bertahun-tahun hidup sama Ghifar aja, kau tega hanyutkan istrinya. Harusnya aku berpikir juga, kalau kau pun pasti tega makan keluarga kau sendiri. Kau anggap orang tua aku, kek orang tua kandung kau. Kau anggap, saudara-saudara aku kek saudara kandung kau. Tapi, kenapa harus sejorok itu?“ Suaranya ditekan selirih mungkin, tapi matanya sudah begitu memerah.


Bang Givan sudah naik ke puncak emosinya.


“Maksud kau gimana, Van?“ Bang Ken nampaknya belum memahami bahwa dirinya secara tidak langsung sudah menikmatiku.


“Kenapa bawa-bawa Ghifar? Kan aku pernah ceritakan kondisi sebenarnya sama kau, kenapa sekarang diungkit dan dipermasalahkan? Kau pun nampaknya lupa, kalau kau ini ambil milik adik kau, si Ghifar. Canda, istri kau, dia pacar adik kau. Kau pun tak boleh lupa, kalau dulu ada skandal juga di antara kau dan Aca. Jadi, apa sebutan untuk kau? Jorok juga kah? Atau, kau merasa sekarang suci karena tak pernah melakukan kejorokan itu lagi?“ Bang Ken mengetuk-ngetuk meja dengan urat kejamnya.


Aku khawatir di antara mereka tidak ada yang kuat menahan emosinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2