
“Kalau pas kutanya respon dan jawaban kau tak kek tadi, mungkin bisa dibicarakan, Bang. Tapi rencana hidup kau untuk kedepannya itu tak cocok untuk rencana aku untuk kehidupan Ria. Ria harus punya keturunan, aku tak menuntut dia bisa beranak banyak, tapi dia harus punya keturunan dari dirinya sendiri. Toh, kau ini udah sama Putri juga kan?“ Nada tegasnya terdengar jelas karena aku tepat dalam pelukannya.
“Bang, bukan aku. Udahlah, Bang. Jangan dijadikan permasalahan.“ Aku menarik-narik bajunya.
Bang Givan langsung menarik daguku. Aduh, aku takut bibirku dicium oleh abang iparku ini.
“Kau nyerobot aja. Kau kenapa sebetulnya? Ada skandal kah di antara kalian?“ Tatapannya tajam dan menyeramkan.
“Kau janji jaga dia kek adik kau sendiri, Bang. Kau rusak Ria?!“ Bang Givan beralih memelototi bang Ken.
Takutnya aku begini, bang Givan adalah orang yang cepat emosi.
“Tak! Kata siapa?! Aku jaga, dia utuh selama sama aku.“ Wajah gelagapan bang Ken kentara sekali.
Jika bang Givan adalah ahli psikolog seperti Putri, pasti ia bisa membaca ekspresi wajah bang Ken saat ini. Aku malah deg-degan bahwa bang Givan memahami ekspresi wajahnya itu, bang Givan tidak bodoh-bodoh sangat.
“Aku akan buka telinga, mata, hidung, kaki dan tangan aku untuk perhatikan gerak-gerik kalian. Aku tak mau ya kalau kau berani nyolong-nyolong, Bang. Cukup Canda yang punya kisah kelam sebelum pernikahannya, jangan sampai adiknya juga merasakan. Aku coba jaga, apa yang aku bisa jaga selama ini. Aku jadikan tindakan nakal aku kemarin, untuk cambuk agar aku jadi manusia yang lebih baik lagi. Asal kau tau aja, punya istri yang punya trauma besar itu sulit bergerak. Apalagi, kalau traumanya adalah kita. Sampai sekarang aja, Canda tetap takut kalau aku tarik kakinya dan bergerak kasar.“ Bang Givan marah dalam suara pelan, mungkin agar tidak didengar oleh bang Canda yang baru terpejam.
“Silahkan perketat pengawasan kau, Van. Aku tak akan ngelak, kalau aku kedapatan dengan buktinya.“ Perkataan bang Ken terdengar begitu songong.
“Aku pegang ucapan kau, Bang. Awas aja aku sih, aku tak anggap ini main-main.“ Bang Givan sampai mengacungkan telunjuknya ke atas.
“Iya, kau bisa pegang ucapan aku,” sahutannya yang mantap seolah menandakan betapa ia sungguh-sungguhnya.
Jujur saja, aku ragu jika bang Ken bisa menjaga perlakuannya padaku. Karena aku tahu bagaimana dia, bagaimana caranya memperlakukanku agak lain jika tidak ada orang.
“Oke!“ Urat tegas bang Givan cukup membuatku takut.
Wajahnya tergantung perasaannya saat itu. Kadang terlihat ramah, kadang tegas dan garang, kadang menyeramkan seperti iblis. Aku pun pernah melihatnya mamandang cabul istrinya sendiri, ya genit seperti itulah.
“Keith udah bilang ke Abang, kalau dia mau jemput kau liburan. Ajak Ceysa sama Chandra, Ceysa suruh lihat sekolahnya yang di sana. Chandra diajak untuk ganti Shauwi jagain Ceysa, kau kontrol aja mereka dan ajak ke tempat yang kau kunjungi sama Ken. Kasih wawasan dan informasi yang luas untuk Chandra, karena besar nanti dia bakal pegang dua usaha yang di sana. Jasmine baru ambil alih salah satu usaha yang di sana, kalau dia udah nikah.“ Bang Givan bersandar santai dengan mengusap-usap kepalaku yang bersandar di dadanya.
__ADS_1
“Loh? Tak bisa gitu dong, Van! Ria harus tanggung jawab, dia udah liburkan pengasuh Bunga. Dia harus ngasuh Bunga, sampai pengasuhnya pulang.“ Bukannya aku yang menjawab, tapi bang Ken yang menyahuti.
“Kan kau ayahnya, Bang. Ajaklah dia ke Malaysia, dia tak ngerepotin kok. Anaknya anteng.“ Bang Givan menegakkan punggungnya, otomatis aku melepaskan pelukanku pada dadanya.
“Bunga anteng kan ya, Nak? Sama Ayah ya di rumah sakit bedah ya?“ Bang Givan mengajak Bunga yang anteng di pangkuan bang Ken untuk berbicara.
“Yayah mau ke mana?“ Begitu imutnya Bunga bertanya pada bang Givan.
Ia menyebut bang Givan yayah, karena ia sudah memiliki ayah sendiri. Ia ikutan seperti Ra, yang memanggil ayahnya adalah yayah meski sudah tidak cadel lagi.
“Yayah sama biyung, jaga biyung kek biasanya. Maksudnya, Bunga liburannya sama Ayah. Kak Ria mau kerja dulu nantinya.“ Bang Givan menjelaskan secara lembut agar tersampaikan untuk anak kecil itu.
“Bohong, Dek. Kak Ria tuh mau liburan sama kak Ceysa sama bang Chandra. Bunga tak diajak sama Kak Ria.“
Aku tidak menyangka mulut bang Ken seperti itu. Ia malah memanas-manasi anaknya, agar tetap menempel padaku.
Bunga langsung merengek, ia berpindah ke pangkuanku. “Aku tak bakal nakal, Kak. Aku ikut liburannya, kita kan bersahabat. Masa Kak Ria mau sendiri aja, aku sama siapa?“ Bunga membingkai wajahku
“Kau kenapa sih maunya sama Kak Ria aja? Kak Ria kan tak selamanya sama Bunga, Kak Ria nanti punya anak, repot sama anak Kak Ria sendiri.“ Aku mencoba memberinya pertanyaan yang mudah dimengerti olehnya.
“Kan ada aku, Kak. Aku kan bisa jaga adik aku masa Kak Ria repot cuci piring. Nanti aku puk-puk kakinya pekan, biar adik aku bobo.“ Percaya diri sekali dia, bisa-bisanya menyebut anakku kelak dengan sebutan adiknya.
“Mana ada! Anaknya Kak Ria bukan adiknya Bunga lah,” ketus bang Givan.
Nah, inilah senjata Bunga. Menangis lebar dengan suara nyaring. Bang Givan sampai reflek hampir membekap mulut Bunga, tapi ia urung karena mungkin tersadar jika Bunga hanya anak kecil.
“Kau nih!“ Bang Ken melempar bekas bungkus snack makanan ringan milik Bunga tadi.
“Sini sama Ayah.“ Bang Ken bangkit dan mencoba menggendong Bunga yang berada di pangkuanku.
“Sama Kak Ria.“ Bunga menangis sembari berbicara.
__ADS_1
Ya ampun, kak Ria lagi. Kan dia berat sekali, tanganku sampai kebas jika sudah menggendongnya. Karena aku menggendong menggunakan tangan saja, tidak dengan kain gendongan.
“Takut Kakak, Dek. Takut ada setan.“ Aku mencoba beralasan.
“Yuk, Abang temani.“ Bang Ken malah mengajukan diri.
“Sana cepat, Ria! Mbak kau nanti bangun!“ Bang Givan malah mengusirku.
“Iya! Iya! Iya!“ Aku mencoba bangkit, dengan beban berat di tanganku.
Ya ampun, Bunga. Kau ini besar, nak.
Aku diajak keluar ruangan. Perawat sampai melongok, karena Bunga masih menangis saja.
“Jajan ka? Di minimarket kah?“ Bang Ken membujuk anaknya.
Bunga mengangguk. “He'em.“
“Ya udah tuh, jangan nangis.“ Aku mengusapi air matanya, dengan mengikuti langkah kaki bang Ken.
“Janji Kak Ria ajak aku ke mana aja, bawa aku liburan.“ Matanya penuh pengharapan.
Sialan, janji itu!
“Kakak usahakan.“ Aku tak mau berjanji, karena dia bukan anakku.
“Udah coba, Dek. Tinggal iyakan aja tuh.“ Pak duda ini nampak memaksa.
Aku menoleh padanya. “Memang dasarnya kau yang pengennya Bunga sama aku terus, Bang. Kau tak mau rupanya aku bebas nikmati masa muda aku. Keith udah jemput, ya aku harus ikut. Apalagi, ada amanah dari bang Givan. Yang suruh aku antar Ceysa pindah sekolah di sana. Udah pasti aku punya kerepotan untuk perpindahan dokumen Ceysa.“ Aku menepuk-nepuk dada bidangnya.
Ia menahan tanganku. “Dek….
__ADS_1
...****************...