
"Lancang!" makiku cepat.
Ia malah tertawa lepas. Diam-diam, mulutnya usil juga.
"Betulkah katanya janda ilegal sekarang? Tos dong, bujang tapi punya anak nih." Ia seperti akan menjotosku, karena ia mengepalkan tangan ke arahku.
"Sialan!" Aku menepis tangannya dan terkekeh.
"Tak apa lagi, dari pada zina." Ia fokus mengemudi kembali.
Begitu ya konsep hidupnya? Pantas saja melihat dadaku terpampang karena menyusui Kirei, eh ia yang panik. Ia seperti menjaga sekali tindak langkahnya, semoga aku tidak mengajaknya berzina.
Bukan dapat kecaman dari pembaca saja nanti, lebih-lebih nanti aku dikira wanita gatal dan butuh parut. Kan bukan begitu juga, karena memang naluri alamiahku seolah membutuhkan.
"Ehh, udah zina juga ya?" Ia mengarahkan telunjuk ke arahku.
"Resek!" Aku melemparkan tisu kering yang baru aku tarik dari tempatnya.
Tawanya renyah sekali, rupanya hobinya memang suka meledek seseorang. Ya terbukti sih, sejak dulu ia ribut saja meledek adiknya dengan nama orang tua. Padahal, nama orang tuanya pun sama. Kadang aku tidak mengerti dengan konsep pikiran anak-anak masa itu, tapi memang mereka melakukannya.
"Kak Ria, Kak Ria. Mabok kok duda tua, ya kalah segala-galanya." Ia menggeleng berulang dengan membelokan kendaraan ke jalan panenan.
Gesperku dan celana kulotku pernah dilepas paksa di dalam mobil, oleh bang Ken. Jalanannya bisa menembus dari sini, maupun jalanan menuju pabrik lebih dekat lewat sini.
"Memang kalau duda muda, aku bisa menang juga? Di mana-mana letaknya, rumah tangga yang waras ya laki-laki yang berkuasa." Rumah tangga bang Ghifar jelas lebih tua istrinya dua tahun, tapi tetap bang Ghifar yang menjadi pemimpin di rumah sana. Istrinya tetap dipenjara seperti mbak Canda, mereka tidak bisa pergi semaunya tanpa izin darinya. Malahan, pernah aku melihat mereka berantem dan bang Ghifar pulang ke rumah orang tuanya. Istrinya datang membujuk, bahkan sehari lebih dari lima kali.
"Ya iya memang, yang namanya kepala keluarga pun laki-laki juga. Kecuali janda dan anak, kepala keluarganya pasti ibunya. Cuma kan, ibaratnya tuh orang tua si duda tua ini. Pikirannya kecil lagi, hatinya kecil lagi, mood swing kek remaja, cepat tiduran kek bayi, tenaga ya dimakan usia. Kaku hati lah pastinya, ibaratnya kek ngurus orang tua yang lagi puber lagi."
Hei, kenapa aku tidak pernah berpikir seperti yang Gavin katakan. Ngomong-ngomong, benar juga ya?
"Memang kalau duda muda gimana? Kau gitu maksudnya?" Aku memperhatikannya yang fokus mengemudi dengan kecepatan amat pelan. Ternyata jalanan licin, banyak beberapa genangan air juga. Namanya kadang, jelas bercampur lumpur.
"Ya bukan aku juga, tapi di luar sana kan banyak. Yang masih muda gitu kan, tenaga oke, pendengar oke, penglihatan oke, kan tau sendiri gimana kalau yang tua. Tenaga kurang, pendengaran jauh, mata burem. Kalau masih muda kan bisa dibicarakan baik-baik, sulit dikendalikan ya kembalikan ke orang tua."
Kok pembicaraannya seperti melenceng? Ia seperti tengah curcol.
"Maksud kau, kalau istri tak patuh itu diceraikan?" tanyaku yang langsung diangguki olehnya.
__ADS_1
"Kesalahan pertama, tegur. Kedua, nasehati. Ketiga, dibicarakan baik-baik. Keempat, pulang dulu ke orang tua untuk laki-lakinya. Kelima, kalau perempuan tak ada perubahan ya udah dibalikin ke orang tuanya. Memang dasarnya Ajeng tak ada otak aja, sok paling tersakiti." Ia benar-benar tengah curcol.
Ia nampak panik, kemudian menghela nafasnya. "Selip." Ia geleng-geleng kepala.
"Coba mundur dulu." Aku menoleh ke belakang.
Ini tengah ladang, siapa yang akan membantu? B*** hutan? Luwak? Lebih-lebih gajah.
Gavin mengangguk, ia mencoba memundurkan kendaraan dengan menginjak pedal gas. Nihil, tak membuahkan hasil. Aku minta untuk berpindah posisi, aku akan mencoba mengusahakan menggerakkan roda belakang mobil ini yang terjerembab di genangan air yang cukup dalam.
Sayangnya, sia-sia saja. Roda semakin dalam masuk, mobil pun sudah kotor parah. Alhasil, aku langsung melapor pada direktur utama pabrik kopi itu, bahwa aku datang telat karena mobil tidak bisa berjalan.
"Coba VC." Anak mamah Dinda yang manapun, adalah jenis yang tidak gampang percaya. Termasuk, bang Ghifar manis yang nampak tenang itu.
"Tuh." Aku langsung mengarahkan ke kamera belakang, kemudian menunjukkan ban belakang yang semakin masuk ke dalam tanah.
Lumpur kah? Entahlah, apa namanya.
"Ehh, laki-laki itu."
Ah, iya. Gavin tengah menyusun bebatuan dan ranting kayu, ia mengusahakan roda agar bisa bergerak naik.
"Ohh, di lampu ke berapa? Nanti Abang ke sana."
Oh iya, di jalanan panen ini ada lampu yang di bawahnya ada angkanya. Lampu ini per dua ratus meter yang menggunakan tenaga surya, angka yang berada di dekat mobil ini adalah angka lima. Artinya, sekitar seribu meter masuk ke dalam ladang.
"Lima, Bang." Aku mengarahkan ke arah lampu jalan yang menjulang cukup tinggi. Tapi, tidak setinggi tiang listrik juga.
"Oke, nanti ke sana. Bentar lagi selesai briefingnya." Aku bahkan tidak ikut briefing.
"Maaf ya, Bang?" Aku memasang wajah sedih.
"Tak apa, orang dalam. Asal pas nunggu Abang datang, jangan buang di dalam aja."
Hei!!!
Adiknya malah tertawa lepas.
__ADS_1
"Udah dulu ya?" Bang Ghifar langsung memutus panggilan video ini.
"Hari pertama kerja, huh." Aku bersandar pada mobil ini.
"Berarti, harus lebih pagi lagi bangunnya." Rupanya Gavin menghampiriku.
"Aku tak bisa tidur." Aku meliriknya sekilas.
Kalian tahu mata laki-laki mabuk parah? Terlihat lemas, sayu dan kedipannya pun agak pelan. Begitu lah mata Gavin. Ditambah dengan, bola matanya coklat sedikit terang. Dia indah, mak. Tak perlu tampan, jika sudah menawan seperti ini. Kulitnya hitam manis pun, tak menjadi nilai minus juga.
Memang hebat benih terkuat yang mengalahkan KB IUD ini. Itulah secuil sejarah kehidupannya di dalam rahim.
"Basah sih ya?"
Sungguh, mulutnya banyak tidak sopannya ternyata. Aku langsung mendelik cepat dan memberinya pelototan tajam?
Ia terkekeh geli, ia tidak nampak takut sama sekali ketika aku memasang raut marah seperti ini. "Apa? Aku pun bisa melotot." Ia bertolak pinggang dan menahan tawanya dengan memelototiku.
Aku geli sendiri, akhirnya aku tertawa juga dengan reflek mencubit perutnya. Ia langsung mundur satu langkah, setelah aku cubit.
"Beli d**** sana! Pakai yang silikon, mirip-mirip kulit kita."
Hah? Saran dari mulut lancangnya sungguh di luar keimanan.
"Kenapa tak pakai punya kau aja? Tak repot aku beli harus nahan malu." Akh ngotot di sini.
Matanya melebar, kemudian ia menutupi miliknya sendiri dengan tangannya dan tertawa renyah. "Janganlah, warisan turunan. Sekali nyoba, nanti ketagihan."
Heh? Rahangku terjatuh mendengar ucapannya itu.
"Atau pakai botol plastik kecil yang wadah dari kabel data itu loh, mirip-mirip kan ya?" Ia menerangkan dengan isyarat jarinya sendiri.
Aku tahu botol yang dimaksud.
Aku reflek menendangnya, sialnya belahan rok span yang berada di belakang ini malah sobek.
Huaaaaa… bagaimana ini? Aku takut disangka berbuat macam-macam dengan Gavin.
__ADS_1
...****************...