Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD125. Wisuda


__ADS_3

Aku celingukan sejak tadi, karena urutan namaku sebentar lagi akan dipanggil. Tapi, bang Givan dan mbak Canda belum juga terlihat. Apa mereka terjebak dalam bandara? Apa mereka tengah menikmati waktu istirahat mereka? Karena pasti saja, mereka kaget dengan perbedaan waktu. Ibarat kata, seperti berada di dimensi yang berbeda.


Semua orang bertepuk tangan, kala namaku disebut. Setelah aku berjabat tangan dan berbalik badan untuk difoto bersama, aku tak bisa bernapas kala melihat bang Givan dan mbak Canda melangkah cepat ke sini.


Bagaimana tanggapan mereka? Aku takut salah satu di antara mereka terkejut dan terjadi sesuatu dengan kesehatannya.


Aku dipersilahkan untuk ke samping dan mengambil foto bersama keluarga. Ibunya Alfonso, ayahnya Alfonso, Alfonso dan adiknya sudah bersiap dengan dandanan yang pantas dan senyum yang merekah.


Tanganku sudah gemetar, aku menahan haru dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Tapi tidak disangka, bang Givan dan mbak Canda langsung berdiri di sampingku dan memasang senyum ke arah kamera.


Apa mereka tidak melihat perut cembungku? Apa karena jubah besar ini berwarna hitam, jadi perut besarku tersamarkan?


Beberapa jepretan diambil, kemudian kami dipersilahkan untuk berpindah tempat karena akan gantian dengan peserta lainnya.


“Makasih, Mbak, Bang. Kalian datang juga.“ Aku langsung memeluk keduanya sekaligus.


“Tak apa, kan Mbak mau liburan juga.“ Mbak Canda langsung membalas pelukanku.


Namun, terlihat lain pada bang Givan. Ia melepaskan pelukanku seketika, kemudian ia bertolak pinggang dengan menyatukan alisnya.


“Kau hamil, Ria?!“ Matanya langsung melotot dengan ekspresi marah, tarikan napasnya dalam dan berhembus kasar.


“Masa sih, Mas?“ Mbak Canda menyentuh perutku, rupanya tadi ia tidak menyadari kehamilanku saat aku memeluknya.


“Ehh, kok iya.“ Mbak Canda melebarkan matanya, kemudian ia langsung mengusap lenganku.


“Excuse me. I have the best place to talk after this, because it's not good to talk while standing like this. Come on, follow me,” ucap ayahnya Alfonso dengan seragam kebesarannya. Lima belas menit yang lalu pun, ia baru datang untuk acaraku.


Permisi. Saya memiliki tempat terbaik untuk berbicara setelah ini, karena tidak baik berbicara sambil berdiri seperti ini. Ayo, ikuti saya.


Mereka benar-benar keluarga yang baik, padahal aku bukan kerabatnya.

__ADS_1


“Sialan kau, Ria! Kau pikir, aku kau bakal memaklumi alasan kau?! Setelah ini, jangan kau panggil aku abang lagi! Aku kakak untuk adik yang penurut, bukan pembantah dan sulit diatur.“ Bang Givan melangkah lebih dulu, dengan menyenggol lenganku.


“Mas, Mas tak tau kalau dia diperkosa kan?“ Mbak Canda sudah menggandengku, tapi ia melambaikan tangannya pada suaminya.


Bang Givan menoleh ke arahku. “Jangan sok paling tau!“ Setelah itu, ia berbelok mengikuti langkah kaki ayahnya Alfonso.


Acara belum selesai, aku tak bisa mengikuti mereka. Aku izin pada ibunya Alfonso yang berada di belakangku dengan kedua anaknya, bahwa aku akan mengikuti acara ini sampai selesai dahulu. Menurut susunan acara, akan selesai sekitar satu jam setengah saja.


“Mbak, ikutlah mereka dulu. Aku harus ikut serta dalam acara, katanya sih satu jam setengah. Udah sekitar empat puluh lima menit tadi, Mbak. Tinggal empat puluh lima menit lagi, Mbak.“ Sudah setengah acara, acara ini berjalan.


“Apa Mbak boleh ikut duduk?“ Mbak Canda masih menggandeng tanganku.


“Eummmm, tolong ademin hati bang Givan, Mbak. Sampaikan maaf aku ke dia, Mbak.“ Aku menggoyangkan tangannya, ya masih berpegangan padaku.


“Duh…. Padahal part belakang ini udah kepengen duduk.“ Mbak Canda memanyunkan bibirnya.


Ia seolah tidak peduli dengan keadaanku yang baru diketahui hamil, ia pun tidak peduli jika suaminya tengah marah. Ia tidak muluk-muluk, ia hanya ingin duduk.


“Ya kan cari tempat duduk, tak langsung duduk. Udah sih, Ria. Bawa Mbak duduk sama kau di sana, sambil kita ngobrol.“


Oh, ternyata ia memiliki tujuan untuk mengobrol denganku.


“Ya udah, Mbak.“ Aku menggandengnya dan berjalan ke arah kursi yang diisi oleh mereka yang sudah maju ke depan.


Aku berbasa-basi, bahkan aku mengatakan bahwa saudaraku ini tengah kelelahan dan butuh tempat duduk. Ya tidak sepenuhnya salah juga, karena mbak Canda memang ingin mencari tempat duduk.


“Berapa bulan ini? Kau dapat karunia ini dari mana?“


Positif dan magic sekali pikirannya.


Anakku haus sentuhan kasih sayang, ia langsung bergerak kala mbak Canda mengusap-usap perutku. Ia merespon budhenya, ia merespon mak wanya.

__ADS_1


“Besok jadwal sesar, Mbak. Besok pas tiga puluh enam Minggu.“ Aku mengusap perutku juga.


“Loh? Kau kan tinggi, kenapa sih sesar segala? Enak ngejan, langsung hilang sakitnya begitu bayi keluar.“ Senyumnya merekah indah, mbak Canda seperti tidak memiliki marah melihat kehamilanku.


“Sungsang.“ Aku langsung mengubah wajahku menyedihkan.


“Ghavi sungsang loh, lahir normal dia.“ Ghavi adalah adik iparnya, bang Ghavi merupakan saudara kembar dari bang Ghava.


“Tak tau, kata dokter harus sesar.“ Katanya sih, untuk menyelamatkan nyawa keduanya. Aku manut saja, toh untuk kebaikanku dan anakku.


Mbak Canda manggut-manggut. “Mau siapa yang kau jadikan baby sitter? Mbak repot urus abang ipar kau, makannya rewel nambah tua tuh, pencernaannya sensitif. Udah tak bisa abang ipar kau makan sambal, atau pedas sedikit. Padahal, dulu mie instan aja kasih cabai rawit dua.“


Aku mengerutkan keningku, aku tidak mengerti dengan pemikiran kakakku? Apa semua ibu tak sanggup mengurus anaknya, menurutnya? Apa aku tak pantas jadi ibu dari anakku?


“Kenapa pakai baby sitter?“ tanyaku kemudian.


Mbak Canda langsung memandang wajahku, dengan tangan yang masih mengusap-usap perut cembungku. “Memang siapa lagi yang mau kau repotkan? Ibu? Mamah Dinda? Apa saudara-saudara kau yang dari Jawa peduli tentang kehidupan kita? Mereka hanya paham bahwa kita harus 'nyelondo' ke mereka yang lebih tua.“ Wajahnya langsung berubah ketus dan marah.


“Mau Mbak caci maki kau kek mana? Besok kau melahirkan, apa harus Mbak buang anak kau? Sedangkan, di rumah pun Mbak nampung anak-anak orang. Apa anak dari adik sendiri pantas Mbak buang, kalau anak orang pun Mbak didik dan besarkan? Kau jangan bilang tak mau merepotkan Mbak, memang kau punya kerabat atau saudara lain?! Memang ada yang peduli sama kau? Memang ada yang peduli sama anak kau? Pendamping kau aja, nyatanya tak di sini untuk usap-usap perut kau. Apa Plonco tadi yang hamili kau? Rasanya, Mbak tak percaya karena beberapa kali dia ngehubungi mas Givan pun tak ada pembiaran tentang kau dan kehamilan kau. Kau tanam-tanam derita kau, kau diamkan perut kau sampai sebesar ini, memang kau pikir setelah operasi, kau bisa mandi sendiri? Kau bisa ambil anak kau dari ranjang bayi, terus pindahkan ke dekapan kau sendiri? Kau mampu memang, untuk ganti pakaian dan ganti pembalut untuk nifas kau sendiri? Kau pikir ini lucu? Kau pikir ini kejutan? Kau pikir ini adalah hal yang membahagiakan?“ Ia berbicara lancar di depan wajahku dengan nada pelan.


Aku yakin, hanya aku dan dirinya yang mampu mendengar pembicaraan ini.


“Tapi bukan berarti aku tak punya kesempatan jadi ibu dari anak aku kan, Mbak?“ Aku menatap mata teduh kakakku yang sudah berair parah.


“Sekarang kau pikir! Sebutlah diri kau orang tua tunggal, terus kau punya kewajiban untuk nafkahi anak kau. Ditambah, dengan maruknya kau mau urus anak kau juga? Memang mampu? Kan rasanya tak mungkin. Siapa lagi yang kau bagi kewajiban kau untuk urus anak kau, selain Mbak? Apa kau dan anak kau mau seumur hidup dapat sumbangan untuk makan dari Mbak dan mas Givan? Kan tak begitu, kita sedekah dan menyumbang sewaktu-waktu, bukan setiap waktu. Kau harus cari uang, untuk kehidupan kau dan anak kau. Memang kau disekolahkan setinggi ini untuk apa? Untuk bina rumah tangga yang berlapis emas? Untuk masa depan kau, Ria!“ Mbak Canda sampai menepuk jidatku.


Mulutnya mirip suaminya dan ibu mertuanya.


Ia duduk tegak kembali, ia menghadap ke depan dengan mengusapi air matanya. Ia benar-benar tidak terlihat senang dan bahagia seperti tadi. Ia menjatuhkan mentalku dan menyadarkanku bertubi-tubi. Aku kembali menyusahkannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2