Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD81. Tentang cekalan tangan


__ADS_3

“Mungkin kau ngerasa nyaman, karena masih baru. S**s itu untuk dua orang, bukan untuk keuntungan satu pihak aja. Kau tak akan ngerti, jika kebebasan kau di ranjang malah direnggut. Mbak kau yang alim aja, Abang bebaskan dia di ranjang. Biar apa? Biar plong, biar sama-sama dapat pencapaian masing-masing. Apa enaknya, tangan dicekali terus? Sesekali, boleh, biar tak bosan. Tapi bukan berarti, tiap waktu harus kek gitu. Entah sentuhan, entah si perempuan ini pegang apa, atau mau pegangan apa. Ada loh, Ria. Kau gimana, masa iya dicekal terus, terus kau bilang nyaman. Abang tak akan bahas rupa wanita di ranjang, waktu Abang berkelana dulu. Itu akan ganggu konsentrasi Abang di titik sekarang. Jangan jauh-jauh, mbak kau aja. Sesekali, ada waktu perempuan yang aktif dan perempuan yang pasif. Ada masanya juga, dia ngungkapin, kalau dia pengen dibeginikan, pengen dibegitukan. Kalau melulu, Abang yang pegang kendali. Apa keduanya tak bosan? Salah satunya pun mungkin akan merasa banyak capek. Aku tak suka nih begini-begini, aku sukanya begini-begini. Pasti adalah di antara Abang atau mbak kau yang selalu protes. Padahal, kita udah banyak akan, hubungan begitu pun udah rutin terjalin. Tapi tetap aja, ada suatu rasa yang ingin didapatkan lain. Biar tau, biar tak penasaran terus. Kau baru, mungkin kau bisa terima. Sok pikirkan kedepannya, misalkan kau cuma ng*******g di bawah aja.“ Bang Givan berbicara sedikit ketus.


Aku terdiam. Memikirkan, tentang yang ia bilang. Benar, aku baru empat kali merasakan. Mungkin, ini belum seberapa dengan jam terbang bang Givan dan mbak Canda. Ditambah lagi, seumur hidup pasti akan beratus kali bahkan beribu kali merasakan hubungan s******.


“Tapi, Bang. Tak selalu MOT kok.“ Aku yakin bang Givan paham. Kalau pembaca kurang paham, ketik saja di Google.


“Ya tak tau selalu MOT atau taknya. Tapi misal kau dilarang akses dan nyentuh dia, ya gimana nantinya? Mbak kau aja, diam begitu tangan itu ke mana-mana. Apalagi hamil, tak lagi berhubungan aja tuh tangan megangnya ke mana-mana. Nanti kalau dia tiba-tiba ngamuk, pas kau salah sentuh, gimana? Pikirkan resikonya dulu lah, Ria. Banyak bujang, banyak duda kembang. Kenapa harus duda macam bang Ken yang buat kau mabuk? Bukan Abang ngehina, tapi dia udah umur dan wataknya tak baik juga. Abang bilang begitu, untuk nyadarin kau. Abang tak mau, kalau sampai kau malah membanding Abang dan dia juga. Abang tau, Abang banyak kesalahan dan tak suci kok. Cuma, alangkah baiknya kalau kau pikirkan berulang. Jadi, misal masanya bang Ken datang nanti, kau punya alasan kuat untuk nolak dia.“


Tiba-tiba aku teringat, masanya aku disentuhnya kala di hotel dekat rumah sakit miliknya. Saat aku merabanya pun, ia menutup aksesnya dan mencekal tanganku.


Duh, aku jadi dilema.


“Tapi masa kita sendok, atau aku d****, dia tak pegangin tangan aku.“ Aku masih kurang yakin, karena ada kalanya bang Ken melepaskanku.


“Ya kau pakai otak kau, Ria! Sendok atau d**** itu posisi kau membelakangi dia. Kek mana caranya kau pegang, kek mana caranya dia nyekal kau juga?! Aduh, mentang-mentang awan. Kau buat aku kesal aja!“ Sebutan aku, dikeluarkan bang Givan. Sabarnya mulai habis sepertinya.


“Dasar adiknya Cendol!“ maki bang Givan kemudian.

__ADS_1


Aku terkekeh malu. “Ya gimana ya, Bang?“ Aku masih tertawa saja.


“Ya tak gimana-gimana, kalau lagi sendok dan d****, ya laki-laki yang lagi berkuasa juga. Kuasa perempuan itu, ada di WOT. Sedangkan, seumur kau berumah tangga sama dia, kau tak ngerasain WOT. Belum lagi, kau harus kuat nahan-nahan untuk tak nyentuh dia. Otak kau putar, Dek. Syukur-syukur kalau dia bucin sama kau, kalau kau yang sebaliknya, ya kau sakit badan, sakit hati jadinya.“ Dari nada bicaranya, ia terlihat sekali tidak mendukung.


“Tapi aku berharap, Bang.“ Aku menurunkan nada bicaraku.


“Kau mabuk apanya sih? Karena tinggi besarnya? Atau karena besar panjangnya?“


Sialnya, aku malah mengerti.


Hufttt….


“Abang ragu kalau benar itu pengakuan kau, Ria. Pemikiran Abang, kau udah terlanjur ditiduri dia, jadi kau berpikir kalau kau harus nikah sama dia apapun yang terjadi. Dek, yang menikah karena cinta pun banyak yang bercerai. Apalagi, yang menikah karena kondisi kek gitu. Percaya sama Abang, Dek. Abang ini mau yang terbaik untuk kau, mau biar kau tak kawin cerai aja.“ Suaranya begitu lembut, seolah mentransferkan rasa sayangnya padaku.


Aku tahu, bang Givan ingin yang terbaik untukku. Tapi aku merasa, laki-laki yang datang padaku tidak lebih baik darinya. Meskipun Dika seorang pilot, tapi menurutku ia tidak menarik selain profesinya saja. Meskipun Dika masih bujang, kegagalannya yang berulang, membuatku berpikir ulang untuk mengambil kesempatan bersamanya.


Lebih-lebih, aku khawatir jika Dika ini penyuka sesama jenis. Memang tidak terlihat tanda-tandanya, tapi mana tau aku yang malah tidak mengerti dengan tanda-tandanya. Karena, zaman sekarang banyak tanda-tanda laki-laki melambai yang terlihat normal.

__ADS_1


“Aku tak berpikir itu, Bang. Aku yakin, aku masih laku meski tak sama bang Ken. Tapi, aku ngerasa laki-laki yang datang tak lebih baik darinya.“ Akhirnya, aku membukanya juga.


“Oh ya? Berarti tunggu lagi, sabar. Kalau memang orangnya bukan Dika, jangan berpikir kalau yang kau maksud itu kembali ke bang Ken. Berharap boleh, apalagi masih ada lima bulan ke depan. Tapi, kalau bang Ken tetap tak ada perubahan. Abang sarankan, untuk kau ambil komitmen dengan laki-laki yang punya niat serius sama kau. Pasti ada lagi, Dek. Abang sekalian ngabarin aja, kalau Minggu depan Shauwi sama Keith nikah di kediaman orang tua Shauwi. Abang pun ada rencana ke Brasil beberapa hari ke depan, nanti Abang tunggu di bandara Brasil kalau kau mau hadiri pernikahan mereka. Kalau kau tak mau, ya tak apa. Cuma akad dan resepsi sederhana aja, karena Shauwi tak punya teman. Undangan pun, undangan orang tuanya semua. Tapi Abang sekeluarga pasti datang kok, Dek. Nanti kita kabar-kabaran aja ya?“ Bang Givan sepertinya ingin mengakhiri panggilan telepon ini.


“Siap, Bang.“


“Ya udah, baik-baik di sana. Abang mau rehat dulu, bentar lagi kayu yang Abang khususkan datang. Abang langsung cek begitu sampai, biar cepat ditukar kalau memang tak sesuai.“ Terdengar juga uapan bang Givan yang besar sekali.


“Oke, Bang.“ Aku segera memutus panggilan telepon via aplikasi ini.


Beda negara, jika memakai pulsa pasti merepotkan dan terlalu banyak biaya. Ya, karena pasti ada kode khusus yang tak aku mengerti.


Jadi Keith sudah akan bahagia ya? Cepat sekali. Aku kapan? Aku pun ingin bahagia juga, walau tak bersama dia. Seperti lagunya Judika.


Rasanya bosan sekali, tapi aku ingin berbelanja. Tapi, uangku sudah limit sekali. Ini gara-gara Alfonso yang selalu mengajakku wisata kuliner, aku benar-benar dibuatnya kehabisan uang.


Hmm, bagaimana jika menggunakan uang milik bang Ken saja? Ia tidak mampu membahagiakan, setidaknya uangnya mampu memberikan kesenangan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2