Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD185. Di mana letak masalahnya?


__ADS_3

"Tak kembalian kah, Bray?" Gavin menendang pelan belakang lutut Safa. 


Safa hampir terjatuh, kemudian ia segera menyeimbangkan tubuhnya dengan berpegangan padaku dan mamah Dinda. Wajahnya langsung masan, ruang tindaknya begitu lincah. 


"Jatuh bisa malu aku, Vin!" Ia menendang betis Gavin di depan kami. 


Mereka terlihat begitu akrab. 


"Bercandanya beneran Gavin tuh. Udah pulang aja, Fa." Mamah Dinda menepuk pundak Safa. 


"Ya, Mah." Safa memasang wajah jeleknya pada Gavin, dengan Gavin pun membalas hal yang sama. 


Ternyata, mereka satu circle. 


Aku bergerak masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu Safa pergi dengan motornya. Moodku hancur, karena ia akrab dengan semua perempuan.


Memang bagus bersosialisasi dengan sekitar, tapi ia begitu dekat dengan Safa. Mereka seperti tidak memiliki jarak, mereka seperti seorang bestie, mereka seperti sudah mengerti satu sama lain dan mereka tidak menjaga image mereka di depan satu sama lain. 


Meski fokusku buyar, aku tetap lanjut untuk mencatat apa yang aku perlukan. Aku membuat list untuk keperluan pribadiku, juga skincare yang belum aku miliki. Entah mamah Dinda ke mana membawa Kirei, karena beliau tidak kunjung masuk lagi. Ingin mencari, tapi aku malas keluar rumah dan bertemu Gavin di teras rumah.


Pap, pap, pap! Pap sialan! Kangen toal-toel! Kangen muka judes kau! Kangen t*imu!!! 


Kok kesal aku ini. Kebodohanku tak pernah bisa diperbaiki. 


"Nih undangan, mantan teman ranjang kau kawin lagi." Sebuah undangan mendarat di pangkuanku, tepat sekali lemparan Gavin. 


Aku langsung melihat undangan yang terlihat mewah ini. Tidak pakai plastik yang ada perekatnya, undangan ini menggunakan kertas karton tebal dengan motif batik bertinta emas. 


Ibunya Kirei di tempat. 


Rupanya, si pengirim sungkan menyebut namaku. 


Saat undangan ini ditarik ke atas, amplop yang bermotifkan batik bertinta emas itu rupanya hanya membungkus setengah undangan. Benar-benar mewah, mungkin perawan memang mahal harganya. 


Tidak sampai di situ saja kemewahan yang terlihat itu. Tertera, tempat di suatu gedung yang kami kenal di sini. Di gedung loh? Bukan di masjid. 


Oke, mantap-mantap. 


Aku masih membacanya, keterangannya adalah akad dan resepsi pernikahan. Mereka sepertinya menikah resmi. 


Kejutan barunya lagi adalah….


Kenandra Al-Musthofa dan Riska Indrisantika. 


Apa ini? Lelucon? 

__ADS_1


Hey, ke mana nama perempuan yang dikhitbahnya kemarin itu? 


Hala Hamidah, iya? Di mana letak namanya? 


Meninggalkanku, kemudian pada akhirnya ia kembali ke mantan istrinya? Yang konon katanya mantan istrinya trauma dengan laki-laki, ternyata hanya memberi peluang suaminya bersenang-senang dalam puber keduanya tanpa membuatnya repot? 


Pantas saja aku diberi lovonorgestrel. Rupanya, ia hanya ingin membebaskan suaminya sejenak dan menariknya kembali ke dalam pelukannya. 


Jika memang niatnya seburuk itu. Aku yakin, di hidupnya nanti ada hal yang tersulit sehingga ia harus telaten mengurusnya sampai kelelahan. Aku ingin ia lelah, aku ingin ia menyerah dan aku ingin ia merasa paling tidak beruntung dari orang di sekelilingnya. 


Playing victim paling bejat! 


"Tanyakan dulu kebenarannya, jangan langsung sumpahin." Tangan berlumuran tanah itu mencolek hidungku. 


Ia tidak tahu caranya bercanda! Ia menganggap semua keadaan bisa ia guraui.


Aku langsung menenang miliknya sekuat tenaga, kemudian aku masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Aku mencoba menyamarkan suara tangisku dengan bantal ini, agar semua orang tidak tahu jelas kebodohanku. 


Akulah wanita bodoh yang terbawa suasana kasih sayang seorang laki-laki tua, yang tengah menikmati masa puber keduanya. Akulah wanita bodoh, yang rela menikah di bawah tangan hanya demi bisa ia jamah setiap waktu tanpa dosa. Akulah wanita yang tidak memiliki marwah, karena begitu percayanya dengan laki-laki tua yang selalu bisa mengunciku dalam pelukannya. 


Brakhhhh….


"Ya Allah, Ria…. Ehh, Kak Ria." Itu suara Gavin yang panik dengan menggunakan panggilan yang diimprovisasi ulang. 


"MAMAH, PAPAH, BANG GIVAN…. TOLONG…. KAK RIA DIBEKAP BANTAL."


Aku yang tengah menangis pun, malah jadi diam dan berpikir. 


Suara langkah kaki cepat terdengar masuk ke kamarku. 


"Mana? Mana?!!"


"Siapa yang bekap, Vin?!"


"Ya Allah, astaghfirullah…. Panggil polisi, Dek!"


Satu detik kemudian, bantal yang menutupi wajahku langsung terbang. Sungguh, aku seperti orang idiot yang dipandang panik oleh semua orang. 


"Siapa pelakunya??" Wajah papah Adi merah kehitaman seperti daging sapi yang baru direbus sebentar. 


Mata mereka semua beralih memandang Gavin, dengan Gavin yang akhirnya berjalan ke arahku dan melongok ke arah wajahku. Tatapan seperti terheran-heran, jangan tanyakan tatapan panik mamah Dinda, bang Givan dan papah Adi. 


"Memang harus ada pelakunya?" Gavin memandang semua orang, setelah memperhatikan wajah bingungku yang bercampur air mata dan ingus. 


"Heh? Kau pikir???" Bang Givan langsung menarik bagian dada di kaos Gavin. 

__ADS_1


"Kebekap bantal, terus mati," jawab Gavin dengan ekspresi polos paripurna. 


"Ria bukan bayi, Vin! RIA BUKAN BAYI!" Bang Givan langsung berteriak lepas di depan wajah adiknya itu. 


"Memang tak berlaku untuk semua kalangan?" Gavin memandang orang tuanya. 


Benarkah pendidikan di Brasil membuat semua orang berpikiran polos seperti itu? Tapi aku makin pandai, dalam bekerja tentunya. Bukan dalam perasaan. 


"Nomor telepon polisi berapa ya, Pah? Nomor polisi Bener Meriah, sama nomor polisi Jakarta sama tak ya?" Wujud mbak Canda muncul dengan ponsel pintarnya itu. 


Ia membuat klop kepolosan yang terjadi di sini. 


"Astaghfirullahaladzim…. Ya Allah, Ya Rabbi…." Papah Adi berjalan ke sudut ruangan, kemudian menepuk-nepuk tembok kamar ini. 


Pasti hatinya kaku sekali. 


"Tak mati sekalian kau karena ketindihan bantal?!!" Mamah Dinda mencubit pahaku tak tahu kira. Beliau duduk di tepian ranjang, dengan geleng-geleng kepala. 


"Aduh, aduh…." Pedih sekali bekas cubitannya. 


"Abang taruh kau di atas kasur ya? Kau tak boleh turun, meski kau bisa turun! Ya, bayi itu butuh pertolongan orang lain! Beda sama orang dewasa, yang bisa turun dari ranjang tanpa ngeguling dan kejedot di lantai. Orang dewasa pun bisa tepis itu bantal, meski sepuluh bantal tidur nindihin wajahnya. Bahkan, orang dewasa bisa buat bantal jadi bengek napasmu!!!" Seketika itu juga, bang Givan langsung membuat isi bantal berhamburan di kamar ini. 


"Mas, telepon polisi atau go clean?" Bisa-bisanya mbak Canda masih mementingkan hal itu. Ia bahkan membuang kapas yang mengotori wajah suaminya. 


"Pemadam kebakaran dong, Canda!"


Skip, adegan dewasa!


Karena bang Givan langsung mencaplok bibir istrinya di tengah-tengah kehebohan masalah yang entah di mana masalahnya. 


Sebenarnya, siapa yang bersalah? 


Aku kah? 


Gavin kah? 


Mbak Canda kah? 


Atau, bantal tidur yang mengotori kamar ini? 


"Ish! Mas! Masuk semua kapasnya ke mulut aku. Dibersihkan dulu lah, baru cium aku." Mbak Canda mendorong dada suaminya, kemudian ia membersihkan kapas yang menempel di bibirnya. 


Ya Allah, ya Allah….


"Papah, tolong lempar aku ke rumah aku. Aku tak kuat di sini. Kukira pembunuhan, ternyata pembodohan." Bang Givan langsung menghampiri ayah sambungnya, kemudian mereka berpelukan seperti teletubbies. 

__ADS_1


Serius aku bertanya, masalahnya di mana sebenarnya? 


...****************...


__ADS_2