Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD17. Izin Givan


__ADS_3

“Dek, kau tak ngerti tentang laki-laki.“ Bang Ken menyentuh pipiku.


Aku menepis tangannya. “Aku ngerti, yang tak aku ngerti itu tentang Abang.“ Aku meninggalkannya dengan menggendong beban berat sekitar dua puluh kilo ini.


“Kau mau ngertiin Abang untuk apa, Dek?“ serunya cepat.


Duh, untungnya sepi.


Pertanyaannya sungguh mengecoh. Salah jawab sedikit saja, akan terungkap jika aku naksir dirinya.


“Yaaa, mau Abang itu apa sih? Abang seolah larang aku pergi, Abang tekankan kalau aku harus tanggung jawab. Hei, biasanya pun Abang tak masalah urus anak Abang sendiri. Abang tak manja gitu untuk urus Bunga, Abang mampu sendiri.“ Aku berjalan beriringan dengannya.


“Bunga pengen sama kau, Ria.“ Tutur lembutnya keluar lagi.


“Abang kan tau, selain adik iparnya, aku orang kepercayaan bang Givan. Keith pun kedudukannya sama kek aku, dia jemput pun untuk mastiin anak bang Givan dijaga terus menerus sampai balik lagi. Aku ikut ya dalam rangka mengurus dokumen Ceysa, Keith bantu di sana karena aku kurang menguasai bahasa dan aturan di sana. Aku tau, kalau bang Givan bisa pergi sendiri. Tapi bang Givan lebih berat ke istrinya, dia tak mau ninggalin Canda satu atau dua hari.“ Aku menjelaskan dengan lembut, agar ia mau mengerti.


Jujur, aku berpikir ia suka padaku. Karena seolah ia melarangku agar tidak bertemu dengan Keith.


“Ya udah, terserah kau. Jaga diri ya nanti? Malam ini kau pesan taksi aja, tidur di rumah. Biar Bunga di sini sama Abang, biar besok dia tak nyariin kau.“ Suaranya menurun lirih.

__ADS_1


Apa ia sengaja bersuara pelan agar Bunga tidak mendengar? Tapi percuma juga, aku dan Bunga berada di posisi yang sama. Aku mendengar, pasti Bunga pun mendengar. Apa mungkin, itu reaksi sedihnya?


Saat aku menoleh dan memperhatikan wajahnya, ia terlihat datar dan seolah tengah pusing. Apa yang ia pikirkan sekarang?


“Keith belum datang. Dia sampai pun, kita tak langsung pergi. Aku pun perlu siapkan dokumen Ceysa dan kak Shauwi, karena kak Shauwi pasti ikut tinggal di sana.“ Aku berbelok ke arah minimarket, yang berada di di dalam bangunan rumah sakit.


“Iya, kau atur waktu aja. Nanti Bunga bakal sama Abang terus, sampai masa liburan habis.“ Nada suaranya benar-benar seperti orang yang tengah sedih.


Apa yang menjadi masalah untuknya, sampai-sampai ia terlihat sedih seperti itu?


“Ya, Bang.“ Aku menurunkan Bunga yang meminta untuk mengambil keranjang merah.


Aku pun perokok aktif. Aku sempat gemuk, karena doyan begadang dan ngemil malam. Kejadian itu, di tahun pertama saat aku tinggal di Kalimantan. Aku berpikir untuk merokok, karena para laki-laki tidak mengemil ketika begadang. Jadi, aku berpikir untuk merokok agar tidak gemuk karena banyak mengemil malam.


Izin untuk merokok pun diturunkan oleh bang Givan, dengan catatan harus berhenti ketika sudah dipinang laki-laki. Ia pun memberikan step untuk berhenti merokok, ia pun mengajariku untuk merokok. Hingga di posisi tubuh ideal, sayang cenderung tepos. Yang terpenting, aku tidak gemuk saja. Karena bang Givan yang merupakan abang iparku saja, ia membullyku, lalu mengatakan bahwa aku terlihat tidak menarik sebagai seorang gadis kala berat badanku begitu merusak timbangan digital.


“Bang….“ Aku mendekati bang Givan yang tengah merebahkan tubuhnya di atas single bed untuk keluarga yang menemani pasien.


“Mana Bunga sama bang Ken?“ Bang Givan menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


“Merokok di luar katanya, Bunga minta ikut. Tapi nanti balik lagi, mereka tidur di sini.“ Aku duduk di tepian spring bed single ini.


“Ohh, Abang udah kasih arahan untuk Keith. Pesawatnya baru lepas landas. Mungkin besok malam kau dan anak-anak Abang berangkat.“ Bang Givan masih memainkan ponselnya.


“Bang, aku itu udah pengen nikah. Keith masih tak mau nikahin aku kah, Bang?“ Aku ingin tahu, ia lebih condong menyetujuiku dengan laki-laki yang mana.


“Nikmati aja dulu masa muda kau, yang penting jaga keperawanan kau. Mau terlalu berharap sama Keith, orang Keith sendiri yang belum ada pikiran untuk menikah. Mau harapin kau sama Arman, orang Armannya punya masalah keluarga. Pernikahan itu bukan jalan keluar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi pernikahan itu naik ke fase kehidupan yang selanjutnya. Arman nikah sama kau, agar dia tak disetirin orang tuanya lagi, karena tabungannya tak terarah. Terus nikah dengan harapan tabungan aman, tapi dia tak mikir bahwa kau bisa jadi buronan mertua. Posisi sebagai istri Arman nanti, benar-benar tak baik karena orang tuanya pasti berpikir enak jadi istri Arman yang tinggal nerima uang Arman. Misal kau nikah, pengen pekerjaan kau ringan, tak capek kerja lagi, kau salah besar. Karena jadi ibu rumah tangga, atau istrinya Arman yang jelas dia tak mungkin ambil jasa ART, kau bakal lebih-lebih capek. Karena pekerjaan ibu rumah tangga ini dua puluh empat jam, Dek. Jadi juru masak, juru cuci, pengasuh, tukang bersih-bersih rumah, harus siap buka kaki lebar-lebar tiap dicolek suami yang ingin merasakan surga. Belum, pekerjaan lain-lainnya yang tak terduga. Udah nampak kan, bahwa nantinya kau akan lebih capek dari kerja. Kerja sih Senin sampai Jum'at aja, Sabtu Minggu libur. Nah, jadi istri orang tak ada liburnya. Belum-belum kalau suami KDRT, mabuk janda, pelit, tukang judi, udah tuh langsung kena trauma kau nanti. Sekalipun ahli agama, tak menjamin bahwa dia mampu mengangkat derajat istrinya. Malah ada pula ahli agama yang paham tentang anak laki-laki milik ibunya, tapi dia tak mau ngerti tentang pentingnya kedudukan istri untuk segala kehidupan dunia akhirnya. Malah Abang pernah dengar tausiyah, tentang tanggung jawab orang tua pihak laki-laki, kalau anaknya belum mampu nafkahi istrinya. Katanya, yang dimaksud anak laki-laki tetap milik ibunya, karena tentang tanggung jawab ini. Tanggung jawab anak laki-laki, jatuh ke keluarganya lagi. Tolong benahi aja kalau ada salah-salah kata, karena tak salah ya katanya gitu sih.“ Bang Givan memberikan perhatian penuh ketika diajak berbicara dan mengobrol seperti ini.


“Aku tak berpikir sejauh itu, Bang. Aku berpikir tentang masa-masa indah pengantin baru, jadi suami istri yang harmonis.“ Aku merebahkan tubuhku di sampingnya.


Mungkin agak lain kedekatan antar ipar ini. Tapi di antara keluarga kami, benar-benar tidak memiliki jarak.


“Abang bahkan tak pernah merasakan masa-masa itu. Rumah tangga itu, kek ujian hidup yang sebenarnya. Abang bahagia sekarang, harmonis alhamdulilah. Tapi keknya itu, suka duka imbang. Seharian itu tak harmonis terus, ada aja masalahnya. Belum tentu seharian itu masalah terus, pasti berakhir dengan keromantisan. Jadi, kau jangan berekspektasi tinggi tentang pernikahan,” lirihnya ucapannya.


Kami berbaring berhadapan, dengan disekat oleh dua bantal yang cukup besar.


“Menurut Abang, pernikahan ini merepotkan Abang tak?“ Ia mengerti tidak ya maksud pertanyaanku?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2