Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD91. Rencana dan strategi


__ADS_3

“Ria, cobain dulu. Abang lebih tau, Dek.“ Bang Ken mencoba merobohkanku.


“Abang tuh tak bisa enakin!“ Aku bersedekap tangan, aku yang kini marah karena terbawa suasana.


“Bisa, kan buktinya kalau main dikeluarkan terus.“ Ia sudah menggenggam tanganku, dengan tuturnya yang selembut kain sutra.


“Keluar sih, sendiri juga aku mampu. Aku mau hal yang lain, tak cuma keluar, tapi benar-benar dibuat plong.“ Maksudku, aku ingin dirinya memberi service yang lebih-lebih dari sebelumnya.


Ia menganggukkan kepalanya cepat. “Iya, Abang sanggupi.“


Tetapi, aku tetap tidak yakin padanya.


“Bohong!“ Aku seperti sudah menebak serangannya.


Ia yang kini terlihat memohon penuh harap, emosinya yang malah entah pergi ke mana. Malah sekarang aku yang terbawa emosi.


“Jangan tiba-tiba berhenti kalau udah di tengah jalan begini. Bisa seribu kali lipat gilanya Abang, Dek. Ya ampun, udah di batang ini loh.“ Ia menunjuk tengah-tengah tubuhnya.


“Ya Abangnya yang bener, aku belum enak main mau masuk aja.“ Aku merebahkan tubuhku dengan ponsel di genggamanku.


“Ya kan cobain dulu sensasinya, Dek. Sakitnya pasti Adek rinduin.“


Mana ada sakit yang dirindukan.


“Aku tak mau Abang masukin apapun, kalau aku belum mohon-mohon!“ Aku membuat peraturan.


“Sialan kau!“ Ia langsung mengungkungku kembali.


Brutal, giginya bermain di setiap pemindahan tempat yang menjadi objek wisatanya. Kelihatan sekali, jika ia terlihat menggebu-gebu dan tidak sabaran. Bang Ken seolah tengah mendeskripsikan rasa rindunya yang tidak tertahan lagi, dengan tatapan dalam penuh keinginan.


“Ayolah, Ria.“ Ia menggesekkan benda tumpulnya.


Aku ingin menyentuhnya juga.


“Kasih aku akses, Bang.“ Aku meminta tanganku untuk dilepaskan.


“Ayolah, Ria. Jangan mengulur waktu!“ Bibirnya sampai berkedut-kedut dengan jelas.


Kenapa ia begitu? Saking tidak tahannya menahan n****nya kah?

__ADS_1


“Aku mau pegang.“ Akhirnya, ia melepaskan tanganku.


Sedikit takut, aku menurunkan tanganku untuk menggenggam barang yang ia sodorkan. Suaranya langsung terdengar, kala aku memijatnya perlahan.


“Udah, Ria.“ Ia memohon untuk jangan disentuh, tapi ia terlihat bertahan di posisi agar aku menyentuhnya.


Ia meringis hebat, otot-ototnya menonjol sempurna. Hingga, gerakan cepat ia bantu dengan menggunakan tanganku. Suara binatang mendesis pun terdengar jelas, padahal itu suara buaya darat yang berada di atasku.


Agar-agar yang belum mengeras itu, tumpah di atas dadaku. Gila, sampai sekental ini. Berapa lama ia menahannya, berapa lama ia menumpuknya?


Tapi ngomong-ngomong, aku kan jadi terselamatkan.


Ia merobohkan tubuhnya di sampingku, dengan bibir yang masih berkedut-kedut cepat. Kedutan itu sampai terlihat di mataku, pasti terasa besar di bibirnya?


“Abang tak mau di****, dipijat, atau disentuh, karena begini. Abang udah tak tahan, Abang pengen main, bukan pengen dikeluarkan. Kan kalau begini K.O duluan akhirnya,” ungkapnya dengan memejamkan matanya.


Oh, jadi itu alasannya. Terungkap sudah alasannya.


“Abang lemah s*****t?“ tanyaku yang membuat matanya langsung terbuka lebar.


“Sembarangan!“ Ia tidak terima rupanya.


“Terus aku gimana dong? Stamina aku masih oke nih, masa Abang cuma bisa sekali?“ Aku curiga ia lemah di bidang ranjang, karena ia langsung tepar begini.


“Lain waktu Abang kuat, Dek. Abang lama tak tidur nyenyak. Abang butuh istirahat.“ Suaranya sudah lemah sekali.


Ah, plong. Akhirnya, aku terselamatkan.


“Pikirkan dokumen pernikahan resmi kita di sini.“ Aku menepuk tangannya yang berada di atas perutku.


“Iya, Dek.“ Ia sepertinya sudah setengah tertidur.


Tidak sampai lima menit, ia sudah mendengkur tanpa emosi yang menyertainya. Amarahnya teralihkan, tapi aku yakin itu tidak pasti akan selalu berhasil. Tadi hanya permasalahan tentang cemburu, bukan masalah besar yang lebih memancing amarahnya.


Aku bergerak untuk menjauh darinya, kemudian mengusap sisa benih yang tidak mengering ini. Baunya sudah semerbak di ruangan ini. Aku tidak mengerti, kenapa air laki-laki memiliki bau yang cukup kuat.


Permasalahan baru timbul kembali, saat bang Ken sudah rapi dengan pakaiannya. Ia tidak mau ikut pulang ke rumah bersamaku, dengan alasan….


“Mereka orang papah Adi, nanti mereka kasih tau keberadaan Abang di sini. Orang papah, mamah, Givan dan antek-anteknya yang lain itu setia. Sulit disogok, kecuali Adek yang punya alasan untuk mereka.“ Ia bersandar lemah di sofa ruang tamu apartemen Hana.

__ADS_1


“Tapi ini pak sopirnya udah nelponin, Bang. Aku harus pulang dulu, ini udah malam.“ Penjaga rumah itu sudah seperti orang tuanku di sini.


“Di mana rumahnya? Apa ada penginapan di sekitar sana?“ Bang Ken terlihat masih kurang istirahat.


“Di perumahan di belakang pertokoan sana, toko yang di sampingnya ada lampu penyebrangan itu. Di depan perumahan sih ada hotel, tapi dari gerbang perumahan ke tempat aku tinggal ya jauh.“ Aku menunjuk arah yang benar.


“Di mana alamat rumah Adek tinggal? Adek janji tak kabur kan, kalau Abang ambil hotel di depan perumahan?“ Ia memilliki ketakutan lain ternyata.


“Tak, Bang. Besok jam delapan, aku ada keperluan di tempat kursus. Nanti aku bawa dokumen, untuk Abang urus pernikahan kita di sini ya?“ Aku ingin lebih cepat, karena bang Ken pasti akan mengajak hal yang berbau dewasa lagi.


“Coba tuliskan alamat rumah Adek, alamat tempat kursus Adek. Biar nanti kalau Abang udah bangun, Abang ke tempat kampus Adek. Mana kontak Adek juga?“ Ia mengeluarkan ponselnya.


“Ya, Bang.“ Aku mengambil alih ponselnya.


Ponselnya bebas akses. Tidak ada kode, kunci, atau sandi apapun.


“Dibintangi, Dek. Biar tak bisa kehapus tuh,” ujarnya, kala aku tengah menuliskan alamatku di room chat dengan kontakku.


Aku sudah menyimpan kontak baruku, dengan aku membuka blokirannya. Aku tak mungkin memblokir nomor calon suamiku ini.


“Aku harus alasan apa ke orang rumah?“ Maksudku, sopir dan pengurus rumah.


“Di tempat kursus ada mes-nya tak? Bilang aja, Adek tinggal di mes karena biar dekat atau gimana.“


Menurutku tidak masuk akal, karena jaraknya pun dekat.


“Keknya, di awal ini tak bisa alasan deh. Aku kursus selama sebulan dan udah dapat kursi. Barulah, untuk ambil sertifikat kompetensi aku harus di daerah sebelah. Barulah, bisa alasan karena jaraknya jauh.“ Aku pernah survei ke tempat itu juga, jaraknya hampir memakan waktu dua jam sekali perjalanan. Aku pun berencana mengambil perguruan tinggi di sana, cuma entah apa kata nanti saja.


“Ya udah tak apa, pulang kursus Adek ke Abang gitu. Abang cari tau nanti apa persyaratannya numpang nikah resmi di sini. Yuk kita ambil taksi, Adek hubungin sopir kalau udah sampai depan perumahan aja. Bilang aja Adek naik kendaraan umum sama teman.“


Aku langsung mengangguk cepat. Kemudian menuliskan pesan pada sopir, jika aku naik kendaraan umum dana akan aku beri kabar jika sudah sampai di depan perumahan.


“Yuk berangkat.“ Ia bangkit dari sofanya.


“Hana….“ Bang Ken berjalan ke belakang, mencari keberadaan Hana yang katanya tengah mencuci baju.


Malangnya nasib kepiting dan udang itu, karena ia malah dibekukan Hana karena kami keasikan tidur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2