
“Ya udah, nanti temani aku nge-gym ya?“ Aku ingin memiliki badan yang berbentuk indah.
“Oke. Sandi kunci akses rumah ini apa ya? Apa sama semua?“ Ia bangun dari sofa ini.
“Sama, tanggal nikahnya bang Lendra sama mbak Canda. Ini rumahnya bang Lendra soalnya. Belum pernah direset ulang, karena orangnya udah tak ada juga.“ Rumah ini atas namanya, tapi dengan kuasa mbak Canda juga.
Aku tidak mengerti, kenapa orang-orang pada percaya dengan mbak Canda. Ya padahal, kita tau sendiri bagaimana dia.
“Abang tak tau.“ Ia menarikku untuk bangun juga.
Aku menyebutkan tanggal tersebut. Hanya enam angka yang digunakan, dengan pengambilan tahun di dua angka paling belakang.
“Abang pengen tidur bareng kau, Dek.“
Aku curiga bahwa ia rindu padaku.
“Tapi jangan macam-macam!“ Aku mengacungkan jariku.
“Iya, tak. Tenang aja, Dek.“ Ia menangkap jariku dan menurunkannya.
Kemudian, kami langsung masuk ke dalam kamarku. Untungnya, tadi aku sempat berganti baju. Jadi, kamarku sudah rapi dong. Biasanya kan, ya acak-acakan.
“Bunga udah sekolah kah?“ Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur.
“Iya, udah lama sekolah. Putri pun udah balik ke Jakarta, setelah lima hari Abang hindari. Dia marah besar, Abang tawarin putus aja kah. Eh, dia tak mau. Dia malah jadi baik-baikin Abang lagi.“ Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.
Aku tidak terbiasa tidur dengan lampu dalam kondisi mati. Aku tidak bisa hemat listrik untuk tidur saja. Aku seperti anak ayam yang mendapat pencahayaan oleh lampu terus menerus.
“Di mana perusahaan farmasi di kota ini?“ Aku tidak mood untuk membahas Putri.
Ia menyebutkan satu tempat. Gila-gila, tenpatn jauh dari sini.
“Bang, Abang perlu waktu dua jam ke sana. Kenapa Abang tak ambil hotel aja?“ Aku miring menghadapnya.
__ADS_1
“Tapi ini dekat bandara, Abang pun bakal tinggal lama di sini. Kalau pakai hotel, nanti habis uang Abang. Kan Abang sesekali aja ke tempat farmasi itu, kalau mau cek pembuatan di sana sesuai tak. Misal mau ambil kesepakatan kan, Abang bisa minta ketemuan di resto atau di mana gitu.“ Ia sudah mengangkat kedua tangannya ke atas, ia memamerkan bulu ketiaknya lagi.
Memang seperti itu kebiasaannya tidur, ia seperti bayi yang meletakkan kedua tangannya di dekat telinganya. Untungnya, kakinya tidak terbuka lebar seperti bayi juga. Kakinya lurus saja, tidak memakan tempat.
Tapi benar juga sih. Aku bekerja di sini pun, malah jarang untuk datang ke perusahaan vendor. Kamu selalu mengambil kesempatan di restoran, atau tempat terbuka dengan privasi yang cukup menjamin.
“Abang tidur duluan, Dek. Abang ngantuk betul. Kemarin, dini hari udah sibuk operasi di Malaysia.“ Matanya sudah terpejam.
Aku tengah haid, makanya ia tidak mengambil serangan apapun. Karena ketika butuh untuk c*** saja, bang Ken ingin aku pun terbuka seperti dirinya juga.
Aku menarik guling, kemudian memejamkan mataku juga. Aroma tubuhnya yang khas, membuat benar-benar merasa tenang. Seperti tidurku begitu nyaman, jika aku bisa menikah dan tidur dengan ditemani oleh dirinya terus menerus.
Pagi yang menegangkan. Keith langsung bergegas pergi tanpa sarapan, setelah tahu bahwa bang Ken tidur bersama denganku.
Aku tidak tahu, jika Keith ingin keluar dari kamarnya juga. Mana lagi, pintu kamar kami berhadapan. Saat itu pun, bang Ken berada di belakangku dan hendak ke arah dapur juga. Jadi, kami berpapasan di pintu kamar kami masing-masing.
Hufttt…. Aku jadi tidak enak hati padanya.
Aku sedikit tenang, karena saat mengantarkan Ceysa sampai ke rumah, aku melihat mobil Keith terparkir di sana. Nyatanya saat aku pulang hampir tengah malam ini, rupanya Keith tidak berada di rumah.
Asisten rumah tangga mengatakan, jika Keith pamit untuk tinggal di rumahnya kembali. Karena ia memiliki pekerjaan dengan kuas lukisannya untuk waktu yang cukup la di sana. Jika sudah begini, kan aku yang tidak enak hati sendiri.
Saat aku pergi ke dapur setelah membersihkan diri. Aku melihat ayahnya Bunga tengah sibuk di meja bar dengan laptopnya dan juga secangkir kopi.
Untungnya ada laki-laki lain di sini, jadi aku tidak begitu was-was meninggalkan Ceysa dan Shauwi di sini.
“Abang seharian ini di rumah aja?“ Aku bergerak mencari makanan di kulkas.
Sudah begitu dingin, mau tidak mau aku harus menghangatkannya lagi karena aku butuh makanan sehat. Aku khawatir gemuk kembali, jika makam fast food malam hari seperti ini.
“He'em, kenapa?“ Ia menyeruput kopinya.
“Abang udah bilang ke bang Givan?“ Aku tengah sibuk di depan kompor.
__ADS_1
“Belum, harus izin memangnya? Shauwi atau Keith pun pasti lapor lah ke bos mereka.“
Ya itu sih pasti, tapi kan baiknya ia izin dulu pada bang Givan.
“Keith pergi dari sini, dia marah.“ Aku tahu, ia jika marah akan diam dan menghindar seperti ini.
Besok nanti aku akan menemuinya dan meminta maaf padanya. Sekalipun serumah, kami tidak pernah satu kamar. Mungkin ia marah, karena melihat bang Ken keluar dari kamarku. Mungkin ia butuh sedikit penjelasan dariku atau bagaimana.
“Ohh, baguslah. Bukan suami istri, kok tinggal serumah?“ Ia berkata begitu enteng.
Lalu bagaimana kita?
“Abang pun bukan suami aku.“ Aku yakin ucapanku cukup menjelaskan maksudku.
“Kan Abang kakak kau, Abang kakaknya Givan.“
Kakak dan adik tidak ada yang bercumbu! Aku berulang kali mengatakan, jika kakak dan adik tidak sepertiku dan dirinya. Tidak ada kakak beradik saling menyentuh area sensitif satu sama lain, itu keluar dari norma kekeluargaan.
“Jangan bilang kita kakak adik, kalau Abang cuma mau tinggal bebas di sini sama aku. Tinggal tak masalah, tak dengan alasan kek gitu. Aku tak suka kalau Abang mengelabui kebuasan Abang, dengan alibi kakak adik. Dari awal aku udah bilang, kita tak ada status adik kakak. Kegiatan dewasa kita itu tuh, udah kek sepasang kekasih tau tak?! Abang kesannya pengen memanfaatkan aku, tapi lepas dari tanggung jawab.“ Aku mengoceh sembari menyiapkan makan malamku.
“Jangan munafik, Dek.“
Aku langsung memutar tubuhku ke belakang, untuk melihat bagaimana reaksinya. Lihatlah, ia terlihat santai saja di sana.
“Munafik gimana? Terang aja, aku perempuan dan aku kebawa perasaan dengan sikap manis Abang. Aku udah bisa menguasai perasaan aku sendiri, dengan kita tak pernah komunikasi dan ketemu. Tapi, Abang malah samperin aku di sini.“ Aku menutup multiku.
Secara tidak langsung, aku mengatakan bahwa aku tertarik padanya.
“Hmm….“ Ia melihat ke arahku dengan mengangkat jarinya dari keyhboard laptop.
“Abang……
...****************...
__ADS_1