
….. rambut anak yang kau kandung warnanya sama kek aku, bola matanya sama, atau memiliki kemiripan dengan aku, aku bakal bawa. Tapi kalau sebaliknya, kau pasti tau jawabannya. Tapi jangan kau kira aku bakal lepas tangan dan kau menang, karena apapun bentuk anaknya Ria, dia pasti dianggap cucu oleh ibu aku. Dia seorang relawan, jiwa ingin membantunya besar. Apalagi, untuk seorang bayi yang tak dianggap oleh ayahnya sendiri.“
Aku melongo tak percaya, secara tidak langsung Alfonso mengatakan bahwa bayiku adalah anak bang Ken. Bagaimana, jika anakku mirip dengan bang Ken? Semoga tidak mirip sedikitpun dengan bang Ken, termasuk sifatnya.
“Setelah itu, dia masih bilang kalau dia bakal bawa kembali kau. Bodohnya dia, kalau memang mau bawa balik, ya kemarin jangan dilepaskan.“ Alfonso menunjuk pelipisnya sendiri.
“Apa dia berpikir kalau aku mau masih mau sama dia?“ Aku menunjuk diriku sendiri.
Alfonso mengedikan bahunya. “Kalau kau masih mau, aku bakal cap kalau kau bodoh. Aku tak akan ngancam kalau aku tak mau berteman lagi sama kau, karena kata kau di Indonesia tak ada aturan berteman.“
Aku terkekeh kecil. “Kalau aku masih mau sama dia. Dari awal aku udah mohon-mohon agar dia pertahankan aku.“ Logikanya seperti itu menurutku. Tapi dari awal kan, aku yang benar-benar muak dengannya.
“Pulang pergi kuliahnya ke rumah ibu aku aja, Ria. Karena kalau dia tau rusun kau, dia pasti bobol kunci rusun kau. Rusun lama itu, masih pakai kunci biasa. Pasti dicongkel pun, ya kebuka. Bukan apa-apa, aku takut sama keselamatan kau. Dia dokter katanya, aku khawatir dia main bedah-bedah perut kau aja. Kau boleh pulang ke rusun, kalau keluarga kau udah di sini.“
Aku langsung parno sendiri karena ucapan Alfonso. Bagaimana jika hal itu benar? Apalagi ia dokter jiwa. Bang Ken kan dokter spesialis bedah.
“Kau bawa semua peralatan kuliah kau kan?“ tanyanya kembali, karena aku terdiam dengan membayangkan hal buruk yang dilakukan bang Ken.
Aku mengangguk sebagai jawabannya.
Aku tidak mengenali diri bang Ken yang ini. Ia terlalu menyeramkan untuk menjadi dokter, ia terlalu buruk untuk jadi seorang pasangan hidup. Ia bukan seperti bang Ken yang aku kenali dulu, ia seperti memiliki dua kepribadian berbeda.
“Baju bisa beli, sepatu bisa beli. Katanya kau orang kaya, aku pasti kau mampu tanpa santunan dari keluarga aku. Ayah aku pun dinas, dia tak di rumah. Tapi ada pengamanan kompleks yang terus berjaga, jadi aku pastikan kau aman sama ibu dan adik perempuan aku di rumah.“ Ia merangkulku dan mengusap-usap bahuku.
“Tengok kucing hamil pun, aku kepikiran dia bersalin. Apalagi kau manusia, Ria. Aku kok tak tega terus sama kau. Tapi kau jangan geer ya? Aku tak naksir kau.“
__ADS_1
Ia membuatku kembali tertawa dan melupakan pikiran burukku barusan. Aku tidak mengerti tentang dirinya, ia berjiwa besar, tapi ia tidak mau menaruh perasaan pada perempuan manapun. Dia pasti memiliki komitmen terbesar dengan dirinya sendiri, membuatnya enggan membuka hati dan mencintai perempuan lain. Bukan aku berharap, tapi ia pun tidak dekat dengan perempuan manapun. Padahal, tingkahnya tidak membuat ilfeel juga. Hanya saja, ia wajahnya ala-ala komedian.
Aku jadi teringat anak kucing yang berada seorang diri di tengah taman, ia mau repot membawa anak kucing itu ke rumah pencinta hewan. Aku pun pernah menemaninya ke dokter hewan, lantaran ada seekor kucing yang jalannya pincang dan memiliki luka di kaki depannya. Jiwa penolongnya seperti ibunya, tapi ia tidak terlalu menunjukkannya.
“Kau kapan menikah, Fonso?“ Aku penasaran sekali dengan komitmennya.
“Aku belum jadi apa-apa, Ria. Ayah aku dulu menikahi ibuku, masa dia udah jadi abdi negara. Nanti aku juga pasti akan menikah, setelah aku berhasil dengan cita-citaku. Kalaupun tak berhasil, aku akan berusaha agar ekonomiku stabil dulu baru menikah. Aku tak mau hidup kekurangan pangan dan menjadi beban orang tua nantinya.“
Oh, logis juga.
“Nanti lamar aku ya?“ Aku hanya bercanda.
Ia melirikku datar. Tapi mimik wajahnya terlihat lucu sekali, meski ia memasang wajah tanpa ekspresi.
“Aku tak mau mudik, Ria. Macet, bisa kambuh asma aku.“
Ia memang memiliki asma, asma yang tidak terlalu parah. Namun, asmanya kambuh jika ia sakit batuk pilek lebih dari tiga hari. Itu bukan asma turunan, karena orang tuanya tidak memiliki penyakit serupa. Konon dari cerita ibunya, sejak dari dalam perut, ibunya mengandung Alfonso selalu bermasalah.
“Hei….“ Ia fokus melihat ke jendela, saat bus berbelok ke kiri.
“Ada apa?“ Aku ikut memperhatikan jalanan, sayangnya tidak terlihat apa yang menjadi perhatiannya.
“Mobil Ken ikutin bus ini.“
Hah? Benarkah? Lalu bagaimana setelah ini?
__ADS_1
“Aduh, Fonso.“ Aku panik seketika.
“Kau harus dengar saran aku, untuk tinggal di rumah ibu aku dulu. Hubungi keluarga kau lebih cepat, aku takut dengan nyawa bayi kau kalau ayahnya gila begitu.“
Aku langsung mengangguk menyetujui. “Apa aku aman di sana?“ tanyaku kemudian.
“Aku tak janji kau aman, tapi kau tak akan sendirian di sana.“
“Ya, Fonso. Aku mau.“ Tidak jauh juga letak rumah ibunya Alfonso dari tempat kuliahku. Tapi, memang memakan waktu karena bus sering berhenti di halte untuk mengambil penumpang.
“Kabarilah orang tua kau, Ria.“ Alfonso terlihat begitu kasihan padaku.
“Ya, Fonso. Nanti di rumah aja.“ Aku harus berbicara apa? Apa mau meminta mereka datang lebih dini? Tapi kuliahku akan terganggu dengan kedatangan mereka.
Sungguh aku melihat dengan jelas mobil bang Ken berhenti, saat aku turun dari bus. Dari halte ini, aku harus berjalan kurang lebih tiga ratus meter untuk sampai ke rumah ibunya Alfonso. Itu adalah lingkungan komplek, tentu tidak ada angkutan umum lain. Di sini pun, tidak ada pangkalan ojek. Banyak penduduk di sini yang masih aktif berjalan kaki.
“Kita tunggu di sini, aku minta ibu jemput tadi.“
Masalahnya, aku khawatir bang Ken buru-buru mendekat. Satu hal yang tidak aku sangka, yaitu bang Ken bertamu setelah aku sampai di rumah ibunya Alfonso. Ia berani sekali, ia nekat sekali, ia seperti bukan bang Ken. Aku harus mencari tahu tentang dirinya, dari orang-orang terdekatnya.
Ibunya Alfonso tidak mengizinkan bang Ken untuk menemuiku. Aku mendengar dari letakku beristirahat, beliau mengatakan bahwa aku tengah terlelap kelelahan. Padahal, aku hanya tengah duduk selonjoran di atas ranjang tamu ini. Bang Ken pun tidak memaksa, ia pulang setelah ibunya Alfonso menolak bang Ken untuk menemuiku.
Entah kenapa, aku teringat Tiwi. Mantan kekasih bang Ken, yang menjadi perusak di rumah tangganya dengan kak Riska.
Ternyata, tidak sulit juga mencari akun sosial media milik Tiwi. Karena beberapa keluarga mamah Dinda pun saling mengikuti akun Tiwi.
__ADS_1
[Hallo, kak Tiwi.] Aku amat penasaran, dengan sifat bang Ken sebenarnya.
...****************...