
"Nitip Kirei, nitip Bunga ya, Canda? Ria? Kasih sedikit perhatian dari kalian, biar dia merasa tak sendirian." Bang Ken pamit, setelah mendapat nasehat dari mbak Canda itu.
"Iya, Bang. Hati-hati ya? Jaga kak Riska, jaga bayi kalian." Mbak Canda setengah memeluk lengan bang Ken.
Ia teramat ramah, bisa-bisa bang Givan mengamuk.
"Siap, Canda. Makasih ya untuk semuanya?" Ia bergerak pamit dengan yang lain.
Kini, waktunya mencomot makanan milik mbak Canda. Dari tadi aku sudah meliriknya, tapi belum ada action untuk mencopotnya.
"Hm, hm, hm! Diajak tak mau, jajanannya doyan."
Aku ketahuan pemiliknya. Aku tahu, sepertinya sifat dasar Ra yang pelit ini didapatkan dari mbak Canda.
"Orang sedikit aja tuh." Aku tertawa geli.
"Ya, barengan." Mbak Canda menikmati kembali makanannya.
Dalam keluarga besar begini, hal yang paling utama adalah harus bisa membaur. Dalam keluarga besar begini, kita harus bisa membawa diri dalam keramahan. Karena apa? Bukan mereka yang merugi jika kita luput dari kegembiraan mereka, tapi kitalah yang merugi karena terlupa oleh suasana keramaian keluarga besar.
Hari Senin pun tiba, di mana aku dan Gavin juga Kirei berangkat menuju Lampung. Ketika sampai, aku merasa jauh dari ekspektasinya. Bangunan ini, bukanlah seperti rumah. Lebih tepatnya, rumah berteduh yang memiliki teras cukup lebar. Kemudian saat membuka pintu, langsung dihadiahkan dengan tempat tidur yang berserakan. Ini seperti kost-kostan satu petak, dengan kamar mandi di luar.
Jujur, bukannya ingin beristirahat. Tapi, aku malah sesak napas melihat isi kamar ini.
"Masuk, Sayang. Yang penting ada kasur kan?" Ia tersenyum lebar dengan berjalan masuk.
"Kenapa mesti berantakan?" Aku sudah berakting menangis.
Ehh, Kirei malah ikut menangis lepas melihatku berakting menangis.
"Jangan gitu coba, Riut! Anak kau takut nih jadinya." Gavin mengambil Kirei yang ada di dekapanku.
"Coba sana punguti baju kotornya, aku telpon orang laundry dulu. Terus sapuin aja semua keluar, biar aku yang beresin printilan ini."
Capek dari perjalanan, aku dibuat capek lagi melihat keadaan ini. Aku ingin menangis saja, karena suamiku gudangnya jorok ternyata.
__ADS_1
Apa boleh buat, aku langsung berbenah karena butuh tempat beristirahat. Kasur busa tebal pun aku balik, karena aku berpikir bisa saja ada hewan yang bersembunyi di bawah kasur. Kasur ini tanpa sprei, tapi malah dilapisi dengan bedcover.
Ternyata, aku baru tau. Kamar mandinya, ada di salah satu pintu lemari yang tertanam di dinding. Dapur kecilnya pun, berada di satu pintu dengan lemari ini. Lemarinya setinggi tiga meter, lebarnya juga setinggi tiga meter. Ada lima pintu kayu dan satu pintu kaca, tapi dua pintu kayu paling ujung kanan dan kiri adalah dapur dan kamar mandi. Tiga pintu lemari di tengah, itu benar-benar lemarinya.
Tapi pasti ngap betul, harus tidur di kamar yang cukup kecil begini. Ditambah, tidak memiliki ruangan lain. Kamar ini pun, persis di sebelah gudang yang cukup besar. Menyeramkan bukan? Aku jadi teringat gedung yang terbengkalai. Penampilannya sih masih baru, dengan cara berwarna kuning soft. Tapi ya seperti gudang kosong, seperti milik bang Ken di Banjarmasin sana.
"Kita rebahan, Kirei." Gavin langsung merebahkan Kirei di tengah-tengah ranjang, ia pun langsung berguling di samping Kirei.
Dalam hitungan kelima, ayah sambungnya langsung pulas. Sedangkan Kirei, ia hanya bisa gigit jari dengan memperhatikan ruangan ini. Ia pun masih terlihat menyesuaikan diri dengan keadaan di sini.
Harus ikhlas, Ria. Begini pun tidak terlalu buruk, masih ada kasur bisa yang empuk. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa tempat ini benar-benar aman dan layak untuk kami.
Rumah kecil ini tidak jauh dari pemukiman warga. Bahkan, di sebelah kiri bangunan ini adalah rumah warga. Bangunan paling ujung, adalah gudang ini. Halaman rumah ini pun amat luas, mungkin memang untuk lalu lalang kendaraan panen.
Tembok sebelah kiri menempel dengan tetangga, tembok yang sebelah kanan menempel dengan gudang. Tidak ada akses masuk dari gudang ke kamar ini, jadi harus keluar kamar dan masuk dari pintu utama gudang jika ingin ke gudang tersebut. Gudang tersebut menggunakan rolling door geser samping, juga berukuran amat besar. Mungkin sengaja, agar mobil panen bisa masuk ke gudang tersebut untuk bongkar.
Ya, aku sih berpikir positif saja.
"Bobo bentar yuk? Nih, meme dulu." Aku rebahan di samping Kirei, lalu langsung menyusui Kirei.
Ternyata, Gavin benar-benar aktif beraktivitas dan giat bekerja. Jujur saja, aku keteteran harus memasak, sedangkan Kirei tidak ada yang menjaga. Aku pun tiba-tiba mandiri, yang meng-handle semuanya sendiri. Namun, aku tetap bingung dengan cucian kotor karena tidak adanya mesin cuci. Masa iya aku harus menyikat baju-baju ini di kamar mandi ya tidak seberapa besarnya?
Aduh.
"Makan, Yang."
Menangis sudah, melihat pakaian dinasnya yang kotor bukan main. Lumpur dan tanah menjadi satu di celana jeansnya. Ia pun langsung berganti pakaian, setelah masuk ke dalam kamar.
"Aduh, Yang. Kok kotor gitu? Baru mateng satu lauk, ini pun Kirei sambil gendong." Aku menunjukkan anak perempuan yang seperti koala memeluk bayangmu pohon ini.
Kirei merengek saja ketika dibiarkan sendirian di kasur. Manjanya poll, ia ingin selalu dilihat matanya.
"Ya udah, mana-mana lah. Lapar aku, Riut." Setelah dari kamar mandi, ia langsung duduk di dekat pintu.
"Adek sini sama Ayah, Ibu ambil mam untuk Ayah dulu."
__ADS_1
Nah, jika ada yang menemaninya begini Kirei mau saja. Ia tidak melulu harus denganku, yang penting ada temannya. Jika Cali sudah besar, aku akan menariknya untuk bermain bersama adiknya di kala aku repot memasak.
"Sikat celananya di tempat cuci tangan di luar aja. Takut lumpurnya buat kotor kamar mandi." Gavin terlihat lapar, ia sampai langsung buru-buru makan.
Aku harus ingat, jika suamiku adalah petani. Pakaian kotor, sudah wajarnya dan aku harus menerima hal itu karena aku diberi makan dari situ.
"Belum nyuci baju kah?" Ia melirik ke arah jemuran dinding yang menempel di tembok gudang.
Jemuran itu bisa dilebarkan, berbahan alumunium seperti itulah.
"Tak ada mesin cuci, Yang." Aku ikut makan juga, mumpung Kirei anteng di pangkuan ayahnya.
Gavin tetap bisa makan, dengan Kirei di pangkuannya. Terlihat sih, ia tidak keberatan dengan hal itu.
"Sikat aja, Riut. Baju aku kotor semua, mana bisa digiling di mesin cuci." Ia baru menimpali setelah habis lima suap nasi.
Makannya terburu-buru sekali, pertanda ia sangat lapar.
"Baju aku? Kirei?" Aku tidak biasa menyikat pakaian.
Meski sudah diberitahu Gavin saat di sana, bahwa baju dinasnya kotor-kotor. Tapi aku belum melihat secara langsung. Kali ini bukan hanya melihat, tapi aku ditugaskan untuk membersihkannya juga.
Ia terkekeh. "Iya sok beli, online aja tapi ya? Lagi panenan, aku sibuk sangat. Masih ada uang kan?"
Uang yang lima juta itu loh, ya memang masih ada. "Iya masih." Aku menikmati semur telur ini setelah doyan, karena tidak ada lauk penyerta lainnya.
"Ya udah, jajan, belanja, beli pampers pakai itu dulu. Apa-apa, onlinekan aja. Mungkin kita dua bulanan di sini, Bu." Gavin memang ganti-ganti memanggilku, tergantung moodnya saja. Karena aku pun sama seperti itu, kadang bang, kadang yang, kadang ayah juga.
Jadi selama menunggu paket mesin cuci datang, aku harus menyikat baju kotor kan? Aduh, rasanya ingin meraung saja. Memasak saja, sesulit ini karena Kirei tidak ada yang menjaga. Jujur saja, aku tidak percaya jika Kirei harus dititipkan ke tetangga.
"Yang, aku tak biasa sikat ngucek." Aku tertunduk sedih.
"Diakal coba, Riut. Aduh, pandai-pandai kau deh. Dalaman dikucek, baju luar dilaundry. Jangan nunggu interupsi aku aja, sesuaikan diri sesuai kemampuan. Aku capek udah kerja, jangan tanyakan masalah di rumah. Token habis, ya beli sendiri gitu. Tak harus nunggu aku pulang dari ladang. Minimarket dekat, toko dekat, tempat laundry dekat, tempat galon dekat. Motor ada, aku pergi ke ladang kan paksi pick up."
Tuh, egoisnya datang. Aku capek udah kerja katanya? Memang aku tak capek di rumah?
__ADS_1
...****************...