Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD90. Pengalihan emosi


__ADS_3

“Capek loh Abang, Dek.“ Bang Ken memutar-mutar ponselku, dengan sorot matanya yang mulai memerah terarah ke arahku.


“Bang.“ Aku mencoba menyentuh tangannya yang tengah memutar-mutar ponselku.


Namun, tiba-tiba ia menghindar dan menaruh ponselku di atas tempat tidur ini. Ia memunggungiku, sesaat kemudian terdengar bunyi pukulan ke arah tembok.


Ia menonjok tembok.


Untungnya tembok itu bukan semacam asbes atau GRC, bisa-bisa bolong karena ditonjoknya. Aku harus bertindak, sebelum ia membalikan ranjang ini. Aku tidak enak pada Hana, kalau sampai aku merusak isi kamarnya.


Ia bangkit, ia seperti bersiap untuk menghancurkan sesuatu. Namun, aku bergegas memeluknya dari belakang. Tubuhnya yang berkeringat panas, langsung menyerap ke dalam bahan pakaianku.


Napasnya sudah ngos-ngosan, ia seperti bersiap menyeruduk apapun yang ada di depannya. Cemburu saja ia seperti ini, pantas saja ia berkendara tak aman dan sampai kecelakaan saat di malam bang Givan memisahkanku dengannya dan akan memberangkatkanku malam itu juga.


Karena kondisinya yang seperti ini, ia tak aman di manapun sebelum amarahnya tuntas.


“Abang kurang untuk kau, Ria?“ Namaku disebutnya.


“Tak, Bang.“ Aku mencoba tenang, dengan melepaskan pelukanku dan menghadap padanya.


Ia menyeramkan sekali dari depan.


“Kau!“ Ia mengangkat telunjuknya di depan wajahku.


“Iya, maaf. Aku salah, aku ada komunikasi dengan laki-laki lain,” akuku yang tak kupahami salah atau benarnya.


“Kenapa?“ Ia langsung menahan rahangku untuk tidak bergerak.


Hijabku sudah terlepas, saat kami tengah makan bersama tadi. Aku tidak khawatir leherku tertusuk jarum pentul lagi.


“Aku butuh pelipur lara.“ Aku mencoba membalas tatapan matanya.


Aku berharap ia bisa mengeluarkan kata-kata marahnya saja, agar barang-barang Hana tidak berterbangan.


“Kau cuma perlu buka blokiran aku, terus kau hubungi aku!“ Sebutan dalam nada bicaranya sudah tidak ramah lagi.


“Maaf, tak terpikirkan.“ Aku hanya mencoba patuh pada bang Givan saja, bukannya tak terpikirkan.


“Kau tak boleh dengan orang lain!“


Ia merunduk dan aku tahu apa yang ia incar.

__ADS_1


Benar, gigitan kecil aku dapatkan di bibir bagian bawahku. Sedetik kemudian, aku langsung melayang dan terbanting pelan di ranjang. Deg-degan itu pasti, aku sedikit khawatir jika aku mati mengenaskan di tangannya. Tapi bukannya ia cinta padaku? Aku yakin, ia tak berniat membunuhku.


“Jangan ditarik paksa!“ Aku menahan kemejaku yang akan ditarik berlainan arah olehnya.


Aku tak mungkin pulang dengan menggunakan kaosnya, atau meminjam baju Hana yang berukuran lebih kecil dariku itu. Hana bertubuh pendek dan berbadan kecil, padahal ia bule menurutku. Entah karena ia masa pertumbuhan juga, karena usianya pun tak jauh berbeda dengan Alfonso.


“Kau tak akan mau kalau tak dipaksa. Aku tak suka kalau kau banyak keinginan, Ria. Aku cuma mau kau pasrah! Kau cuma butuh aku, bukan laki-laki lain. Kau cuma perlu buka peluang untuk aku, bukan laki-laki lain. Kalau memang keluarga kita melarang, kita bisa keluar dari zona keluarga.“ Ia menurutiku untuk melepaskan kancing kemejaku satu persatu.


“Kalau Abang cinta aku, aku akan dengar ambisi Abang, dengan syarat Abang harus pertimbangkan sedikit keinginan aku. Aku mau pernikahan, aku mau anak dengan nasab Abang, aku mau hak aku sebagai manusia dan seorang pasangan tak terbatas. Aku mau sumpah Abang, bukti dokumentasi dan pernikahan resmi.“ Syaratku menurutku sederhana.


“Abang sanggupi.“


Aku langsung memejamkan mataku, karena rasa sakit dan mengagetkan tiba-tiba hinggap di dada kananku. Ini emosinya, aku memasang badanku agar ia tidak merusak barang milik Hana.


“Aku kesakitan, Abang.“ Aku mengusap punggungnya.


“Abang tau kira-kira. Tenang aja, tak akan sampai lepas.“


Aku terkekeh kecil, saat mendengar penjelasan. Sebutan Abang sudah ia gunakan lagi, meski nada bicaranya masih sedikit ketus. Amarahnya teralihkan.


“Abang minta jatah.“


Celanaku langsung lolos, padahal aku belum mengiyakan. Kepalanya pun langsung pindah ke bawahku, ia tengah bekerja di sana.


“Dua.“


Aku menahan tangannya. Masalahnya, jemarinya besar.


“Satu aja!“ Aku kembali komplain.


Berakhir, aku yang mendapat tepukan di sana. Bayangkan rasanya, mulas.


“Aduh….“ Aku langsung menutup kakiku.


Ia menegakkan kepalanya, kemudian seperti bersiap memarahiku. “Diamlah, Ria! Kau tak pengalaman! Abang tau kira-kira.“


Sejak tadi, ia mengatakan tahu kira-kira saja.


“Tengoklah jari Abang! Besar itu!“ Aku menunjuk jemarinya.


“Ya ampun.“ Ia menghela napasnya, kemudian melepaskan ikat pinggangnya. “Kau bandingkan ya! Ribut besar-besar aja, ini yang lebih besar pun masuk!“ Ia sampai ngotot-ngotot saat membandingkan dua jarinya dan isi celananya.

__ADS_1


Aku terkekeh kecil. Aku sedikit suka melihatnya marah-marah dengan banyak berbicara. Baguslah seperti ini, ketimbang dengan barang-barang melayang.


“Kau mirip cerita Givan tentang Canda. Banyak kau komen, macam yang lebih paham aja. Abang mau kau pasrah, karena Abang mau enakkan! Bukan mau manggang kau, atau buat kau jadi suwiran daging!“


Ia seperti dosen bahasa Inggris yang memarahiku, untungnya aku tidak banyak mengerti bahasa dosen tersebut kala memarahiku.


“Iya, tapi pelan-pelan tuh.“ Aku tersenyum padanya.


“Pelan tuh! Pelan tuh! Memang kau pernah keluar kalau pelan?! Kau kalau udah kelojotan, mintanya cepat aja.“ Ia kembali merunduk di sana.


Aku banyak cekikan. Kok lucu bang Ken marah-marah dengan banyak bicara seperti ini?


“Bang….“ Aku merasa ia bekerja sedikit kasar.


“Jangan dikeluarkan! Abang mau kau dapat hukuman yang setimpal.“ Ia langsung memposisikan dirinya.


“Kurang foreplay-nya, Bang.“ Aku menahan dadanya.


“Bodo amat!“ Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, sedangkan tangannya menuntun ke arah yang benar.


“Ck! Amatiran! Sok paling berpengalaman! Buat perempuan panas aja tak bisa! Awas sana! Sakit nanti aku! Aku mau lihat film dulu.“ Aku beringsut ke belakang, menjauhkan diri dari kungkungan tubuhnya.


Entah, aku tak suka mendengarnya memikirkan diri sendiri begitu. Aku sudah berterus terang, jika aku belum panas. Ia malah sudah memposisikan diri saja.


“Kau sepelekan Abang, Ria?!“ tanyanya, saat aku meraih ponselku.


“Abang tak sesuai ekspektasi!“ Aku meraih celanaku.


Awal saja, ia menunjukkan begitu pandainya membuat aku meradang ingin meledak tanpa kegiatan yang sebenarnya. Setelah ada kesepakatan untuk menikah, malah ingin langsung cepat saja. Hukuman sih hukuman, tapi harusnya ia memberiku kesempatan untuk terhanyut dulu.


Dasar kentir!


“Apa kau bilang?!!!“ Ia menarik bahuku, kemudian menjatuhkan tubuhku dan menahannya.


“Ck, gimana nanti kalau nikah?“ Aku menaikan daguku, kemudian memalingkan pandanganku ke arah lain.


“Nikmati lah dulu, Ria! Kau harus tau sensasinya dulu.“ Nada bicaranya mulai melembut, ia paham jika aku terhanyut kelembutan dalam tuturnya.


“Tak! Abang mau sama aku, Abang harus pikirkan kesukaan aku. Hubungan itu untuk dua orang, bukan hanya tentang Abang.“ Aku berbicara seperti ini dan membuatnya mau mengalah dariku, karena aku ingat ucapan bang Givan yang mengatakan bahwa bang Ken suka perempuan yang pasrah, bahkan ia tidak suka disentuh ketika sedang berhubungan.


“Ria…..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2