
"Yang, Ayang Apin." Aku menarik tangan suamiku yang sibuk mengupas kulit singkong yang sudah gosong.
"Hm? Mau?" Ia meniupkan potongan singkong dan menyuapkan padaku.
Aku menggigit sedikit. "Bobo sih, udah jam dua malam." Aku terbangun tengah malam dan mencari pengharum ruang kamar yang memberi kenyamanan ini.
"Nanti, Yang. Udah dikelonin tadi tuh, Kirei jatuh loh kalau ditinggal." Gavin masih jongkok di sekeliling saudaranya.
Gila memang, sampai hadir semua anak-anak mamah Dinda. Kak Icut yang jauh, memang tidak bisa selalu hadir. Tapi kak Giska, yang perempuan saja sampai nginep. Ia tidur, tapi suaminya berkumpul bersama menikmati singkong bakar ini. Gibran pun kebetulan pulang dan ia menginap di sini, tanpa istrinya. Ia baru berkunjung setengah sepuluh tadi dan mengatakan ia pulang siang tadi.
"Ayo sama Ayang." Aku terkadang manja sekali padanya seperti ini.
"He'em." Ia menaruh singkong yang baru ia kupas. "Bentar, Bang. Ngelonin dulu." Pamitnya pada saudara-saudaranya.
Kenapa harus mempermalukanku seperti itu? Kan aku tidak enak hati juga dengan yang lain.
"He'em, tidur sekalian tak apa Vin," ujar bang Ghava yang kebetulan berada di dekat Gavin.
"Iya, Bang." Gavin merangkulku untuk masuk ke rumah.
"Dingin, Yang. Kenapa keluar tak pakai selimut? Aku aja pakai baju panjang, plus jaket tebal." Gavin mengusap kepalaku.
Aku tersentuh dengan sentuhan kecilnya.
Saat aku membuka pintu kamar, pemandangan pertamaku adalah Kirei yang duduk di tengah ranjang dengan menggaruk kepalanya. Ia celingukan, seperti bingung dan entah mencari seseorang. Namun, saat ia menoleh ke arah yang pintu yang terbuka ini. Ia malah menangis dengan menunjuk laki-laki di sampingku ini.
"Aduh, aduh. Anak Ayah." Gavin melepaskan rangkulannya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan membawa Kirei dalam pelukannya.
__ADS_1
Aku menutup pintu dan mengambil posisi di sebelah Kirei, tapi ia malah menendang pahaku saat aku hendak memeluknya. Anak ini posesif sekali pada ayahnya, ia sombong jika ada ayahnya.
Yang penting hidungku mencium bau Gavin, aku bisa pulas kembali karena pengharum kamarku ada di ranjang juga. Suara ngoroknya, ibarat musik instrumental yang memenangkan dan memberikan rasa kantuk.
Apa begini rasanya hamil ditemani suami?
Ternyata, rasanya menahan ingin disentuh suami itu sulit. Suamiku bisa rutin mengeluarkan benihnya beberapa kali sehari, dengan cara aman tanpa melakukan hubungan suami istri. Tapi ternyata, aku tidak kuat menahan sampai sebulan kemudian.
Aku sampai memohon suamiku, agar dirinya mau menggauliku. Rupanya, nasehat dokter itu benar. Malam setelah berhubungan, paginya aku datang ke rumah sakit karena ada rasa tidak nyaman di perut bawahku. Kebetulan juga, waktunya untuk cek up rutin.
"Tak apa kok janinnya aman, rasa tidak nyaman itu ada karena kebetulan mungkin Ibu Ria memiliki kekhawatiran. Saya ingin memastikan sekali lagi, jika benar adanya bahwa janin ini triplets. Perbedaan waktunya satu sama lain itu tiga hari ya, Bu? Memang seperti itu jika bayi kembar, mereka tidak memiliki usia yang sama. Beruntung ini bareng satu bulan, karena Saya pernah mendengar kasus ada bayi kembar yang beda tiga bulan. Karena saat itu ibunya masih memproduksi sel telur, kebetulan sekali suaminya mengeluarkan benihnya di dalam. Jadi, hamil kemudian di saat janin itu berusia dua belas minggu."
Alhamdulillah, jika bayiku baik-baik saja.
"Silahkan, Bu." Asisten dokter memberikan beberapa lembar tisu padaku.
Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di depan meja dokter. Sesi konsultasi dimulai, dengan Gavin mulai menanyakan keadaan anak tripletsnya.
"Saya pernah dengar, katanya kalau anak kembar ini tak bisa melahirkan sembilan bulan ya?" tanyanya, setelah aku duduk di sampingnya.
"Betul, Pak. Resikonya, memang melahirkan kurang dari tiga puluh delapan minggu. Itu udah jadi resiko paling umum kehamilan kembar, Pak. Karena beberapa kasus, memang kejadiannya seperti itu dan selalu melahirkan sesar. Apalagi, riwayat Ibu Ria memang melahirkan sesar." Dokter tersebut tersenyum dengan ramah padaku.
"Kalau melahirkan prematur, apa punya resiko untuk bayinya?" Wajah ayangku tegang sekali.
Ada apa dengannya?
"Resiko itu pasti ada ya, Pak. Tapi kalau memang bayi tidak memiliki tanda-tanda gawat bayi setelah dilahirkan, resiko tersebut cukup kecil. Paling memang perlu di ruang perawatan khusus selama beberapa hari, karena bayi prematur belum kuat di suhu ruangan. Ditempatkan di inkubator biasanya, Pak. Mereka dipersiapkan dan istilahnya dimatangkan kembali, untuk bisa terbiasa dengan dunia luar. Berat badannya pun perlu menjadi perhatian khusus, susu formulanya pun ada yang khusus untuk bayi prematur." Ia sembari menuliskan sesuatu di buku miliknya, kemudian menyalin di buku milikku yang sebesar buku tabungan anak sekolah.
__ADS_1
"Ini istri Saya tak memiliki tanda-tanda yang mencurigakan kan, Dok?" Gavin menunjukku dengan ibu jarinya.
"Alhamdulillah, tidak ada. Pertumbuhan janin normal, ukuran sesuai dan mereka dua plasenta ya, Pak. Apa ya? Dua ari-ari dikenalnya."
Waduh, bayinya tiga kok plasentanya dua?
"Istri Saya, mengandung kembar tiga bukan? Kenapa plasentanya cuma dua?" Gavin sampai menyentuh perutku.
Perutku seperti orang hamil tiga bulan.
"Fakta lainnya yaitu terdapat dua jenis kembar yaitu identik dan fraternal. Kembar identik terjadi saat satu sel telur bertemu dengan satu s*****, kemudian dari proses itu mereka membelah menjadi dua. Pada kembar identik, jenis gender si kecil akan sama. Sedangkan, kembar fraternal merupakan kembar bukan identik. Kembar fraternal terjadi saat Ibu mengeluarkan dua sel telur dari ovariumnya saat masa subur. Masing-masing sel telur akan dibuahi s***** yang berbeda, maka terjadilah kehamilan kembar fraternal. Jenis gender si kecil kembar fraternal dapat berbeda. Kemungkinan, dua sel telur turun bersamaan dan salah satunya membelah menjadi dua. Si kecil yang satu plasenta ini, dikenal dengan kembar identik dan biasanya mereka jenis gendernya sama. Si kecil yang memiliki plasenta sendiri ini, dikenal dengan kembar fraternal. Bisa jadi, gender salah satu janin yang memiliki plasenta sendiri ini akan berbeda dengan yang satu plasenta bersama. Sabar ya, Pak. Butuh waktu juga untuk melihat pertumbuhan mereka." Dokter tersebut memberikan buku rekam medis milikku.
"Saya khawatir, Dok. Khawatir ada kendala di pertumbuhan mereka." Gavin menyugar rambutnya.
"Bismillah aja, Pak. Sama-sama berdoa dan rutin memantau. Ini untuk resep dan vitamin yang perlu ditebus, Pak." Secarik kertas diberikan pada Gavin.
"Terima kasih, Dok." Gavin segera mengajakku keluar ruangan.
Ada apa ya? Ia kok khawatir terus? Aku jadi ikut khawatir.
"Aku mimpi buruk semalam abis berhubungan, jadi takut terus." Ia meraup wajahnya sendiri.
"Cuma bunga tidur, Bang. Memang mimpi apa sih?" Aku mengikuti langkah kakinya, yang menuju penebusan obat di lantai dasar.
USG rutin seperti ini, biayanya tidak bisa dicover asuransi. Berikut dengan biaya obatnya juga, karena kami menggunakan asuransi swasta.
"Mimpinya….
__ADS_1
...****************...