
Aku kembali ke kamar untuk mengambil apron, aku pasti kena protes jika mengambil Kirei darinya. Karena, di mataku ia baru terlihat. Sudah pasti, ia pun ingin menikmati waktu bersama Kirei.
"Permisi, Bang. Mau nyusuin Kirei." Aku mencoba mengambil anakku, setelah mendapatkan apron menyusui dari kamarku.
Aku berbalik badan, mencoba membenarkan posisi Kirei yang merintih ingin ASI. ASI sebagai pelengkap saja, karena sebenarnya ia lebih kenyang dengan susu formula.
Aku duduk di sofa yang menghadap ke kamar mamah Dinda, sedangkan bang Ken menghadap ke televisi yang menyala. Kami dalam posisi leter r, bukan leter L.
Ia hanya diam saja, aku pun bingung ingin membuka obrolan apa. Aku hanya diam, memperhatikan lalu lalang orang-orang yang seolah tidak peduli dengan keberadaan kami. Entah mereka benar-benar sibuk, atau memberikan waktu berdua untuk kami.
Tak lama, bang Ken bangkit dan berlalu pergi. Aku kira, ia benar-benar pergi. Ternyata, ia muncul kembali dengan tentengan yang cukup besar.
"Ini dari Kirei, susu dan diapersnya." Barang itu sampai dia kantong plastik besar yang berlogo indomaret. Satu berisikan diapers dengan isi yang banyak, satu lagi beberapa tumpuk susu formula ukuran sedang.
"Sufornya sengaja yang kecil-kecil, karena kamu terlalu lama terbuka kan tak bagus." Ia mendekatkan barang bawaannya padaku.
Apalagi yang bisa aku katakan?
"Terima kasih." Karena aku dilarang untuk menolaknya.
Gavin muncul sampai menoleh lama padaku. Eh, tunggu-tunggu. Kok ia masuk ke kamarku?
Hei, sebenarnya kamar itu milik siapa? Ada satu pintu lemari yang terkunci, aku pun tidak tahu apa isinya. Tapi baju kotor Gavin, ada di keranjang baju kotorku yang berada di dalam kamar mandi kamarku.
Aku masih ingat, akan Gavin yang satu kamar dengan Gibran. Sekarang Gibran memiliki istri, jadi ia sekamar dengan istrinya. Otomatis, Gavin diusir dari kamar.
"Tak ada kamar lain?" Bang Ken melirik ke arah pintu kamarku.
"Banyak, nanti aku tanyakan ke mamah." Kata mamah pun, dulunya kamar itu adalah milik mbak Canda dan bang Givan.
Aku jadi bingung sendiri.
Sudah, kami diam-diaman kembali. Terasa canggung, aku tidak tahu ingin membahas apa. Bang Ken seperti asing untukku, apalagi untuk membahas sesuatu tanpa pihak ketiga.
"Ada uang pegangan?" Ia mulai bersuara kembali.
"Ada." Aku tidak menghabiskan semua uang lima juta dari papah Adi.
Ia mengangguk samar, kemudian ia bangkit dan bergerak ke arah dapur. Di sana sedang berada aktivitas manusia, aku melihat mbak Canda dan mamah masuk ke area dapur tadi.
Aku ingin masuk ke kamar, menyusui sambil merebahkan badan. Tapi, Gavin belum keluar kamar juga.
__ADS_1
Apa sepertinya, kamar itu adalah milik Gavin? Duh, aku jadi tak enak hati karena harus menempati kamarnya tanpa izin.
Bang Ken muncul kembali, ia duduk kembali di tempatnya. "Apa Kirei tidur?" Ia menunjuk anakku yang tengah bermain dengan ujung apron.
Ia masih menyusu.
"Tak." Aku mengintipnya dari atas apron ini.
Kirei bahkan tersenyum, saat melihatku mengintipnya yang sedang asyik menyusu itu. Wajahnya basah karena keringat, ditambah pengap karena apron ini. Untungnya, ia tidak merengek.
"Pengen main sama Kirei." Ia menggosok pangkuannya sendiri.
"Dia belum kenyang keknya." Aku salah, Kirei memang tidak pernah kenyang dengan ASIku.
"Dek…" Bang Ken mencolek-colek kaki Kirei.
Kirei menendang-nendang, kemudian ia menyingkap apron ini. Tidak aku sangka, ia malah kembali ke dalam apron dan menikmati ASIku. Aku terkekeh geli, karena Kirei terlihat begitu kolot.
"Masa Ayah dianggurin, mau main sama Kirei ini tuh." Bang Ken kembali mencolek-colek kaki Kirei.
Kirei menendang-nendang kakinya kembali, kemudian ia benar-benar keluar dari apron. Ia meronta beralih dalam posisi duduk, aku pun langsung memposisikan dengan benar. Kemudian, tanganku masuk untuk membenarkan bajuku dan melepaskan apron ini.
Bang Ken mendekat ke arah Kirei, ia mengusapi wajah Kirei dengan tisu kering. Kirei sudah bisa merespon, ia sering memberikan senyum senangnya pada semua orang. Ia anak yang ceria dan ramah senyum.
"Mana ya mamah?" Papah Adi berkata pelan, ia seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Kirei mengeluarkan suara, ia terus memandang papah Adi yang melangkah ke arah dapur. Papah Adi menoleh, ia langsung menepuk telapak tangannya ketika mengetahui Kirei terus memandangnya.
"Nanti ya? Kakek baru pulang, belum mandi."
Oh, rupanya bayiku ini ingin disapa.
Kirei langsung melayang diangkat oleh bang Ken. "Kangen main sama kakek Adek ini? Iya kangen? Kangen Ayah tak?" Kirei dipangku bang Ken kembali.
Kirei terus memandang wajah ayah kandungnya itu, sampai lehernya goyah karena ia belum terlalu tegak. Namun, setelah ia merasa lehernya stabil. Ia kembali memandang wajah ayah kandungnya itu.
Aku yakin, dalam pikiran Kirei belum banyak pertanyaan tentang wajah laki-laki itu yang begitu mirip dengannya. Aku rasa, ia pun mungkin belum menyadari bentuk wajahnya.
Kirei bersuara kembali, ketika melihat papah Adi melintas.
"Iya, Dek. Nanti ya? Nih, Kakek buru-buru mandi dulu." Papah Adi berjalan cepat dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Kirei ini ya ampun, ia sampai mendadak mewek karena papah Adi tidak mengajaknya. Laki-laki yang setiap hari berinteraksi dengan dirinya ya hanya papah Adi, beliau pun selalu menggendong Kirei dan membawa Kirei main di sekitaran sini. Hanya seperti itu saja, Kirei sudah berat ke papah Adi. Sederhana memang, tapi hanya papah Adi yang melakukan hal itu. Membuat ia berat ke laki-laki tua, yang dianggap sebagai kakeknya itu.
"Kak ada Ayah, Dek. Main sama Ayah." Bang Ken menghadapkan wajah Kirei untuk melihatnya, kemudian ia mencium pipi Kirei.
"Hallo, Cantik," sapa mbak Canda dengan membawa sepiring lauk yang masih berasap.
Hanya dia menantu yang berani seperti ini. Bahkan, kak Giska saja dikirim. Tidak sengaja membawa dari rumah orang tuanya seperti ini.
Eh, Kirei benar-benar menangis. Karena ia tidak diajak mbak Canda, ia hanya disapa saja. Mungkin Kirei berpikir, kenapa orang-orang menghiraukannya. Ia tidak mengerti, jika ayahnya ingin menikmati waktu bersamanya dan semua orang mencoba memberikan waktunya.
Aku jadi kasihan dengan bang Ken, pasti ia tersinggung dengan sikap Kirei. Nampak juga dari wajahnya, ia seolah menahan kekesalan.
"Ada Ayah, Dek. Adek lihatinnya orang-orang aja. Ayah pun pengen main sama Adek." Bang Ken berdiri dan memenangkan Kirei.
Kirei tidak jago menangis, ia mudah ditenangkan. Namun, perhatianku teralihkan dengan makhluk kecil yang merangkak seorang diri.
Ia bertepuk tangan, ketika mendapati kami di ruang keluarga ini. Diikuti dengan bang Givan, yang rupanya sengaja menggiring Cali. Ia pun tengah menggendong Cala, tapi wajahnya berubah datar ketika melihat bang Ken ada di sini.
"Van, Abang mau ngomong."
Nah loh?
"Aku lagi sibuk jaga anak, biyungnya lagi repot urus makan malam." Bang Givan jongkok dan mencoba membawa Cali dalam gendongannya.
"Ke… Ne…," panggilnya Cala.
Cali melongo saja melihat Cala yang berbicara. "Yah…" Cali menyentuh wajah bang Givan dengan telunjuknya yang baru keluar dari mulut.
"Kakek, nenek, bisa tak? Ayah terus bisanya." Bang Givan membawa kedua anaknya meninggalkan ruang keluarga, ia berjalan ke arah dapur.
Bang Ken mengikuti langkah bang Givan, ia berjalan ke arah dapur dengan menggendong Kirei. Aku khawatir terjadi sesuatu, maka dari itu aku langsung mengikuti mereka.
"Ne…" Cala begitu girang melihat neneknya.
"Eh, Adek Cala. Udah cantik aja? Udah mandi ya?" Mamah Dinda menyapa cucunya tanpa meninggalkan aktivitasnya.
Bang Givan melirik sinis, kala melihat bang Ken mengikutinya seperti ini. Jika bang Ken ingin mengakrabi mereka kembali, bang Givan yang malah menjaga jarak.
"Kasih anak-anak ke Ria, Van, Ken," pinta mamah Dinda cepat. "Bantu Mamah potongan-potong itu tuh." Mamah Dinda menunjuk meja makannya.
Ada aku yang tak memegang anak, tapi mamah Dinda tidak menyuruhku. Apa beliau sengaja, agar mereka ada aktivitas bersama dan mengobrol?
__ADS_1
...****************...