
"Memang kau jahat, Riut?" Mungkin itu panggilan sayang Gavin.
Jika memanggilnya kak, jelas ia sungkan lah.
"Tak ada lah. Tak akur sama Ra pun, tak pernah aku masak dia." Aku tidak sejahat itu.
"Yaiya, sama Ra yang keponakan satu ibunya aja begitu. Apalagi, sama anak suaminya dan perempuan lain. Udah deh, udah paling bener Cali tak usah diulik-ulik. Toh, sama kau pun dia kabur terus. Dia tak mau sama kau, Vin." Bang Givan terkesan mempertahankan Cali bersamanya.
"Aku tau, Bang. Tapi kan hari Gavin bilang, pengasuhnya sama Calinya. Jadi aku ini kek kalian, Cali cuma tinggal bareng kami." Aku tidak keberatan untuk itu, Gavin pun tidak salah ngomong.
"Iya, Bang. Ria sih tetap urus Kirei. Cuma maksud aku nih, nanti Cali tumbuh di lingkungan kita begitu. Aku ayahnya, Riut ibu sambungnya, jadi dia harus ngerti mana orang tua inti," jelas Gavin perlahan.
"Itu bisa buat kakak ipar kau sedih, Vin. Tinggal buat keterangan itu sesuai dokumen aja. Cali sama Kirei masuk dokumen kalian, dengan kau yang jadi ayah kandungnya. Masalah nasab, itu urusannya untuk nikahnya nanti."
Ya ampun, aku baru ingat jika Kirei pun belum memiliki akta kelahiran.
"Kalau Kirei nasab aku aja gimana, Bang?" Kan Kirei anak yang lahir di luar pernikahan resmi.
"Apa bedanya? Nasab kau atau nasab Gavin, nasabnya tetap salah kan? Biar tak jadi pertanyaannya di masa dia tumbuh, udah aja Gavin jadi ayah dalam akta kelahirannya. Biar nanti dia dewasa paham sendiri siapa ayah kandungnya, terus nasabnya ikut siapa dikasih tau tuh." Bang Givan memindahkan tangannya, berisyarat seperti membedakan dua kubu.
"Betul sih, Dek. Apa bedanya gitu? Udahlah, paling bener ikut saran Abang ipar kau aja." Bang Ghifar tidak sadar, nantinya pun ia menjadi abang iparku.
"Ya udah deh." Malas aku berdebat dengan pebisnis sukses.
Rencana pernikahan saja sampai tulis kertas segala macam.
"Oke, Abang tulis nih akta kelahiran diurus setelah nikah. Nanti Abang sampaikan, apa yang harus papah kerjakan untuk kalian." Bang Givan menulis lagi pada kertas tersebut.
"Cali sama Kirei beda satu tahun ya berarti? Apa nanti dia tumbuh tak bertanya-tanya?" Ada saja yang dibahas Gavin.
"Apa kata nanti, Vin. Kalau ngeladenin kau, nanti tak jalan-jalan. Apa mau tak jadi nikah aja, karena tahun kelahiran anak-anaknya dekat?" Bang Givan setengah emosi rupanya.
__ADS_1
"Jangan." Gavin seperti merengek dan menyatukan alisnya.
"Ya udah, ambil gampang aja. Jadi pekerjaan kau sekarang, Ria. Kau beres-beres dan pindah ke ruko ibu." Bang Givan menatapku.
"Ya tak secepat itu juga kali, Bang," protes Gavin kemudian.
Bang Ghifar dan bang Gavin tertawa geli. "Dikira tak ngerti kami ini ya?"
Kenapa memangnya?
"Udah, Ria. Jangan ladenin Gavin. Beres-beres aja dulu, masukin ke tas atau koper, nanti kami bantu pindahkan," pinta bang Ghifar kemudian.
"Nih, pengalaman. Tau stepnya." Bang Givan menepuk pundak bang Ghifar.
Mereka tertawa bersama. Aku tidak mengerti candaan yang mereka bahas sekarang, aku bejalan ke dapur untuk memasukkan lagi beberapa kardus susu formula untuk Kirei. Jika bahan makanan, aku tidak belanja. Aku hanya beli beras dan sengaja aku tinggalkan saja.
Untungnya, pakaian sudah tidak ada di luar lagi. Jadi dari lemari, aku langsung memasukkannya ke tas dan koper. Namanya juga perempuan, pakaian aku dan Kirei begitu banyak padahal belum lama tinggal di sini.
Sayangnya, begitu sampai di ruko ibu lemari pakaianku tidak muat. Aku memandang Gavin, yang baru sampai dengan membawa tas terakhir milikku.
"Kenapa?" tanyanya, kala aku menatap sendu lemari bajuku.
Ia langsung menengok ke arah dalam lemari. "Ya ampun. Baju Cali masuk belum?" tanyanya kemudian.
"Belum sama sekali, baju aku pun belum pada masuk." Aku harus memilah beberapa baju, untuk dibagikan pada yang mau.
Sedekah paling susah itu, adalah baju yang menumpuk di lemari. Kadang hati ini rasanya masih ingin memakainya, tapi ternyata tidak sempat memakainya. Begitu terus siklusnya, sampai datang baju baru lagi.
"Ya udah, nanti cari lemari plastik di gudang. Jangan banyak-banyak coba bajunya, badannya cuma satu, bajunya udah kek mau buat jualan. Lemari plastik nanti untuk baju Kirei, bentar aku ambil di rumah." Ia keluar dari dalam kamarku di ruko ibu kembali.
Aku tidak bilang sama sekali pada papah Adi maupun mamah Dinda. Bang Ghifar dan bang Givan melarang, katanya biar mereka yang menyampaikan. Kirei pun masih di sana, agar katanya cepat selesai.
__ADS_1
Baju lamaku, adalah baju baru yang belum sempat aku pakai karena keduluan berangkat ke Brasil. Tapi tak apalah, sedekah baju bukan berarti harus baju bekas.
Aku keluarkan semua baju stok lemari lama, kemudian aku memasukkan ke dalam koper. Sedangkan baju dari koper, aku pindahkan ke lemari ini.
Sampai Gavin datang, ia langsung merakit lemari plastik berwarna biru dengan karakter Doraemon. Kemudian, ia membantuku untuk menata baju milik Kirei.
Banyak yang ia obrolkan, di sela aktivitas kami. Diantaranya, tentang usahanya. Ladangnya diolah semua menjadi lahan jahe, dengan luas ladang yang sampai tiga puluh hektar.
Kenapa ia cepat sukses?
Ia mengatakan, panen jahe tidak selama panen kopi. Keuntungan dari panen jahe, ia tempelkan langsung untuk membeli ladang. Karena ia belum memiliki tujuan untuk rumah dan mobil. Ia hanya menggunakan uang hasil ladang, untuk memenuhi kebutuhan Cali yang tidak seberapa dan kebutuhan perutnya juga pakaiannya saja.
Awalnya, ia hanya diberi lahan seluas satu tiga hektar dan juga modal usaha sampai tujuh bulan. Sekarang, ia tidak pernah membeli tunas bibit lagi. Karena ia memiliki sendiri satu lahan untuk dijadikan tunas yang akan ditebar di lahan kosong lainnya.
Umur jahe bibit bisa sampai sembilan atau sepuluh bulan, baru boleh ditebar. Itu untuk jahe bibit. Untuk masa panen, katanya empat bulan sudah bisa panen. Ini untuk jahe biasa katanya, atau jahe bumbu, dan satu hektar bisa sampai dua puluh lima ton, dengan kisaran harga perkilo terakhir delapan ribu lima ratus.
Tak semua lahannya itu jahe bumbu, ada juga yang jahe merah yang jika panen bisa dapat lima belas ton dalam kisaran waktu sembilan sampai dua belas bulan. Harganya pun bisa dua kali lipat lebih tinggi dari jahe bumbu, tapi sedikit sulit untuk dipasarkan katanya.
Dia kaya, mak.
Aku jadi terharu, bisa mendapatkan duda kaya. Ya memang, sekaya-kayanya mereka itu pasti uangnya diputar kembali untuk usaha mereka. Tapi mendengar ceritanya yang mengatakan omset satu kali panen dari satu hektar ladang paling sedikit sampai tujuh ratus juta, tentu membuatku ngiler.
Aku bukan materialistis, tapi siapa yang tidak ingin mendapatkan jodoh yang ekonominya baik. Petani jahe tidak main-main omsetnya, meski jelas lebih besar omset petani kopi. Tapi mereka sering panen, mak. Tujuh ratus juta dari satu hektar ladang dan panen satu tahun tiga kali, dikali tiga puluh hektar ladang.
Sudah-sudah, aku nanti hanya istrinya yang diberi jatah. Bukan aku yang menjadi kaya. Tapi jika suami kaya, istrinya pasti merasakan kekayaannya. Berbeda dengan istri yang kaya, suaminya pasti merasa direndahkan.
"Nih, pegangan. Habis berapa pagi tadi jalan-jalan?" Ia menggeletakan uang merah di ranjangku.
Aduh, mak. Seroyal ini anak papah Adi dan mamah Dinda, rasanya aku ingin sungkem pada mereka karena sudah merestuiku dengan putranya.
...****************...
__ADS_1