Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD150. Ayah K.O


__ADS_3

Bang Ken muntah darah, kami semua panik melihatnya. Papah Adi langsung bergerak memindahkan meja, Ahya langsung memposisikan wajah kakaknya, abi Harus bergerak mendekat untuk memberi tindakan pada anak sulungnya, mamah Dinda bergerak cepat untuk menaruh kain lap untuk muntahan merah itu. 


Ia kenapa? 


Ayahnya Kirei kenapa? 


Apa ia tengah tidak baik-baik saja? 


Apa ia tengah sakit parah? 


"Dia kalau kecapean begini." Abi Haris membuka kemejanya karena terciprat cairan merah. 


"Gimana ini, Bi?" Ahya terlihat panik. 


"Baringkan aja, terus panggil siapa gitu untuk belikan obat di apotik." Abi Haris masih berusaha melepaskan pakaian bang Ken. 


"Dia punya penyakit bawaan? Merah segar gini darahnya?" Mamah Dinda membantu abi Haris untuk melepaskan pakaian bang Ken. 


Bang Ken sadar, tapi ia terlihat begitu lemah dan lemas. Untuk mengangkat tangannya sendiri pun ia tak bisa, ia terlihat tak berdaya. 


"Pernah diperiksa tuh, GERD atau asam lambung mengalir naik ke kerongkongan dan menyebabkan peradangan. Tapi terjadi berulang kalau dia kelelahan, Dek." Abi Haris melambaikan tangannya pada papah Adi, ia perlu bantuan untuk memindahkan tubuh lemah bang Ken. 


"Sakit, Bi." Bang Ken meringis kala kakek-kakek itu kesulitan memindahkan tubuh tinggi besarnya. 


"Berat betul, kaki aja tak keangkat-angkat. Panggilkan anak muda aja, Ya." Abi Haris garuk-garuk kepala karena ia sudah berkeringat dan ngos-ngosan padahal belum memindahkan tubuh berotot itu. 


"Iya, Bi." Ahya segera berlari keluar. 


"Adek Kirei, tengok Ayah lagi K.O nih. Kasih semangat, Dek." Abi Haris menekan bagian perut atas anaknya. 


"Terakhir makan kapan kau? Kosong betul ini." Abi Haris mengamati wajah anaknya. Beliau masih terlihat santai, tidak panik saat seperti bang Ken baru muntah tadi. 


Bang Ken hanya merespon dengan celengan kepala, ia masih terlihat begitu lemah. Aku masih curiga, apa ia mengkonsumsi obat dengan dosis besar kah? Atau ia keracunan atau bagaimana? Masa iya kelelahan bisa muntah darah begini? GERD lagi, apa itu? 

__ADS_1


Rombongan laki-laki datang, ada bang Ghava, bang Dendi, bang Nando dan entah siapa lagi satunya aku tak kenal. Mereka langsung memposisikan diri, untuk mengangkat tubuh bang Ken. 


"Di kamar tamu aja, mau dibereskan dulu bawahnya ini. Kena karpet soalnya," pinta mamah Dinda kemudian. 


"Bukain pintu kamarnya, Dek." Papah Adi menunjukku. 


"Iya, Pah." Aku bergerak dengan menggendong Kirei yang mulai pulas. 


Tubuh bang Ken terangkat oleh empat laki-laki tersebut, ia langsung dipindahkan ke kamar tamu. Setelahnya, abi Haris menuliskan resep dan menyuruh bang Ghava untuk membelinya di apotik. 


"Jangan nangis! Sakit malah nangis. Kebiasaan!" Abi Haris mengusap pelipis bang Ken. 


"Capek, Bi." Suaranya bergetar lemah. 


"Ya iya capek, makanya anteng. Udah tua!" Abi Haris melepaskan ikat pinggang yang masih melingkar di pinggang bang Ken. 


Kirei terbatuk, aku segera menutup ASIku dan menyibak apron ini. Wajah Kirei terlihat memerah, ia terbangun dari tidurnya. Ia langsung berkedip dan memperhatikan suasana di kamar ini, kemudian ia bersandar pada dadaku lagi. 


"Ini Abang tak perlu dibawa ke rumah sakit kah, Bi?" Ahya menghampiri kakaknya yang berbaring di tempat tidur tersebut. 


Ahya terlihat urus dengan kakaknya, hanya saja memang bang Ken yang sepertinya tak mau diurus. 


"Tak perlu." Abi Haris masih memperhatikan anaknya. 


"Takut kenapa-napa, Bang." Mamah Dinda baru masuk ke dalam kamar ini. 


"Tak apa, udah tuliskan beberapa barang yang nanti dibutuhkan juga. Kalau muntah nyan berulang, nanti baru kita rujuk." Abi Haris menyelimuti anaknya sebatas dada. 


Aku memilih untuk kembali keluar, untuk menidurkan Kirei di kamarku yang sebelumnya digunakan oleh Gavin. Mbak Canda sih mengklaim bahwa ini adalah kamarnya, tapi aku yang sekarang menempati. 


Cukup pedas pundak ini, karena Kirei bertubuh panjang dan berisi. Ia seperti anak usia lima bulan, padahal baru mau tiga bulan. 


"Dek, boleh masuk tak" Aku menoleh ke arah pintu kamarku. 

__ADS_1


Itu ibu kandungnya almarhumah kak Kin. Ia sudah mendorong pintu kamarku ternyata. 


"Boleh, Tan." Aku bingung menyebutnya apa. 


Ia masuk ke dalam kamar ini, kemudian melihat sekeliling kamarku. Kemudian, ia duduk di tepian ranjang dekatku. Ia mengusap-usap paha Kirei yang terlihat berlipat itu, kemudian ia memandangku. 


"Mohon maaf, kita tak tau kalau kau istrinya Ken. Gimana rumah tangga kalian sekarang? Ken tak pernah cerita apapun," tutur katanya lembut dan halus. Ibu kandungnya kak Kin terlihat keibuan. 


"Tak apa, Tan. Ya seperti yang terlihat aja, udah begini keadannya." Aku mengedikan bahuku. 


"Kasian anak kalian, Ria." Wajahnya berubah menjadi sendu. 


"Aku sayang sama anak aku, Tan. Tante tak perlu terlampau khawatir, aku pasti pikirkan masa depan Kirei." Aku mengusap kepala anakku. Ia seperti ayahnya ketika tertidur pulas, keringatnya sampai membasahi rambutnya. 


"Tante yakin tentang hal itu, tapi pertumbuhan mental anak jelas tak seimbang kalau dia cuma punya ibu aja. Berkaca dari suami kau, dia punya orang tua sambung yang tak seperti bang Adi." Penyampaian yang cukup baik dengan nada bersahabat. 


"Tapi dia sendiri yang milih begini, Tan." Pertanyaanku hanya satu, apa alasannya mengkhitbah Hala? Hala bukan orang lain untuk kami, kami pun mengenal jelas siapa dia. Lalu, kenapa ia ingin menikahi Hala di statusnya yang masih menggantungkanku? 


"Kau harus tau satu fakta, bahwa seorang Ken adalah manusia yang jangan dibiarkan. Kau harus selalu tau, kalau dia adalah anak yang kurang perhatian. Dia pernah pecahin beberapa piring dalam satu waktu, untuk cari perhatian kami yang sibuk dengan aktivitas kami. Untuk apa? Untuk kami tanyakan bagaimana keadaannya? Apa ia terluka terkena pecahan piring tersebut? Apa ia baik-baik saja melihat piring-piring tersebut jatuh dalam waktu bersamaan?"


Alisku menyatu mendengar fakta tersebut. Apa mengkhitbah Hala adalah serangkaian rencana untuk membuatku datang dan merecoki kehidupannya? Apa hal itu termasuk ke dalam mencari perhatian juga? Tapi ia menggunakan wanita lain, yang jelas wanita tersebut pun akan menaruh harapan besar jika ia permainkan untuk menarik perhatianku. Ia terkesan tidak ada otak, jika memang menggunakan cara tersebut. 


"Aku tak tau, Tan." Aku tidak yakin, jika mengkhitbah Hala adalah salah satu caranya menarik perhatianku. 


"Konflik permasalahannya apa? Tak pernah dibicarakan berdua kah? Atau, harus kami orang tua yang menengahi?"


Aku sudah melamun di sini. Haruskah akhirnya menarik kembali cerita tentang konflik di Brasil itu? 


"Aku hamil, dia nuduh aku hamil dengan laki-laki lain. Dia sengaja kasih pil KB untuk aku, tapi setelah aku tau itu pil apa, aku tak pernah mah minum pil KB itu lagi. Maksudku, aku tak minum pil itu di belakang dia. Banyak lagi konflik sebelum dan konflik penyerta lainnya, dia bukan idamanku, dia bukan cerminan orang tua yang baik untuk anak aku. Setelah dia banyak bertingkah begini, aku makin mantap untuk ambil opsi pisah. Seumur hidup terlalu lama untuk aku mengabdi padan seorang monster." Aku menutup wajahku menahan tangisku. Mungkin, wajahku amat memerah sekarang. 


"Kau cuma tak ngerti tentang dia, Ria. Ada kami di sini yang akan bantu menengahi. Biar kita bicarakan dulu, sebelum akhirnya kau benar-benar tak bisa pertahankan rumah tangga kalian lagi." Adik kandungnya abi Haris ini menggenggam tanganku. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2