Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD36. Memanfaatkan


__ADS_3

Gumaman yang tidak jelas. Aku malas mengajaknya mengobrol, untuk mencairkan suasana pagi ini. Perutku pun, tiba-tiba kenyang cenderung sesak karena keberadaannya.


“Kapan mau buka usaha sendiri dengan SDM dari Abang? Abang modali, silahkan manfaatkan Abang, Dek.“


Hei!


“Kau gila ya, Bang?!“ Aku menoleh cepat dengan tatapan kaget.


“Tak.“ Ia malah menyeruput kopi milikku kembali.


Habis sudah. Padahal, aku baru mencicipinya saja tadi.


“Masih pegang kan kartu ATM Abang? Nih, pegang ATM yang lain.“ Ia langsung memunculkan dompetnya.


Eh, iya. Aku lupa, aku masih menyimpan kartu ATM miliknya saat ia menitipkan Bunga padaku. Aku baru ingat, aku bahkan tidak menggunakan ATM-nya sama sekali.


“Tak perlu, Bang.“ Aku menahan kartu tersebut saat akan berpindah tangan.


“Tak apa, Abang dukung. Kau mau maju, Abang jadi donaturnya.“ Sorot matanya serius sekali.


“Nothing is for free.“ Hanya itu yang mampu aku keluarkan dari mulutku.


Tidak ada yang gratis.


“Replace it with success.“ Artinya, gantilah dengan kesuksesan.


“What is the advantage for you?“ Aku mampu sedikit berbahasa asing dari otodidak bersama Keith.


Artinya, apa keuntungan bagi anda.

__ADS_1


“Karena dengan Abang berguna, Abang bakal ada di sejarah hidup kau, meski kita tak hidup bersama. Kalau memang Abang tak bermanfaat untuk masa depan kau. Setidaknya, kau harus manfaatkan Abang untuk meraih masa depan kau. Ayo, semangat sukses. Mulai dari mana Abang bantunya?“


Bulu mataku langsung basah. Perkataannya bermakna dalam. Aku semakin merasa, bahwa ia benar-benar mencintaiku. Namun, ada sesuatu yang seolah menghalanginya untuk bersama denganku di masa depan.


Apa ini tentang komitmennya sendiri? Atau, karena adanya pendamping yang sudah menemaninya sekarang? Bertambah kecurigaanku, kala teringat jika selisih usia kita begitu jauh. Sebagai pemikir yang kritis, ia pasti berpikir bahwa ia cuma mampu sebentar untuk menemaniku di dunia ini.


Aku tidak tahu jawaban pastinya, aku hanya menerka-nerkanya saja sejak tadi. Karena aku berpikir, tentang kemungkinan yang ada dalam pikirannya dari beberapa percakapan kami selama ini.


“Kalau begini ceritanya, lebih baik kita saling menjauh.“ Suaraku sudah bergetar, dengan air mata yang tak sanggup kubendung.


“Abang tak bakal tenang. Kau adik Abang, Ria.“ Kalimatnya menyakitiku.


Aku bukan adiknya, aku tak mengharapkan jadi adiknya. Aku ingin lebih dari itu, tapi aku tahu bahwa aku tak bisa memaksakan kemauan seseorang. Tapi, sejauh hubungan ini ia tetap menganggapku sebagai adiknya. Ia menyakiti perasaan halusku.


“Cukup kontrol dari jauh, Bang. Kek bang Givan ke aku, kek abang-abang adiknya bang Givan ke aku. Aku punya privasi, aku punya hal yang sebaiknya tak Abang tau. Adik perempuan Abang ini, punya privat part yang tak boleh disentuh oleh Abangnya.“ Aku menunjuk dadanya, dengan tumpahan kalimat yang menyakiti diriku sendiri.


“Adik perempuan Abang ini udah dewasa, sel ovariumnya bahkan udah matang. Adik perempuan Abang ini, udah lebih dari baligh. Adik perempuan Abang ini, punya barang-barang rahasia di masa dewasanya. S A N G A T tidak sopan, kalau kakak laki-lakinya harus satu kamar dengan adik perempuannya. Aku malu, karena di kamar aku pembalut wanita berserakan. Aku malu, karena pakaian d*l*m aku kadang berceceran di dalam kamar aku. Aku malu, karena beberapa produk perawatan kecantikan untuk area pribadiku terpajang di dalam kamar aku. Kalau kau ini adik perempuan Abang, tolong hargai privasi adik perempuan Abang. Silahkan, Abang tempati kamar yang lain. Silahkan, posisikan diri Abang sebagaimana kakak laki-laki yang menjaga marwah adik perempuannya.“ Begitu getir saat aku mengatakannya, aku benar-benar tersakiti dengan ucapanku sendiri. Tapi bagaimana lagi, harusnya bang Ken sadar setelah mendengar ucapanku.


Permainan apa? Aku sedang tidak bermain peran di sini. Aku sedang tidak mempermainkan dirinya juga.


“Abang, aku belum selesai ngomong,” seruku dengan bangkit dari kursiku.


Namun, ia tidak meresponnya. Ia entah masuk ke ruangan mana, tak lama aku mendengar suara salah satu mobil yang tersedia seperti mesinnya tengah dipanaskan.


Benar saja, saat aku mengintip ternyata bang Ken ada di sana. Ia seperti terburu-buru, ia bahkan mengencingi kemejanya dengan mengecek keadaan ban mobil.


Apa ia mau pulang ke Malaysia? Atau ia hanya pergi untuk menuntaskan pekerjaannya di sini?


Setelah mobilnya berlalu dari halaman rumah ini. Aku beranjak untuk mengecek barang bawaannya. Rupanya, koper dan jas putihnya masih berada di rumah ini. Belum lagi beberapa pasang sepatu dan baju kotornya masih berada di sudut rumah ini.

__ADS_1


Hufttt, dokter yang kurang memperhatikan kerapian.


Mentang-mentang ada asisten rumah tangga, ia asyik meletakkan baju kotornya sesuka hatinya. Mentang-mentang ada aku yang dititipkan kartu ATM miliknya, ia berpikir bahwa aku akan mengurus keperluannya.


Setidaknya, aku harus memunguti baju ini. Agar ketika ada tamu dari pekerjaan, aku tidak buru-buru menyembunyikan kaos yang tergolek di atas sofa ini.


Ia suka bertelan*ang dada, ia sering melepaskan dan melupakan keberadaan kaos yang ia kenakan. Kemudian, ia selalu mengambil kaos yang baru jika ia membutuhkan penutup tubuh bagian atasnya.


Tapi, ngomong-ngomong. Apa ya yang bang Ken pikirkan sekarang? Apa ia mengemudi, untuk menetralkan permasalahan yang ada di pikirannya? Tapi, bukannya itu membahayakan?


Ya ampun, ponselnya pun sampai tertinggal di atas ranjangku. Aku penasaran, aku menekan tombol untuk menyalakan layarnya. Notifikasinya penuh dengan nama Putri. Keren, Putri begitu sabar menyikapi duda kentir ini.


Kalian tahu artinya kentir? Kentir itu gila.


[Ken, baiknya kau balas pesan aku biar aku tak ganggu kau terus]


[Aku tau kau belum tidur jam segini, Ken. Kau sibuk apa?]


[Aku udah pernah bilang, kalau ada masalah di antara kita ya baiknya dibicarakan. Jangan kek gini, Ken.]


[Ken, aku bakal atur jadwal untuk nemuin kau. Sejak Bunga liburan sekolah, sampai sekarang kau sibuk dengan dunia kau sendiri. Kau lupa, kau yang ajak aku untuk jalani hubungan?]


Itu adalah sebagian pesan chat yang memenuhi bar notifikasi. Aku tidak membuka pesan chat bang Ken dengan Putri, karena jika sudah terbaca, bang Ken bisa curiga. Putri pun bisa kalap, karena pesan terbaca tapi tidak dibalas. Pasti hal itu akan mengundang masalah baru antara bang Ken dan Putri.


Apa penyebab bang Ken menjaga jarak dengan Putri, karena ia tengah menikmati waktunya denganku. Tapi dengan bukti seperti itu, bang Ken bukanlah orang yang baik. Ia tidak bisa menghargai Putri, padahal jelas Putri ia minta untuk jadi pendampingnya.


Lagipula, dilihat dari segi di luar profesinya ini. Bang Ken ini memang tidak ada keunggulan baik menjadi seorang laki-laki. Seburuk-buruknya bang Givan, ia bisa memprioritaskan istrinya yang notabene adalah pasangannya.


Jika bang Ken?

__ADS_1


Putri tidak diprioritaskan, aku pun dipermainkan. Kesedihanku bertubi-tubi, karena terlanjur menaruh rasa pada laki-laki yang salah.


...****************...


__ADS_2