
“Dia beda, Ria.“ Keith memalingkan pandangannya saat mengatakan hal itu.
Jadi, maksudnya jika Shauwi lebih spesial dari aku?
“Aku pun tak minder sama dia, dia sama-sama pekerja bang Givan. Sampai kapanpun, aku akan tetap jadi anak buah bang Givan, aku pesuruhnya dan aku terikat hubungan kerja seumur hidup. Kalau aku mangkir dari perjanjian itu, dendanya luar biasa. Bahkan aku rasa, jual ginjal aku pun keknya tak cukup untuk bayar dendanya. Hubungan kontrak kerja aku bisa lepas, kalau bang Givan pecat aku dengan kesalahan aku yang merugikannya. Sedangkan, aku tak mau buat nama aku tercoreng sendiri. Ambil kepercayaan orang itu sulit, aku tak mau buat bang Givan kecewa sama aku dan tak percaya lagi sama aku. Untuk hal lain, aku tak punya alasan khusus untuk pilih Shauwi. Aku memang udah klik aja sama dia, apalagi cara dia ngurus Ceysa. Dia lebih dari sekedar pengasuh, dia udah kek teman untuk Ceysa, dia udah kek kakak untuk Ceysa, dia pun udah kek orang tuanya Ceysa dalam hal mengurus Ceysa. Tertibnya dan disiplinnya aturan hidupnya, menandakan kek mana konsistennya kalau dia menjalin hubungan. Aku tak pandang karena dia nol pengalaman, jadi bisa aku kibulin atau segala macam. Aku paham sulitnya ambil kepercayaan orang, jadi aku tak mungkin sengaja untuk bohongi dia. Dia pun aku kasih tau, kalau masa lalu aku salah jalan. Tapi sejauh ini, aku memang niat untuk memperbaiki diri.“ Keith berbicara dengan beradu pandang denganku.
Aku semakin tersinggung. Apa aku tak bisa berkomitmen? Apa perempuan keibuan, adalah idaman semua laki-laki di luar sana? Tapi, Shauwi menjadi seperti itu karena menjalankan pekerjaannya.
“Kau cuma perlu bilang, Keith.“ Aku memalingkan wajahku ke arah jendela.
__ADS_1
Aku memang sudah tak memiliki rasa padanya. Tapi sungguh, aku kecewa dan marah karena merasa Keith memang menunggu waktu di mana hubungan kami renggang agar ia bisa menikahi perempuan idamannya. Aku bukan idaman menurutnya, tapi seorang perempuan bisa menjadi idaman asalkan laki-lakinya terbuka tentang apa yang ingin ia ubah dariku.
“Aku tak mau banyak nuntut dari kau, karena aku pun banyak kekurangannya. Aku tak mau minta kau jadi orang lain, karena kau istimewa di tangan orang yang tepat, Ria. Sedangkan untuk mengistimewakan kau, aku tak mampu. Kau dari kalangan keluarga atas, kau keluarga bosku. Harus berapa ratus juga mahar kau? Sedangkan aku paham, perempuan biasa aja begitu ternilai di sini. Aku ngerti tentang adat itu, karena di daerah ayah kandung aku pun ada adat untuk mengistimewakan perempuan.“ Keith menangkup punggung tanganku.
Aku menarik tanganku, kemudian memandang wajahnya. Beginilah pembicaraan orang dewasa, satu kalimat pun ia memahami maksudku. Hanya saja, aku merasa semakin rendah, setiap kali ia membedakan status sosial kami.
“Kau tau, Keith. Yang kaya itu, abang ipar aku. Mereka keluarga kaya, dari asal usulnya pun mereka keluarga berada. Ibu aku, diri aku, tanggungan abang ipar aku menurutnya. Ibu dan aku, cuma menikmati hasil kesuksesan abang ipar aku. Kami tak punya aset apapun, kami hanya menumpang dan dapat belas kasih dari bang Givan. Sekarang kau bandingkan status sosial, status kau lebih tinggi dari aku.“ Aku bahkan buta pendidikan. Ibuku hanya mengajariku baca dan hitung sesuai yang ia bisa saja.
Begitu ya? Ia minder ya? Bagaimana dengan aku? Apa seharusnya aku minder juga? Hei, tapi harusnya ia minder sejak dulu. Bukannya setelah habis mencumbuiku baru ia minder. Ke mana otaknya selama ini? Ke mana rasa mindernya selama ini? Ke mana paham tentang status sosialnya selama ini?
__ADS_1
“Kau cuma cari alasan, Keith. Kau cuma perlu bilang, kalau Shauwi memang orang yang tepat. Jangan terlalu banyak cerita kalau kau minder, status sosial kita berbeda, kau pesuruh sedangkan aku adiknya. Kalau kau memang minder, lihat status sosial kita, harusnya kau segan dari awal untuk nyentuh aku.“ Aku berbicara di dekat telinganya.
Bang Nando masih orang sini dan aku tak mau ia tahu jelek tentangku.
“Kau lebih nyakitin aku, dengan alasan yang kau kasih tentang keminderan kau dan status sosial kita. Ucapan tentang keminderan kau, berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Aku tak habis pikir, kau bilang minder setelah kita selesai dari kedekatan kita. Kau minder, harusnya kau segan dari awal untuk berhubungan sama aku. Aku mungkin bodoh, karena kenyamanan yang kau kasih. Tapi aku tak bodoh, dengan susunan pengakuan Kau yang tak rasional. Kau cuma perlu jujur, kalau kau memang jatuh cinta ke Shauwi, tidak ke aku. Tak usah banyak pembahasan ini itu, begini begitu, bandingkan antara matahari dan bulan, puji antara bintang dan pelangi, kau cuma perlu bilang kalau kau merasa Shauwi tepat dan buat kau jatuh cinta. Kau nampak b******nnya, Keith. Aku pun makin merasa bodoh, dengan semua alasan yang kau kasih. Harusnya kau tak mainkan aku, kasih aku kenyamanan, kasih aku keroyalan, kasih aku perhatian, perasaan aku kalah dengan jurus-jurus yang kau kasih. Dari awal, kau cukup tak respon aku dan bersikap profesional aja, aku bakal paham kalau kau memang tak tertarik dan segan sama aku. Bukan begitu caranya, Keith. Kau bertindak halus, kau main dengan halus, kau atur kondisi di mana aku yang salah, karena memang dasarnya kau tak punya niat untuk jadikan aku pendamping yang kau maksudkan bisa berkomitmen itu. Jangankan berkomitmen, hidup dengan kau jadi kiblatku pun aku bisa lakuin. Aku mampu jadi idaman, kalau kau bilang. Cuma memang dasarnya, kau tak respect sama perasaan aku. Kau cuma sekedar butuh, bukan sungguh-sungguh. Kalau kau mau tarik status sosial, tengok Zuhdi yang bisa dapatkan kak Giska. Kalau mau bahas tentang kekayaan, bang Ghifar pemilik perusahaan, dia nikahin janda yang dari kalangan biasa aja. Rukun-rukun aja mereka, tak ada status sosial dalam rumah tangga mereka sekarang. Kak Aca tetap jadi istrinya, bukan jadi pembantunya. Mbak aku pun, dia cuma anak yatim yang sebatang kara di kota Cirebon. Sampai di sini dan saat ini, dia jadi nyonya besar dengan segala fasilitas yang ada. Jadi, status sosial apa yang kau jadikan alasan itu? Kau nampak tak punya logika, Keith. Kau cakap, seolah aku anak polos yang tak punya logika. Kau banyak alasan! Kau memang udah rencanakan semuanya!“ Napasku sampai tersengal-sengal karena berbicara tanpa jeda. Setidaknya, aku sedikit plong mengucapkan apa yang aku pikirkan.
“Maaf….“ Ia tertunduk lesu.
“Maaf? Semudah itu? Ck…. Kau buat nama kau seputih salju, tapi aku tau kalau salju dalam pengakuan kau nyimpan banyak mikroorganisme dan kotoran. Aku sekarang tau tabiat orang kepercayaan bang Givan ini.“ Aku menatapnya tajam dan penuh kekesalan.
__ADS_1
...****************...