Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD64. Curhatan Ria


__ADS_3

“Nan, ke ruko jalan kaki aja. Supirin ipar aku sama orang aku ke bandara Banda.“ Bang Givan menelpon seseorang, ketika ia mengikuti masuk ke dalam ruko ibu.


“Oke, oke. Izin dulu ke istri kau.“ Bang Givan bahkan ikut berbelok ke dalam kamar.


Aku jadinya malah negatif thinking pada bang Givan, gara-gara bang Ken yang aku anggap kakak saja sampai berani menyerangku dengan kata-kata cintanya.


Bang Givan menaruh ponselnya di atas ranjang, kemudian ia duduk di tepian ranjang dengan menopang rahangnya. Helaan napasnya terdengar berat, dengan wajah lelahnya.


“Keluarkan dokumen kau, Dek. Sini, biar Abang bereskan mana yang perlu kau bawa. Kau mandilah, junub.“ Bang Givan menggosok wajahnya.


“Ya, Bang.“ Aku bergerak ke arah lemari pakaianku untuk mengambil dokumen.


Dugaan jelekku salah, karena bang Givan benar hanya ingin membereskan dokumen milikku. Aku beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi, untuk melakukan mandi besar sesuai yang bang Givan perintahkan.


Sensasi perih sedikit aku rasakan, setiap kali membasuh intiku. Bang Ken mengatakan bahwa itu adalah hal yang normal, sampai aku terbiasa dengan melakukan hal tersebut.


“Nomor bang Ken di HP kau Abang blokir, Dek,” seru bang Givan.


“Ya, Bang.“ Mungkin aku harus mulai dengan keterpaksaan sampai akhirnya aku terbiasa.

__ADS_1


Cukup lama aku membersihkan diriku. Aku pun sekalian mengeringkan rambutku di walk in closet yang cukup mini, karena hanya berisi pakaian gandeng dua dan juga meja rias saja.


Aku keluar dari dalam ruangan, dengan keadaan yang sudah lebih segar dan pakaian yang rapi. Aku harus semangat, agar bang Givan tidak semakin kecewa padaku.


“Latih bahasa Inggris kau, Dek. Sebulan, kau kursus bahasa Inggris dan bahasa Brasil. Bulan berikutnya, kau ambil kursus untuk dapat sertifikat ya? Di sana kuliah itu, kau harus punya banyak sertifikat. Setelah kau dapat kursus dan sertifikat, kau boleh ambil pendidikan. Kalau kau tak mau, ya tak perlu ambil pendidikan tinggi tak apa. Yang penting, di sana pikiran kau teralihkan dan kau punya kegiatan.“ Bang Givan masih memilah dokumen milikku.


“Ya, Bang.“ Aku tak berani membantah karena aku bersalah di sini.


“Bang Ken udah WA kau, dia cuma kirim pesan 'dek' gitu aja. Mau dia apa coba? Dia tak malu kah sama kau? Dia udah rendahkan kau, tapi tetap hubungi kau.“ Bang Givan menumpuk ijazah sekolah paket milikku.


“Dia sih bilangnya cinta, Bang.“ Aku hanya mengatakan yang aku tahu tentangnya.


Aku menggeleng. “Tak kek gitu, Bang.“ Aku menerima koper yang bang Givan arahkan ke arahku.


“Terus? Sambil ambil dan siapkan pakaian kau, hijab banyakin.“ Bang Givan menjatuhkan dokumen ke dalam koper milikku.


Aku harus menaruh dokumen ini di paling dasar sebelum pakaian, agar aman dan tidak terlipat.


Aku mengangguk. Kemudian aku bergerak untuk mengambil beberapa pakaianku dari lemari, lalu aku letakkan di atas tempat tidur. Setelahnya, aku melipat ulang agar masuk ke dalam koper semua.

__ADS_1


“Kau banyak Abang ceritakan tentang bagaimana tabiat laki-laki, tapi kenapa sekarang kau jadi korbannya? Kau tak percaya ucapan Abang kah? Kau mau buktikan sendiri dan ternyata benar kah?“ Bang Givan membantuku melipat pakaianku.


Aku melipir sejenak, untuk mengambil skincare dan hair car milikku. Tidak lupa dengan pakaian dalam milikku, juga beberapa jilbab. Aku menyatukan pakaian dalamku di sebuah kantung kain, barulah aku bawa ke ranjang kembali. Aku malu, karena ada bang Givan yang membantuku prepare.


“Aku udah bilang tadi kan, Bang? Bang Ken tak sesuai kesepakatan aku pas dia ambil perawan aku. Masa itu, aku tak sengaja dapati dia lagi ngurut sendiri. Terus, dia main naik aja ke aku. Petting kan kita di situ, tapi tuh bang Ken tak ada bilang mau masuki. Tak taunya, main sentak aja. Tapi udah gitu aja, tak lanjut begituan. Cuma sampai dia coblos aja, tak dilanjutkan hubungan itu. Aku pun kaget lah, Bang. Panik juga aku ini, karena dia cuma bilang tak akan tinggalkan tapi tak bilang mau nikahin. Udah mohon-mohon, dia tak mau tetap tuh, karena dia mau freechild, sedangkan kan aku tak mungkin mau freechild. Udah aku capek nangis, aku coba tegar, aku coba jaga jarak. Eh tak taunya, dia kasih obat perang***g ke kopi aku, karena dia tau kalau Arman minta untuk lamar aku. Antara sadar dan tak sadar aku rasa malam itu kejadian, baru benar-benar yakin itu dalam keadaan nyata bukan mimpi itu, ya pas pagi kami bangun. Dia bilang, iya kita nikah, tapi dengan syarat harus tanda tangan surat persetujuan freechild. Aku pikir, ya udah yang penting nikah aja dulu. Karena aku punya feeling, aku hamil pun dia tak akan ambil opsi untuk gugurin anak aku.“ Aku sengaja tidak menceritakan hubungan yang ketiga itu, karena kondisiku pun memang salah. Aku terbawa pujian dan bujuk rayunya, aku terbawa arus dan sentuhan yang ia berikan.


“Freechild? Bebas anak? Maksudnya, tak mau punya anak gitu? Apa tak gila dia?“ Rautnya nampak terkejut tak percaya.


Mau disebut gila, tapi orang-orang yang berpegang teguh pada freechild itu memang ada. Malahan, suami dan istrinya sama-sama setuju. Bahkan, ada lagi dari mereka yang memang tak ingin punya anak kandung, tapi mengadopsi anak. Karena pola pikir mereka, masih banyak anak yang terlantar dan membutuhkan kasih sayang mereka.


Sulit dimengerti untuk kami yang memang ingin memiliki anak yang banyak, agar keturunan kami tidak punah. Tapi memang benar-benar ada dan banyak orang-orang yang berprinsip ingin freechild.


“Dia berpikir, kalau dia udah tua. Dia berpikir pun, Bunga besar pun entah masih ketemu umurnya tak. Dia tak mau ninggalin anak yang masih kecil-kecil untuk selama-lamanya.“ Aku kurang tahu alasan pastinya, tapi ya pernah mengatakan demikian.


“Lah, gimana dengan Gue? Empat puluh tahun, masih punya dua bayi. Gimana nanti kalau aku mati? Begitu kah pikiran bang Ken? Tapi Abang kan berpikir, Abang punya anak yang pasti udah dewasa untuk ambil alih adik-adiknya. Abang yakin, Chandra, Key, Zio, Jasmine tak akan tega-tega betul sama adik-adiknya. Ditambah juga, Abang persiapkan dana pendidikan dan kebutuhan mereka dengan rupa usaha. Karena kalau hanya wujud uang, itu pasti akan habis juga. Kalau dia berpikir demikian, harusnya dia memperkaya istrinya dong? Istrinya kaya, mampu, usaha ada, besarin anak-anak yang ditinggal meninggal olehnya. Kan begitu paling adil menurut Abang. Daripada mikirin mati gimana, anak gimana, anak sama siapa, istri nikah lagi tak. Dia mati, itu bukan akhir kehidupan untuk orang-orang terdekatnya. Kehidupan di dunia untuk orang terdekatnya masih berjalan, meskipun dia udah di alam lain. Yang terpenting, dia persiapkan untuk masa depan anaknya sedini mungkin, di sisa umurnya. Dia persiapkan amal dan ibadah untuk akhiratnya, kan begitu kan? Harus ada yang nyadarin tuh.“ Bang Givan mengusap-usap dagunya.


Benar, bang Ken sepertinya harus ada yang memberinya pemahaman khusus. Ia tidak ingin anak, tapi rajin bercocok tanam. Sulit dimengerti konsepnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2