
"Iya, iya, iya." Aku terlanjur bete.
"Jangan ngambek, aku capek." Ia melanjutkan sesi makannya.
"Aku tuh baru begini tuh." N**** makanku tiba-tiba hilang.
"Terserah lah! Nangis sana nangis! Membatin, dapat suami jahat." Setelah selesai makan, ia langsung keluar rumah membawa Kirei.
Rasanya aku ingin menangis saja. Emosi sekali mendapat suami yang tak beda jauh dari kemarin, sepertinya tidak ada suami yang sesuai keinginan hati.
Jika aku beristirahat, otomatis pekerjaan rumah terbengkalai dan ia marah besar karena masakan untuk malam pun belum jadi. Tapi jika aku membereskan pekerjaan yang tersisa, aku capek ingin beristirahat.
Yang penting terkejar saja dulu pekerjaan ini. Urusan bagaimana lelahnya, aku bisa tidur lebih dulu.
Masakan selesai, kasur sudah rapi,lantai sudah disapu dan dipel. Baju, nanti sajalah. Aku harus sholat dulu, kemudian mencari keberadaan Kirei dengan ayah galaknya.
Bisa-bisanya pun aku sudah cinta dengan laki-laki seperti itu.
Nampak di mata juga, Kirei tengah diajak jadi tukang parkir oleh ayah sambungnya. Beberapa pick up datang membawa hasil panen.
Oh, ternyata tempat cuci itu di situ. Jahe yang turun dari ladang langsung disemprot di tempat cuci itu, di sebelahnya memang ada wastafel cuci tangan berbahan stainless. Tempat cuci yang besar, berukuran lima kali lima meter, yang berada di ujung depan gudang. Aku ternyata disuruh menyikat baju dinas ladangnga di situ.
"Yah, Kirei mau bobo dulu sama Ibu." Aku mendekati suami emosianku.
Heran, aku mendapat suami yang memiliki sifat emosi dominan.
"Oke, kunci aja terus cabut kuncinya. Aku ada kunci." Gavin melepaskan Kirei padaku.
Ia marah tidak pernah lama. Jika membentak pun, sekali diluruskan ya langsung lembut lagi. Tapi kan aku kena mental, karena menghadapinya yang seperti itu.
"Iya, Bang." Aku berjalan kembali ke rumah teduh itu.
Ya, itu rumah teduh. Rumah untuk singgah dari ladang, rumah istirahat lah begitu. Tapi menjadi tempat tinggal duda beranak satu kemarin, yang kini menjadi suamiku dan aku ditempatkan di situ.
Begini ya nikmatnya tidur siang dengan tubuh yang lelah? Bangun tidur pun, rasanya kurang tidur terus. Tapi badan memang sedikit fresh, karena sudah diistirahatkan.
Aku ingin jalan-jalan sore untuk melihat-lihat daerah sekitar sini, sekalian aku ingin singgah ke minimarket. Tapi sepertinya, aku harus sendiri. Karena apa? Karena suamiku mendengkur di teras rumah. Yap benar, di luar kamar ini. Di mana saja ia bisa tertidur, ngeri.
__ADS_1
Setelah mandi bergantian dengan Kirei, aku langsung celingukan untuk memperhatikan patokan jalan. Saat aku mandi, Kirei aku tempatkan di tengah-tengah ranjang dan aku langsung mandi kilat karena Kirei merengek tidak ada yang menemani.
Nikmat sekali rasanya tidak ada yang membantu. Di sana, aku semudah itu menitipkan Kirei pada siapapun yang ada di depan mata. Tapi di sini, aku malah was-was ingin menitipkan Kirei. Aku lebih tenang, jika Kirei ada dalam jangkauanku. Mungkin karena aku pendatang baru di sini, aku merasa asing dengan lingkungan baru ini.
Aku memilih berjalan kaki, karena aku tidak berani membawa Kirei naik motor dengan menggunakan gendongan. Rasanya takut sekali, aku terlalu khawatir dan berpikir buruk
Minimarket, kira-kira berjarak seratus lima puluh meter dari rumah. Pulangnya, aku berniat menyalin nomor WA galon, gas melon, laundry dan toko beras. Karena nomor WA untuk antar jemput gratisnya, ada di spanduk tempat usaha tersebut. Jaraknya pun memang dekat, hanya setatus meter dari rumah.
Senangnya jika sudah berbelanja di minimarket begini. Sayangnya, uang terasa habisnya. Diapers Kirei dari ayah kandungnya, jelas tak aku bawa ke sini. Karena merepotkan, jika harus dibawa ke pesawat juga. Untuk pagi dan sore ini, Gavin sudah membelikan di warung terdekat semalam. Yang sachet begitu, ia membelikan satu renceng untuk anaknya ini.
Ternyata pedas juga bahu ini, menggendong anak tujuh kilo dengan gendongan samping. Kirei tidak ada senyum saat berpapasan dengan orang-orang yang berlalu lalang. Aku jadi memahami sekarang, bahwa Kirei tersenyum pada keluarga yang ia kenal saja.
Eh, di ujung jalan yang merupakan gudang samping rumah itu, terdapat ayah sambungnya Kirei yang bertolak pinggang dengan geleng-geleng kepala melihat kami. Padahal masih jauh, rupanya matanya sudah mengenali jelas istri dan anaknya.
"Ya ampun, Adek Kirei. Ayah tak diajak?" Gavin langsung mengambil Kirei dariku.
Kirei tertawa girang, sampai mengeluarkan suaranya. Bahagia sekali jika melihat ayah sambungnya itu, mungkin karena tadi siang diajak parkir mobil.
"Anak ini, Bang?" tanya seseorang yang berada di belakang Gavin.
"Iya, anak kedua," jawab Gavin dengan memutar tubuhnya ke arah laki-laki tersebut.
Sepertinya, mereka seumuran.
"Ini istri kah? Katanya kemarin ngeduda?" Ia sepertinya bingung.
"Iya, baru seminggu nikah lagi. Istri Saya bawa anak." Gavin terkekeh kecil.
"Oh, iya-iya. Lapor dulu ke pak RT, Bang. Biar aman gitu kan? Biar tak menimbulkan fitnah, takutnya disangka kumpul kebo." Ia menunjuk ke salah satu rumah warga.
"Aih, memang harus lapor kah? Baru tau?" Polos sekali ayah Apin.
Bukan cuma laki-laki itu yang tertawa, aku pun tertawa geli mendengarnya. Aku ingat di mana bang Ken membawaku ke Banjarmasin dan membuat laporan palsu, tentang kami yang sudah menikah siri. Nyatanya, memang kumpul kebo.
"Iya, Bang. Kasih fotocopy KK sama KTP suami istri untuk pendataan, biarpun alamatnya bukan di sini. Tapi kalau KK KTP belum jadi, bawa buku nikah aja," terang laki-laki tersebut.
"Ohh, iya-iya. Ya kebetulan, KK sama KTP belum jadi. Jadi Saya bawa buku nikah aja kali ya? KTP masih perekaman ganti status soalnya."
__ADS_1
Di KK kami sudah memiliki anak, tapi di KTP kami beralih dari belum kawin menjadi kawin. Ya, bukannya duda atau janda.
"Iya, tak apa. Tau kan rumah RTnya, Bang?" tanya laki-laki tersebut.
"Iya, tau. Makasih, Bang? Saya siapin dulu terus ke sana." Gavin merangkulku berjalan ke rumah.
Aku mengulas senyum ramah pada laki-laki tersebut, kemudian mengikuti langkah kaki suamiku. Belanjaanku sampai dia kantong plastik besar, mana ditenteng sambil berjalan kaki lagi.
"Ikut sih, Bang," ucapku kala Gavin langsung mencari buku nikah kami.
"Tak usah ya?"
Kok aku curiga?
"Pengen ikut." Aku langsung memeluk lengannya.
Lucu sekali. Kirei melongok ke arahku yang memeluk lengan ayah sambungnya ini, mungkin ia bingung apa yang dilakukan ibunya ini.
"Ngapain ya Ibu tuh, Dek?" Gavin menunduk memperhatikan Kirei.
"Mau ikut, Bang." Aku kembali merengek.
"Duh…." Ia memandangku seperti bingung.
Terus terang saja, aku merasa ia menyembunyikan sesuatu.
"Boleh ya?" Aku masih mengusahakan hal itu.
"Kirei aja aku bawa." Ia mengusap kepala Kirei.
"Aku juga dibawa." Aku sebenarnya ingin tahu bagaimana ia dikenal oleh warga kampung sini. Karena setahun lebih, ia tinggal di sini sendiri.
"Ya udah, ya udah. Tapi jangan pikir aneh-aneh."
Dengan ia mengatakan hal demikian, aku lebih dulu memikirkan aneh-aneh. Ada apa sebenarnya? Apa ada yang ia tutupi?
...****************...
__ADS_1