
“Ck, Mbak sih memang kadang memukul rata orang Sulawesi. Apa-apa, kek bang Daeng.“ Aku memutar bola mataku malas.
“Serius, Ria. Dia itu pernah punya anak laki-laki, namanya Alambara Ahmadinejad. Dia anak SMA yang hamili anak SMP kalau tak salah, karena dia tak paham kalau begituan itu buat hamil. Tapi bang Daeng sih paham cari nafkah, entah itu halal atau haram, dia kerja untuk jajannya Dikta. Dikta sampai kurang waras dan berobat rutin kurang lebih sepuluh tahun, sampai akhirnya dia dinikahin dokter yang rawat dia.“ Mbak Canda bercerita dengan raut serius.
Aku yakin, mbak Canda tidak sedang menceritakan cerita novel. Ia berkata serius, tentang cerita hidup seseorang yang pernah ia dengar.
“Kalau Keith dia minta orang tua, dia minta orang tua untuk kebutuhan Via itu. Dia tak kerja, katanya karena tak paham dan tak punya keahlian. Makanya, dia itu kek mempersiapkan pernikahan begitu.“ Aku mengedikan bahuku, kemudian meluruskan punggungku memandang langit-langit kamar mbak Canda ini.
“Menurut pandangan Mbak sih, Keith itu nyari cintanya, bukan mempersiapkan untuk pernikahan nanti. Dia tak cinta sama kau, makanya alasannya banyak sekali. Bang Daeng tak banyak alasan, malahan nanyain mau pernikahan yang kek mana. Mbak kan sadar diri Mbak ini janda waktu sama dia, jadi Mbak cuma minta nikah resmi di KUA aja. Ya dia wujudkan itu, tanpa banyak pertanyaan lagi. Dia memang ada ketakutan tentang kebutuhan dapur dan jatah Mbak nanti, tapi dia merasa dia bisa kerja dan menghasilkan uang. Awalnya sih memang kek sulit betul dia timbang-timbang. Tapi, keputusan langsung mantap karena Mbak tak mau diajak mesum. Mungkin masa itu dia udah tak tahan betul, jadi ya udah lah nikah aja gitu. Ya mungkin begitu, karena Mbak pun tak tau pasti. Bang Daeng itu, kalau cari bahan untuk pelepasananya sendiri itu susah. Sedangkan, dia itu sulit berhubungan se*s kalau perempuannya yang bukan ia inginkan. Jadi misalnya pengen begituan sama Mbak, tapi Mbak tak mau, sedangkan Putri yang mau. Ya dia tak jadi begituannya, dia kek bujuk Mbak terus gitu. Sedangkan Mbak tuh takut zina tuh, Mbak tau gimana pedihnya hukuman pezina. Makanya ambil pernikahan itu, karena jalan keluar untuk semuanya.“
Aku sampai memutar leherku kembali, saat mendengarkan penjelasan mbak Canda. Benarkah Keith tidak mencintaiku? Tapi ia begitu lembut dan spesial dalam memperlakukanku. Aku tidak yakin, jika kebenarannya Keith tidak mencintaiku. Aku pun sempat mencintainya, sebelum akhirnya teralihkan karena lama menunggu Keith, ditambah lagi dengan kenyamanan dan keamanan yang bang Ken berikan.
“Semua laki-laki kan mudah untuk berhubungan se*s dengan siapa aja, Mbak.“ Ini adalah informasi yang bang Givan berikan.
“Iya memang, tapi bang Daeng agak sulit. Mbak pernah lihat sendiri dia digoda Putri, diciumi, duduk di pangkuannya. Tapi dia malah nyuruh Putri pergi, Dek. Terus ya dia biasa aja, tak nampak nahan n**** gitu.“ Mendengar cerita mbak Canda, aku jadi penasaran dengan Daengnya mbak Canda ini.
Oh, iya. Daeng itu adalah panggilan untuk kakak laki-laki, laki-laki yang mbak Canda ceritakan adalah almarhum bang Lendra. Ia adalah mantan suami mbak Canda yang meninggal beberapa tahun silam, karena sakit komplikasi pasca operasi usus buntu. Bang Daeng adalah panggilan khusus yang mbak Canda berikan untuk laki-laki tersebut.
“Bang Givan ditoel-toel perempuan lain pun, pasti langsung kuras tangki.“ Aku tahu bagaimana tabiat suami mbak Canda yang sekarang itu.
“Jangankan ditoel-toel, bahas tentang hal mesum pun dia minta langsung adegan.“
Aku tertawa lepas, mendengar penuturan mbak Canda. Ia agak kocak, dengan pasangan yang agak gila juga tentunya.
“Pantesan, anaknya banyak.“ Celetukku kemudian.
__ADS_1
“Iyalah! Rutin. Tak malamnya, siangnya ditagih. Waktu Mbak sama bang Daeng, sulit betul dapat jatah. Nah ini, kelebihan jatah.“
Bagaimana jika aku jadi menikah dengan bang Ken? Apa nanti aku kelebihan jatah, atau kekurangan jatah? Pasti sensasinya banyak memaksa, karena gerakannya memang agak kasar.
Aduh, aku jadi rindu pada duda panas itu.
“Pulang gih, Dek. Siap-siap, jam dua malam nanti berangkat.“ Suara tersebut baru datang dengan langkah cepat seseorang.
Itu bang Givan.
“Ya, Bang. Abang yang antar ke bandara kah?“ Aku bangkit dari ranjangnya.
Pasti lama aku di sana, pasti lama aku tidak bertemu dengan bang Ken. Hufttt, pasti nanti aku akan merindukannya.
Aku punya ide, aku akan mengantarkan barang untuk Bunga ke rumah umi Sukma. Itu akan aku jadikan alasan, untuk bertemu dengan duda yang nampaknya tengah marah padaku itu.
“Aku pulang dulu, Mbak.“ Aku menoleh ke arah kakakku yang anteng bermain ponsel dengan rebahan itu.
Ibu hamil yang malas.
“He'em.“ Ia bahkan tidak melirikku sama sekali.
Aku meninggalkan rumah mereka, lalu bergegas untuk mengambil barang yang aku beli untuk Bunga tadi bersama Keith. Pasti akan lucu sekali, jika Bunga mengenakan dress dengan bunga matahari yang besar ini. Yaps, ada variasi bunga matahari 3D di bagian depan baju ini.
Aku berjalan kaki ke sana, karena aku berharap pulang ke rumah dengan diantar oleh bang Ken. Kan romantis bagaimana gitu, jika berkendara dengan motor.
__ADS_1
Aku mengambil jalan pintas, melewati gang-gang kecil yang berada di tengah rumah warga. Aku pun melewati rumah keluarga Arman, rumahnya cukup sepi dengan pintu yang tertutup rapat.
Tak butuh waktu lama, aku sudah menginjak lantai rumah ibu kandung bang Ken. Hanya ada umi Sukma yang bersantai dengan menonton televisi, aku diminta langsung saja ke lantai atas, di mana kamar bang Ken berada.
“Hei, lagi ngapain?“ sapaku pada adik satu ibu dari bang Ken.
“Hai, lagi masak.“ Ia tersenyum ramah padaku.
Ia adalah Ahya, mantan kekasih suaminya Giska. Giska adalah adik satu ibu dari bang Givan.
“Masak apa?“ Basa-basiku, sebelum melewatinya begitu saja.
“Masak sayur sop. Mau ke Bunga kah? Ini, nitip susu formulanya. Tadi bang Ken minta aku tempatkan ke wadah susunya dulu, dipindahkan dari plastik dusnya tuh. Sekalian bawakan air termos kecilnya juga nih.“ Ahya memberikan kotak susu berukuran sedang, dengan sebuah termos stainless yang sudah terisi air.
“Oke, aku ke atas dulu.“ Aku meninggalkan area dapur yang berada di bawah tangga ini.
“Oke.“ Terlihat Ahya sibuk kembali dengan peralatan dapur.
Aku sudah biasa berkunjung seperti ini. Maka dari itu, keluarga bang Ken menyuruhku langsung naik ke atas saja.
“Assalamualaikum.“ Aku menarik gagang pintu kamar bang Ken dengan perlahan.
Waduh, gadis kecil itu tengah terlelap dalam dekapan ayahnya yang terus mengayunkan tubuhnya.
“Wa'alaikum salam.“ Bang Ken menjawab lirih dengan menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
__ADS_1
Ish, seksinya. Ayahnya Bunga bertelan*ang dada, dengan tanda merah penuh di area lehernya.
...****************...