
"Dih, kek tak pernah lihat uang." Gavin bergidikan, ketika melihatku menatap uang yang ia geletakan tersebut dengan penuh minat.
Aku tertawa lepas, kemudian langsung memeluk lengannya. Bicepsnya pelukable lah, cukup untuk dijadikan bantal juga.
"Awas lah, awas. Mau main dulu, mumpung masih bebas, belum punya istri." Ia menjauhkan kepalaku.
"Tuh…." Padahal lagi enak-enaknya memeluk lengannya.
"Tak enak sama ibu tuh, Riut. Kita belum nikah di kamar aja. Memang kita lagi beres-beres, tapi kelamaan kan pasti dicurigai juga," bisiknya kemudian.
Kadar mesumnya kadang naik, kadang turun.
"Mau main ke mana? Aku tak diajak?" Aku mendongak menatapnya, dengan memegangi pergelangan tangannya.
"Kedai kopi paling, nanti kalau main futsal diajaknya. Buat tempat penitipan HP aku dan teman-teman gitu kan? Biar kau berfungsi." Ia terkekeh kecil dengan melirikku.
Untuk mendukungnya begitu, kan pantas. Eh, untuk dijadikan tempat penitipan katanya.
"Awas nih." Ia melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya.
"Jemputan Kirei tuh, udah capek beres-beres nih." Aku ingin tahu responnya, ia menurut tidak begitu.
"Iya, nanti aku anterin sekalian pergi main. Besok nanti diantar aja, mobilnya mau aku pinjam. Mobil papah ditinggal di Lampung, yang di rumah papah itu mogok terus. Besok mau dibawa untuk diperbaiki, sekalian aku mau ketemu W.O langganan keluarga." Ia sudah berdiri di depan pintu kamar, ia menoleh ke arahku dengan bertolak pinggang.
"Kok aku tak diajak?" Aku bangkit dan berjalan ke arah pintu kamar tersebut.
"Nanti aja kalau udah milih-milih. Aku mau tanya-tanya dulu aja, sekalian pengen tau tanggal segitu mereka kosong tak."
Ternyata ibu tengah menyetrika baju di ruang televisi yang berada di depan kamarku ini. Aku mengenali pakaian itu, pakaian biru putih milik cucu-cucunya. Sesayang itu beliau pada cucu-cucunya.
"Mari, Bu." Gavin menyapa ibu yang fokus pada televisi yang menyala itu.
Kasihan, Andiennya meninggal. Sinetron yang paling bertahan lama dan masih ditonton ibu sekian lama.
__ADS_1
"Oh, iya." Ibu menoleh pada Gavin dan tersenyum lagi.
Hanya seperti itu saja? Ya, karena ibu fokus menonton televisi lagi. Ibu sepertinya tidak akan tahu, jika aku dan laki-laki yang masuk ke kamarku tadi berbuat mesum. Karena saking fokusnya beliau pada televisi dan tontonan yang tersedia. Bahkan, menyetrika pun dihentikan beberapa kali.
Aku lanjut berbenah lagi, setelah menyimpan uang dari Gavin yang rupanya senilai dua juta rupiah. Lumayan bukan? Padahal tadi siang aku mengatakan ia perhitungan, tanpa hitung-hitungan lagi ia meninggal uangnya dengan alasan pegangan.
Setelah berbenah, aku ke kamar mandi untuk cuci muka dan ganti baju. Cukup lama, Kirei tak diantarkan juga. Aku meraih kerudung instan dan mengenakannya, berniat menjemput Kirei di sana.
Saat aku keluar kamar, ternyata Kirei sudah pulas di tangan ibu. Ibu masih melongo saja pada televisi, dengan Kirei yang berada di dekapannya. Beliau sudah tidak lagi menyetrika, terlihat sih sudah selesai karena beberapa tumpuk baju seragam terlipat rapi.
"Kirei siapa yang antar, Bu?" Aku mendekati ibu.
Ibu menoleh, kemudian mengulurkan botol dot yang dibawa dengan plastik putih. "Dari Tadi kok, pas dia pulang itu tak lama datang lagi anterin Kirei sambil bawa dot Kirei."
Ish, tidak bilang-bilang. Aku kan masih ingin bertemu dengannya. Tapi kok ada sih orang seperti Gavin? Maksudku, ya tidak betah lama-lama berduaan begitu. Ada waktu berdua, ia malah pergi dengan alasan ingin main.
Setahuku mengenal laki-laki, jika tengah ada waktu bersama ya janji dengan teman pun akan dibatalkan. Tapi tidak dengan Gavin, menurutku.
Aku melepas kembali kerudungku, kemudian berbincang ngalor ngidul dengan ibu sampai kantukku datang. Kali ini, Kirei langsung bersama ibu. Aku buru-buru berangkat kerja, karena mobilku sudah menungguku di depan ruko ini. Bukan lain itu Gavin, yang sudah mengatakan sejak semalam bahwa ia akan meminjam mobilku.
"Pulang jam berapa? Biar enak jemputnya," tanyanya setelah aku duduk di sampingnya.
"Nanti aku telpon. Memang sampai sesore itu di luar?" Hari ini ia menggunakan kemeja rapi.
Layaknya anak muda pada umumnya, ia lebih sering menggunakan kaos biasa. Ia jarang berkemeja rapi seperti ini. Tapi sekalinya berkemeja, damagenya bukan main. Ia terlihat seperti laki-laki matang dalam satu kedipan.
"Iya keknya. Ada janji sama temen di beberapa coffee shop." Ia mengemudi santai.
"Perempuan?" Aku menelisik lebih jauh penampilannya.
"Tengok ajalah, nanya-nanya terus. Mau perempuan, mau laki-laki, kan yang tetap aku ajak nikah cuma kau." Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian memberikan padaku.
Seperti kesempatan, dengan cepat aku membuka aplikasi chattingnya. Sejak memiliki pengalaman bersama bang Ken, pikiranku lebih banyak buruknya tentang laki-laki. Aku lebih sering berpikir dia pergi untuk perempuan lain, ketimbang berpikir yang baik-baik.
__ADS_1
Opik, Murni dan Amme. Nama kontak itu, memiliki urutan room chat teratas. Setelah aku membaca isinya, Gavin memiliki janji temu dengan mereka dengan jarak waktu sekitar dua jam semua. Sepagi ini pun, ternyata ia memiliki janji temu di tempat WO yang katanya langganan keluarga.
Murni itu perempuan, dengan pembahasan paket parcel hantaran pernikahan. Sedangkan Opik itu, dia seorang owner dari usaha catering besar. Jika Amme, dalam chat Gavin membahas tentang paket pakaian keluarga. Entah perempuan atau laki-laki Amme ini, tapi foto profilnya adalah barisan busana muslim dengan model mewah. Sepertinya, Amme ini penjahit.
"Kalau niat main-main sama orang, kau tak akan aku ajak nikah. Udah, pokoknya patokannya itu aja." Ia mengusap-usap lututku.
"Kalau di tengah hubungan, tiba-tiba kau mabok perempuan lain gimana?" Ini menjadi ketakutanku.
"Belum pernah sebenarnya begitu tuh. Tapi kalau memang ada begitu, aku bakal terus terang dan minta udahan mungkin." Telapak tangannya masih berada di atas lututku.
"Kok begitu?!" Aku menepuk punggung tangannya.
"Masa mau dua-duanya begitu? T*t**ku tidak didesain semaruk itu." Ia mengangkat tangannya dari lututku.
"Ya masa aku mau ditinggalkan?!" Pagi-pagi, ia sudah buat emosi saja.
Aduh, bagaimana hari-hariku setelah rumah tangga dengannya? Pasti aku yang akan memiliki tensi tinggi, meski Gavin yang keturunan hipertensi. Modelannya begini laki-laki yang menarik mata dan hatiku, sayangnya terlanjur kecantol.
"Jangan bahas yang tak aku tau dan belum pernah aku rasakan lah! Kau nih, pagi-pagi buat aku naik pitam aja. Yang romantis gitu, bisa tak? Abang, semalam aku mimpi begituan sama abang kek. Atau, Yang nanti malam kita jalan ke pasar malam ya." Ia merubah suaranya untuk dua kalimat terakhir. "Gitu, Kek! Bahas ditinggalkan dan orang ketiga begini, ya mana aku tau rasanya. Aku tak pernah ngerasain hal itu, Riut!!!" Ia yang malah mengomel.
"Aku takut." Aku bersedekap tangan dan mendengus sebal. Aku menatap lurus ke depan, dengan bibir yang aku rapatkan.
"Ya ngadu sana ke ibu mertua kau. Tak tau aku nanti gimana, yang penting kau ngadu aja dulu." Jalan keluar yang malah masuk hutan lindung itu namanya.
Gavin tidak jelas!
"Heran, aku yang emosian dapatnya yang kek kau. Kalau tak ada ser-ser di hati, udah aku tinggal kau dari awal. Herannya, malah aku perjuangkan." Ia ngedumel kencang, seolah ingin agar aku tahu.
Jatah laki-laki untukku seperti ini, mak. Author salah tidak memberikan keturunan Adi's Bird padaku ini.
Hadeh.
...****************...
__ADS_1